Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Lamaran dadakan


__ADS_3

''Udah siap?''


''Udah. Semua udah beres. Segala persiapan untuk seserahan udah dimasukkan kedalam mobil Paman Hilman. Ayo, kita buat kejutan untuk dua cecunguk itu!'' imbuh Alisa begitu kegirangan.


Gilang terkekeh, begitu juga dengan Mama Alina dan Ira. Mereka satu mobil seperti permintaan Alisa.


Papa Yoga, tuan Hamid dan Paham Hilman mereka berada di mobil Paman Hilman.


Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke rumah Ema yang tak jauh berada dari rumah Alisa.


Tiba didepan rumah Ema, Gilang tertegun melihat rumah itu. Rumah dengan dinding yang sama seperti rumah Papa Yoga dulu.


Gilang mematung melihat lelaki paruh baya sebaya dengan Papa Yoga. Ia menyambut kedatangan Papa Yoga dengan ramah.


''Assalamu'alaikum, Wan!''


''Waalaikum salam, Ga! Ya Allah.. udah lama sekali ya kita nggak ketemu? Hampir setahun kayaknya. Ada apa ini datang kesini rame-rame? Lah? Alisa!!'' Ayah Ema terkejut melihat Alisa bersama seorang pemuda tinggi tegap begitu tampan mirip orang cina.


Alisa tersenyum melihat ayah Ema yang bernama Wawan itu. ''Iya Paman, apa kabar Paman? Sudah lama ya tidak bertemu?'' ucap Alisa sembari menyalami tangan Pak Wawan dengan takzim.


''Ya Allah nak.. sudah lama sekali kita tidak bertemu. Terakhir saat perpisahan sekolah kalian. Masyaallah.. ini..??'' Pak Wawan menunjuk Gilang.


Gilang tersenyum dan mendekat. ''Saya Gilang, Pak. Suami Alisa.'' Pak Wawan terkejut.


''Loh? loh? Bukannya suami Alisa itu Emil ya? kenapa jadi Gilang pula namanya? Apakah bertukar nama? Soalnya, wajah mereka begitu mirip! Bedanya hanya kulitnya saja yang berbeda!'' serunya dengan suara meninggi dan mata membulat sempurna.


Gilang dan Alisa tertawa melihat nya. Bukannya marah, Gilang malah tertawa dengan tingkah ayah Ema ini.

__ADS_1


Papa Yoga dan Mama Alina terkekeh mendengar suara Pak Wawan begitu terkejut. ''Ayo Wan! Masa' kami dibiarkan berdiri aja sih? Winda mana? Pulang kampung kah?'' goda Papa Yoga.


''Diem Ga! Winda lagi ke warung dekat sini. Katanya mau masak telur balado sama tumis kangkung! Hadeeeuuhh .. kangkung ada dibelakang rumah, pingin juga beli!'' ketus ayah Wawan.


Gilang dan Alisa tertawa. Dengan segera mereka masuk dan duduk lesehan dilantai hanya beralaskan karpet saja.


''Beginilah rumah kami. Maaf nak Gilang, Tuan! Hanya tersedia tikar plastik ini aja sebagai lapisan untuk kalian duduk.'' ucapnya dengan merendah dan sendu.


Alisa dan Gilang tersenyum. ''Tak apa Paman. Rumah kami pun begitu, kok.''


''Mana ada rumah kalian seperti ini? Rumah kamu itu sudah gedongan! Orang kaya! Paman hanya bisa memenuhi kebutuhan untuk makan saja, selebihnya Ema lah yang memberikan uang gajinya. Rencananya sih, tahun ini rumah ini baru direnovasi. Semua itu Ema yang meminta. Paman tidak mengizinkan. Karena Paman tau, suatu saat ia pasti akan menikah dan dibawa pergi oleh suaminya. Sama seperti kamu Lis..'' ucapnya sendu.


Papa Yoga tersenyum. ''Memang itulah kodrat seorang wanita. Jika sudah menikah, ia akan menjadi hak suaminya. Tapi beruntung lah kepada seorang ayah yang memilki banyak putri. Karena seorang putri merupakan perisai bagi kedua orang tuanya nanti saat di akhirat.'' ujar Papa Yoga membuat pandangan mata Alisa mengembun.


Gilang menggenggam tangan Alisa dan tersenyum. Semua itu tak luput dari perhatian Paman Wawan.


Teringat kedatangan mereka begitu mendadak, Paman Wawan keheranan. ''Ehem, maaf ya. Ini ada apa sih, Ga? Kamu dan menantu mu ini datang kerumah kami secara mendadak? Mana Ema pergi lagi. Tadi di susul oleh teman kerjanya kalau tidak salah. Pemuda tampan berkulit putih, sama seperti nak Gilang ini.''


Membuat seseorang yang berdiri di depan pintu membeku seketika. ''Apa?! Dilamar?! Kenapa mendadak?! Tidak ada pembicaraan dari Ema kepada kami, Bang Yoga!'' seru Ibu Winda.


Semua yang ada disana, menoleh. Alisa tertawa begitu juga Papa Yoga dan Mama Alina.


Tuan Hamid, Paman Hilman, dan juga Gilang terkekeh kecil melihat wanita paruh baya itu terkejut bukan main.


Ia melangkah masuk kedalam dan duduk di dekat Pak Wawan. ''Tenang dulu ih! Ini juga mau ditanya, Mak! Ishhh..'' gerutu Pak Wawan. Ibu Winda merengut sebal.


Gilang terkekeh, ''Begini Bu.. Ema adalah sekretaris saya di kantor. Begitu juga yang akan menjadi calon suami Ema ini. Dia asisten saya sejak kami masih sekolah SMA dulu. Hingga sampai saat ini, dia masih betah ikut dengan saya. Oleh karena itu, kami ingin mewujudkan keinginannya yang memiliki istri seperti istri saya. Dan Ema gadis yang tepat untuk mendampinginya.'' jelas Gilang, membuat ibu Winda terkejut dengan mulut menganga lebar.

__ADS_1


''Anda... bos di tempat anak saya bekerja? Dan apa hubungannya dengan Alisa?'' tanya nya pada Gilang.


Gilang tersenyum, ''Alisa anak Papa Yoga, istri saya Bu!''


''Apa?!'' pekiknya begitu keras.


Pak Wawan sampai menutup telinganya. ''Ishh.. Mak! Pelankan suara mu! pengang ini telingaku! ishhh.. gimana sih?! Udah tua juga suara masih melengking aja! Malu, Mak.. Sama umur!'' tegur Pak Wawan


Alisa dan Gilang tertawa melihatnya. ''Benar Bik, ini suami kedua ku. Gilang Bhaskara. Bos ditempat Ema bekerja selama dua Minggu ini. Aku pun bertemu Ema kemarin. Makanya aku pulang kemari berniat ingin menjodohkan Ema. Sudah sedari dulu sih.. aku ingin mewujudkan keinginan ku. Ya.. mungkin inilah waktunya untuk Ema menikah melalui tanganku.''


''Kedatangan kami ini memang untuk melamar Ema untuk menjadi istri asisten suami ku, Bik. Andi pemuda yang baik. Aku sudah lama mengenalnya. Sejak lima tahun yang lalu, aku sudah mengenal Andi dan juga suamiku ini. Dan aku pun baru saja menikah dengannya hampir dua bulan ini, Bik.'' jelas Alisa membuat Pak Wawan dan Ibu Winda tertegun.


Alisa tersenyum melihat dua paruh baya itu. ''Aku dan bang Emil, tidak berjodoh Bik.. aku hanya di titipkan sementara padanya. Sampai aku menemukan takdir ku yang sesungguhnya. Yaitu, suamiku sekarang.'' imbuhnya lagi dengan tersenyum menatap Gilang.


Gilang terkekeh. ''Benar Bu.. saya ini suami kedua Alisa. Kami memang sudah dijodohkan sejak kami belum terlahir. Papa Yoga nanti bisa menceritakan nya pada pada Ibu dan Bapak ya? untuk sekarang, kita harus bahas tentang lamaran kami ini. Bagaimana? Apakah kalian menerima lamaran dari asisten saya yang bernama Andi? Pemuda yang tadi pagi menjemput Ema kesini?'' tanya Gilang pada dua orang yang mematung mendengar penjelasan Alisa dan Gilang baru saja.


''Gimana Pak? Mak setuju jika pemuda yang tadi pagi.'' ucap Ibu Winda.


Pak Wawan menatap Papa Yoga, Papa Yoga tersenyum dan mengangguk. Pak Wawan menghela nafasnya.


''Baiklah, saya percaya sama kamu Ga! Pilihanmu tidak pernah salah. Aku menerima lamaran ini dengan lapang hati. Aku menyetujui jika Ema putri kedua ku itu menikah dengan Andi, asisten dari suami Alisa.'' jawabnya mantap.


Semua orang mengucapkan hamdalah bersamaan. ''Alhamdulillah... baiklah, sekarang kita mulai rencana persiapan pernikahan mereka!'' ucap Alisa begitu antusias.


Gilang sampai tertawa melihatnya. Begitu juga Mama Alina dan yang lainnya. Entah apa yang akan terjadi sampai Ema dan Andi tau kalau mereka berdua di jodohkan.


Pastilah mereka berdua akan sangat shock.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


Hihihi.. kurang asem banget ya Mami Alisa? 🤣🤣🤣


__ADS_2