Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Seseorang dari masa lalu


__ADS_3

Enam bulan berlalu.


Kini usia kedua bayi kembar Alisa sudah berumur dua tahun lebih tiga bulan. Dan sekarang pun, mereka berdua tidak menyusu lagi pada Alisa karena air susunya sudah habis.


Mereka berdua di gantikan dengan susu formula oleh Gilang. Susu sangat baik untuk pertumbuhan tubuh dan juga otaknya.


Memang ASI yang paling bagus, tapi kalau sudah habis harus buat apa coba? Iya kan? Selain cari pengganti dari asi itu sendiri, yaitu susu formula.


Dan beruntung nya, bayi kembar sepasang milik Alisa itu tidak rewel saat diberikan susu pertama kali oleh Alisa dan Mbak Sus.


Ya, Mbak Sus masih lanjut bekerja pada Gilang dan Alisa hingga usia kedua anaknya memasuki SD. Mbak Sus begitu senang mendengar nya, begitu juga dengan Tina. Keponakan Mbak Sus.


Dan hari ini, mereka kembali ke tempat dimana mereka dulu pernah piknik bersama sebelum Gilang pergi untuk menikah dengan Mama Rayyan dan kuliah ke luar negeri.


Mereka semua sedang piknik. Ya, piknik. Saat ini mereka semua sedang berada di taman wisata alam, dan kebun binatang atau taman safari Medan yang terletak di daerah pancur batu.


Tempat yang sama dulu pernah Gilang dan Alisa datangi.


Mereka tiba di tempat itu sudah tengah hari. Rayyan begitu menyukai tempat itu. Begitu juga dengan kedua bayi kembar mereka.


Ira dan Lana pun ikut serta. Tidak hanya Ira, tapi ummi Hani, Abi Hendra, dan kedua adik kembar Raga yaitu Kiara dan Damar juga ikut serta.


Opa Angga dan Oma Dewi pun tak tertinggal. Mereka semua memasuki taman safari itu begitu heboh.


Semua pengunjung disana melongo melihat kenorakan dari kedua keluarga Alisa itu. Opa Angga lain tingkah nya.


Begitu juga Abi Hendra dan ummi Hani. Dua paruh baya itu sibuk mencicipi semua makanan yang tersedia disana.


Semua itu tidak luput dari perhatian seorang paruh baya penjual es. Matanya mengembun saat melihat Alisa dan Gilang juga ada disana.


Seseorang yang dulunya pernah memberikan uang lebih padanya saat ingin pulang ke Medan.


Uang yang diberikan Gilang pada saat itu cukup untuk biaya pengobatan istrinya yang sedang dirawat dirumah sakit waktu itu.


Pria paruh baya itu nekad jualan es demi bisa mengobati sang istri yang sedang mengidap penyakit kanker stadium dua.


Padahal ia dulunya terkenal sebagai pengusaha sukses di Medan dan Gilang pun mengenal baik orang itu.


Dengan langkah tegap ia ingin menemui Gilang dan keluarga nya untuk mengucapkan terimakasih pada mereka berdua.

__ADS_1


Dua orang yang berjasa di dalam kehidupan paruh baya itu. Ia selalu menunggu hari dimana bisa bertemu dengan Gilang dan juga Alisa kembali.


Setiap hari ia selalu berjualan es disana. Berharap, bisa bertemu dengan Gilang dan Alisa.


Bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, ia tidak pernah lelah untuk menunggu kedatangan Gilang dan Alisa. Ia tetap berjualan es di taman safari itu.


Hingga pada tahun berikutnya, ia putus asa. Ia tidak ingin berharap lagi jika akan bertemu Gilang dan Alisa.


Namun, takdir saat itu sedang berpihak padanya. Lima tahun berlalu dalam keputus asaan karena kecewa menunggu Gilang dan Alisa.


Dan pada hari itu saat ia menjual es keliling, ia tidak sengaja melihat Gilang dan Alisa muncul di layar televisi. pada saat pernikahan mereka berdua.


Ia begitu terkejut dengan kenyataan jika Alisa dan Gilang pada saat itu belumlah menikah. Dan lebih terkejut nya lagi, Gilang ternyata pemuda kecil yang dulu pernah membeli toko miliknya yang sekarang sudah dibangun menjadi sebuah pusat perbelanjaan termurah dan terlengkap di kota Medan.


Mata tua itu mengembun. ''Hiks.. nak Gilang... Alisa...''


Deg!


Deg!


Alisa dan Gilang yang sedang tertawa-tawa terhenti seketika saat mendengar suara seseorang di masa lalu yang begitu mereka kenal.


Alisa dan Gilang saling pandang. Mereka kompak berbalik dan..


Deg.


Deg.


Pria tua yang bernama lengkap Imran Mustafa itu tertawa. Namun, air mata mengalir deras di pipinya.


Alisa dan Gilang tersenyum tanpa di duga, Pak Imran memeluk kedua tubuh yang begitu ia impikan sangat ingin bertemu suatu saat.


Dan inilah waktunya. Alisa dan Gilang terkejut. Namun, tidak bisa menolak. Karena tubuh mereka berdua sudah di peluk begitu erat oleh Pak Imran.


Pria tua sebaya Papa Angga itu semakin terisak dalam pelukan Gilang dan Alisa. Semua keluarga terdiam melihat aksi bapak-bapak tua itu.


Gilang terkekeh saat melihat Alisa mendelik padanya. Dan itu membuat Pak Imran sadar. Akhirnya ia melepaskan pelukannya.


''Hehehe.. ssshhuutt.. maaf Nak. Bapak begitu senang ketika melihat kalian berdua. Ayo, ikut bapak kerumah bapak. Istri bapak sangat ingin menemui kalian berdua. Hampir delapan tahun kami menunggu kehadiran kalian berdua nak..'' Ucap Pak Imran sambil tertunduk.

__ADS_1


Tangan tuanya itu mengusap bulir bening yang terus mengalir di sudut matanya. Sedangkan Gilang dan Alisa tertegun dengan ucapan Pak Imran.


''Delapan tahun Pak?? Kenapa??'' tanya Alisa begitu ingin tau.


Pak Imran menoleh pada Alisa. Air mata itu terus saja bercucuran jatuh menimpa pipi keriput nya.


''Bapak ingin mengucapkan terimakasih pada kalian berdua Karena delapan tahun yang lalu, kalian pernah menolong bapak yang pada saat itu sudah kehabisan uang...''


Deg!


Alisa dan Gilang saling pandang. Mereka tersenyum bersama. Mereka berdua mendekati Pak Imran dan memegang tangan tua itu dan pergi bersama.


''Ayo, kita temui istri Bapak. Kami pun sangat ingin bertemu dengan istri Bapak. Ayo, tapi... kami serombongan loh.. apa tidak apa-apa Pak?'' tanya Alisa sambil terkekeh kecil tapi meringis saat melihat seluruh keluarga nya begitu heboh.


Pak Imran tertawa-tawa. Ia mengangguk kan kepalanya pada Gilang dan Alisa. Setelah itu, mereka semua pergi kerumah Pak Imran yang tidak jauh berada dari taman safari itu.


Tiba dirumah sederhana bertingkat dua itu, Gilang dan Alisa masuk ke dalam nya. Istri pak Imran bernama Siti itu begitu terkejut melihat tamu mereka.


Langsung ia memeluk Alisa dan Gilang bersamaan. Wanita paruh baya itu tersedu di pelukan Gilang dan Alisa.


Alisa dan Gilang hanya bisa memberikan pelukan saja pada wanita paruh baya itu. Dirasa puas, ibu Siti melepaskan pelukannya dari Alisa dan Gilang.


Dan mengajak masuk kerumah sederhana mereka. Saat mereka datang, sudah masuk waktu makan siang.


Jadilah, makanan piknik mereka tadi dibawa semua kerumah Pak Imran. Dan kebetulan sekali, ibu Siti juga memasak banyak hari itu.


Mereka makan bersama dengan suka cita. Dan di bumbui dengan gelak tawa Gilang dan Abi Hendra karena kelakar Lana.


Pak Imran tidak menyangka, bocah kecil yang belum tamat SMA dulu merupakan pembeli tokonya yang sekarang ini sudah menjadi pusat perbelanjaan terbesar di kota Medan.


Mengingat delapan tahun silam, Pak Imran tertawa saat melihat Gilang begitu mencintai Alisa.


Padahal waktu itu, Gilang dan Alisa belumlah menikah. Tapi terlihat seperti pasangan saja. Pak Imaran terkekeh kecil.


Setelah puas dirumah Pak Imran, kini mereka kembali ke taman safari Medan untuk melanjutkan piknik mereka yang tertunda.


Gilang dan Alisa begitu bahagia. Karena di tempat inilah mereka pernah berjanji untuk sehidup dan semati. Disaksikan oleh ketiga anaknya dan juga Andi.


💕💕💕💕

__ADS_1


Satu lagi.!


Masih ingatkan tentang bapak-bapak penjual es di taman safari Medan dulu? Jika tidak, ulang lagi deh bacanya! 🤣🤣🤣


__ADS_2