Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Menyusun rencana


__ADS_3

Saat Gilang dan Papa Yoga sedang berbicara, mete mendengar suara deru mesin mobil diluar rumah.


Tapi tak dihiraukan oleh mereka. Karena pada saat mobil itu datang, Mana Alina sedang memberikan nasehat pada Gilang.


Dari luar sudah terdengar samar-samar suara orang berbicara. Tante Irma mengernyitkan dahinya.


Ia pulang kerumah kakaknya karena ada yang ingin ia tanyakan. Sedangkan Om Karim, pulang kerumah mereka.


''Iya, Ma. Gilang pasti akan selalu mengingat nasehat Mama ini. Bukankah nasehat kedua orang tua itu adalah restunya untuk kami yang akan melakukan pernikahan? Gilang sangat bersyukur, memiliki kedua mertua yang begitu baik dan mau menasehati Gilang dengan tulus.''


''Sama-sama Nak .. besok kamu pulang ya?'' tanya Papa Yoga.


Gilang mengangguk dan tersenyum. Di saat yang bersamaan suara seseorang mengucapkan salam.


''Assalamualaikum..'' ucap Tante Irma.


''Waalaikum salam..'' sahut mereka semua saat mendengar suara Tante Irma.


Gilang berbalik dan tersenyum. Tante Irma terkejut. ''Loh? Kamu disini? Kamu Gilang bukan??''


Gilang tersenyum lagi. Ia mengangguk sambil mengulurkan tangan ke Tante Irma untuk disalami.


Tante Irma menerimanya. Ia tersenyum lembut menatap Gilang. ''Hehehe.. iya Tante. Aku sengaja datang kemari untuk meminta restu kepada Papa dan Mama untuk menikahi Alisa setelah pulang dari sini. Dan kebetulan Tante sudah ada, jadi aku punya rencana!'' imbuh Gilang dengan wajah jenaka nya.


Andi terkikik geli melihat wajah Gilang. Ia sudah tau apa yang sebenarnya menjadi tujuan Gilang kesana.


Bukan hanya itu saja. Tapi ada kejutan lain yang akan ia persiapkan untuk istrinya. Alisa, di Medan sana.


''Rencana? Rencana apa maksudmu!'' tanya Tante Irma. Dengan segera ia mendudukkan dirinya tepat di sebelah kanan Gilang.

__ADS_1


Gilang terkekeh kecil. ''Kejutan pernikahan kami, Tante. Seminggu dari sekarang!''


''Hah??'' ucap mereka bertiga.


Semakin terkikik geli lah Andi disana. Sementara Gilang tertawa melihat wajah tiga paruh baya itu terkejut.


''Maksudnya apa ini Nak? Jangan buat kami bingung!'' ucap Mama Alina.


Gilang terkekeh geli, ''Gilang sudah menyiapkan segalanya untuk pernikahan kami. Sebelum Gilang pulang dari luar negeri, terlebih dahulu asisten Gilang yang pulang ke Medan untuk menyusun acara ini. Persiapan ini sudah rampung dari seminggu yang lalu. Papa ingat, saat malam kemarin Gilang bilang apa?'' tanya Gilang menatap Papa Yoga.


''Hemm.. saat itu kamu bilang, kamu sedang rapat tentang mempersiapkan acara pernikahan- eh? Jadi itu???''


Gilang tertawa. ''Ya, Papa! Gilang tau, Papa pasti merestui hubungan kami ini. Maka dari itu, aku sudah menyiapkan semua ini jauh jauh hari. Kita akan berikan kejutan disaat hari pernikahan kami untuk Alisa. Apa kalian siap?''


Tante Irma tersenyum begitu juga dengan calon mertua Gilang. ''Kami siap nak!'' sahut mereka begitu kompak.


''Siap Pak Bos!'' jawab Andi dengan memberi hormat pada Gilang.


Gilang terkekeh pelan. Andi menyerahkan laptop nya. Dengan segera ia buka dan mulai menunjukkan satu persatu acara yang telah ia susun sejak lama.


Gilang menunjukkan satu persatu susunan acara itu, mereka semua mengangguk paham. Satu jam lamanya, Gilang menjelaskan setiap susunan acara itu.


''Alisa pernah bilang sama Gilang, Pa. Jika ia ingin menikah dengan direstui oleh Papa. Dan Papa sendiri yang menikahkan kami berdua. Papa mau?''


Papa Yoga mengangguk dan tersenyum lebar. ''Tentu. Memang itulah yang Papa inginkan!'' sahut Papa Yoga mantap.


''Dan satu lagi, ini permintaan Lana sih.'' ucap Gilang dengan malu.


Ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Andi terkekeh melihat nya. Begitu juga dengan Pak Kosim.

__ADS_1


''Katakan saja, nak. Jika itu berkaitan dengan Lana pasti Papa akan menyetujuinya.''


Gilang tersenyum namun tak enak terkesan seperti dipaksakan. Takut jika nanti ucapannya aja membuat ketiga paruh baya itu tersinggung.


''Beneran ya, Papa tidak marah?''


''Iya, nak. Katakan!'' jawab Papa Yoga.


''Lana meminta pada Gilang, agar semua yang bersangkutan dengan bang Emil disimpan dan dibuang saja.''


''Mulai dari ranjang, lemari, baju, bahkan sampai foto pernikahan mereka berdua harus di bumi hanguskan!''


Papa Yoga melotot. Gilang menunduk. ia tersenyum kikuk. Sedang Tante Irma tertawa lebar.


''Hahaha.. cucu mu mas! Memang sangat menurun dengan sifatmu!'' celutuk Tante Irma.


Lagi, Papa Yoga melotot. Ia mendelik menatap tak suka pada Tante Irma. Mama Alina terkikik geli.


Ia sangat tau sifat siapa yang diturunkan oleh cucu lelakinya itu. ''Keturunan mu Pa! Hahaha..'' Mama Alina tertawa.


Begitu juga dengan semua orang disana. Papa Yoga menghela nafas panjang. Setelahnya pun, ia ikut tertawa mengingat tentang Maulana.


Cucu lelakinya dari pernikahan pertama Alisa dengan mantan suaminya. Milham Syahputra.


Akankah Papa Yoga setuju dengan permintaan Lana?


Ikuti terus kelanjutannya! 😉


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2