
''Bukannya aku tidak mau menikah denganmu Gi.. hanya saja aku tidak pantas bersanding denganmu. Terlepas dari masa lalu ku, itu memang menjadi poin utama. Karena aku belum bisa menyembuhkan luka hatiku! Sangat sulit Gi.. untuk hidup mandiri tanpa suami.. jika aku menikah denganmu, apa yang akan dilakukan oleh tetangga ku disini? Tak menutup kemungkinan jika mereka menganggap, aku suka sama berondong! dan aku akan di tuduh, aku hanya mengincar hartamu saja!''
''Eh? kok bisa gitu??'' tanya Gilang.
''Ya bisalah Gi.. secara aku ini seorang janda yang diceraikan oleh suami, bukan dicerai mati karena meninggal. Mereka akan berpikiran jika aku hanya wanita hina, wanita gila harta, karena saking butuh nya aku akan uang, aku menggaet mu untuk menjadi suami ku! Kamu kan tau Gi.. ibu-ibu disini tuh julid!memandang rendah orang lain tanpa tau apa yang sebenarnya!'' ucapnya menggebu-gebu.
Gilang terkekeh. ''Kamu kok bisa berpikir seperti itu sih?! Belum tentu loh.. mereka semua bersifat seperti itu.. hanya sebagian saja Lis.. kamu kan yang lebih tau tentang sekitarmu disini??'' ujar Gilang, serta menatap Alisa dengan mendongakkan kepalanya.
''Huh! sebel aku sama mereka! ya bisalah Gilang... kamu gimana sih?! Yang namanya ibu-ibu jilid nggak pandang bulu! mereka semua memandang rendah seorang janda! bahkan aku dituduh merebut suami orang..'' lirih Alisa.
Ia yang tadinya kesal, kini berubah sendu.
''Jika itu yang kamu takutkan, baik! aku akan menikahimu di depan mereka! aku akan menunjukkan kepada mereka, jika kamu tidak seperti itu! Kamu istimewa Lis.. tak ada tandingannya dengan wanita lain!'' seru Gilang, ia memeluk Alisa begitu erat.
Alisa menggigit bibirnya. Ia malu di dekap seperti itu oleh Gilang. Ada rasa berdesir dihatinya untuk Gilang.
Perlakuan Gilang sungguh manis padanya. Perlakuan yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya. Pernah, ketika masih bertunangan. Tapi setelah menikah, semua itu berubah.
Alisa melamun. Gilang yang merasakan Alisa yang hanya diam saja, melepaskan pelukannya.
''Kenapa? Apa yang kamu pikirkan??'' tanya Gilang.
''Eh? eng-enggak.. nggak ada apa-apa. Sebaiknya kamu istirahat ya? Malam sudah semakin larut. Besok kamu sekolah kan??'' tanya Alisa.
Gilang menggeleng. ''Aku tak mau kemana pun! aku hanya ingin disini bersama mu! Bersama mu hidup ku terasa indah Lis! Tolong terima tawaran ku tadi ya? Karena jika kamu menerimanya, maka besok pagi aku akan mengurus segalanya! Aku tak butuh siapapun untuk menjadi waliku! Yang ku butuhkan hanya kau Lis! bukan yang lain!'' seru Gilang.
Alisa mematung. Apa katanya? Besok? Apa ia tak salah dengar? Ada apa dengan bocah ini? pikir Alisa.
__ADS_1
Alisa menatap Gilang. Gilang tersenyum manis. Mata yang tadi terlihat begitu sendu, kini berubah begitu berbinar. Seolah apa yang dipinta olehnya, maka itulah yang akan terjadi.
''Apa kamu bilang?? Besok?? Kamu jangan ngacok Gi!''
''Aku serius Lis! Izinkan aku untuk berlabuh dihatimu, izinkan aku yang menjadi pengobat Luka dihatimu, izinkan aku yang menghilangkan jejak sakit yang disebabkan oleh mantan suami mu! Berikan kesempatan itu Lis! Aku bersungguh-sungguh ingin menikah denganmu! Karena sejak pertama kali melihat mu, aku sudah merasakannya. Jika kaulah Wanita yang selalu hadir dalam mimpiku dari empat tahun silam.. Kaulah orangnya Lis! Izinkan aku menikahi mu Lis..'' pintanya, seraya menatap manik mata hitam yang berkilauan itu.
Alisa terpaku mendengar ungkapan Gilang. Sungguh jika ia masih gadis, tentulah sangat menyenangkan bila ada seseorang yang sedang melamarnya. Tapi..
Aku seorang janda!
Alisa diam. Ia menatap Gilang yang juga sedang menatapnya. Pancaran mata Gilang begitu berbinar penuh sarat akan cinta untuknya.
''Aku tak pantas dengan mu GI.. kamu lebih pantas dengan wanita yang sebaya denganmu. Carilah wanita lain yang sebaya dan setingkat denganmu. Aku ini hanya seorang janda punya anak tiga. Kamu masih muda Gi.. masih bisa mencari yang pantas bersanding denganmu. Aku tidak layak untukmu! aku tidak pantas bersanding di sampingmu Gi.. carilah yang lain..'' lirih Alisa.
Begitu sesak di dada saat mengatakan hal itu. Alisa menatap ke depan, tanpa melihat Gilang. Ia tak sanggup, melihat pancaran mata itu meredup.
''Kenapa?? Apakah karena aku masih kekanakan, Apakah karena aku belum tamat SMA? Atau, apakah kamu meragukan jika aku tidak sanggup menghidupi mu beserta dengan anakmu??''
Bagaimana ia tau jika memang itu yang sedang aku pikirkan??
Alisa melotot. Apa yang dipikirkan olehnya malah disebutkan oleh Gilang satu persatu.
''Apakah karena itu kau menolak ku Lis?? Jika memang iya, kamu nggak usah takut! Aku sudah punya usaha sendiri tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku. Usaha itu ku rintis saat aku masih duduk di kelas satu SMA. Dan sekarang aku sudah kelas tiga, yang berarti usaha ku sudah tiga tahun lamanya. Kaulah orang yang pertama kalinya yang ku beri tahu tentang usaha ku ini. Tak ada yang tau tentang ini. Sengaja aku sembunyikan! Karena aku tidak ingin dianggap hanya menghabiskan uang orang tua saja, maka dari itu aku buka usaha ini sejak dulu! Jauh sebelum kita bertemu!'' ujar Gilang panjang lebar.
Lagi, Alisa terkejut dengan perkataan Gilang. Ia tak menyangka jika pemuda ini, sudah sukses saat masih sekolah. Sedangkan diri nya sudah su'udzon padanya.
''Maafkan aku Gi.. bukan maksudku tidak percaya jika kau mampu untuk menghidupi kami.. hanya saja...'' Alisa menengadah keatas, ia tak ingin menatap Gilang.
__ADS_1
''Apa?? Lantas apa yang kau ragukan dari ku Lis?? Apakah... kau ingin aku menjadi duda dulu? Baru setelahnya kau mau menerima diriku? Begitu??'' desak Gilang.
Alisa tergugu. ''Bu-bukan itu maksudku! A-aku.. ha-hanya...'' Alisa jadi tergagap karena Tak tau harus berbicara apa lagi pada Gilang.
''Kenapa Lis?? Kenapa begitu sulit bagi mu untuk menerima kehadiran ku? Aku kan sudah bilang, kamu tak perlu takut jika aku tidak bisa menghidupi mu dan anak kita nantinya. Aku bisa Lis.. please.. terima ya,'' ucapnya dengan wajah memelas.
Alisa menatapnya tanpa kedip.
Cup!
Alisa melotot. ''Gilang!'' seru Alisa.
Gilang nyengir. ''Hehe habisnya kamu lama amat sih jawabnya? Tinggal jawab aja apa susahnya sih?! Daripada menunggu jawaban yang tidak jelas, kan lebih baik dipancing dulu gitu! mana tau bidadari ku ini terpancing dengan umpan yang Papi Gilang lempar ??'' ucapnya, sengaja dengan menggerakkan alisnya naik turun untuk menggoda Alisa.
Blushhh.
''Hehehe.. kepancing tuh! lihat aja wajahnya memerah! uhuy! berarti Papi berhasil dong menggoda Mami?'' ujarnya lagi.
Lagi dan lagi Alisa merona.
💕
Uhuyyyyy.. malu Mak! udah tua! masih aja mau digoda Papi! 😁😁
Like dan komennya ya..
Terimakasih yang udah mampir 🙏
__ADS_1
💕
TBC