Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Sarapan atau tatapan??


__ADS_3

Setelah semua makanan siap, kini waktunya untuk sarapan pagi sebelum mereka berangkat ke pancur batu.


''Mari silahkan dimakan! Sini adek sama, Mak ya??''


Bayi kecil itu tidak mau, ia memeluk Gilang dengan erat. Gilang terkekeh.


''Udahlah Mbak .. biar adek sama aku aja! Andi!''


''Saya bos!''


''Makan! setelah ini kamu angkat semua barang masuk ke bagasi! Ayo makan!'' ajak Gilang.


Andi mengangguk, ''oke bos!''


''Sini Nak.. adek sama Mak ya.. Papi mau makan! Sini ayo...'' ajak Alisa pada putri kecilnya.


Ira yang melihat Alisa mencoba membujuk bayi kecil bangun dan berdiri di depan Gilang.


''Adek... ayo sini sama kakak ya? Kita main keluar yuk! Tuh ada mobil cantik diluar.. adek mau naik bum bum??'' tanya Ira.


''Mmmmmm...'' bayi kecil itu menggumam, kakinya bergoyang ingin naik mobil, tapi ketika Ira ingin mengambil nya, bayi itu menangis.


''Huaaa... mmmm... aaaaa mmm,'' bayi itu menolak Ira.


Mereka bingung dibuatnya. Alisa masih saja mencoba mengambil Annisa dari Gilang. Seakan mengerti bayi kecil itu tau, ia mengusapkan wajahnya ke baju Gilang.


Gilang terkekeh melihatnya. ''Adek mau sama Papi aja??''


Bayi kecil itu tertawa. Gilang pun tertawa. ''Oke, adek sama Papi! Tapi gimana Papi makan coba?? Apa Mak mau suapin Papi??" goda Gilang.


Andi terbatuk-batuk mendengar ucapan Gilang. Ira terkekeh. Sangat lucu melihat tingkah Andi.


Ya elah bos! lu bisa amat sih buat gue tersingkir! baru aja natap orang nya udah mau potong gaji? gimana kalau aku ngerebut ya??


Gilang menatap Andi dengan tajam. Andi cengengesan.


''Hehehe.. sory bos!"


Ira cekikikan melihat Andi. Ia tau, jika Andi terpesona melihat Alisa.


"Makan!"


"I-iya bos!"


Waduh! Tau bener dah gue lagi ngomongin dia??


"Andi!!"


"Siap bos!"


''Potong gaji??''


''En-nggak bos! saya makan!'' ujarnya takut, melihat tatapan Gilang yang begitu dingin.


"Papi kenapa sih?? Dari tadi potong gaji melulu?? Kasian dong.. bang Andi, kalau di potong gajinya??" sela Lana.


Mantap tong! hajar saja teruuss...


Gilang melototkan matanya lagi kepada Andi. Andi tersenyum kikuk. Ia tau tatapan Gilang padanya.


Berani lu ketawa? gue tabok lu!

__ADS_1


''Sudah-sudah sebaiknya kita sarapan! Waktu nya jalan terus! Ayo dimakan!'' serunya pada semua orang.


Alisa yang paham dengan tatapan Gilang, segera mengambil nasi goreng dan telur dadar.


Kemudian ia suapi ke Gilang. Setelah menyuapi Gilang, Alisa pun menyuapi dirinya dengan sendok yang sama.


Andi yang melihat nya melotot. Saking melotot nya dia, hingga terbatuk-batuk kesedakak nasi goreng.


Haishhh... enak bener lu bos! Makan dari sendok yang sama? Itu artinya elu udah ci*man secara tidak nyata dong dengan Mama nya Lana?? Hisshh .. pengen..


Gilang menatap Andi dengan heran. ''Ada apa??''


Andi menggeleng, ''nggak ada bos! ayo dilanjut lagi makannya.'' sahut Andi.


Dengan sesekali melihat Alisa yang terus menyuapi Gilang dari sendok yang sama. Andi menahan nafasnya.


Ya Allah.. nasib.. nasib.. baru aja pingin kenalan, eh? taunya punya si bos! hadeuhhh..


Andi menggumam dalam hati. Membuat Ira terus saja menatapnya.


Aku harus ngomong sama bang Andi nanti di taman. Aku tak mau ia mengganggu hubungan Mak dan Papi!


Alisa masih terus saja menyuapi Gilang dengan sendok yang sama. Setelah nasi itu hampir habis, Alisa melihat Gilang.


Gilang yang merasa sedang di tatap menoleh,


Ada apa?


Mau nambah??


Ya! masakan mu enak!


Hehehe..


Begitu juga dengan Gilang, ia terkekeh. Alisa menyendok lagi nasi ke piring nya, dan menyuapi Gilang lagi, dengan mereka saling bertatapan.


Makasih sayang ..


Blushhh..


Semburat merah menyembul di pipi mulusnya.


Apaan sih?! Ishh...


Gilang terkekeh. Alisa menunduk.


Andi yang melihat kedua pasangan beda usia itu, heran.


Ya elah bos! Makan aja saling menggoda! Tau amat gue! elu ngehindar dari gue! takut elu tau kan omongan elu sama gue?? ngaku dah lu bos..


Ira yang paham sikon, menengahi nya.


''Bang Andi! nanti disana bawa Kakak keliling kebun binatang ya? Abang kan orang sini asli? Tentu lebih tau dong latar belakang kebun binatang yang ada di pancur batu ini??'' ucap Ira dengan sesekali menatap Andi.


Andi tersenyum, ''ya, nanti Abang bawa Kakak keliling! Banyak disana taman rekreasi untuk keluarga, ada restoran, taman bermain, akuarium, juga hotel ada loh...'' goda Andi sambil menatap Alisa.


Alisa yang ditatap seperti itu biasa saja.


Kamu ingin menggoda calon istri ku begitu?? Heh! nggak mempan tau?? Noh... lihat aja mukanya, kagak ada merah-merah nya kan?? Gombalan elu nggak mempan sama dia.. gumam Gilang sambil menatap Andi dengan senyum sinis.


Ya elah bos! gue kan lagi usaha ini..

__ADS_1


Berani lu?? heh?! potong gaji!!


Ck!


Mereka saling melempar tatapan yang menghunus. Lana yang melihatnya kebingungan.


''Ini ada apa sih?! Dari tadi Abang perhatiin, kalau Abang sama Mak saling tatapan! begitu juga dengan bang Andi? Saling tatapan dengan Papi! Ada apa sih sebenarnya?? Ini sarapan? atau tatapan??''


Skakmat!


Mampus lu bos! Anaknya tuh! hihihi..


Andi mengulum senyum, sedangkan Gilang menatap Alisa yang juga menatap nya balik.


''Ya elah Pi! kenapa lagi sih?? Mak lagi? Kok malah lihatin papi?? Ada yang salah sama omongan Abang??''


Gilang tersenyum kaku, ''nggak ada Bang! kami hanya sedang telepati batin! ups!''


Gilang keceplosan. Alisa melototkan matanya. Andi mati Matian menahan tawanya.


Andi mengulum senyum padahal saat ini tawanya itu hampir meledak, melihat wajah Gilang yang salah tingkah ketahuan karena keceplosan.


''Telepati batin??? Emang bisa ya?? Setau Abang kan, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukan telepati batin? Kenapa pula Papi bisa? Emangnya Papi keturunan orang jaman dulu ya??''


''Hufftt..hufftt.. hahaha.. buahaha...'' Andi sudah tidak bisa lagi menahan tertawa nya.


Ira kaget melihat Andi tertawa. Dengan cepat Ira menyiramkan air di dalam gelas ke wajah Andi.


Byurrr..


''Astaghfirullah! pergi kau setan rakus! mau gangguin bang Andi ya?! Hah?! Sini biar tak siram pakai air comberan! Biar bau sekalian!''


Gilang dan Alisa melongo melihat Ira menyiram Andi. Kejadian nya begitu cepat, hingga Andi tidak bisa untuk mengelak lagi.


Mulut Ira komat Kamit membaca doa, Andi yang melihat Ira melongo.


''Siapa yang kemasukan setan Kak??'' tanya Lana.


''Bang Andi lah! siapa lagi?? Nggak lihat kamu, ia tertawa sedang makan?? Apa namanya kalau bukan kerasukan setan rakus?? Karena kelaparan, maka nya ia makan dengan lahap! setelah kenyang ia tertawa!'' imbuh Ira, ia segera berdiri dan ingin melangkah ke depan untuk mengambil air comberan.


Gilang yang baru ngeh, akhirnya tertawa terbahak.


''Buahaha... elu setan rakus Ndi! Buahaha... siap siap lu disiram air comberan! hahahaha...''


Lagi Alisa melongo, setelah sadar jika Ira salah paham, barulah ia tertawa


''Astaghfirullah.. Kakak.. kamu salah paham, Nak! hahahaha...'' gelak tawa menggema di ruang kecil pagi itu.


''Astaghfirullah! Mak sama Papi kerasukan juga?? Setan kelaparan?? huaaaa..


Abaaaang... tolongin...'' pekik Ira.


Gilang dan Alisa masih saja tertawa. Sedangkan Andi masih saja mengusap wajahnya yang basah.


''Kerasukan?? Masa' sih??''


Lana seperti orang linglung. Ira yang melihatnya tambah panik.


''Ya Allah.. adekku kerasukan juga... huaaaa... bahkan adek Annisa pun sama! huaaaa...'' jerit Ira.


Buahaha...

__ADS_1


💕


TBC


__ADS_2