
Setelah sampai dikamar, Vita dan kedua orangtuanya menatapnya dengan dingin. Aura mereka berdua begitu menyeramkan untuk dilihat.
Vita tidak berani memandang kedua orang tuanya. Tangannya bergetar, keringat dingin mengalir di dahi mulusnya. Sungguh ia tak menyangka, jika kejadian empat tahun silam yang dengan sengaja ia kunci rapat-rapat, kini terbuka kembali.
Seperti kata pepatah, serapat-rapat menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Inilah yang terjadi sekarang pada Vita.
Jika ia bisa memilih, Vita juga tidak ingin seperti ini. Tapi semua ini sudah terlanjur. Nasi telah menjadi bubur. Tak kan bisa diubah menjadi nasi lagi. Sekarang yang bisa Vita lakukan adalah jujur. Jujur dengan segala perbuatan yang pernah ia perbuat dulu dengan Kevin.
''Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi?'' ucap Papa Alan dengan dingin.
Vita tersentak. Tak pernah sekalipun Papa Alan berbicara begitu dingin padanya. Tapi, pada hari ini Vita menyaksikan sendiri bagaimana dinginnya papa Alan terhadapnya.
''Apakah Papa harus mencari tau sendiri? Apa yang telah kamu perbuat dimasa lalu??'' ujarnya lagi.
Vita menggeleng.''Se-sebenarnya...'' Vita menceritakan apa yang telah ia lakukan bersama Kevin di belakang Gilang.
Mulai dari ia berkencan dengan Kevin dibelakang Gilang, sampai dengan ia selalu lebih dekat dengan Kevin dibanding Gilang.
Semua itu masih tertutup rapat, hingga pada satu pagi Gilang memergoki mereka berdua sedang bercumbu di belakang sekolah. Dengan Gilang dan Aldi sebagai saksinya.
Mendengar cerita Vita, Mama Chyntia menutup mulutnya. Sedangkan Papa Alan begitu marah dengan Vita.
Tanpa diduga tangannya melayang menyentuh pipi Vita. Vita tersentak kaget. Ia jatuh tersungkur tepat didepan kaki Papa Alan.
Plaakk!
__ADS_1
''Astaghfirullah... Ya Allah.. apa yang sudah kamu lakukan Vita!'' sentaknya.
''Ya Allah... kamu kenapa bisa seperti itu, Nak.. Astaghfirullah al 'azim...'' ucap Mama Chyntia.
Tanpa diduga, pintu kamar mereka terbuka secara paksa. Membuat Papa Alan dan Mama Chyntia menoleh kearah pintu.
Dengan buru-buru sahabat mereka masuk, dan langsung merengkuh Vita dalam pelukannya.
Papa Alan terkejut, begitu juga dengan Mama Chyntia. Belum usai keterkejutan nya tentang cerita Vita. Sekarang malah dikagetkan oleh sahabat mereka yang membuka pintu secara tiba-tiba.
''Ada apa ini?! Kenapa kalian menampar Vita hah?! Semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Tidak perlu memakai kekerasan segala!!'' ucap Mama Dewi, Ia begitu kesal melihat Vita yang terduduk dilantai, tepat dihadapan Papa Alan dengan pipi yang memerah.
Papa Alan meraup wajahnya kasar. ''Tanyakan saja pada anak yang tidak tau diri ini! Bisa-bisanya dia memberikan tubuhnya untuk dinikmati pria lain, demi menunjukkan kesetiaan nya pada Gilang. Dasar anak bodoh! Tidak tau diri! Menyesal aku memiliki putri sepertimu!!'' umpat Papa Alan.
Vita menggeleng mendengar ucapan Papa nya. ''Ampuni Vita Pa.. Vita nggak bermaksud mengecewakan kalian berdua.. waktu itu Vita hanya mencoba membuktikan apa yang dikatakan Kevin itu adalah benar! Ternyata aku salah Pa.. hiks.. maaf...'' lirih Vita.
Vita sesegukan dibawah kaki Papa Alan. Sedangkan Mama Dewi kaget mendengar ucapan papa Alan sahabatnya.
''A-apa?!'' Mulut Mama Dewi menganga lebar.
''Ya Allah...'' seseorang disana sampai bersender di tepi pintu setelah mendengar ucapan sahabatnya.
''Bagaimana mungkin?? Berarti sekarang Vita...'' Papa Angga menjeda kalimat berikutnya yang membuat mama Dewi melototkan matanya.
''Jangan bilang, kalau kamu...'' Mama Dewi melepaskan rangkulan nya dari Vita, dan menatap gadis itu horor.
__ADS_1
Vita merasa jika pelukannya mengendur, ia menoleh dan mendongak. ''E-enggak Ma.. Vita tidak sejauh itu melakukannya! karena ada seseorang yang menggagalkan nya..'' lirih Vita diujung kalimatnya.
''Iya, jika tidak dihentikan oleh Aldi, maka kamu akan menyerahkan kesucian mu pada lelaki itu! Sungguh murah harga dirimu sebagai perempuan! Bisa-bisanya kamu mau menerima tawarannya dengan alasan kesetiaan! pantas saja Gilang menolak mu! kau sangat pantas mendapat penolakan Gilang! karena ulah mu sendiri! laki-laki mana yang mau menerima dirimu yang sudah tersentuh oleh pemuda lain! Papa malu memiliki putri seperti dirimu! Yang tidak menjaga Marwah nya sebagai seorang perempuan! Sungguh, Papa kecewa pada mu Vita!'' seru papa Alan.
Ia beranjak dari hadapan Vita dan duduk ditepi jendela, membelakangi mereka semua disana.
''Jangan berbicara seperti itu bro.. bagaimana pun Vita itu putri kandung elu!'' seru Papa Angga.
''Hah! Putri yang dilahirkan dengan taruhan nyawa! dibesarkan dengan kasih sayang! tapi setelah besar, ia mencoreng muka Papa nya dengan kelakuan buruknya! Sungguh aku kecewa bro... sakit hatiku.. Tak kusangka.. kasih sayang dibalas racun yang menyakikan seperti ini..'' lirih papa Alan.
Dadanya begitu sesak melihat kelakuan Vita. Kelakuan Vita sama saja seperti membuang kotoran tepat langsung mengenai wajahnya.
''Gue malu sama elu bro! gue nggak nyangka aja kelakuan anak gue semenjijikkan itu! gue aja jijik dengan kelakuannya hanya mendengar cerita nya saja! Bagaimana dengan Gilang, yang menyaksikan langsung kelakuan tak terpujinya itu! Sungguh gue malu bro.. gue kecewa disaat yang bersamaan! gue harus apa bro.. untuk menebus kelakuan anak gue..?'' tanya papa Alan, ia tersedu.
Belum pernah selama ini, ia menangis. Tapi pada hari ini, karena kelakuan putrinya yang mencoreng nama baiknya didepan keluarga calon besan yang dia adalah sahabatnya sendiri, Papa Alan menumpahkan air matanya.
Begitu juga dengan Mama Chyntia. Ia terisak di pelukan suaminya. Dia tak menyangka jika kelakuan putrinya begitu buruk di belakangnya. Sungguh, saat ini hatinya begitu terluka. Ia kecewa dan malu disaat yang bersamaan. Mau dibawa kemana muka mereka sekarang ini.
Ternyata penyebab dari penolakan Gilang, adalah karena putrinya yang melakukan hal tidak senonoh. Ya Tuhan..
💕
Baru sedikit kok. 🤣🤣
TBC
__ADS_1