
Selesai dengan sarapan pagi yang kesiangan, kini kedua orang tua Alisa sedang istirahat di kamar tamu.
Sejenak mereka berbincang hangat saat mata mama Alina melihat seseorang yang begitu dikenalnya dirumah itu.
Mama Alina bertanya kepada besannya, apakah itu benar Bik Inah. Mama Dewi mengatakan iya.
Betapa senangnya hati Mana Alina saat bertemu adiknya Pak Oman dirumah Gilang. Mama Dewi memanggil Bik Inah, untuk datang menemui mereka.
Saat Bik Inah datang, Mama Alina memekik senang. Begitu juga dengan Bik Inah. Wanita yang sudah lanjut usia itu masih ingin bekerja di keluarga Gilang.
Padahal Mama Dewi sudah melarang nya. Namun beliau menolaknya. Bik Inah mengatakan jika ia akan berhenti bekerja setelah melihat Gilang dan Alisa menikah nantinya.
Setelah itu terserah Mama Dewi. Begitu katanya. Dan untuk sekarang mereka berempat sedang istirahat di kamar tamu.
Sementara Gilang dan Andi, sudah pergi sedari tadi. Mereka berdua sedang menyiapkan semua persiapan acara yang akan diadakan tiga hari lagi.
Gilang terdiam sejenak, ia sedang berfikir. Bagaimana menyampaikan hal ini kepada nya tanpa ia datang ke rumah mereka.
Karena rumah itu akan ia hias menjadi cantik saat Alisa menginap di hotel nantinya. Rumah itu akan di hias secantik mungkin untuk menyambut pengantin baru Gilang.
Yaitu Alisa. Gilang sudah memiliki rencana yang bahkan Alisa sendiri pun tidak mengetahuinya.
Gilang terkekeh kecil mengingat hal itu. Ia merogoh ponselnya dan mendial nomor ponsel Alisa yang ia beri nama dengan Mami Alisa 💕.
Ia menatap ponsel itu yang masih menunjukkan layar hitam. Sesaat kemudian panggilnya itu masuk dan berdering di layar ponsel milik Gilang.
Panggilan berubah ke video call. Ternyata pelakunya adalah Lana. Si biang rusuh. ''Assalamualaikum... Papiiii!!!! Maaaakkk... Papiiii nelpon!!!'' pekik Lana begitu senang saat melihat wajah Gilang begitu berseri dari layar ponsel miliknya.
''Abang!! ishh.. berisik!! Adek Rayyan lagi bobok loh..''bgerutu Annisa. Si bocah kecil kesayangan Adrian Pratama ini.
Gilang tertawa mendengar adik kakak itu ribut gara-gata dirinya. ''Nak.. Abang.. adek! Diam dulu ah! Mak mana?'' tanya Gilang, sengaja untuk menghentikan si biang rusuh yang akan terus beradu mulut dengan Annisa.
''Ada Pi! kayaknya masih di kamar mandi deh! Maklum, Mak lagi dapet!'' jelas Lana. Membuat Gilang tersenyum misterius.
''Tepat sekali waktunya!''' gumam Gilang dalam hati.
''Siapa Bang??'' tanya Alisa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Terlihat seluruh bajunya basah dan juga hijab instannya pun basah.
__ADS_1
''Kamu ngapain sayang, dikamar mandi?'' tanya Gilang sambil tersenyum menatap Alisa.
Alisa tak menjawab pertanyaan Gilang, ia sengaja mengalihkan dengan pertanyaan lain.
''Loh? Papi? Kamu.. bukannya masih di luar kota ya? Kata Mbak Sus kemarin gitu.'' ucap Alisa saat melihat Gilang dengan Pakaian santainya.
Ya, saat ini Gilang sedang berada di kamarnya. Di rumah Mama Dewi. Tadi, saat ingin menghubungi Alisa, ia masih di dalam perjalanan dari tempat persiapan acara pernikahannya tiga hari lagi.
''Aku sudah pulang sayang. Baru saja tiba. Lihat aja nih baju aku? Iyakan?'' tanya Gilang dengan terus menyunggingkan senyum manis untuk Alisa.
Alisa heran melihatnya. ''Kamu kenapa? Kok yang kayak senang banget?''
Gilang tertawa. ''Tentu saja aku senang, tiga hari dari sekarang aku akan menikah!''
Deg!
''Apa?!?! Me-menikah?! Dengan siapa?!!'' pekik Alisa begitu terkejut.
Tiba-tiba saja mata itu mendadak panas dan hatinya mulai mendung memikirkan jika Gilang akan menikah.
Menikah?
Gilang tertawa. ''Ya, aku akan menikah!'' goda Gilang lagi.
''Hoo...'' sahut Alisa dengan wajah datar. Lagi, Gilang tertawa.
''Kamu kok kusut gitu sih mukanya? Nggak senang ya kalau aku nikah?''
''Nggak! Kalau begitu selamat buat kamu! Abang! Mak mau mandi! Nih, ponselnya! Ngomong sama Papi kamu!'' ketus Alisa dengan segera berlalu ke kamar mandi.
Meninggalkan Lana yang kebingungan dan Gilang yang tertawa terbahak di dalam kamarnya karena telah berhasil menggoda Alisa.
''Papi kenapa?'' tanya Lana dengan bingung.
Ia melihat Gilang masih saja tertawa ngakak dengan memegangi perutnya di atas ranjang sambil memeluk bantal dan memukuli nya.
''Hahaha.. Papi ngeprank Mak mu, Bang! Papi bilang, jika Papi akan menikah! hahaha... Mak mu manyun dan pergi nggak mau ngomong lagi sama Papi! hahaha...'' Gilang tertawa ngakak terus hingga perutnya terasa sakit.
__ADS_1
Geli sekali hatinya melihat wajah Alisa tadi yang berubah menjadi datar karena ia mengatakan akan menikah.
''Menikah? Papi jadi menikah sama Mak Abang? Emang Papi udah dapat restu dari Kakek sama Nenek? Itu bukannya lagi di kamar Papi ya? di rumahnya Oma Dewi?'' cecar Lana dengan banyak pertanyaan.
Lagi, Gilang tertawa. ''Hahaha... kamu lucu Bang! Oke! haha .. akan Papi jawab. Haha.. ehem.. hihi.. benar! Papi mau nikah sama Mak kamu! Dan ya, Papi sudah mendapatkan restu dari Kakek Yoga dan Nenek Alina. Dan betul sekali. Saat ini Papi sedang berada di rumah Oma Dewi. Nanti sore ada yang akan menyusul kalian berempat ya? Mak tak boleh ikut! Akan datang beberapa orang nanti yang akan mengurusi Mak mu selama tiga hari ke depan! Kamu, Kakak, adek dan Rayyan akan menginap dirumah Oma Dewi. Papi punya kejutan untuk kalian bertiga!'' jelas Gilang panjang lebar pada Lana.
Membuat pemuda kecil itu tersenyum senang. padahal awal mula ia dengar tadi, jika Alisa marah gara-gara mendengar jika Gilang akan menikah tiga hari lagi.
''Beneran Pi?''
''Ya, bersiaplah! Kakek Kosim dan Om Andi sudah dijalan untuk menyusul kalian berempat. Katakan sama Mak, jika ini perintah Oma Dewi. Kalian akan menginap selama seminggu dirumah Oma. Dan kalian akan sekolah dari rumah Oma Dewi. Okey?''
''Tentu. Abang akan bilang sama Kakak dulu. Saat ini Kakak sedang berada dirumah Ummi Hani dan Abi Hendra. Baru saja mereka menyusulnya. Katanya Minggu depan Kak Raga akan pulang dari Inggris.''
''Oke. Tak apa. yang penting kabari segera Kakak mu agar pergi kerumah Oma dari sekarang. Biarakan Kakak mu pergi sendiri. Nggak boleh di antar oleh siapapun! Ini kejutan buat kalian bertiga!''
''Benarkah?'' tanya Lana begitu antusias.
Gilang mengangguk mengiyakan. ''Bersiaplah! Papi tunggu kalian semua disini! Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam, Papi!'' sahut Lana dengan segera ia mendial nomor ponsel milik Ira.
Setelah berbicara sebentar dengan Ira, Lana memutus sambungan ponsel itu ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dengan menunjukkan wajah Alisa yang begitu segar sehabis mandi.
Rambut yang di gulung handuk, pertanda ia sudah bersih saat ini. Lana sempat menebak tadi saat Gilang tersenyum menggoda Alisa.
Tapi sayang, Mak nya itu tidak peka. Lana terkikik geli. Alisa yang melihat putranya terkikik sendiri mendekati nya.
''Kamu kenapa Bang?''
''Eh? Nggak Mak! Sore ini kami harus ke ruang Papi! Oma Dewi menyuruh kami berempat untuk menginap disana selama seminggu. Mak tak apakan jika kami tinggal sendiri?''
''Kenapa?''
''Entah! Kata Papi , Oma hanya ingin berkumpul dengan kami. Bukankah Minggu depan Papi akan datang kesini?''
''Entah! maka tak tau!'' ketusnya.
__ADS_1
Membuat Lana mengulum senyum. ''Ya sudah, bersiaplah! Maka akan bangunan Rayyan dan Annisa. Pergilah!'' usir Alisa.
Lana semakin mengulum senyumnya. Ia melipat bibirnya kedalam. Ia keluar dari kamar itu dengan segera.