Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Sambutan untuk Besan


__ADS_3

''I-ini nggak salah Nak? Ini kayak mau pesta pernikahan kamu aja nih makanan nya!'' celutuk Papa Yoga membuat Mama Alina dan tante Irma tertawa.


Gilang tertawa, dengan segera ia membawa Papa Yoga duduk lesehan dilantai yang sudah berlarian Ambal tebal nan lembut di kaki.


''Duduk, Pa! Papa juga!'' ucapnya pada Papa Annga.


Papa Angga mengangguk. Mereka duduk bertiga, dengan Gilang duduk di tengah Papa Yoga dan Papa Angga.


''Tenang lah dulu Besan! Minum dulu jus nya? Buah ini di petik langsung dari pohonnya. Bapak lihat kan tadi yang didepan rumah?'' tanya Mama Dewi pada Papa Yoga.


''Pohon alpukat kah?'' Gilang tersenyum.


''Ya, pohon yang buahnya kesukaan menantu anda, Pak Yoga!'' jawab Mama Dewi.


Papa Yoga menoleh pada Gilang. Gilang mengangguk dan tersenyum. ''Di minum, Pa! Pasti seger. Dulu, pertama kali Abang datang kesini, dia juga meminta jus pokat Tapi pada saat itu pohon pokatnya belum terlalu banyak buahnya seperti saat ini. Tapi katanya Abang yang meminta, Gilang berikan. Sedangkan Kakak, ia lebih suka dengan buah rambutan yang ada di belakang rumah ini.'' cerita Gilang pada Papa Yoga.


Papa Angga dan Mama Dewi terkekeh bila mengenang ketiga anak Alisa itu. Di tambah lagi dengan putra semata wayang Gilang. Rayyan. Yang saat ini masih berada dirumah Alisa.


Nanti sore, Mama Dewi ingin menyuruh Andi atau pak Kosim untuk menyusulnya ke rumah Alisa.


Sambil bercakap-cakap santai, hidangan pembuka sudah disuguhkan di depan mereka.


Yaitu puding lumut dan risoles buatan Alisa. Mama Alina yang sangat ingin mencicipi kue itu dengan segera mengmbil satu dan memakan nya.


Saat ia mengunyah makanan itu, Mama Alina membeku di tempat.

__ADS_1


''Alisa...'' lirihnya sambil melihat puding lumut yang ada di depannya saat ini.


Gilang menoleh dan tersenyum. ''Benar Mama. Itu puding memang buatan Alisa. Puding yang memang sengaja di pesan Mama dari toko kue milik Alisa.''


Deg!


''Toko kue? Punya Alisa?'' tanya Papa Yoga.


Gilang tersenyum dan terkekeh jika mengenang lima tahun yang lalu, Alisa begitu terkejut jika semua perhiasannya itu dibayar mahal oleh Gilang. Sementara harga emas itu tidak seberapa.


Gilang terkekeh geli sendiri. Mama Alina dan Papa Yoga saling pandang. ''Nanti Gilang ceritakan semuanya. Masih banyak waktu untuk menjelaskan itu.'' imbuhnya, masih dengan terkekeh-kekeh.


''Ck! berhenti tertawa sendiri Gilang! Lebih baik kamu suruh Andi atau Pak Kosim untuk menjemput putra mu agar pulang kesini. Tapi Alisa dan ketiga anaknya tidak boleh kesini. Kamu bisa kan?'' tanya Mama Dewi sembari menatap Gilang serius.


''Jangan macam-macam Gilang! Mau kamu tidak Mama restui?!" potong Mana Dewi dengan cepat ucapan Gilang tadi.


"Ishh.. kan cuma ketemu doang Mama.. gimana sih?! Nggak asik ah!" gerutu Gilang di depan kedua mertuanya.


Papa Yoga terkekeh sementara yang lain tertawa melihat tingkah merajuk Gilang pada Mama Dewi.


"Ayo Besan! Kita makan. Semua makanan sudah terhidang. Murni! ambilkan mangkuk cuci tangan!" titah Mama Dewi pada asistennya itu.


"Baik, Nyonya!" sahut Murni.


Murni berlalu ke dapur dan mengambil mangkuk cuci tangan yang sudah ia masukkan air ke dalam mangkuk berwarna putih.

__ADS_1


Dengan segera ia bawa ke hadapan Mana Dewi untuk diletakan satu persatu di hadapan kedua besannya.


"Ayo kita sarapan pagi yang udah kesiangan! Saya sengaja menyiapkan ini semua untuk menyambut besan saya. Seumur hidup saya hanya memiliki satu besan saja. Mudah-mudahan, Gilang nanti memiliki banyak besan tidak seperti kita! Betul tidak Ibu Alina?''


Mama Alina mengangguk, dengan tangan terus cekatan mengambilkan makan untuk Papa Yoga.


''Segini cukup?'' tanya Mama Alina pada Papa Yoga.


''Sudah! itu kebanyakan Mama! Kamu pikir, perut Papa itu muat apa dengan semua masakan besan kita ini? Ck!'' gerutu Papa Yoga karena masih sungkan.


Papa Angga terkekeh kecil. ''Makan saja Pak Yoga! Itu tandanya istri kita sayang pada kita!''


''Hah! Betul itu Pak Besan!'' celutuk Om Karim.


''Ya... mudah-mudahan Alisa dan Gilang nantinya memiliki banyak Besan. Aku yakin itu. Karena sekarang putriku saja sudah punya buntut tiga di tambah satu dengan putra Gilang!'' balas Mama Alina pada ucapan Mama Dewi tadi.


''Dan akan menyusul dua lagi!'' sahut Gilang begitu enteng. Hingga menimbulkan gelak tawa dirumah mewah kelurga Bhaskara.


Gilang tersenyum dan menatap figura om Diana. ''Oma... Gilang sudah memenuhi janji Gilang untuk menuruti permintaan Oma. Orang yang Oma pilihkan untuk Gilang dulu, kini akan menjadi istri Gilang tiga hari lagi. Terimakasih Oma.. karena telah mengijinkan Gilang untuk memenuhi impian Oma dan Kakek Alisa dulunya. Semoga Allah melapangkan kubur Oma, diampuni segala dosa dan akan dipertemukan dengan kami di akhirat kelak. Berkumpul di dalam surga Nya Allah. Amiiin...'' lirih Gilang dalam hati dengan mata berkaca-kaca.


Papa Angga yang tau, menepuk pelan bahu putra semata wayang nya itu. Mama Dewi pun ikut terharu melihat Gilang begitu bahagia saat ini.


Berbeda ketika lima tahun yang lalu. Wajah tampan itu selalu datar dan dingin tanpa ekspresi.


''Terimakasih ya Allah.. Engkau telah mengirimkan sosok Alisa di dalam kehidupan Gilang, hingga embuat putraku menjadi ceria tidak sertifikasi lima tahun yang lalu. Maafkan Mama, Gilang.. Mama sangat menyayangi mu, Nak..'' lirih Mama Dewi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2