
Selesai dengan senandung sholawat nya, kini Lana sedang duduk di meja prasmanan, karena bagian WO dari acara pernikahan itu, mengajak mereka untuk makan terlebih dahulu.
Sedangkan didalam mesjid, para tetua sedang berbicara dan memulai acara pernikahan itu.
Para undangan begitu ramai hadir ke mesjid komplek perumahan Griya M itu. Lana sekilas mendengar seperti suara yang di kenalnya.
Namun, suara itu lenyap. Ah! ia pikir, jika itu hanya halusinasi nya saja karena sudah sebulan lebih ini ia sangat merindukan dimana orang itu.
Melihatnya, tapi tidak bisa berbicara padanya. Mengingat itu mata Lana berkaca-kaca. Ia melamun.
Hingga lamunan itu tersentak saat mendengar suara yang sedang ia pikirkan menggelegar melalui mikrofon mesjid itu.
''Saudara Gilang Bhaskara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya Vita Rosmala Setiawan binti Alan setiawan dengan mas kawin emas seberat 50 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!'' Papa Alan menyentak tangan Gilang dengan kuat, membuat pemuda itu terkejut.
''Saya terima nikah dan kawinnya Vita Rosmala Setiawan binti Alan Setiawan dengan mas kawin emas 50 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!'' sahutnya tegas.
Membuat seseorang diluar sana berdiri dari duduknya dan mematung.
Deg.
Deg.
Deg.
''Papi!'' serunya.
Membuat teman-teman keheranan.
''Bagaimana para saksi?? sah??''
''Sah!''
''Sah!''
''Alhamdulillah.. barakallahu 'alikuma wabaroka 'alaikuma fi Khair... selamat Nak Gilang, sekarang kamu telah sah menjadi suami dari Vita Rosmala Setiawan. Dan untuk catatan sipilnya, saya agak ragu nih, Apakah-''
''Tidak perlu pak penghulu! anda tau kan seperti apa keinginan saya??'' bantah Gilang, sebelum ucapan itu terlanjur terbuka dihadapan umum.
''Baiklah jika itu yang menjadi keinginan mu. Tapi Bapak sarankan, agar kamu segera mendaftarkan. Kelak jika kamu memiliki anak, maka anak itu tercatat statusnya! Baiklah, mari kita-''
Belum sempat pak penghulu berbicara, tapi sudah di potong oleh Mama Dewi. ''Tunggu dulu pak penghulu! bukankah saya sudah mendaftarkan pernikahan putra saya dua Minggu yang lalu?? Kenapa sekarang harus tanya Gilang?!''
Pak penghulu menghela nafasnya. ''Masalah itu, anda tanyakan sendiri pada putra anda. Karena saya hanya mengikuti keinginan Gilang saja.''
''Maksudnya??''
''Ma! sudahlah! jangan berdebat disini, malu...'' tegur papa Angga.
''Tapi Pa...''
''Kita bicarakan ini dirumah ya??'' sela Papa Alan.
Mama Dewi mengangguk pasrah.
Seorang anak kecil berusia sembilan tahun, menatap nanar pada pengantin prianya. Pengantin pria tidak sadar jika dirinya sedang di perhatikan.
Entah mengapa, Gilang merasa jika ada seseorang yang sedang melihat nya. Dari wajah menunduk, kini menatap ke depan.
Deg.
__ADS_1
''Abang...''
''Papi...'' lirih Lana, matanya buram melihat Gilang.
Karena buliran bening itu sudah mengumpul di pelupuk matanya. Begitu juga dengan Gilang, matanya berkaca-kaca melihat seseorang yang begitu ia rindukan selama sebulan ini.
Dadanya begitu sesak, saat melihat putra kesayangannya berdiri dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.
Lana terisak di undakan tangga mesjid. Ia terus saja menangis begitu juga dengan Gilang.
Vita terkejut melihat Gilang menangis. Ia melihat, jika Gilang terus menatap ke depan. Karena penasaran, Vita menoleh.
Terlihat seorang anak kecil disana sedang menangis sesegukan begitu juga dengan Gilang.
''Abang...'' lirihnya lagi.
Membuat Vita mengernyitkan dahinya. Gilang semakin menangis, wajah tampan itu sudah berlinangan air mata.
Para tamu yang melihat Gilang, terharu. Mereka pikir, Jika Gilang menangis karena begitu bahagia menikah dengan pujaan hatinya.
Padahal bukan!
Gilang masih saja menatap Lana yang berdiri di undakan tangga. Gilang bisa melihat Lana, karena posisi mereka duduk menghadap ke depan.
''Papi...'' lirih Lana dengan terus menangis dan sesegukan.
''Abang...''
''Papi bohong!'' ucapnya dengan bibir bergetar tapi tanpa suara.
Gilang menggeleng. ''Nggak! Papi nggak bohong!'' sahutnya juga dengan tanpa suara.
''Nggak! Papi bohong!'' pekik Lana, kemudian ia berlari sekencang kencangnya tanpa melihat semua orang terkejut karena ulahnya.
''Nggak! Papi nggak bohong! Abang!'' pekik Gilang juga membuat seluruh tamu terkejut.
Gilang melompati meja penghulu dengan cepat. Membuat pak penghulu kaget.
''Astaghfirullah!!!'' pekiknya terkejut.
Ia berlari mengejar Lana di depan sana.
''Tunggu Papi Bang! Tunggu!!'' pekik Gilang lagi.
Mama Dewi dan Papa Angga terkejut. ''Papi??'' beo mereka bersama an.
Belum lagi Vita. Ia bertambah terkejut dengan pernyataan Gilang baru saja. ''Papi??'' gumamnya dengan wajah terkejut.
Sedangkan para tamu menjadi riuh. Suara hiruk pikuk memenuhi acara pernikahan Gilang dan Vita.
Jangan tanya darimana Lana bisa tau jika itu Gilang. Saat diluar tadi, ia mendengar suara Gilang yang sangat fasih mengucapkan ijab Qabul atas nama gadis lain.
Karena semakin penasaran, Lana mendatangi meja penyambutan tamu dan bertanya, siapakah kiranya yang menikah itu.
Orang itu menjawab. Jika yang sedang menikah itu adalah putra nya Angga Bhaskara pengusaha sukses memiliki seorang putra bernama Gilang Bhaskara.
Terkejut Lana mendengar nya. Ia membantah ucapan orang itu. Tapi orang itu tetap Keukeh mengatakan jika itu benar Gilang Bhaskara.
Jika tidak percaya, lihatlah di foto yang terpajang disana. Tunjuk orang itu. Lana menoleh.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya Lana ketika melihat sebuah foto yang terpampang jelas wajah Gilang beserta calon istrinya.
Lana terhenyak. Ia jatuh terduduk ke tanah. Ia menangis meraung memanggil nama Gilang. Orang itu sampai bingung di buatnya.
Setelah sadar jika itu adalah Gilang, Lana berlari dan naik ke undakan tangga. Ia tak menghiraukan Pak Madan yang memanggil nya.
Saat tiba di depan tangga, lagi dan lagi Lana terhenyak. Benar, jika itu Gilang. Gilang Bhaskara, Papi nya.
Lana tak terima dengan pernikahan itu. Orang yang selama ini ia rindukan, ternyata sedang menikah dengan gadis lain.
Betapa hancur hati Lana, saat membayangkan jika Mak, nya tau. Apakah akan sama seperti nya??
Lana terus berlari tak tau arah tujuan. Ia berlari keluar dari komplek. Sedangkan Gilang masih mengejarnya dari belakang.
Saking kencangnya Gilang berlari, saat ini jaraknya hanya lima meter saja dari Lana. Pak Kosim yang melihat Gilang berlari pun ikut berlari.
Begitu juga dengan Vita. Ia menyusul keluar. Semua tamu terkejut dengan kelakuan Vita. Panggilan dari Mama Dewi dan Mama Chyntia tidak ia hiraukan.
Baginya sekarang melihat Gilang. Ia ingin tau, ada hubungan apa antara Gilang dan anak kecil itu hingga memanggil nya dengan sebutan Papi.
''Tunggu nak!! Papi akan jelaskan!! Papi nggak bohong!!!'' pekik Gilang dengan terus berlari.
Hatinya begitu sakit melihat putra kesayangannya itu berlari karena dirinya.
''Nggak!! Papi bohong!!! Abang nggak percaya sama Papi!!!'' pekiknya juga.
Lana berlari hingga ketengah, karena ia kurang konsentrasi. Baginya sekarang ialah lari.
Gilang pun sama, ia mengejar Lana hingga ke tengah jalan. Semua orang terkejut melihat dua orang itu berlarian.
Dari kejauhan terlihat sebuah sedan begitu kencang. Orang-orang yang melihat itu memekik ketakutan.
Takut akan terjadi kecelakaan.
''Awas!!!!''
''Minggirrrr....!!!''
''Menepi!!!!!''
''Bahaya!!!!'' pekik mereka semua, tapi tak dihiraukan oleh kedua orang itu.
Dan tiba-tiba saja...
Brrraaaaakkkk....
''Tidaaaaaakkkkk.....!!!
💕
Hiks! ranah konflik hiks!
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Ikuti kelanjutannya hiks!
Like dan komen hiks!
TBC
__ADS_1