Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Positif Hamil


__ADS_3

''Terimakasih sayang. Terima kasih! Kamu sudah memberikan kebahagiaan yang lengkap di hidupku! Kamu hamil sayang! Kamu hamil sayang ku! Buah cinta kita!''


Deg!


Deg!


Alisa terkejut mendengar ucapan Gilang. ''Benarkah?'' tanya nya sambil mengambil alat tes kehamilan dari tangan Gilang.


Mulut Alisa menganga melihat alat tes itu. ''I-ini...'' kata Alisa sambil menatap Gilang dengan mata berkaca-kaca.


Gilang mengangguk dan tersenyum begitu manis padanya dengan wajah basah air mata.


Cup!


''Terimakasih sayang... terimakasih karena sudah mau mengandung anakku. Buah cinta kita.. hiks.. ya Allah.. sungguh besar karunia Mu terhadap keluarga ku.. huhu.. hiks..'' Gilang tersedu sambil memeluk Alisa.


Alisa pun demikian. Ia terisak di pelukan Gilang. Dengan segera Gilang membawanya keluar dari kamar mandi.


Tak lupa alat tes kehamilan itu ia bawa sekalian. Tiba didepan pintu kamar mandi, Tante Andini tersenyum melihat mereka berdua.


''Tante Andini! Sampaikan kabar gembira ini pada orang yang ada dibawah sana! Alisa hamil Tante!'' seru Gilang dengan wajah basah air mata.


Kakinya perlahan menuntun Alisa yang masih tersedu di pelukan nya untuk dibawa duduk di tepi ranjang.


''Alhamdulillah.. kabar gembira yang tidak di duga-duga! Tante sudah bisa menebaknya tadi. Hanya saja kita butuh bukti akurat untuk itu. Dan ya, kehamilan Alisa sudah memasuki usia delapan Minggu sejak hari dimana hari terakhir ia mendapatkan tamu bulanan. Selamat nak.. selamat atas kehamilannya. Dan ya, perut kamu kram terjadi diakibatkan karena guncangan mendadak ataupun kamu sedang stres memikirkan sesuatu. Ingat Lis! umur kamu sudah matang dan melebihi untuk bisa hamil lagi. Tante harap kehamilan ini, tidak menyusahkan mu nantinya. Ya sudah, Tante turun ke bawah ya? Tante ingin mengabarkan hal ini kepada Kedua orang tua mu. Pasti mereka sangat bahagia mendengar berita ini.'' ucapnya panjang lebar.


''Terimakasih Tante. Terima kasih banyak. Ya, aku akan ingat pesan Tante. Ini menjadi hamil terakhir untuk Alisa. Untuk apa nambah lagi. Alisa sudah memiliki tiga orang anak. Begitu juga dengan ku. Aku yakin, bahwa janin di dalam perutku ini adalah dua!''


Mendengar ucapan Gilang, Alisa berhenti menangis. ''Hiks.. kamu kok yakin banget sih? Aku belum periksa loh.. hiks..'' ucap Alisa. masih dengan sesegukan.


Tante Andini terkekeh. ''Percaya saja apa kata suami kamu. Ikatan batin antara kamu dengannya saja begitu kuat. Apalagi tentang anak nya. Bukan begitu Gilang?'' Gilang mengangguk setuju.


Tante Andini tersenyum. Setelah nya ia turun ke bawah menemui keluarga Abang sepupunya.


Tinggal lah Alisa dan Gilang menangis sambil berpelukan. Dua insan yang terpisah oleh waktu dan usia berbeda kini akhir nya bahagia.


Bahagia karena di usia Alisa yang cukup matang, akhir nya ia diberikan amanah lagi oleh Allah.


Tiba dibawah, Mama Alina mendekati Tante Andini untuk menyuruhnya duduk di depan semua orang.


''Duduk dulu, Dek,'' titah Mama Alina.


Tante Andini menganggu dan tersenyum. ''Gimana sama hasil pemeriksaan kamu? Apakah benar, jika Alisa positif hamil??'' tanya Mama Alina tidak sabaran.


Semua yang ada disana menatapnya dengan jantung berdebar-debar. Termasuk Ira dan Lana.

__ADS_1


Rayyan jangan ditanya. Dia sibuk dengan mainan barunya yang baru saja di berikan oleh tuan Hamid sebagai hadiah untuknya.


Tante Andini terkekeh melihat wajah penasaran semua orang di ruangan itu. Ia mengangguk, ''Ya, Alisa positif hamil! Usia kandungan nya sudah memasuki delapan Minggu. Selamat buat Abang dan Kakak, kalian akan menjadi nenek dan kakek lagi!'' serunya dengan wajah bahagia.


''Alhamdulillah...''


''Alhamdulillah... Abang punya adek lagi! hihihi.. anak dari papi Gilang dan Mak Abang! Uhuuyy..'' seru Lana begitu kegirangan.


Semua yang ada di sana tertawa mendengar ucapan Lana. Termasuk Gilang dan Alisa yang saat ini sedang berada di tangga.


Mereka tertawa bersama mendengar celutukan Lana yang begitu senang. Mendengar suara Alisa dan Gilang, Lana dan Ira berhamburan menuju kedua orang hanya itu.


''Maaaakkkk .. hiks..'' Isak mereka berdua.


Grep!


Gilang dan Alisa memeluk dua buah hatinya dengan penuh haru. Mereka berempat menangis lagi. Menangis karena bahagia.


''Kalian berdua senang, hem?'' tanya Gilang pada Ira dan Lana.


Ia mengurai pelukan nya agar bisa melihat wajah kedua anak sambungnya itu. Lana mengangguk dan tersenyum, namun air mata jatuh beruraian.


Begitu juga dengan Ira. Ia mengecup kening Alisa begitu lama. ''Terimakasih, Mak masih mau mengandung adik kami dari Papi Gilang. Semoga saat persalinan nanti, kedua adikku lahir dengan selamat!'' ucapnya sambil memeluk Alisa dengan erat.


Tuan Hamid terharu melihat keluarga Gilang yang sudah kembali berdamai. Rayyan menatap mereka berempat dengan mata berkaca-kaca.


Annisa yang melihatnya ikut memeluknya. Namun Rayyan tersedu. Membuat yang ada disana terkejut melihat Rayyan menangis meraung seperti itu.


''Huaaaaa... Papi sama Mami Ndak sayang adek lagiiii... huaaaa... aaaaaa...'' Raung Rayyan, nenek Alina yang melihatnya tertawa


Begitu juga dengan Papa Yoga. Putra Gilang ini sungguh melankolis orangnya. ''Hahaha... siapa bilang, kalau Papi sama Mami nggak sayang lagi sama cucu nenek ini, hem?'' tanya sambil memeluk Rayyan.


Rayyan masih saja menangis. Ia tidak mau diam. Alisa dan Gilang terkekeh melihat putra nya itu.


''Ayo kita turun. Kalian bertiga harus tanggung jawab! karena sudah membuat putra kecil Mak menangis, hem?'' katanya pada mereka bertiga


Lana dan Gilang tertawa. Sedangkan Ira terkekeh-kekeh. Mereka sudah tau seperti apa Rayyan.


Jika menyangkut pelukan ketiga kakaknya ia tidak di bawa serta, maka menangis lah dia. Seperti saat ini.


Rayyan berbicara sudah jelas, tidak seperti dulu. Ketika Gilang baru pulang dari luar negeri.


Masih campur aduk. Kadang jelas, kadang cadel. Alisa dengan sabar mengajarkan nya. Dan ya, saat ini Rayyan sudah jelas berbicara. Walau sesekali lidahnya itu keseleo.


Itu tidak jadi masalah.

__ADS_1


Tiba di depan Mama Alina, Alisa mengambil putra kecilnya dan ia peluk dengan sayang. ''Adek... dengerin Mami!'' ucapnya pada Rayyan.


Rayyan yang masih sesegukan menatap Alisa. Alisa tersenyum, ''Siapa bilang kalau Mami dan Papi nggak sayang adek lagi, hem?'' katanya pada Rayyan.


Gilang mengusap kepala putranya itu. ''Papi, Mami, Kakak dan Abang tuh sayaaaangg sekali sama Abang! Jangan ada pikiran yang macam-macam! Apakah Abang selama ini pernah dibiarkan saja sama Mami saat Papi di luar negeri?''


Mata bulat bening Rayyan mengedip-ngedip lucu. Ia masih mencerna ucapan Gilang dengan baik.


Alisa menggeleng kan kepalanya. ''Bukan seperti itu cara ngomong yang baik sama anak, Papi!'' tegur Alisa pada Gilang.


''Lah terus? Aku itu sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang sebenarnya pada putra kita, Lis! Dimana salahnya coba?''


Alisa menghela nafasnya. ''Tapi bukan dengan cara ngomong seperti itu juga Papi! Gimana sih?'' sungut Alisa menjadi kesal sendiri.


''Lah?''


Melihat pertengkaran kecil orang tuanya, Rayyan berbicara. ''Mami.. Papi.. jangan belantem!'' tegur nya.


Dua orang yang sedang berdebat karena nya itu terdiam. ''Apa segitu sayangnya ya, Mami dan Papi sama Adek? Hingga belantem? Biasanya nggak pernah belantem loh...''


Ira terkikik geli. Sementara Lana pura-pura bersiul. Andi sama tuan Hamid terkekeh-kekeh mendengar teguran untuk Gilang dan Alisa dari putranya.


Alisa dan Gilang saling pandang. Kemudian terkekeh, ''Ya, kami berdua begitu menyayangi mu. Sampai-sampai harus berantem gegara sangat menyayangi mu. Sekarang Papi tanya, bagian mana Papi sama Mami nggak sayang Abang lagi? hem?''


Mata Rayyan mengembun lagi. Ia terisak. Dengan segera bersembunyi di ceruk leher Alisa yang tertutup hijab instan nya.


Alisa mendelik melihat Gilang. Gilang terkekeh. ''Nak..''


''Adek cuma mau di peluk juga! Sama kayak Kakak dan Abang! Apa adek salah? hiks.. hiks.. adek mau di peluk juga.... huaaaa...''


Mendengar ucapan Rayyan seperti itu, tuan Hamid tertawa-tawa. Begitu juga dengan Mama Alina dan Papa Yoga.


Mereka semua tertawa melihat tingkah lucu Rayyan. Rumah mereka jadi riuh gara-gara Rayyan yang semakin tersedu karena merasa di ejek oleh mereka semua dengan tertawa-tawa.


Sedang enak-enak nya menggoda Rayyan, terdengar suara orang mengucapkan salam.


''Assalamu'alaikum... tuan Gilang, Alisa??''


Deg!


Deg!


💕💕💕💕💕💕


Ha, ha.. siapa itu?

__ADS_1


__ADS_2