Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Di kantin


__ADS_3

Setelah drama jika Annisa tidak selamat, sekarang yang terjadi adalah keharuan. Dokter dan perawat menangis haru.


Belum pernah selama ini, mereka mengalami keajaiban seperti ini.


''Masyaallah... begitu sempurna nya Allah dalam memutuskan sesuatu. Bayi yang sudah kami katakan meninggal pun bisa hidup lagi. Ini namanya mukjizat. Masyaallah.. sekarang putri Ibu dan Bapak sudah kembali Seperti sedia kala. Hanya nafasnya sedikit sesak karena terlalu banyak menghirup asap. Untuk seluruh alat vital nya sudah kembali normal. Alhamdulillah..'' ucap dokter itu panjang lebar, setelah tadi ia memerikasa bayi kecil nan malang itu.


''Terimakasih dokter! Terimakasih banyak!" ucap Gilang sambil menyalami dokter muda itu.


"Jangan berterima kasih kepada saya. Saya hanya perantara. Berterima kasihlah pada yang maha kuasa! Karena kuasa Nya anak Bapak bisa kembali lagi. Dan juga..." dokter itu menatap Alisa begitu lama. Gilang yang melihat dokter itu begitu lama menatap Alisa berdehem. Sedang yang ditatap, matanya tak sekalipun beralih dari bayi kecil yang tidur dengan selang oksigen serta jarum infus di lengannya.


"Eheemm..."


"Eh? maaf! dan juga... berterima kasihlah kepada istri Bapak! karena beliau sangat yakin jika putri kalian masih hidup. Karena keyakinannya lah, putri anda kembali lagi. Keyakinan seorang Ibu..." ucap dokter itu, masih dengan menatap Alisa.


Gemuruh di dada Gilang memuncak. Ingin rasanya ia menghajar dokter muda itu. Tapi itu tidak mungkin, karena mereka sekarang sedang berada di rumah sakit.


Berulang kali Gilang berdehem, dan itu sukses membuat dokter itu tersenyum kikuk dihadapan Gilang.


"Baiklah, saya harus kembali ke ruangan saya. Silahkan Bapak dan Ibu istirahat dulu sembari menunggu bayi kalian berdua. Saya permisi." Imbuh dokter muda itu dengan segera berlalu dari hadapan Gilang.


Gilang mengangguk dengan wajah datar. Setelah dokter itu pergi, Gilang mendekati Alisa.


"Sayang.. kita sarapan yuk! Disana ada kantin. Sedari tadi kamu belum sarapan. Nanti ketika adek bangun pasti dia haus ingin nyusu. Ayo.. kita sarapan dulu ya??" ajak Gilang


''Tapi adek gimana Pi??'' tanya nya masih menatap Annisa di brangkar.


''Tenang.. ada suster, kok. Sus! tolong jaga anak saya ya. Saya dan istri harus sarapan dulu di kantin.'' Imbuh Gilang.


Perawat itu mengangguk dan tersenyum ke Gilang. Yang dibalas hanya dengan wajah datar saja.


''Ayo..'' ajaknya lagi, Alisa hanya bisa mengangguk pasrah. Dan mengikuti kemana Gilang membawanya.


Kalau dipikir-pikir, memang itu yang dibutuhkan olehnya sekarang ini. Sesampainya di kantin rumah sakit, Gilang berjalan untuk memesan makanan serta minuman hangat untuk mereka berdua.


Gilang memilih Nasi goreng dan minumnya susu coklat hangat. Gilang hanya memesan satu piring, tapi dalam porsi jumbo.


Penjual kantin heran melihatnya. Gilang paham, tapi ia tidak peduli. Yang penting mereka bisa makan sekarang.


Gilang tau jika Alisa tidak akan makan dalam kondisi seperti ini. Wajah Gilang yang begitu kucel, membuat pemilik kantin rumah sakit itu sedikit ragu.


Namun setelah Gilang mengeluarkan uang berwarna merah dua lembar, barulah pemilik kantin itu tersenyum ramah pada nya.


"Ck! dasar mata duitan! giliran aku kucel gini dia nggak percaya! eh, ketika aku ngeluarin duit. Tuh mata hampir copot melihatnya! Hadeuuhhh.. ada ya manusia seperti itu di dunia ini? Memandang orang hanya dari pakaian nya saja. Tapi ya.. bener juga sih.. ini kan rumah sakit orang kaya. Jika bukan karena adek, aku tak mau kerumah sakit ini. Ck!" gerutu Gilang sambil terus berjalan dimana Alisa sedang duduk.


Saat ia tiba di meja, ponselnya berdering. Gilang meletakkan nampan itu dan mengambil ponselnya dari saku celana.


Terlihat disana Alisa calling. Ya.. nama itulah yang Gilang berikan pada ponsel nya. Sedang di info statusnya Gilang menyematkan kan nama Alisa dengan My future Wife.


Gilang tersenyum, dan menerima panggilan dari ponselnya itu.


"Assalamualaikum Kak.."


"Wa'alaikum salam, Papiii...." pekik Lana.


Ia begitu senang ketika melihat wajah Gilang. Sedangkan Ira menggeleng kan kepalanya.


"Hisshh.. Abang! pengang ini telinga Kakak!" serunya kepada Lana.


Lana menoleh, "biarin! wlek." sahut Lana, sembari menjulurkan lidahnya pada Ira.


Sedangkan Ira melotot. "Kamu?! Ishh Abang!" seru Ira lagi. Ia menjadi kesal dengan tingkah Lana karena memborong semua layar ponsel mahal itu.

__ADS_1


Gilang tertawa, dan itu membuat Alisa menoleh.


"Ada apa?" tanya Alisa.


"Kakak. Nih ngomong! tuh pada rebutan ponsel gegara aku nongol juga!" imbuh Gilang masih dengan terkekeh.


Alisa terpana. Padahal baru tadi pemuda itu menangis meraung saat mendengar kabar Annisa telah tiada.


Sekarang ia malah tertawa. Ternyata benar yang dikatakan nya dulu. Jika anak-anak nya adalah obat bagi Gilang.


Terbukti sekarang, ketika melihat wajah anaknya saja Gilang sudah tertawa seperti itu. Gilang menoleh, ia melihat Alisa yang terus menatapnya.


Gilang tersenyum, sedang ponsel masih menyala disana. Dengan dua orang disana terdiam dari perdebatan mereka.


''Sayang.. hei! kok bengong sih?? Itu kakak sama Abang mau ngomong. Ayo.. lihat dulu kamera nya. Tuh! mereka video call.'' Imbuhnya masih dengan terkekeh.


Sedang Alisa masih menatap nya. ''Terimakasih. Terimakasih karena kamu telah menyelamatkan putriku. Terimakasih, jika bukan karena kamu, mungkin putriku sudah tiada didunia ini..'' lirih Alisa dengan menunduk sedangkan Gilang tersenyum manis.


Gilang menyenderkan ponselnya pada kotak tisu yang tersedia di meja itu.


''Kamu bilang apa sih? Adek itu putriku! Sekarang ataupun nanti! Walaupun aku tau Jika adek bukanlah darah daging ku, tapi aku tetap menyayangi nya seperti putri ku sendiri. Kamu tau sendiri kan? Jika ketiga anak mu itu adalah obat untukku? Setelah sekian lama hati ini beku, sekarang mencair berkat mereka! dan juga karena dirimu!'' imbuh Gilang, membuat Alisa tersipu.


Pipinya menimbulkan semburat merah. Gilang gemas melihat nya. Gilang terkekeh. Namun itu hanya sebentar, setelah ia sadar jika kamera ponsel masih menyala, Gilang melihat anak-anak itu yang malah terbengong melihat adegan romantis baru saja terjadi.


''Ayo ngomong sama Mak, Papi mau makan!'' imbuhnya lagi.


Anak-anak itu mengangguk, kemudian mulai berbicara kepada Alisa. Banyak yang ditanya, hingga Alisa bingung dibuatnya.


Gilang menyuapi dirinya, kemudian dari sendok yang sama Gilang menyuapi Alisa. Ira melotot melihatnya.


Karena setiap pergerakan Gilang, terpampang jelas di kamera ponsel itu. Mulut Ira menganga saat melihat Alisa menerima suapan dari Gilang sambil terus berbicara dengan mereka berdua.


''Awas kak! Ada lalat terbang!'' seru Gilang.


Ira terkejut, hingga ia menutup mulutnya tiba-tiba.


''Hap! ups!''


Lana menoleh, ''Kakak kenapa?? makan angin??'' tanya Lana dengan bingung.


Ia tak menyadari dari tadi jika Ira terbengong melihat Alisa di suapi oleh Gilang. Sementara Gilang tertawa lepas.


Suara yang sunyi di kantin itu, kini berubah menjadi ramai. Gegara Gilang tertawa.


''Hahaha... kamu Kenapa kak?? Kok kayak yang nggak pernah lihat Papi makan aja??'' tanya nya pada Ira masih dengan tertawa.


Ira menggaruk kepalanya kemudian nyengir. ''Hehehe.. Kakak hanya heran aja sama Papi, itu kan lagi dirumah sakit. Papi berani amat sih nyuapin Mak kayak begitu? Nggak takut apa, jika nanti Papi di gebukin??''


Lagi, Gilang tertawa. ''Siapa yang mau gebukin Papi Kakak.... hem? Wong ini istri nya Papi?? Ya kan sayang??''


Ira dan Lana tercengang. Sedangkan Alisa terbatuk-batuk hingga ia tersedak. Melihat itu secepatnya Gilang memberikan minum.


''Hati-hati sayang! Kamu kenapa sih? Kok yang kayak terkejut begitu?? Kan bener jika kamu adalah istruku?? Kita kan udah nikah?? Tuh kita Lagai Video call sama anak-anak.'' Imbuh Gilang santai. Sengaja ia ingin menggoda tiga orang itu.


Alisa yang baru saja minum menyemburkan minuman nya itu.


''Brrrrtttt... uhuk.. uhuk... uhuk...'' Alisa terbatuk-batuk.


Sedangkan Ira dan Lana memandangi mereka dengan cengo.


Nikah?? Kapan Papi nikahi Mak ya?? Perasaan belum deh??

__ADS_1


Istri?? Apa iya Mak udah jadi istri Papi?? Kapan?? Abang kok nggak tau sih?!


Kedua anak masih sibuk dengan pemikiran nya. Wajah mereka begitu lucu terlihat. Ira yang seperti orang bingung, sedang Lana seperti orang cengo.


Gilang yang melihat mereka tak tahan akhirnya tertawa terbahak. Melihat Gilang tertawa seluruh orang di kantin melihat kearah mereka.


''Papi!!! Ishh.. malu... diliatin orang, ih!'' gerutu Alisa setelah sadar ia sengaja menggoda Ira dan Lana.


Ira dan Lana yang sadar jika sedang dikerjai oleh Gilang, berteriak histeris.


''Pa... piiiiii... ih... jahaaattt...'' pekik Ira


''Pa...piiiiii.. awas ya entar! Abang tinju tuh pipi Papi!! biar nggak ganteng lagi!! huh!! kesal akunya?! dikira betulan! eh? ternyata! Papi ngeprank..... hhaaaahh... Papi nakaaalll... Abang tonjok ya Papi!!'' pekik Lana lagi.


Gilang sungguh tidak tahan untuk tidak tertawa. Ternyata kebersamaan seperti inilah yang diinginkan olehnya.


Entah kapan waktu seperti ini akan ada lagi. Berharap boleh saja. Tapi takdir?? Siapa yang tau?


Alisa terus saja menepuk bahu Gilang, serta mencubit paha pemuda itu. Tak direspon. Malah Gilang semakin gencar menggoda Alisa dan kedua anak nya itu.


Sangat puas rasanya menggoda mereka bertiga. Selama lebih dari tiga Minggu tidak bertegur sapa, rindu itu selalu ada dihatinya saat memikirkan keluarga kecil Alisa.


Dan sekarang segala beban dihatinya, lepas lah sudah. Gilang begitu bahagia hari ini. Kebersamaan yang dulu pergi kini kembali lagi.


Akankah mereka bisa berkumpul kembali??


Nantikan kelanjutannya!


💕


Sebelumnya, othor mau mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏


Setelah ini mungkin othor akan update seminggu hanya tiga kali ya..


Karena othor mau selesaikan cerita Alisa di sebelah.


Biar cepat clear, jadi di sebelah tiap hari othor updatenya.


Setelah di sana selesai, baru othor akan fokus kesini.


Othor sayang banget loh sama cerita ini. Nggak tau aja kenapa. Dan kalau bisa cerita ini akan othor jadikan buku.


Ih ngarep! hehehe.. mimpi othor ketinggian ya??


Dan lagi, apa yang tersembunyi di cerita Alisa dan Emil akan othor ungkapkan disini.


Othor harap, klean nggak kabur ya? 😁😁


Karena setelah perpisahan Alisa dan Gilang akan ada pertemuan yang lebih mengharukan lagi. Eh??


Aduh! othor keceplosan euuy..


Tapi nggak pa-pa.. untuk pembaca setia othor akan tetap othor update. Tapi ya seperti tadi


seminggu hanya tiga bab. Akan di usahakan lebih.


Kalau bisa akan othor update seperti biasa. Maklum othor ini Mak Mak rempong punya bayi. 😄😄 Othor sayang klean para pembaca setia..


Maaacihh... 😘😘😘


TBC

__ADS_1


__ADS_2