Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Pulang dari rumah sakit


__ADS_3

Dua Minggu sudah Lana dirawat di rumah sakit. Ternyata, biaya pengobatan Lana Gilanglah yang menanggung nya.


Abi Hendra tertegun saat mendengar keterangan resepsionis rumah sakit dua Minggu lalu.


Bagaimana tidak, jika biaya rumah sakit itu telah dilunasi oleh pasien yang bernama Gilang Bhaskara.


Abi Hendra terkejut bukan main. Seseorang dibalik pilar sana, mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya.


''Untung saja cepat! Jika tidak? Maka aku yang akan merasa bersalah pada Den Gilang. Terimakasih Den.. karena firasat mu tak pernah salah.'' Ucapnya sembari berlalu ia menyusut air bening yang mengalir deras di pipinya.


Ya, dia adalah Pak Kosim. Orang kepercayaan Gilang. Saat itu, dua hari sebelum pernikahan nya dengan Vita.


Entah mengapa, Gilang merasa gelisah. Ia seperti merasa akan terjadi sesuatu dengan diri nya dan Lana.


''Pak ..''


''Iya Den...'' sahut Pak Kosim. Saat ini mereka sedang di jalan ingin menuju ke kantor BHASKARA Group.


''Ambil ini!'' Gilang menyodorkan sebuah kartu kepada Pak Kosim.


Pak Kosim terkejut. ''Untuk apa Den??'' tanya pak Kosim bingung.


''Hah! nggak tau Pak! Gilang merasa sangat gelisah dua hari ini. Belum lagi pikiran ku selalu mengingat Lana.. Ada apa ya Pak??'' tanya nya pak Kosim.


Pak Kosim termenung sesaat. ''Apakah Aden merindukan den Lana??''


Gilang diam. ''Rindu? Bahkan sangat rindu Pak! Tapi entah kenapa, menjelang dua hari pernikahan ku dengan Vita, perasaan ku semakin menjadi tak karuan. Terpikir Lana terus dari kemarin. Ambil kartu ini Pak! Simpan dengan baik! Suatu saat pasti kartu ini akan berguna untuk kami berdua. Gilang hanya percaya kepada Bapak. Di terima ya Pak??'' paksa Gilang, yang membuat Pak Kosim mengangguk dan mengambil kartu itu.


Dan tepat seperti firasat Gilang, bahwa kartu itu sangat berguna untuk mereka berdua. Saat setelah menghubungi majikannya, Pak Kosim keluar ingin menelpon Alisa.


Dan saat itu juga ia ke bagian resepsionis untuk membayar biaya pengobatan Gilang dan Lana selama dua Minggu ini.


Setelah selesai dengan pembayaran, barulah Pak Kosim menghubungi Alisa. Oleh karena nya, Abi Hendra tidak menjadi membayar biaya pengobatan dan biaya kamar VVIP milik Lana.


Yang ditaksir hampir seratus juta selama dua Minggu. Abi Hendra terkejut mendengar nya. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun tentang itu.


Karena ia kalah cepat dari suami sah secara hukum Alisa. Bahkan sekedar untuk mengakuinya pada Alisa pun Abi Hendra tidak berani.


Jadilah ia diam saja.


Dua Minggu sudah berlalu. Hari ini Lana dan Gilang sudah di izinkan untuk pulang, karena sudah sembuh dan sehat.


Hanya saja, semua kegiatan mereka berdua harus di batasi. Jika Gilang cidera pada bagian tulang rusuk belakang, sedang Lana pada tempurung otak sebelah kiri.


Itu makanya mereka koma beberapa jam. Sebenarnya dokter mengatakan, jika mereka berdua tidak akan sadar.


Mengingat benturan yang begitu kuat, sangat kecil kemungkinan mereka berdua bisa sadar. Tapi sepertinya keajaiban sedang berpihak pada nya.

__ADS_1


Begitu lah ucapan dokter beberapa saat yang lalu kepada Papa Angga dan juga Alisa. Kini kedua orang tua itu akan pulang dan keluar dari rumah sakit.


''Sudah siap??'' tanya Alisa pada Lana.


''Ya,'' sahutnya datar tanpa ekspresi.


Setelah kejadian dimana ia mengungkapkan keinginannya, agar Gilang tidak pergi tidak juga terkabul, Lana berubah menjadi datar dan dingin.


Alisa hanya bisa pasrah sekarang. Begitu juga dengan Gilang. Kini ia semakin datar dan dingin.


Wajahnya sangat dingin. Papa Angga yang melihatnya, hanya bisa menghela nafasnya. Gilang akan menyahuti jika ditanya. Jika tidak, maka dia akan kembali pada mode datarnya.


''Vita! Ayo kita pulang!'' titah Papa Angga.


Vita mengangguk. Setelah nya ia mendorong kursi roda milik Gilang, menuju lobi rumah sakit.


Baru setengah perjalanan, Gilang melihat seseorang yang begitu di kenalnya. Ia memegang tangan Vita untuk menghentikan laju kursi roda itu.


Vita menunduk. Ia tak bertanya, tapi melihat kemana arah tatapan mata Gilang. Terlihat disana, seorang wanita dewasa yang begitu Gilang cintai.


''Mbak Alisa..'' gumam nya masih terdengar oleh Gilang.


Tapi Gilang tak peduli dengan gumaman Vita. Matanya terus menatap ke depan, dimana sang pujaan hati sedang mendorong kursi roda juga menuju ke arah lobi.


''Jalan!'' titahnya.


Sekilas Vita tersenyum saat melihat anak kecil berwajah datar sama seperti Gilang saat ini.


Vita terkekeh. ''Benar-benar mirip!'' celutuk nya tanpa sadar.


''Siapa yang mirip?'' tanya Papa Angga menoleh pada Vita.


''Nggak ada Pa! Hanya seorang anak kecil yang berwajah datar, sangat mirip dengan Ayah nya saat ini.'' Sindir Vita.


Gilang menatap datar padanya. Vita tersenyum tipis melihat reaksi Gilang. ''Aku tau, kamu sangat ingin bertemu dengan putra mu itu. Apakah aku harus mempertemukan nya??'' Batin Vita berbicara dengan Gilang.


''Tidak!!'' Sahut Gilang dengan sedikit mendelik menghadap Vita.


Vita membulatkan matanya. ''Jiaaaahhh.. ternyata dia tau euyyy..'' batinnya lagi.


Gilang terkekeh. Vita tersenyum.


''Akhirnya..'' gumam Vita.


Gilang kembali pada mode datarnya. ''Haissshhh.. kembali lagi dah tuh datar! kayak triplek!'' gerutu Vita sambil terus mendorong kursi roda milik Gilang hingga menuju lobi.


Gilang tetap diam. Setibanya di lobi, sekilas ia melihat Alisa yang sedang menatapnya. Wajah itu begitu sendu.

__ADS_1


Ia sengaja menghalangi wajah Gilang dengan tubuhnya. Agar putra nya itu tidak melihat Papi yang dia rindukan selama dua Minggu ini.


Gilang tersenyum manis terhadap Alisa. Alisa terisak.


''I Love you Papi Gilang Bhaskara... I love you so much.. mmmuuaacchh...''


Dari kejauhan Alisa mengucap kata-kata itu. Gilang semakin tersenyum lebar.


''I love you more Mami Alisa Bhaskara..''


Setelah nya mobil yang dinaiki Alisa benar-benar pergi dan menghilang dari pandangan mata dua orang itu.


Vita tersenyum saat melihat Alisa tadi mengucapkan apa. Tidak ada rasa iri sedikit pun dihatinya, saat mengetahui jika Alisa wanita yang baik.


Karena wanita itu merelakan jika Gilang menikah dengan nya, walau ia sudah menjadi istri sah Gilang.


Vita menggandeng tubuh Gilang untuk masuk ke dalam mobil mereka. Sedari tadi, Gilang terus saja tersenyum.


Tapi ketika masuk kedalam mobil, wajah Gilang kembali datar dan dingin. Vita yang melihat itu terkekeh geli.


Gilang tetap sama. Ia tau, jika Vita sedang mencoba untuk membuat nya tertawa. Dasar Gilang! tetap mode datar.


Jadi, mau di bujuk sekuat apapun wajah itu tetap datar. Papa Angga hanya bisa menghela nafasnya melihat Gilang.


Karena semenjak Mama Dewi mengomeli nya karena wanita pujaan hatinya itu, Gilang semakin irit bicara.


Padahal saat itu Gilang baru saja siuman dari komanya. Vita ikut turut membela Gilang. Tetap saja. Dasar Mama Dewi.


Bisanya hanya menuduh tanpa melihat bukti nya. Itu yang Gilang sesalkan dari Mama nya. Gilang menyenderkan kepalanya di kursi mobil untuk mengurangi rasa sesak yang sedang mendera hatinya.


Sedangkan Alisa dan Lana, sekarang mereka telah tiba dirumahnya. Mereka disambut hangat oleh Abi Hendra dan Ummi Hani.


Lana dibawa masuk oleh Raga menuju kamarnya. Setiba nya disana, Lana langsung saja tidur.


Ia tak memperdulikan Raga dan Ira yang menatap nya dengan tatapan sendu nya. Ia menutup matanya, ia tau tadi sekilas melihat Gilang.


Walaupun sekilas, ia tau jika itu Gilang.


Aku sangat merindukan Papi.. terimakasih karena telah melihat kami walau sejenak. Sampai kapan pun, Papi tetap lah Papi Abang.. Abang akan menunggu Papi sampai kapan pun..


Abang sayang Papi.. sangat menyayangi Papi..


💕


Lembaran baru akan segera dimulai!


Ikutin terus kelanjutannya! 😉

__ADS_1


TBC


__ADS_2