
''Bangun sayang.. kamu mau bangun atau aku tidurin disini??'' bisik Gilang ditelinga Alisa.
Sedangkan Alisa menjawab ucapan Gilang secara spontan.
''Tidurin! Tidurin aja... hoaaamm.. ngantuk Papi.. '' gerutu Alisa.
Gilang terkekeh. ''Beneran kamu mau aku tidurin?? Kita belum halal loh.. masa' iya calon penerus ku lahir diluar nikah??'' bisik Gilang lagi.
''Hemmm... Eh?? Apa?!'' Alisa terlonjak saat bisikan Gilang begitu masuk kedalam indera pendengaran nya.
Gilang tertawa tapi masih batas normal. Alisa mendelik menatap Gilang. Sedang yang di tatap masih terkekeh geli.
''Kamu kok disini?! Bukannya kamu tidur sama Andi??'' tanya nya dengan raut wajah bingung.
Cup.
Alisa melotot. ''Kamu?!''
Gilang terkekeh lagi. ''Bangun sayang.. sadar! ini sudah subuh! ayo kita sholat subuh dulu. Setelah nya bangunin anak-anak untuk sholat. Jangan di ingat jika kamu tidak mau mengingatnya.'' imbuhnya santai.
Setelah nya ia berlalu ke kamar mandi. Namun sebelum itu, ia membangun kan kebo jantan yang sangat pulas dalam tidur nya.
Sedangkan Alisa masih bingung. Maklum baru bangun tidur, jadi masih loading. Saat ingatannya kembali, Alisa melototkan matanya.
Pipi nya bersemu merah. Malu. Itulah yang dirasakan nya.
''Ck! bodoh kamu Lis! bisa-bisanya kau tidur dengan pemuda yang belum sah menjadi suami mu?? Ck! Pantas aja tuh bocah godain aku tadi. Haduuhh.. aku malu...'' gumam nya pada diri sendiri.
Namun setelah mendengar Gilang mengangkat takbir, pertanda ia sudah sholat. Alisa bangun dan menuju ke kamar mandi untuk wudhu.
Setelahnya Alisa menunaikan ibadah sholat subuh sendiri. Karena Lana dan Ira belum bangun.
Gilang selesai duluan. Andi duduk lesehan di lantai dengan memegang ponsel nya. Sedangkan Alisa ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka.
Gilang yang melihat Alisa sibuk di dapur, ia berinisiatif untuk membangun kan dua bocah yang masih terlelap itu.
''Bang.. bangun! udah subuh! ayo.. ntar kesiangan. Abang piket kelas kan hari ini??'' tanya Gilang pada Lana.
Sedangkan sang empu hanya mengangguk kan kepalanya saja, sedang mata masih tertutup rapat.
Gilang terkekeh. ''Ayo.. nanti papi antar kalian berdua! cepetan!'' desak Gilang, membuat dua bersaudara itu ngacir ke kamar mandi.
Wuuushhh..
Andi kaget. ''Wuiiihh.. angin apaan tuh? kencang banget? Perasaan rumah Mbak Alisa tertutup deh?'' tanya nya pada diri sendiri, Andi bingung, ia celingukan mencari sesuatu.
__ADS_1
Karena tidak melihat apa pun, akhirnya ia fokus lagi pada gadget nya. Sedangkan Gilang di dalam terkekeh geli.
Sesampainya di dapur, Ira dan Lana saling berebutan.
''Awas, ih! Abang duluan.. kakak minggir...'' sungut nya saat Ira menghadang nya untuk masuk.
Sedangkan Ira terkekeh. ''Wong kakak yang duluan, kok kamu malah nyerobot sih?! ck!'' sahut Ira, masih dengan berdiri di depan pintu.
Alisa yang melihatnya menggeleng kan kepalanya.
''Kakak, Abang! gantian! Jangan dorong-dorongan.. nanti kejeduk pin-''
''Adaawww... Aduhh... sssttt..'' desis Ira.
''Nah kan?? Mak bilang apa barusan! jangan dorong-dorongan! belum lagi Mak selesai ngomong! Kalian udah pada serudukan! Kayak kambing congek! Sukanya serudukan! Antri kenapa?? Udah tau kamar mandi satu masih berebutan! Mau banyak? Noh.. di hotel Sono. Atau nggak, noh.. WC umum! Kan banyak tuh? Ini kenapa pada ngerebut satu WC sih?! heran Mak lihatnya?!'' Gerutunya.
Alisa masih saja bersungut-sungut tidak jelas kepada kedua putra dan putrinya. Andi yang mendengar nya melongo.
Sedangkan Gilang terkekeh geli. Melihat Andi yang melongo ia jadi tertawa. Mendengar Alisa mengoceh tidak jelas membuat Andi menatap nya dengan cengo.
Sedang yang di tatap masih saja mengomel tidak jelas. Walau tangan masih saja bergerak dengan spatula dan wajan.
Ira dan Lana terdiam di tempat. Gilang datang dan memberi kode kepada mereka berdua untuk segera masuk kedalam kamar mandi.
Alisa yang masih saja mengomel tidak sadar akan kedatangan Gilang yang sudah berdiri tegap di belakangnya.
Alisa tak menggubris nya. Ia masih saja mengoceh tidak jelas. Saking kesal nya spatula dan panci yang jadi sasaran.
Praaangg..
Tiinngg..
Gilang meringis mendengar suara pantulan panci dan spatula yang beradu.
Hadeuhhh... pengang telinga gue! kalau wanita lagi marah kayak gini ya?? Jika gue yang jadi bahan amukan nya?? Apakah muka gue akan hancur?? hiiii.. seremmmm...
Gilang bergidik ngeri.
''Udah dibilangin masih aja ngeyel! nggak tau apa aku sibuk sedari pagi?? Ini wajan! kenapa pula nyangkut di sini?! Kok meleyot sih?! ishhh...'' gerutunya.
Sedangkan Gilang terkekeh di belakangnya.
''Sayang...'' panggilnya lagi.
Tetap saja tak ada sahutan. Alisa masih sibuk dengan ocehan tak jelasnya. Ingin sekali Gilang membungkam bibir wanita itu.
__ADS_1
Tapi ia sadar, mereka bukan pasangan suami istri. Kesal, Gilang di cuekin akhirnya Gilang memeluk Alisa dengan erat.
Membuat wanita berparas ayu itu terjingkat kaget.
Grep.
''Astaghfirullah!! apa yang-'' Alisa tak jadi melanjutkan lagi ucapannya karena Gilang sudah mengelus tangannya dengan lembut.
''Istighfar sayang... sabar... jangan nurutin nafsu.. bisa rugi sendiri kamu.. istighfar sayang...'' bisik Gilang di telinga nya.
Membuat wanita berparas ayu itu terdiam. Mulut nya mengatup tanpa suara. Gilang tersenyum tipis.
''Astaghfirullah... ya Allah..'' lirih Alisa, masih terdengar oleh Gilang.
Ia masih saja mengelus tangan Alisa. Membuat sang empu merasa tenang dan nyaman.
''Udah tenang??''
Alisa mengangguk.
''Alhamdulillah... ya sudah, masak lagi tapi jangan ngomel terus. Nanti makanan nya nggak enak!'' godanya, ia berlalu meninggalkan Alisa yang berdiri mematung disana.
Ya Allah.. kuatkan aku.. aku tau ini salah.. beri aku jalan keluarnya.. aku harus apa?? Jika hati ini juga menginginkan sentuhan nya.. aku tidak munafik ya Allah.. aku sangat merindukan kasih sayang seorang suami.. lirih Alisa dalam hati.
Air matanya menetes membasahi pipi. Gilang yang melihat Alisa menunduk dengan bahu bergetar mendekati nya.
''Sabar sayang... semua akan indah pada waktunya.. bukankah selama ini kamu sudah sabar dengan kelakuan suami mu?? Lalu, mengapa sekarang tidak bisa bersabar walau sebentar saja agar kita bisa bersatu??'' tanya Gilang tepat di telinga Alisa.
Alisa sesegukan mendengar ucapan Gilang. Ia tak munafik dengan hatinya. Bahwa kehadiran Gilang selama ini, merubah pandangannya terhadap seorang lelaki.
''Sabar sayang.. aku tidak akan kemana-mana. Kalau pun aku pergi, berarti aku pergi untuk memantapkan diriku agar bisa bersanding dengan mu.. kamu istimewa Lis.. kamu sangat istimewa.. Kamulah seseorang yang telah mengajarkan ku tentang artinya hidup. Kamu yang telah merubahku menjadi lebih baik, lantas apakah kamu tidak bisa bersabar walau sebentar saja??'' tanya Gilang dengan terus menatap Alisa yang sesegukan.
Ira dan Lana baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat Alisa menangis tersedu. Ingin mendekat, tapi Gilang sudah melarang mereka.
Dan menyuruh mereka untuk bersiap. Mereka menurut.
''Atau.. begini saja! Gimana setelah kelulusan ku ini, kita menikah dulu? Biar aku lebih tenang meninggalkan mu disini bersama anak-anak. Untuk urusan Papa, biar aku sendiri yang berhadapan langsung dengan beliau. Aku sendiri yang akan memintamu kepada papa mu. Terlepas dari persetujuan mereka, biarlah itu kita pikirkan nanti. Yang penting aku akan datang kepada Papa untuk melamar mu menjadi istriku. Gimana?? Kamu mau kan??''
''Aa-aku...''
💕
Nunggu apa lagi Mak.. tuh berondong mu.. udah nyatain loh.. masih ragu kah??
Otw konflik! hii.. author merinding loh.. mau nulis konfliknya. Kira-kira kalian sanggup nggak ya bacanya??
__ADS_1
Nantikan terus kelanjutannya!
TBC