Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Kalian tau?


__ADS_3

''Kenapa? Apa yang terjadi? Aku sudah memaafkan Abang sedari dulu. Kita sudah bahagia dengan kehidupan kita. Ada apa lagi ini?'' tanya Alisa masih dengan kebingungan.


Ayah Emil semakin tersedu. ''Hiks.. Abang salah padamu. Karena telah menuduh mu pembawa sial! Abang salah kepada ketiga anak kita. Karena tidak menganggap mereka anak kandungku.. maafkan aku Alisa.. maafkan aku...'' lirih ayah Emil masih dengan duduk bersimpuh di lantai nan dingin bersama Azizah.


Sementara Lana dan Ira mereka berlarian saat tadi mendapat kan kabar dari Fitri tentang keberadaan ayah mereka.


Tiba disana, Lana dan Ira mematung di tempat. Mereka mematung melihat kedua orang tua mereka yang sedang dalam posisi yang tidak seharusnya.


''Bangun Bang! Tak enak dilihat orang. Dikira aku ini sangat keterlaluan pada kalian berdua. Ayo! Bangun!'' titah Alisa lagi untuk yang kesekian kalinya.


Ia semakin pusing dengan tingkah dua orang itu. ''Apakah kalian ingin melihatku marah disini?!'' seru Alisa dengan suara naik satu oktaf.


Setelah mengatakan itu, Alisa berdehem. ''Ayo! jika kalian ingin aku maafkan, maka bangun! Ikuti aku! Kita bicara di restoran depan sana! Jangan disini! Dikira aku tukang tagih hutang apa! Yang begitu keterlaluan pada nasabah ku?? Isshh..'' gerutu Alisa.


Dengan segera, Alisa menggamit lengan ayah Emil dan Azizah bersamaan untuk di bawa ke restoran di seberang toko rotinya.


''Ishhh.. berat banget sih?!'' gerutu Alisa lagi. Emil dan Azizah yang tadi menangis kini terkekeh-kekeh melihat tingkah Alisa.


Dengan segera mereka bertiga pergi ke restoran seberang, namun sebelum mereka berjalan, saat berbalik mereka bertiga terkejut dengan keberadaan Lana dan Ira yang mematung melihat mereka.


''A-ayah?!?''


Deg!


''Kakak! Abang!'' seru Alisa.


Ayah Emil menatap mereka dengan wajah sendu. ''Hiks, anakku...'' lirih ayah dengan tersedu kembali.


Alisa memutar bola mata malas. ''Ck! Ayo ah, kita bicara disana! Jangan disini! Malu aku...'' rengek Alisa dengan memanyunkan bibirnya.


Bukannya malah marah, Ayah Emil dan Azizah terkekeh-kekeh geli melihat kelakuan absurd Alisa.


Lana dan Ira melongo melihat tingkah Mak mereka seperti itu. ''Apa lihat Mak seperti itu! Telepon Papi kalian! Ck! Pasti si tampan itu sedang merajuk sekarang! Ayo!'' ketus Alisa sambil mengajak mereka semua pergi dari sana.


Sambil bersungut-sungut tidak jelas, mereka berempat mengikuti Alisa dengan tertawa. Alisa berbalik menatap tajam pada ke empat orang yang sedang menertawakan nya.


Mereka berempat terdiam seketika karena melihat tatapan tajam dari Alisa. Lana terkikik geli.


''Apa?! Mau bilang Mak kayak adek begitu?!'' ketus Alisa lagi sambil terus berjalan.

__ADS_1


Lana dan Ira tertawa lepas. ''Hahaha... Mak mirip sama adek Rayyan! hahahaha...'' ucap Lana sambil terus tertawa.


''Apa katamu?! hem?! mau Mak sunat untuk yang kedua kalinya kamu?! Biar burung mu itu terbang meninggalkan sarangnya? hem?!'' ancam Alisa dengan tajam.


''Hihihi.. udah ih! Kita di pinggir jalan loh.. Kakak udah nelpon Papi. Sebentar lagi pasti akan kesini. Ayo!'' ajak Ira, gadis cantik berniqob itu dengan segera menarik tangan ayah Emil dan menuju ke restoran seberang.


Lana menggamit tangan Alisa dan Azizah. Ia menggandeng kedua orang itu dengan tersenyum nakal.


''Aseeeekk... Abang punya dua bidadari cantik sekarang ini. Huhu.. enaknya punya dua Mak?? uhuyyyyy..'' celutuk Lana membuat Azizah dan Alisa tertawa.


Mereka berjalan bersama menuju restoran di depan toko kue Alisa. Tiba disana, mereka langsung duduk.


Lana memesan makanan dan juga minuman untuk ketiga orang taunya. ''Kayaknya ada yang kurang deh? Aha! Papi!'' seru Lana.


Dan tanpa diduga, Gilang pun sudah muncul di belakang mereka. ''Sayang! Kamu tidak apa-apa? Apa nya yang sakit? Apa yang teluka? hem?'' cecar Gilang saat memasuki restoran itu dengan berlari Karena panik.


Alisa terkejut saat melihat wajah Gilang begitu dekat dengan nya. Lana terkikik geli. Sementara Emil dan Azizah saling pandang melihat Gilang begitu mencemaskan keadaan Alisa.


''Ih, lepas! Malu By! Ada tamu itu!'' tunjuk Alisa dengan dagunya. Karena kedua tangan nya sedang di peluk erat oleh Gilang.


Gilang tersadar dan terkekeh. ''Hehehe maaf sayang. Saking paniknya aku tinggalin meeting aku di kantor! Kata Abang, kamu sakit?''


''Abang! Papi sunat dua kali, mau??'' ancam Gilang.


Lana terdiam. ''Hehehe.. selow Papiii! Selow Man...'' Gilang menggeleng kan kepala nya.


''Siapa sih tamunya- Loh? Zizah? Dan... bang Emil?!'' seru Gilang dengan wajah terkejut setelah melihat siapa yang menjadi tamu mereka.


Azizah terkekeh. ''Maaf Tuan Gilang. Kedatangan kami mengejutkan anda dan mbak Alisa. Kami datang kesini, karena bang Emil ingin ngomong sesuatu sama mbak Alisa tentang kejadian dua belas tahun lalu!''


Deg!


Jantung Alisa berdegup kencang. Ia menoleh pada Emil dan Azizah secara bergantian. ''Apa maksud mu?''


Azizah terkekeh. ''Ayo, Bang! ngomong! Tadi katanya mau ngomong. Tuh orang nya udah ada di depan kita!'' imbuh Azizah pada ayah Emil.


Ayah Emil mengangguk setuju. Ia menatap Gilang dan Alisa. ''Maaf.. jika kedatangan ku kesini membuat kalian jadi panik. Aku hanya ingin minta maaf pada Alisa untuk...'' ayah Emil berhenti bicara karena melihat wajah datar Gilang.


Berbeda sekali saat tadi ia berbicara bersama Alisa. ''Untuk??'' tanya Alisa, karena melihat ayah Emil terus saja menatap Gilang.

__ADS_1


''Untuk kejadian dua belas tahun silam. Karena dia mengatakan, kamu adalah pembawa sial di dalam hidupnya! Begitu juga dengan ketiga anakmu yang tidak dianggap oleh nya dan ibu nya!''


Deg!


Deg!


Jantung ayah Emil berdegup tak beraturan. Wajahnya begitu terkejut jika Gilang mengetahui masalah mereka puluhan tahun silam.


''Kenapa? Kau terkejut? Kau kira aku tidak tau tentang apa yang terjadi pada istriku dua belas tahun silam?! Aku tau! Aku tau semuanya!''


Deg!


Lagi, jantung ayah Emil semakin bergemuruh hebat. Ia menatap terkejut lagi wajah Gilang yang masih menatap nya dengan datar.


''K-kau ta-tau?!'' tanya Ayah Emil dengan tergagap.


''Ya, aku tau semuanya! Karena itu aku mengirim Azizah untuk menyelidiki semua itu. Dan bisa ku tebak, jika kau sudah tau siapa pelaku yang sebenarnya bukan? Makanya kau datang kemari untuk menemui istriku dan meminta maaf padanya??''


Deg!


Lagi, jantung ayah Emil semakin memompa darahnya dengan cepat. Tangan ayah Emil bergetar.


Ia menatap Alisa, Gilang, Azizah, Lana dan Ira. Setelah itu ia terkekeh, sampai air mata mengalir di pipinya.


''Bahkan, kalian juga sudah tau siapa orangnya? Termasuk Gilang? Orang baru di dalam kehidupan mu? Lalu aku? Baru sekarang ini aku tau? Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan nya dariku, Alisa?!'' Seru ayah Emil dengan suara rendah nya.


Namun terkesan dingin. Papi Gilang ingin menjawab, tapi ditahan oleh Mak Alisa. Ia memegang tangan Gilang dengan erat.


Tangan nya pun ikut bergetar. ''Aku melakukan ini demi Mak mu! Dan juga hubungan mu dengan Mak mu! Boleh ku tau, apa yang terjadi setelah kau tau tentang dirinya?'' tanya Alisa, ia semakin erat memegang tangan Gilang.


Gilang menoleh padanya, ia ingin berbicara tapi melihat wajah Alisa berubah ia memilih diam.


''Aha.. aku sudah menebak! Pastilah Mak mu akan membunuh mu bukan, karena kau lebih mementingkan kedua istrimu dibanding kan dengan dirinya??''


Ddddduuuaaarrrr..


''A-apa?!?''


💕💕💕💕💕

__ADS_1


Hihihi.. mau tempur itu kayaknya?


__ADS_2