Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Di rumah ustad Dhanu


__ADS_3

Gilang memandangi wanita tua itu. Sesekali terkekeh karena melihat wajahnya yang begitu pucat seperti mayat hidup setelah pak Kosim berbicara sesuatu padanya.


Saat Gilang melihat wanita tua itu kakinya Tremor, ia tergelak. Hingga Alisa yang berada disampingnya pun menoleh.


''Ada apa, Pi ??'' tanya nya.


''Hahaha.. tidak ada sayang! hanya kecoa kecil! sudah di urus oleh Pak Kosim. Ayo.. adek pasti udah bangun sedari tadi,'' imbuh nya sembari berlalu dimana ruang NICU berada.


Sengaja Gilang mengajak Alisa keluar untuk mencari angin, tak taunya Pak Kosim belum selesai juga membujuk wanita tua itu.


Jadilah ada hiburan sedikit dikala hatinya sedang gundah karena akan berpisah dari Alisa dan juga ketiga anaknya.


Mereka berjalan beriringan menuju keruang NICU. Setelah sampai disana, Gilang melihat bayi kecil itu terus merengek di pangkuan seorang suster. Alisa bergegas mendatangi Annisa.


Bayi kecil itu melihat Alisa ada disana. Ia menangis kencang hingga suster kalang kabut untuk mendiamkan nya.


Alisa dengan cepat mengambil Annisa dari gendongan suster itu, saat melihat suster kepayahan untuk mendiamkan nya.


Gilang yang melihat terkekeh. ''Ngadu ya sayang? hem? adek kenapa?? Di apakan rupanya sama suster nya, hem??''


Bayi kecil itu menangis sesenggukan. Alisa menimangnya dengan sayang.


''Cup, cup, cup sayang.. mana yang sakit, Nak?? Udah.. nggak apa-apa ya? Biar adek cepat sembuh..'' ucap Alisa pada bayi yang masih saja menangis itu.


Annisa yang melihat Gilang tambah menangis. Gilang terkekeh.


''Kenapa?? Mau Papi gendong??'' tanya nya pada bayi kecil itu.


Annisa menggumam dan mengayunkan tangannya ke arah Gilang, meminta untuk di gendong olehnya.


''Ayo.. sini sama Papi.. adek mau apa? Papi ginikan mau??'' tanya Gilang pada bayi kecil itu, sembari menaruh Annisa di pundak kirinya dengan kepala Annisa menyuruk keleher Gilang.


Gilang yang merasa geli, terkekeh. Bagaimana tidak, jika Annisa mengecup lehernya seperti menyusu.


''Adek.. Papi geli... mau n****?? Sama Mak ya?? Nanti Papi gendong lagi?''


Annisa menangis kuat membuat Gilang menepuk nepuk punggung Annisa.


''Ya sudah, kalau adek nggak mau.. gini aja ya??'' ucap nya pada bayi kecil itu, membuat bayi itu terdiam dari tangisnya.


Walau sesekali ia mengecup leher Gilang. Membuat sang empu meringis geli. Alisa yang melihatnya terkekeh.


Suster yang ada disitu pun tersenyum. ''Bu.. sebaiknya di pompa aja ya ASI nya? Diberikan pakai Dot. Kasian juga jika seperti itu?'' ucap suster itu memberikan saran.


Alisa mengangguk. Gilang menoleh. ''Siapkan alat nya Sus! Disini juga tersedia Dot untuk bayi kan??''

__ADS_1


Suster mengangguk. ''Ada Pak! mari Bu.. ikut saya,'' ajaknya pada Alisa.


Alisa mengangguk dan mengikuti suster itu kemana dia membawanya. Dua puluh menit kemudian, Alisa Kembali dengan membawa tiga botol susu untuk Annisa.


''Udah tidur ya?'' tanya Alisa dengan lirih.


''Ya, baru saja. Adek terus saja mengecupi leher ku. Kadang sesekali ia menghisapnya. Haus banget kayaknya nungguin kamu lama. Jadi ku coba tidurkan seperti ini aja,'' imbuhnya santai sembari mengelus punggung Annisa yang tidur tengkurap di atas dadanya.


Alisa tersenyum. Ia pun duduk di sisi bangkar, dimana Gilang sedang berusaha menidurkan Annisa.


Ternyata bayi itu tau, jika Alisa ada disana. Annisa bangun dan menangis. Alisa yang melihatnya, mengambil Annisa dan menggendongnya sembari memberikan ASI di dalam Dot.


Awal nya Annisa menolak, tapi karena kehausan dan juga bujukan dari Gilang dan Alisa, akhirnya bayi itu menyesap dot itu begitu rakus.


Gilang yang melihat nya terkekeh. Alisa diam saja. Ia masih sibuk menimang Annisa sembari memegangi dot yang berisi ASI.


Lain dengan Gilang dan Alisa, lain juga dengan wanita tua yang sedang berada dirumah ustad Dhanu bersama dengan pak Kosim.


''Assalamualaikum...''


''Waalaikaum salam... Loh? Kakek? Ngapain kesini? Papi mana?? Terus itu siapa?? Kenapa kakinya goyang-goyang kayak begitu??'' tanya Lana sembari menatap wanita tua yang masih dengan kaki Tremor nya itu, membuat Pak Kosim terkekeh.


''Mana kakak mu? Kakek ingin minta KTP Mak mu untuk mengurus berkas penting. Disuruh oleh Papi kalian. Papi kalian masih ada dirumah sakit menemani adek sama Mak kalian disana,'' sahutnya.


''Ada. Bentar ya, Kek! Abang panggilin dulu,'' ucap Lana sambil ngacir ke dapur dan memanggil Ira untuk menemui pak Kosim.


Pak Kosim tersenyum. ''Apa kabar Kak??''


''Alhamdulillah baik, kek! Oh iya, Abang bilang kakek butuh KTP Mak ya?? Bentar, kakak ambilkan!'' sahutnya sembari menuju ke kamar untuk mengambil KTP Alisa.


Setelah mengambil nya ia memberikan KTP itu pada pak Kosim.


''Ini Kek! Emang, buat apa sih KTP Mak??''


''Tanya aja nanti sama Papi kalian!''


''Oo.. ya sudah. Mari duduk dulu kek! Ustad Dhanu sedang ke mesjid untuk mengajar mengaji. Palingan habis isya baru balik. Inikan udah masuk waktu ashar??'' ucap Ira pada Pak Kosim.


Di balas gelengan kepala oleh Pak Kosim. ''Tidak usah ya, kak! Kakek harus segera mengurus KTP ini. Jika tidak, Papi kalian akan mengamuk,'' imbuhnya sembari melirik wanita tua yang masih terlihat pucat berdiri mematung disana.


''Ya sudahlah kalau Kakek nggak mau. Lain kali, kakek mampir ya kerumah kami!'' ucap Lana antusias.


Namun, tiba-tiba raut wajah itu berubah menjadi sendu.


''Yang sabar Bang.. semua ini pasti ada hikmahnya. Kakek pergi dulu ya. Kakek harus segera mengurus berkas penting bersama wanita tua itu,'' tunjuk Pak Kosim dengan dagu nya.

__ADS_1


Lana menyipitkan matanya. ''Bukankan nenek tua itu adalah pemilik rumah kontrakan yang kami tinggali yang sekarang sudah habis terbakar?'' tanya Lana dengan sekali tarikan nafas.


Pak Kosim terkekeh. ''Ya. Wanita tua itu membuat rusuh di rumah sakit. Jadi Kakek ditugaskan oleh Papi kalian untuk mengurus rumah itu bersama dengan nya.''


''Hoo iyakah?? Emang sih, nenek tua itu suka sekali cari ribut sama Mak. Kemarin aja, sebelum rumah kami terbakar nenek tua itu cari masalah di rumah. Katanya Mak, belum bayar bulan ini. Padahal mah.. uang nya udah dikasi kan ke dia! Lupa atau pikun Abang pun tak tau. Yang jelas setelah kepulangan nya dari rumah kami. Keesokan harinya, rumah kami terbakar.. tak tersisa apapun. Hanya baju di badan. Beruntungnya kakak bisa nyelamatin semua berkas penting punya Mak. Seperti KTP, KK, ijazah Abang dan Kakak juga sebuah box kecil berisikan perhiasan emas punya Mak. Rencananya sih, mau di jual. Mau di jadikan modal buat usaha. Tapi bingung harus cari dimana tempatnya?'' jelas Lana membuat pak Kosim terkejut.


Ternyata Alisa sudah memikirkan segalanya. Rupanya ini adalah jalan Allah. Ia membuka jalan bagi Alisa untuk bisa membuka usaha nya itu. Aku akan mengatakan nya pada Aden nanti. Setelah urusan ku selesai dengan nenek tua itu. Bisiknya dalam hati sembari melihat wanita tua yang masih berdiri dengan kaki gemetar disana.


''Iyakah?? Kira-kira.. Mak Abang mau buka usaha apa?? Biar nanti kakek bicarakan masalah ini dengan Papi kalian!''


''Mak sangat suka memasak, baik itu memasak untuk sarapan, juga untuk makan malam. Tapi yang lebih di gemari Mak ialah Mak sangat suka membuat kue. Katanya ingin buka toko kue buatan tangan nya sendiri dengan logo ALISA BAKERY. Gitu kata nya, kek!''


''Hmm.. begitu toh.. ya sudah kalau begitu kakek pamit dulu. Setelah urusan dengan wanita tua itu selesai kakek akan segera mengabarkan kepada Papi kalian. Kakek pergi dulu. Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam..'' sahut Lana.


Setelah melihat Pak Kosim dan wanita tua itu pergi, Lana dan Ira saling berpandangan.


''Kak...''


''Hem?''


''Kira-kira.. buat apa ya Papi minta KTP nya Mak? Buat ngurus buku nikah kah??'' tanya Lana, membuat Ira menoyorkan kepala nya.


''Ishh.. Kakak! kok di toyor sih?!'' ucapnya kesal.


''Habisnya.. kamu itu ngomong nya ngacok! mana mungkin, Papi mau buat buku nikah, sementara Mak aja belum pulang ke kampung untuk ngasi tau ke kakek tentang masalah itu. Jadi.. nggak mungkin dong ??''


''Iya juga sih.. lah terus buat apa coba KTP nya Mak??''


''Entah!'' sahut Ira sembari menghendikkan bahunya. Kemudian ia berlalu ke dapur untuk menyiapkan pekerjaan nya yang tertunda karena kedatangan Pak Kosim tadi.


''Kira-kira buat apa ya?? Kok, aku jadi kepo sih?! Hadeuhhh..'' Gerutunya.


Sedangkan seseorang disana menatap nya dengan dalam.


💕


Ada yang tau siapa itu??


Like dan komen ya.. biar othor lebih semangat lagi updatenya!


Sedekah poinnya juga! Kasi bunga dong.. biar othor bisa mandi bunga. Biar badan ini seger! Dan bisa timbulkan ide-ide baru lagi.


Hihi.. othor ngarep ya? 😄😄

__ADS_1


TBC


__ADS_2