
Warning!
Ada 21+ nya! Bagi yang di bawah umur menyingkir! Skip aja yah..
Vita naik keatas untuk mengantar kue buatan tangan Alisa. Ketika menaiki tangga, Vita sempat mencomot satu persatu kue buatan madu nya itu.
''Hem, enak! Pantas saja Gilang betah!'' celutuk nya, kemudian terkekeh geli sendiri.
Tiba disana, Vita mengetuk pintu dan masuk. ''Ma.. Pa.. ini ada kue dari Gilang. Enak banget loh..'' puji Vita di hadapan mertuanya.
''Iyakah?? Coba bawa sini! Apakah mengalahkan kue buatan mantu Mama ini?'' godanya pada Vita.
Vita hanya tersenyum. ''Hem... beneran enak! dimana Gilang beli kue ini?'' tanya Mama Dewi sembari mengunyah risoles buatan Alisa.
''Nggak tau Ma. Ada tuh kotak nya di bawah. Nanti Vita ambil nomor ponsel nya ya? Biar di simpan, barang kali Mama mau pesan lagi. Ya udah, Vita balik dulu ya mau lihat Gilang udah selesai belum makan kue nya?'' sahut Vita dengan segera berlalu.
Mama Dewi terdiam sejenak. ''Mama harus melakukan sesuatu untuk hubungan mereka, Pa!''
Papa Angga menoleh. ''Terserah Mama saja. Asalkan jangan membuat Gilang pergi dari sini itu sudah cukup.'' Sahut Papa Angga.
Mama Dewi mengangguk dan mulai beranjak untuk melihat anak dan menantunya itu.
Tiba di undakan tangga, Mama Dewi melihat Vita tersenyum melihat Gilang yang sedang terkekeh pelan karena asik memakan kue risoles.
''Aku harus berbuat sesuatu, jika seperti ini terus maka selamanya akan seperti ini. Besok. Tunggu sampai besok malam. Aku akan membuat sepasang sejoli ini bersatu.'' gumam Mama Dewi kemudian ia berlalu pergi keatas lagi dimana suami nya berada.
Keesokan harinya.
Hari ini Gilang sudah bersiap untuk ke kantor lagi untuk menyiapkan semua tugasnya. Karena Minggu depan, Gilang akan berangkat ke Amerika untuk kuliah manajemen bisnis nya.
Vita dengan sigap melayani kebutuhan Gilang. Melihat itu mama Dewi tersenyum senang.
Tunggu nanti malam! gumam nya sembari melihat Vita begitu sibuk melayani Gilang saat sarapan.
Setelah selesai sarapan, Gilang berangkat diantar oleh Pak Kosim. Seperti biasa, Andi juga sudah bersama nya.
Melihat Gilang sudah pergi, waktunya Mama Dewi untuk membawa Vita ke salon untuk melakukan perawatan.
''Ayo sayang! temani Mama ke salon. Kita harus melakukan perawatan tubuh ini, biar kulit dan wajah kita semakin kinclong!'' Vita yang mendengar nya tertawa.
''Ya, Ayo!'' ajak Vita.
Kemudian mereka pergi ke salon untuk mempersiapkan semuanya. Dua jam lamanya mereka melakukan perawatan.
Setelah selesai mereka kembali, tapi sebelum sampai dirumah Mama Dewi berhenti di apotek.
Melihat itu Vita mengernyitkan dahi nya bingung. ''Ngapain berhenti Ma?? Ada yang mau di beli? Sini, biar Vita aja!'' Mama Dewi tersenyum.
''Tak apa sayang, Mama bisa kok. Hanya mau membeli obat pereda nyeri yang sudah habis saja. Sebentar ya?'' sahut Mama Dewi, setelah itu ia berlalu untuk menuju apotek membeli sesuatu.
Sesuatu yang akan mengikat Gilang dan Vita nanti pikirnya. Mama Dewi tersenyum saat membayangkan kan hal manis itu.
''Sudah! Jalan Pak!'' katanya pada Pak supir.
Mang Udin mengangguk. Mereka pulang dengan raut wajah senang. Jika Vita sedang memikirkan seseorang nan jauh disana, sedangkan Mama Dewi sedang memikirkan putra dan menantunya.
Malam harinya.
Gilang pulang agak larut malam ini. Karena harus menyelesaikan pekerjaan nya yang harus segera ia siapkan.
Ketika ia masuk, ia melihat Mama Dewi sedang duduk disana seorang diri. Ia celingukan mencari seseorang yang seringkali menunggu nya ketika pulang dari kantor.
Melihat itu Mama Dewi tersenyum tipis. ''Sudah pulang, Nak?? Vita ada di kamar, sedari tadi ia terus saja menguap karena mengantuk.Terlalu lama menunggu mu pulang.'' ucap Mama Dewi sembari bangkit dari duduknya.
''Minum dulu susu nya. Susu jahe buatan Vita tadi. Udah agak dingin sih. Di minum ya? kasihan Vita udah buatin ini untuk kamu?'' katanya lagi.
__ADS_1
Gilang menatap datar pada Mama nya, setelah nya ia menenggak susu itu hingga habis.
Setelah habis, ia mengembalikan gelas susu itu pada mama Dewi. ''Terimakasih.'' ucapnya kemudian berlalu masuk ke kamar nya yang ada diatas. Mama Dewi tersenyum misterius.
Tiba di undakan tangga, Gilang merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Panas, tapi entah panas seperti apa.
Merasakan ada keanehan pada dirinya, Gilang bergegas masuk ke kamar. Tiba di kamar, ia membuka pintu dengan tergesa.
Ceklek.
Pintu terbuka. Terlihat kamar Gilang yang begitu remang karena cahaya lampu tidur mereka.
Gilang semakin merasakan panas pada tubuhnya. Seketika darahnya berdesir melihat Vita yang tidur terlentang namun separuh tubuhnya terekspos keluar.
Bagaimana tidak, malam ini Vita tidur dengan baju begitu seksi. Dengan tali satu spaghetti dan juga celana pendek yang begitu minim.
Hingga kulit putih Vita terlihat oleh Gilang. Gilang menelan ludahnya melihat tubuh Vita seperti itu.
Klep, klep.
Mata itu mengerjab. Terlihat disana jika Alisa sedang tidur dengan baju begitu seksi. Sesuatu dari dalam dirinya tiba-tiba berdiri dan begitu sesak.
Ingin segera dilepaskan.
''Lis?? Alisa?? Sayang??'' Panggil Gilang sembari mengucek-ngucek matanya.
''Ssssttt.. panas! Duh ni tower berdiri aja sih? Tau banget lu ya sama sarang elu?'' ucapnya sembari menoleh pada miliknya yang sudah berdiri tegak.
Gilang terkekeh. Dengan perlahan ia menutup pintu kamar itu dan menguncinya. Gilang berjalan mendekat di mana Alisa berada.
Gilang tersenyum saat melihat istrinya itu tidur begitu lelap. Dalam gelap nya malam, kamar mereka yang remang-remang.
Gilang semakin mendekati Alisa yang sedang tertidur pulas. Gilang mengikis jarak di antara mereka.
Tak tahan dengan tubuhnya yang semakin panas, Gilang melepaskan semua bajunya dan juga celananya.
Hanya tersisa CD saja. Ia mendekati Vita yang sedang tertidur pulas. Ya, yang terlihat Dimata Gilang jika Vita adalah Alisa.
Gilang mendekati Vita dan mulai menciumi gadis itu. Mulai dari kening, mata, hidung terakhir bibir tipis Vita yang terlihat dimata nya seperti bibir Alisa.
Cup!
Gilang me lu maat bibir itu dengan lembut dan memagut nya. Puas dengan bibir beralih pada dua gundukan sintal yang tersembunyi dibalik kain berwarna merah menyala yang di gunakan Vita.
Gilang menelusupkan tangannya sembari bibir itu terus memagut bibir tipis sang istri .
Vita melenguh saat merasakan sensasi yang berbeda dari tubuhnya. ''Eeuugghh...''
Membuat Gilang semakin terbakar hasrat nya. Dengan lembut Gilang membuka seluruh pakaian Vita hingga tersisa CD saja.
Melihat itu, Gilang tersenyum puas. Tubuh putih mulus dengan melon yang agak kecil menurut Gilang.
''Kok kecil sih?? Biasanya kan besar?? Kamu apakan hingga menjadi kecil seperti ini, hem,'' tanya nya sembari terus bekerja di bagian buah melon yang terasa enak untuk di sentuh itu.
Vita semakin menggeliat tak karuan hingga suara merdu itu terlepas begitu saja. Gilang terkekeh.
''Kita mulai ya? Sssttt.. uuhhh.. aku sudah tidak tahan.'' imbuhnya sambil terus mengusap tubuh Vita.
Gilang turun ke lembah surgawi yang tertutup oleh segitiga biru muda. Ia melepas itu dan mulai melahapnya.
Vita mengerang hebat. Saat sadar jika dirinya sedang dicumbui, Vita membuka matanya. Ia melihat di bawah sana, jika ada seorang lelaki sedang menjamah lembah surgawi nya.
''Gi-gilang??''
''Ya, sayang.''
__ADS_1
Deg.
Vita terkejut mendengar sahutan Gilang. Namun itu hanya sebentar. Setelah nya ia sibuk merasakan sesuatu yang aneh sedang menggelitik pusat intinya.
Semakin lama, semakin menimbulkan gelombang aneh pada tubuhnya. Hingga tanpa sadar Vita melenguh kuat dengan kepala mendongak ke atas.
Gilang tersenyum puas. Ia berdiri dan membuka CD nya. Ia mulai berdiri pada posisi yang tepat untuk mulai masuk kedalam lembah surgawi milik Vita yang disangkakan Alisa oleh nya.
''Kita mulai!'' ucapnya sembari menelusupkan benda tumpul itu di pusat inti Vita. Vita memeluk Gilang erat saat merasakan benda tumpul itu menerobos dirinya.
Gilang terdiam. ''Kamu?? Kok sempit? Kamu apakan Lis??'' tanya Gilang dengan wajah yang begitu merah.
Ia menatap Vita yang sedang menahan sakit. ''Lis??''
''Sa-sakit Gilang... ah. uuhh..''
Mendengar suara Vita semakin membakar hasrat yang terus saja berkobar sedari tadi. Dengan sekali hentakan Gilang menerobos milik Vita, hingga wanita itu memekik kuat dan menangis.
''Maaf.. aku nggak tau jika kamu masih sempit seperti ini! Tapi tak apa! Aku suka! Padahal kan kamu sudah mengeluarkan tiga orang yahhhh.. uhh..'' ucap Gilang saat merasakan miliknya begitu kuat di pijat oleh milik Vita.
''Aku mencintaimu Alisa Febriyanti! Sangat mencintai mu!''
Deg.
Deg.
Mbak Alisa?? Jadi...?? gumam Vita. Ia termangu beberapa saat.
Namun setelah itu, Vita tidak mengingat apapun lagi saat merasakan tubuh nya sudah mulai dinikmati oleh Gilang.
Namun ia tersenyum. Berharap apa yang ia inginkan terkabul. ''Untukmu Gilang.. dan juga Mbak Alisa.. uhh..'' lenguh Vita saat merasakan jika Gilang semakin gencar menghentak miliknya.
Gilang semakin terbakar gairah saat mendengar lenguhan Vita. Ia semakin kuat menghentak pinggul nya.
Lenguhan dan desa haan sahut menyahut dalam kamar Gilang, membuat Mama Dewi diluar sana tersenyum puas.
''Akhirnya aku akan memiliki cucu! Yes!'' ucapnya sembari menari dengan senang di depan pintu kamar Gilang.
Sedangkan di dalam sana, Gilang masih saja menggempur Vita hingga pukul tiga dini hari baru selesai.
Vita sangat lelah, namun ia tersenyum puas. Berbeda dengan Gilang. Kini pemuda yang tidak lagi perjaka itu jatuh tak berdaya di sebelah Vita.
Vita tersenyum dalam tidur nya. Hingga saat subuh Gilang bangun dan melihat dirinya polos tanpa sehelai benang pun.
''Hah? Aku??'' kejut nya pada diri sendiri.
Ia melihat Vita juga polos sama seperti dirinya. Namun tanpa diduga, Vita berbalik dan memeluk Gilang lagi.
Membuat sesuatu yang tertidur kini bangkit lagi. Gilang berusaha untuk menahan tapi tidak bisa. Karena efek dari obat yang diberikan Mama Dewi itu masih ada.
Akhirnya terjadilah pertempuran di saat itu juga. Di subuh hari saat orang melaksanakan sholat subuh, Gilang sedang melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami.
Hingga satu jam lamanya Gilang selesai, melepas miliknya dari tubuh Vita dan menunduk menciumi perut Vita.
''Cepat hadir dan tumbuh disini, karena Papi dan Mami Alisa sangat menunggu kehadiran mu. Cup.'' Imbuh nya, kemudian ia bangkit dan menuju kamar mandi meninggalkan Vita yang tersenyum manis di dalam tidur nya.
''Aaamiinn..''
💕
Hehehe.. othor nggak bisa buat seheboh mungkin ya?
Malu euuy.. 😄😄😄
TBC
__ADS_1