
Alisa yang melihat pemandangan mengiris hati, membuang muka. Hatinya makin terluka saat melihat seseorang disana, sedang memeluk dan mencium putrinya dengan sayang.
Tanpa sadar, buliran bening mengalir di pipi tirusnya. Ia mengusapnya dengan kasar.
''Ishhh.. kenapa pula air mata ini harus mengalir?! Sadar Lis! Dia bukan untukmu! Pemuda itu lebih pantas dengan putrimu! Bodoh nya kau bisa terlena dengan semua ucapannya! Hah!'' ujar Alisa pada diri sendiri.
Annisa yang melihat ibunya menangis, menyentuh pipi ibunya. Ia bergumam kepada Alisa. Bayi enam bulan itu, hanya bisa membujuk ibunya hanya dengan gerakan nya saja.
''Apa yang?? Adek bilang, apa Nak??'' tanya Alisa.
''Mmmmmm..'' disahuti Annisa. Bayi kecil itu hanya menggumam saja menjawab pertanyaan Alisa.
''Iya.. Mak nggak akan nangis! Udah! Nih mana ada lagi air matanya? Iyakan??'' tanyanya pada bocah kevil itu.
Annisa tertawa.
''Ya sudah, yuk kita masuk!'' ujar Alisa pada putri kecilnya. Annisa begitu senang ketika melihat Gilang disana sedang duduk berdua sambil berhadapan.
****
''Assalamualaikum..'' ucap Ira.
''Loh? kok sepi?? Mak kemana nih? Apa jangan-jangan, dirumahnya bude Yuli?? Ah ya! Barangkali memang, Mak kesana? Bukankah tadi pagi, Mak harus ngantar pesanan nya ya?? Ya sudah lah! Aku tunggu aja deh!'' ujarnya bermonolog pada diri sendiri.
Saat ingin bangun dan meletakkan sepatu diatas rak sepatu, Ira dikejutkan dengan suara Gilang mengucap salam.
''Assalamualaikum..'' ucap Gilang.
''Astaghfirullah Papi!!'' seru Ira.
''Waalaikum salam sayang.. kok astagfirullah sih??'' tanya Gilang
Wajah Ira merona, karena panggilan sayang dari Gilang untuknya.
''Lah kenapa wajah kakak merah kayak begitu??'' ledek Gilang
Ira menepuk lengan Gilang. ''Papiii...'' rengek Ira.
''Hahaha.. iya-iya! Papi nggak akan ngeledek kamu! Oh iya, kemana Mak Sama Abang??'' tanya Gilang.
__ADS_1
''Mak, palingan dirumah bude Yuli. Kan disana lagi ada hajatan? Dan kalau Abang, tadi sih katanya, pulang sore karena harus latihan sepak bola, kan sebentar lagi Abang mau lomba antar sekolah??'' ujar Ira pada Gilang.
Gilang mengangguk, ''hoo begitu toh. Ya sudahlah kalau begitu! Kakak udah makan??'' tanya nya
''Belum,'' sahut Ira
''Kita tunggu Mak, pulang aja ya? Baru setelahnya kita makan!'' ujar Gilang lagi
Ira mengangguk. Setelah nya mereka duduk lesehan dilantai, dengan Ira duduk berhadapan dengan Gilang. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Gilang.
Ini waktu yang tepat pikir nya.
''Pi..''
''Hem?''
''Kakak mau ngomong sesuatu sama Papi!''
''Apa itu?? tentang Abang kah?? Atau tentang Mak??'' tanya Gilang
Gilang menatap Ira dengan serius dan mendekati dimana Ira duduk. Mereka berdua duduk dengan saling berhadapan.
''Oke, ayo apa yang ingin kakak bicarakan dengan Papi?'' ujarnya dengan serius menatap Ira.
''Apakah Papi beneran sayang sama, Mak?? Apakah Papi serius dengan Mak, kita?? Apakah Papi beneran suka dengan, Mak kami yang sudah memiliki anak tiga?? Jika memang Iya, apa alasan Papi menerima Mak, kami?? Kakak nggak mau melihat, Mak menangis lagi setiap tahajudnya! Kakak nggak mau melihat, Mak bersedih lagi karena selalu mengingat masa lalunya! Papi nggak tau, seperti apa terlukanya, Mak kakak! Jadi kakak mohon, jika Papi memang serius dengan Mak, tolong jangan sakiti hatinya. Ia terlihat kuat diluar, Namun sebenarnya, Mak rapuh di dalam! Kakak saksi kunci dari kejadian masa lalu yang di alami oleh, Mak Pi! Apakah Papi bisa melindungi, menyayangi, dan menuntun Mak kejalan yang benar? Seperti keinginan, Mak dulunya saat bersama ayah??'' tanya Ira panjang lebar.
Gilang tertegun mendengar serentetan Kalimat yang di ucapkan padanya oleh putri Alisa ini. Sesaat ia menatap Ira yang berwajah sendu.
Kemudian ia menjawabnya.
''Papi serius dengan Mak kalian! Papi beneran suka dengan Mak kalian! Jauh sebelum kalian hadir di dunia ini! Tak ada alasan Papi mengapa menerima, Mak kalian yang sudah janda! Karena memang itulah takdir Papi dan juga takdir, Mak kalian. Kami sudah terikat sejak dulu sayang! Jadi nggak mungkin untuk bisa dipisahkan lagi!'' Gilang terdiam, kemudian ia menghela nafasnya.
''Papi memang tidak bisa merubah masa lalu, tapi Papi bisa menjadi masa depan untuk, Mak kalian! Papi akan terus berusaha belajar, agar menjadi pantas bila bersanding dengan, Mak kalian! Papi memang masih kecil, bahkan umur kita terpaut hanya empat tahun saja! Tapi bukan umur yang menjadi tolak ukur kedewasaan seseorang sayang! Papi sudah dewasa sebelum waktunya.'' ujar Gilang lagi.
''Insyaallah Papi akan berusaha menjadi seperti yang, Mak inginkan! Papi tau selama ini, Papi begitu kurang tau dan paham dalam hal agama! Tapi Papi akan terus berusaha belajar, dan menjadi yang terbaik. Menjadi imam untuk, Mak kalian dan juga menjadi ayah sambung untuk kalian bertiga! Papi akan menyayangi, Mak kalian dengan sepenuh hati, Papi akan melindungi, Mak kalian dengan nyawa Papi! Dan Papi akan menuntun, Mak kalian kejalan yang benar! Papi akan berusaha, dan terus belajar! Bukankah tidak ada larangan bagi seseorang untuk belajar agama walaupun ia telah dewasa?? Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali??'' tanya Gilang
''Ya,'' sahut Ira dengan mata yang berkaca-kaca.
''Papi memang masih kecil sayang! Tapi Papi akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian berempat dan juga untuk adik-adik kalian nantinya. Selama ini, Papi memang mencari seseorang seperti Alisa. Yang selalu tulus dalam setiap hal. Bukan karena ingin dipuji. Dari Alisa Papi belajar, jika ingin menjadi pribadi yang baik, maka harus berusaha menjadi baik. Dan Papi mendapatkan itu semau dari Mak, kalian. Nggak akan ada yang bisa menggantikan, posisi Mak kalian dari hati Papi sampai kapan pun! Papi berjanji pada mu, Kak!'' ujar Gilang.
__ADS_1
Ira terharu. Ia menangis saat mendengar setiap kata yang di ucapkan Gilang. Ia menatap mata itu mencari kebohongan disana, tapi tak ia dapatkan. Malah ketulusan lah yang Ira lihat disana.
Ira menangis, dan berhamburan kepelukan Gilang.
''Hiks.. hiks.. kakak sayang Papi! Terimakasih karena sudah mau menerima, Mak kakak! Hiks.. Terimakasih Papi mau menerima kami bocah nakal ini! Terimakasih Pi! Kakak sayang Papi! Sampai kapanpun, Tak kan ada yang bisa menggantikan posisi Papi menjadi ayah sambung kami! Papi yang terbaik! Kakak nggak mau yang lain! Kakak hanya mau Papi!'' seru Ira, seraya memeluk Gilang dengan erat.
Gilang mengusap bahu Ira yang bergetar karena tangis, lama Ira menangis. Setelah reda, Ira mendongak menatap Gilang.
Gilang tersenyum.
Cup!
Gilang mengecup kening Ira, ia menyalurkan rasa sayangnya kepada calon putri sambungnya itu.
''Sampai kapan pun, Papi tetaplah Papi kalian! Jika suatu saat terjadi hal yang tidak di inginkan, maka ingatlah ini. Sejauh apapun jarak yang terbentang, seberat apapun rintangan, dan sejauh apapun Papi melangkah, Maka kalianlah tempat Papi berpulang. Kalianlah rumah Papi, kalianlah surga Papi. Kamu dengar sayang?? Papi tidak akan kemana pun! Jika suatu saat Papi pergi, berarti Papi pergi untuk memantapkan diri untuk bisa pantas bersanding dengan, Mak kalian!'' ujar Gilang.
Ira mengangguk dan memeluk Gilang dengan erat.
''Kakak sayaaaaangg banget sama Papi!''
Nan jauh disana, ada seseorang yang menatap nanar pada mereka yang sedang berpelukan.
💕
Maaf jika banyak typo! maklum kebut sama si kecil 😁
Tapi tenang aja.. udah othor revisi kok.
Jika banyak typo nya komen aja ya? Othor dengan senang hati menerima masukan dari klean para pembaca!
Kadangnya hape othor ini sering ngelek, yang diketik apa, yang keluar apa! Hape jadul euuuyyy..
Ntar kalau othor punya rejeki lebih, baru bisa beli baru. Untuk sementara pakai aja yang jadul ini!
Jadul-jadul tapi bisa nulis juga disini 😄😄
See you..
TBC
__ADS_1