
Selesai sholat, kini mereka berdua menuju kedapur. Gilang sedari tadi masih nemplok saja dengan Alisa.
''Ck! Awas ih! Kamu kayak cicak Hubby!'' kesal Alisa.
Ia sengaja menggeser tubuh Gilang dengan cara menyenggol kan sikunya ke perut Gilang.
Bukannya pergi, malah Gilang semakin erat memeluk tubuh Alisa dari belakang. ''Nggak mau! Aku mau kayak gini aja! Nggak mau jauh dari kamu! Kamu menyenangkan kalau di peluk seperti ini! Hem.. wanginya.. ughh..'' desis Gilang saat merasakan aliran darahnya berdesir lagi.
''Stop By! Ini kapan masaknya sih? Perutku lapar loh.. ishh.. lepas dulu! Setelah ini kamu baru boleh memeluk ku lagi! janji!''
''Betul ya? Jangan macam tadi lagi. Giliran mau di peluk, kamu malah lari ke dapur! padahal aku kan masih kangen! Lima tahun sayang! Lima tahun!'' keluh Gilang dengan wajah merengut masam.
Alisa terkekeh. Dengan segera ia berbalik dan memeluk tubuh tegap Gilang. ''Ternyata kekasihku ini sangat tinggi ya? Tidak seimbang denganku yang pendek ini? Cuma Sedagu kamu!''
Gilang masih kesal. Wajah itu masih merengut masam. Alisa tersenyum, ia membawa Gilang duduk dan berdiri di hadapannya.
Walau marah, tapi tangan itu tetap nangkring di pinggang ramping nya. Alisa terkekeh lagi. Tak tahan dengan Alisa yang selalu menggodanya, Gilang memegang tengkuk Alisa dan mulai melumaat benda lembut tak bertulang itu.
Mengecap, memagut dan mengulum hingga lenguhan keluar lagi dari mulut Alisa. Gilang melepas pagutan nya dan melihat wajah Alisa yang memerah karena hawa panas di tubuh mereka tiba-tiba meningkat.
''Aku kangen banget sama kamu sayang. Selama lima tahun lebih ini, aku selalu menunggu waktu bisa berdua saja dengan mu. Tolong sayang.. jangan menyuruh ku menjauh darimu. Sudah cukup selama ini aku menjauh darimu. Aku tersiksa tidak bisa bersama mu. Biarkan sekarang aku tetap berada disampingmu. Please Hunny..'' lirih Gilang dengan menyatukan kedua kening mereka.
Alisa terisak. ''Aku bukan bilang agar kamu menjauh By. Aku pun tidak ingin menjauh darimu. Lima tahun ini begitu menyiksa diriku.. aku sangat merindukan mu. Makanya ketika tangan kekar ini menyentuh setiap inci tubuhku aku membiarkan nya. Karena inilah Yang aku mau. Aku tidak munafik. Aku sangat merindukan sentuhan dari seorang lelaki. Yaitu kamu Hubby! Kamu, By! Kamu!'' seru Alisa dengan terisak. Ia memeluk tubuh tegap Gilang dengan erat.
Gilang membalas pelukan itu tak kalah erat. Mereka berdua menangis bersama. Sama-sama saling membutuhkan. Saling merindukan. Saling mencintai walaupun terpaut usia yang begitu jauh.
__ADS_1
''Aku juga sangat merindukan setiap sentuhan mu sayangku. Setiap kali aku berdekatan dengan mu, tubuhku berdesir. Kamu masih ingatkan saat aku menciumi pertama kali di taman safari pancur batu?''
Alisa mengangguk. ''Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku juga tidak munafik akan hal itu. Aku menginginkan setiap sentuhan dari tanganmu. Tapi waktu itu, kita tidak bisa melakukan nya. Sekarang? Halal untukku sentuh! Maaf jika dulu aku berbuat seperti itu padamu. Tapi.. itu hanya dengan mu. Tidak dengan gadis atau wanita manapun. Bahkan diluar negeri pun aku tidak pernah berbicara dengan para gadis disana. Karena aku selalu mengingat mu. Beruntungnya aku, putraku selalu meng update setiap hari foto terbaru tentang mu. Dan itu lah yang menjadi penyemangat saat aku tinggal diluar negeri, jauh darimu Lis..''
''Abang? Sejak kapan? Pantas saja aku selalu merasa diawasi. Ternyata kalian berkomplot untuk mengerjai ku ya? Curang ih! Kamu puas dengan melihatku? Tapi aku? hanya bisa melihat foto mu saja, By.. hiks.''
Gilang tertawa, namun air mata itu terus beruraian di pipi mereka. ''Kita sarapan? Kamu nggak ngantuk? Aku ngantuk banget loh..'' ucap Gilang masih betah berada di pelukan Alisa tepat di bagian dadanya.
Karena saat ini Gilang memilih untuk duduk agar setara tinggi dengan Alisa. ''Hem, aku juga sangat mengantuk dan juga sangat lapar. Kita dadar telur aja ya?''
''Oke! Aku bantu! Biar aku yang buatkan susu. Kamu masak aja telurnya! itu nasi kayaknya udah matang ya?''
''Ya, sebentar aku masak dulu telur dadar nya hanya sebentar kok.'' imbuh Alisa. Dengan segera ia memanaskan wajan dan mulai mengocok telur yang sudah di iris bawang, cabe dan juga garam.
Setelah itu Alisa mulai memasak lagi. Selesai dengan telur dadar, nasi pun sudah terhidang di meja. Cukup satu piring saja.
Selesai sarapan pagi, mereka masuk lagi ke kamar dan istirahat. Mata hanya tinggal dua Watt lagi.
Sudah tak sanggup terbuka lagi. Tapi masih dipaksa untuk terbuka. Kamar mereka sudah rapi.
Sempat mereka tertawa-tawa saat membersihkan kamar itu. Bagaimana tidak, saling tarik menarik hingga jatuh bersama dengan Gilang menimpa tubuh Alisa.
''Ceritakan yang tadi kamu bilang, saat kamu meracau memanggil namaku? Aku penasaran loh..''
Gilang tertawa. ''Saat itu aku masuk ke kamar dan kulihat jika Mama Rayyan tertidur begitu seksi. Tapi yang kulihat disana, itu kamu sayang.''
__ADS_1
''Aku?''
''Ya, yang terlihat Dimata ku jika itu adalah kamu, sayang. Bukan Mamanya Rayyan. Yang lebih parahnya, aku sempat bilang jika melonnya itu sangat kecil berbeda denganmu. Begitu juga dengan milikmu yang begitu sempit. Aku pun menanyakan hal yang sama padanya.'' jelas Gilang, dengan menatap ke langit-langit kamar mereka yang masih banyak bergelantungan kain tipis.
''Terus?''
''Terus? ya.. terjadilah seperti yang kita lakukan tadi malam dan pagi ini.. aku sempat mengatakan padanya jika aku sangat mencintaimu. Dan paginya aku mengulanginya sekali lagi.. aku berharap jika benih ku tumbuh menjadi malaikat kecil yang akan menyatukan kita berdua nanti.''
''Dan ya, malaikat kecil bernama Rayyan itulah yang selalu membuatku tertawa selama lima tahun ini. Dia begitu mirip dengan mu, By! Sangat mirip. Hanya saja bibirnya itu begitu mirip denganku? Benarkan?''
Gilang terkekeh, ''Ya, yang ada padanya begitu mirip denganmu. Kamu tau, saat aku mengadonnya yang aku lihat di bawahku itu kamu, sayang. Dan aku pun meminta jika suatu saat aku memilki putra, maka akan mirip dengan kita berdua. Vita hanya yang melahirkan saja!'' Gilang tertawa setelah mengatakan itu.
''Ih, jahat banget kamu! Mintanya kayak gitu! Kan kasian, by! Gimana ketika ngidam nya ya?''
''Ngidam?''
''Ya, saat Vita ngidam. Aku jadi penasaran. Seperti apa kira-kira? Apakah dia juga menginginkan masakan ku?''
Gilang tertawa saat mengingat sesuatu. ''Ya, kamu benar. Saat terakhir kali kamu mengantar ku di bandara ternyata saat itu, Vita sudah hamil. Aku tidak tau sayang. Pantas saja, Vita sangat ingin makan puding lumut, bolu pisang, serta risoles buatan mu! Ternyata... Haha.. Vita ngidam! Ngidam ingin makan makanan langsung yang dibuat tanganmu sayang!''
Alisa pun ikut tertawa. Mereka berdua bercerita tentang masa lalu yang berujung dengan tertawa terbahak.
Setelah lelah, mereka berdua saling tidur dengan berpelukan. Saling menghangatkan satu sama lain.
πΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Hehehe.. cerita masa lalu euuuyyy! Seruuu!!
Hadiahnya ya? ππ