
Acara ulang tahun diadakan dengan meriah kediaman keluarga Bhaskara. Acara itu bertambah lengkap dengan adanya Gilang sebagai Papi Rayyan.
Walaupun masih dalam suasana genting akibat penjelasan Gilang yang belum jelas bentuk dan kadarnya, acara ini memang sengaja Gilang siapkan untuk ulang tahun putra pertama nya sekaligus ingin meminta jawaban dari seseorang yang selama ini selalu ia sebut di dalam doa nya.
Mama Dewi dan Papa Angga hanya bisa diam saat ini. Mereka terpaksa memasang senyum palsu untuk seluruh tamu yang sudah di undang nya.
Suara gemuruh tawa juga sorak sorai sedang menghiasi halaman luas milik keluarga Bhaskara.
Saat ini Rayyan sedang di goda oleh Gilang untuk potongan kue pertama nya itu akan di berikan kepada siapa.
Gilang dan Lana yang memang usil, sengaja mengerjai Rayyan agar acara itu semakin meriah.
''Ayo Nak, berikan suapan kue pertama mu. Ingin di berikan kepada siapa, hem?'' tanya Gilang.
Rayyan tersenyum manis. ''Mami!'' serunya dengan wajah senang.
Tapi tidak dengan Lana dan Gilang, mereka memasang wajah malas. ''Ck! kamu gimana sih Dek, tiap tahun selalu aja Mak yang mendapatkan nya! Masa' kami cuma dapat sisa doang?''
Semua yang mendengar tertawa. Begitu juga dengan Gilang. ''Hooh, bener itu! Sekarang gantian! Adek suapin itu ke Papi sama Abang! Tak ada bantahan!'' tegas Gilang becanda.
Rayyan terdiam, ia melihat Gilang dan juga Lana. Ia menatap sendu kepada Alisa, mata itu mengembun dan berkaca-kaca.
''Mamiii... endooongg...'' pekik Rayyan.
Semua yang ada disana tertawa puas. Termasuk Gilang dan Lana. Mereka puas mengerjai anak kecil yang baru berusia lima tahun itu.
''Papi! Ck! Jangan begitu ah! Sama anak nya! Abang juga!'' tegur Alisa, Gilang dan Lana hanya tertawa saja.
Sedangkan Rayyan sedari tadi sudah menangis karena potongan kue pertama tidak jadi ia berikan kepada Mami Alisa.
''Ayo Nak. Adek ambil kue nya. Berikan kepada siapa yang adek inginkan! Ayo!'' titah nya lembut pada Rayyan.
Rayyan menatap nya dengan dalam, walau mata itu masih sembab karena menangis. Alisa tersenyum dan mengecup dahi putra sambung nya itu.
Mata itu mengerjab. Ia menggeliat ingin turun dari gendongan Alisa dan mendekati potongan kue.
Alisa yang paham mengikuti langkah Rayyan. Mama Dewi hanya menjadi penonton saja.
__ADS_1
Jika dulu ia senang karena cucunya itu senang. Berbeda dengan sekarang. Semua itu karena fakta yang mengejutkan dari Gilang pagi ini.
Rayyan mengambil potongan kue yang di potong-potong kecil untuk diberikan kepada siapa saja.
Rayyan memperhatikan semua anggota keluarga nya. Ia melihat Alisa sedang tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.
Gilang memutar bola mata malas. ''Ck! pasti bakalan Mami nih yang duluan! Lah, Papi?? Hemmm...'' ucap Gilang dengan raut wajah sendunya.
Rayyan masih menatap kedua orang tuanya. Ia berjalan mendekati mereka berdua. Melihat itu Gilang tersenyum tipis.
Rayyan terus berjalan, tapi tidak ke arahnya. Gilang heran melihat tingkah putra nya itu. Alisa mengulum senyum.
Karena ia sudah bisa menebak kemana arah kaki Rayyan melangkah. Tiba di depan Mama Dewi dan Papa Angga, lagi Rayyan melihat Alisa.
Alisa mengangguk kan kepalanya nya lagi. Seakan tau, Rayyan menyuapkan kue pertama nya kepada Mama Dewi dan Papa Angga.
Melihat itu Mama Dewi tertegun begitu juga dengan Papa Angga. Mereka tak menyangka jika potongan kue pertama itu ditujukan untuk mereka.
Gilang melongo melihatnya. Sedangkan Alisa terkekeh. Gilang menoleh, ''Kamu sengaja ya menyuruh putra kita untuk menyuap kan potongan kue itu pada kedua orang tuaku, bukan nya padaku? Kamu gimana sih sayang! Ck!'' Gilang berdecak kesal.
Sedangkan Alisa tergelak. Melihat keakarabah antara Alisa dan Gilang, Mama Dewi terdiam lagi.
Lagi dan lagi Mama Dewi tertegun. Begitu juga Papa Angga yang sedang memeluk cucu pertama nya itu.
''Oma??'' pinta Rayyan dengan mata berkaca-kaca.
Tak tahan dengan kepolosan cucu nya itu, Oma Dewi mengangguk. Rayyan tersenyum manis dan berjingkrak-jingkrak kesenangan.
''Holeeeee... Mami cama Papi akan tinggal bareng Lay!!!! Holeeeee .. Mamiiii... Papiii...'' pekik Rayyan kesenangan.
Gilang dan Alisa yang sedang bercanda terkejut dengan dengan teriakan Ray. Seluruh tamu pun begitu.
Gilang tersenyum, jika putra nya itu telah berhasil membujuk Mama Dewi untuk menerima Alisa.
Alisa pun sama. Ia merangkul putra nya itu dengan tersenyum manis. Gilang pun ikut tersenyum melihat Alisa dan Rayyan tersenyum.
Lana yang usil mencoba untuk mengganggu nya lagi. ''Ck! kan udah di bilangin! Adek nggak asik ah! Pasti gitu tiap tahunnya! Kue pertama nya kalau nggak Mak, pasti Oma Dewi! Ck! Kapan Abang kebagian nya sih?! Padahal kan Abang yang sering nemanin main??'' sungut Lana, ia memasang wajah sesedih mungkin agar adik tersayang nya itu mendatangi nya.
__ADS_1
Benar saja, Rayyan yang sedang asyik-asyiknya di gendong Alisa memilih turun. Ia mengambil empat potong kue dan berjalan ke arah Lana.
Lana yang menunduk dapat melihat dari ekor matanya, jika Rayayn sedang mendekat ke arah nya.
Lana mengulum senyum. Sebisa mungkin ia menahan wajah sedih nya itu di depan Rayyan. Tiba disana..
''Abang Lana! Adek bawa kue untuk Abang! Maaf kalau tadi adek kaci ke Oma dulu. Adek punya permintaan tadi cama Oma, makanya kecana dulu. Abang jangan malah ya?'' pinta Rayyan dengan mata berkaca-kaca.
Lana mendongak dan melihat Rayyan yang sedang menatap nya. ''Boleh Abang tau, apa permintaan adek tadi sama Oma?''
Rayyan menyuapkan potongan kue itu ke mulutnya. Lana menerima nya dengan suka cita.
Ia tersenyum manis melihat Rayyan. Rayyan memeluk nya dan berbisik di telinga Lana. Lana mendengar kan dengan seksama.
Rayyan melepaskan pelukannya dari Lana, sedang Lana menatapnya datar. Setelah itu, ia tergelak kencang hingga kepalanya mendongak ke atas.
Sedang Rayyan nyengir kuda.
Gilang heran melihat tingkah Lana. ''Ada apa dengan putra kita itu, sayang? Kenapa sampai seperti itu tertawa nya?'' tanya Gilang pada Alisa.
Alisa tersenyum. ''Palingan ia tau apa yang menjadi permintaan Rayyan.'' Sahut Alisa enteng.
Gilang memicingkan mata nya. ''Kayak nya kamu tau ya apa yang jadi permintaan Rayyan?'' selidik Gilang.
Alisa tergelak. Sekarang gantian, Lana dan Rayyan yang menoleh. Mereka berdua saling pandang.
Begitu juga dengan Mama Dewi dan Papa Angga. Sedangkan Ira, ia sedang menerima panggilan dari Abi Hendra untuknya.
💕
Hehehe.. othor mau promo lagi nih! Klean jangan kaget ya!
Sambilan nunggu Gilang update, mampir dulu ke cerita teman othor ini!
Karya nya othor Eveliniq.
Like dan komen klean selalu ditunggu! 😘😘
__ADS_1