
Saat masih larut dalam kesedihan, Gilang masih memeluk Alisa dengan erat. Alisa tidak ingin melepaskan Gilang sama sekali.
''Sabar sayang... adek pasti selamat. Sabar ya..'' lirihnya dengan sangat pelan.
Tenaga nya begitu lemas, karena sedari berangkat ia belum sarapan sama sekali. Dengan kejadian ini mana mungkin ia bisa makan.
Gilang dan Alisa masih saling berpelukan saat pintu ruang NICU terbuka dari dalam.
Ceklek,
''Keluarga pasien??''
''Saya! saya ayahnya!'' sahut Gilang sembari membawa Alisa ke depan dokter itu.
Deg.
Sedangkan seseorang disana berdiri mematung melihat Gilang sedang memeluk seorang wanita dan juga menyebutkan ia ayah dari seorang anak.
''Anak?? Gilang Bhaskara?? Bukannya ia masih sekolah ya?? Dan bukannya baru kemarin saya lihat dia di kantor?? Sudah hampir sebulan ini Gilang di kantor! Kenapa pula sekarang, anak itu ada disini? Pasti ada yang tidak beres! Aku akan bertanya kepada Pak Angga nantinya.'' gumamnya seraya berlalu meninggalkan Alisa dan Gilang yang berdiri di hadapan dokter.
Dokter tampan ber sneli putih itu menghela nafasnya.
''Maaf... kami tidak bisa menyelamatkan anak anda..'' ucapnya dengan menunduk.
Ddddduuuaaarrrr..
Bagai disambar petir, Alisa dan Gilang berdiri mematung. Alisa melepas pelukannya dari Gilang menatap dokter muda sebaya dirinya itu.
''Adek?? Annisa??'' beo Alisa.
Gilang mengerjab. Masih belum percaya apa yang dikatakan dokter muda di depannya ini. Gilang menggeleng.
''Nggak! itu nggak mingkin! dokter pasti bohong!'' ucapnya dengan bibir bergetar.
Dokter muda itu menunduk. ''Maaf.. kami sudah berusaha.. kami sudah semaksimal-''
''Nggak!! adek belum meninggal!! dokter pasti bohongkan?! hah?! jangan bercanda dokter?! ini nggak lucu!'' imbuh Gilang sembari menyusut air mata yang mengalir tanpa di pinta.
Alisa tercekat mendengar ucapan dokter muda itu. Pikirannya melayang mengingat kedua anaknya disana.
Bagaimana jika mereka tau kalau adek mereka tidak selamat?? Alisa diam seribu bahasa.
Ia shock dengan ucapan dokter muda yang berdiri di hadapannya ini.
Dokter itu tersenyum menatap dua anak manusia berbeda generasi tersebut. Gilang masih saja meracau tidak jelas.
__ADS_1
''Nggak! nggak mungkin adek ninggalin Papi!! Adek udah janji akan selamat! Enggak! Papi nggak terima ini hiks.. Papi nggak terima...'' ujar Gilang dengan menepuk dadanya yang begitu sesak.
Dokter muda itu mematung mendengar ucapan Gilang. Ia pikir, Gilang hanya mengaku saja sebagai ayah anak itu. Ternyata?? Benar!
''Maaf kan kami.. kami sudah berusaha.. tapi Tuhan berkehendak lain..'' lirihnya lagi
''Nggak!!! aku nggak percaya!!!'' sentak Gilang.
Secepat kilat Gilang berlari masuk ke dalam ruang NICU itu. Sesampainya disana, terlihat bayi kecil yang baru saja beberapa detik yang lalu ia selamatkan kini sudah terbujur kaku.
Air mata mengalir deras. Hatinya begitu sesak melihat putri kecilnya sudah kaku tak bernyawa. Gilang tersedu.
''Nggak... jangan tinggalin Pa..Pi.. Nak.. Papi sayang adek... bangun nak... ayo... bangun... haaa.. anakku... huhuuuu... adeeeekkk... banguuunnn... jangan tinggalin Papi sayang... haaa...'' ia menjerit histeris di dalam sana.
Gilang berdiri di tepi brangkar, ingin mengambil Annisa dan menggendong nya. Gilang membawa bayi itu ke dalam pelukannya, bayi itu tubuhnya terasa dingin.
Sesak sekali melihat bayi kecil itu sudah tak bernyawa.
''Bangun Nak... bangun sayang... jangan tinggalin Papi... adek udah janji sama Papi.. jika adek pergi.. maka Papi pun akan ikut dengan mu... jangan tinggalin Papi... haaaaaaaa... huuuuuuuu... ba... nguuuuuunnn....'' jerit Gilang.
Sesak sekali dadanya. Ia masih terus memeluk bayi yang sudah tidak bernyawa itu.. Sedangkan dokter yang mendengar Gilang berteriak histeris di dalam meneteskan air matanya.
Belum pernah selama ini, dokter muda itu menangis. Tapi mendengar ratapan Gilang yang begitu pilu, membuat hati nya begitu tersayat karena tidak mampu menyelamatkan bayi itu.
Alisa masih berdiri mematung disana. Air mata terus saja mengalir di pipi tirusnya. Tak ada suara ataupun tatapan seperti Gilang.
''Maafkan kami...'' ucap dokter itu senantiasa menundukkan kepalanya.
Alisa menoleh dengan berlinangan air mata.
''Ini nggak benar kan dokter??'' tanya nya.
Dokter menggeleng, membuat Alisa berjalan gontai menuju ruang NICU untuk melihat putri kecilnya itu.
Tiba di dalam ruangan NICU Alisa berdiri mematung melihat Gilang teriak histeris tak karuan memanggil Annisa.
''Adek??'' beo Alisa dengan tatapan kosong nya.
Gilang tak menghiraukan, ia masih saja histeris memanggil Annisa.
Hancur sudah dunia nya. Luruh semua harapannya. Alisa tertawa dalam tangis.
''Hahaha.. adek meninggal?? Itu nggak mungkin Gilang! Dia masih hidup! kamu ngacok Gi!'' imbuhnya sambil mendekati Gilang dan duduk di sebelah nya.
Gilang menggeleng. Untuk sesaat ia tidak bisa berkata apapun. Lidahnya terasa Kelu walau hanya sekedar mengucapkan kata.
__ADS_1
Alisa masih saja tertawa. Tapi ada yang aneh dengan tertawanya. Alisa tertawa namun air mata beruraian.
Mulut tertawa hati menangis.
''Sa-sayang... hiks.. hiks..'' ucap Gilang sambil menangis.
''Apa?? adek masih hidup, kok. Nggak percaya?? coba aja cek nafasnya! aku tau jika Adek hanya tidur sebentar! dia nggak mati! dia masih hidup! dia nggak akan tinggalin aku! kamu tau Gi?? Karena adeklah aku bisa bertahan dari guncangan batin yang di berikan oleh ayahnya! mana mungkin adek pergi sebelum menyelesaikan tugasnya! bangun dek! kamu sayang Mak kan?? ayo buktikan sama Papi! jika kamu hanya tidur sebentar! setelah ini ayo bangun! kita akan pulang! Kakak dan Abang menunggu kita di rumah! ayo bangun dek!'' serunya pada bayi kecil yang sudah terbujur kaku.
Gilang masih saja menangis, ia menggeleng mendengar ucapan Alisa.
''Sadar sayang! adek udah nggak ada...'' lirihnya sambil membawa Alisa kepelukan nya.
Alisa tertawa namun air matanya terus mengalir tanpa dihentikan.
''Nggak! adek masih hidup Papi!!!'' sentak Alisa.
Gilang terkejut. Ia merengkuh Alisa dalam pelukannya. Begitu juga dengan bayi kecil itu masih dalam pelukan hangat Gilang.
Annisa berada diantara dua pasang manusia yang berlainan. Gilang terus saja memeluk Alisa, dengan Alisa yang juga semakin tersedu di dalam pelukannya.
Saat Gilang ingin melepas pelukan itu, tiba-tiba ia merasakan jika Annisa bergerak. Gilang mematung.
Apakah ini benar?? Lagi, Gilang memeluknya lebih erat. Terasa disana detak jantung Annisa yang begitu lemah.
Gilang mengerjab dan menoleh ke Alisa.
''Sayang.. adek??'' ujar Gilang melalui sorot matanya.
Alisa mengangkat wajahnya. Ia melihat Annisa yang masih terdiam dalam pelukan Gilang. Lagi ia tersedu.
''Bangun Nak... jangan tinggalin kami.. kamu permata hati kami.. bangun sayang.. tanpa adek.. apalah Mak sama Papi.. bangun sayang.. bangun...'' bisik Alisa di telinga Annisa. Dengan wajah yang penuh dengan air mata.
''Hek hek eaaakk..'' bayi itu menangis namun begitu pelan.
Gilang menoleh, begitu juga dengan Alisa. Mereka saling pandang.
''Adek?? Kamu selamat Nak! Alhamdulillah.. ya Allah... adek bangun sayang... adek bangun...'' seru Gilang begitu kuat, hingga terdengar sampai keluar.
Dokter dan perawat berdiri mematung di depan pintu karena terkejut akan kenayataan jika bayi yang sudah di vonis meninggal setengah jam yang lalu, kini hidup kembali.
Masyaallah...
💕
Hah! senang nya... akhirnya bisa bernafas lega..
__ADS_1
Like dan komen!
TBC