
Dari siang hingga malam hari Alisa masih saja menemani Vita di rumah sakit. Sejenak ia termenung dengan perkataan Vita tadi.
Bahwa bayi itu sangat ingin di gendong olehnya untuk pertama kali setelah ia dilahirkan.
Alisa melamun saat Vita masih berusaha mengeluarkan bayi kecil itu dari perutnya. Alisa terkejut saat Vita memeluknya dengan erat.
''Sakit Mbak...'' lirih Vita dalam pelukan Alisa.
''Sabar sayang.. memang seperti inilah saat kita melahirkan seorang bayi. Kamu yang sabar dan tetap semangat. Yakin, jika putramu akan selamat begitu juga dengan dirimu!" sahut Alisa, ia menyemangati Vita yang sedang berjuang Antara hidup dan mati.
Vita terus berusaha mengedan untuk melahirkan putra nya itu. Putra Gilang. Suami sah Alisa secara hukum.
Yang tidak diketahui oleh Alisa sama sekali.
Hingga pada usaha terakhir nya Vita berhasil mengeluarkan bayi nya itu dengan selamat. Alisa terharu.
"Oeeekk... oeeekk.. oeekk.."
Ia memeluk Vita dengan erat dengan Vita menangis di pelukan nya itu. "Selamat sayang.. kamu sudah menjadi Mama sekarang .." bisik Alisa di telinga Vita.
"Terimakasih Mbak.. semua ini karena mu.. Mbak?? Bisa aku minta tolong?" bisik Vita begitu lemah di telinga Alisa.
"Minta tolong apa??"
"Jaga putra ku dan rawat dia seperti putra kandung mu! Jadikan dia seperti putra mu yang baik Budi pekerti nya dan berbakti kepada orang tua. Dan katakan pada nya jika ia sudah besar nanti, jika aku sangat menyayangi nya jangan pernah lupakan aku sebagai Mama yang telah melahirkan nya! Berikan nama yang bagus untuknya Mbak.. karena waktuku sudah tiba. Jika suatu saat nanti aku kembali, tolong kenalin pada nya jika aku adalah ibu yang melahirkan nya Mbak.." lirih Vita di pelukan Alisa.
Alisa mematung mendengar ucapan Vita. "Maksud mu apa Vita?"
Vita tidak menjelaskan ia hanya tersenyum menatap Alisa. Tiba-tiba dari belakang seorang suster mendekati Alisa dan Vita.
''Selamat Bu.. bayi nya laki-laki sangat tampan sekali. Lihatlah!'' tunjuk seorang suster pada Alisa.
Alisa menoleh dan..
Deg!
''Gilang...'' ucap Alisa saat melihat wajah bayi itu begitu mirip dengan Gilang.Tapi kenapa bibir bayi itu mirip dengan bibir nya?
Alisa meraba bibir nya. ''Astaghfirullah! Apa yang aku pikir kan! Ishhh.." gerutu Alisa, membuat suster dan Vita terkekeh.
"Tampan seperti Papi nya!" celutuk Vita.
"Hah? Papi??"
"Ya, Papi nya! Saat ini ia masih sekolah diluar negeri." sahut Vita santai hingga membuat Alisa bingung.
"Ini Bu.." Kata suster itu seraya menyerahkan putra Gilang kepada Alisa.
"Eh? kenapa saya? Mama nya disana loh.."
"Tapi kamu Mami nya Mbak.."
"Apa?! Aku? Maminya?!" Pekik Alisa membuat bayi itu terdiam dari menangis nya karena mendengar suara Alisa.
Vita terkekeh. "Lihatlah! Bahkan ia sangat mengenal dirimu Mbak.. tuh, lagi cari pabrik susu nya!" celutuk Vita lagi.
Lagi dan lagi Alisa terkejut. "Eh? Masa' sih?!' tanya nya dengan tidak percaya.
Aneh, Seharusnya kan jika suatu pekikan begitu lantang bayi itu tambah menangis, ini kenapa pula jadi diam? Pikir Alisa.
__ADS_1
Bayi yang baru saja lahir itu terus saja menggeliatkan tubuhnya. Sesekali merengek kecil, karena Alisa tidak kunjung memberikan ASI nya.
''Kayaknya haus ya? Sama Mama ya?'' ucap Alisa pada bayi kecil itu.
Ia menyerahkan bayi kecil pada Vita. ''Oeeekkk.. Oeekk.. Oeeekk..''
''Loh? Loh? Kok nangis sih? Nggak mau sama Mama? Mau sama ibuk aja??''
''Mami Mbak..'' ralat Vita dengan terkekeh kecil. Saat ini tubuhnya sedang di bersihkan oleh dokter dengan jalan lahirnya yang sedang dijahit.
Vita meringis menahan ngilu pada bagian yang dijahit itu. Alisa terkekeh melihatnya. ''Mbak juga sama seperti mu Vita! Tiga anak Mbak, tiga-tiganya di jahit!''
Vita dan suster itu tertawa. Begitu juga dengan dokter yang sedang menjahit bagian jalan lahir Vita.
Bayi kecil terus saja mendusel dada Alisa dengan sesekali menangis. ''Ini kayaknya anak kamu haus deh, di susui dulu ya?'' ucap Alisa pada Vita, sambil menyerahkan bayi itu pada nya.
''Susu ku tidak keluar Mbak..'' sahut Vita.
Alisa menoleh pada Vita. ''Kenapa?? Apakah Papi nya jarang untuk memberi rangsangan pada pabriknya? Atau kamu nya yang tidak mau?'' tanya Alisa, tanpa bisa mengerem bahasa yang begitu vulgar menurut Vita.
''Nggak pernah Mbak.. emmm.. gimana kalau Mbak aja yang susui? Mbak kan masih menyusui?'' tanya Vita membuat Alisa terkejut.
''Saya?? Menyusui putra mu?? Tapi kamu Ibu nya Vita!'' seru Alisa. Ia menjadi jengkel dengan kelakuan Vita ini.
Via tersenyum melihat Alisa marah padanya. ''Di coba dulu Mbak..'' paksa Vita dengan lembut.
Membuat Alisa menghela nafas kasar. ''Oke! Mbak susui! Puas kamu!'' ketus nya pada Vita.
Vita terkekeh kecil. Dokter yang melihat interaksi mereka berdua hanya bisa terdiam. Ada yang aneh, pikirnya.
Alisa menatap bayi kecil itu dengan tersenyum.
Ia mengecup kening bayi kecil itu. Entah mengapa, hatinya sangat ingin memiliki bayi ini.
Ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada bayi ini. ''Wajahmu sangat mirip sayang .. mengingat Mami pada seseorang.. hah! sudah sembilan bulan berlalu, mungkin orang itu sudah lupa dengan Mami ya Nak?? Biarin aja, yang penting sekarang Mami punya kamu!'' ucapnya pada bayi kecil yang sedang menyusu dengan lahap pada nya.
Alisa tersenyum dan Vita pun ikut tersenyum. ''Tugasku sudah selesai disini, sekarang tugas mu Mbak.. aku pergi! Karena seseorang sudah menungguku diluar sana!'' ucapnya Sembari menatap seseorang diluar kamar bersalin itu.
Pemuda tampan itu tersenyum lembut pada Vita. Di balas senyum oleh Vita. Ia terus melihat putra nya yang sedang di susui oleh Alisa.
Bayi itu melahap susu itu dengan rakus. Alisa terkekeh melihat nya. ''Kenapa wajahmu sangat mirip dengan Papi, ya??'' tanya nya pada bayi kecil itu.
''Mbak.. siapa nama nya?? Aku ingin tau sebelum aku pergi..'' lirih Vita dengan tersenyum.
Alisa menoleh pada Vita. ''Kamu mau kemana?? Putra mu ini bagaimana?? Apakah aku harus memberikan nama pada putraku ini, hem?'' tanya Alisa pada Vita dan juga bayi kecil itu.
''Ya, berikan nama yang bagus untuknya sebelum aku pergi.'' sahut Vita.
''Ck! Iya-iya! Sedari tadi pergi saja! Pergi sana! Ya kan sayang?? Emm siapa ya namanya? Gimana kalau... Rayyan! Ar Rayyan! Atau Baby Ray.. cup!'' Seakan tau, bayi itu menggeliat kan tubuhnya walau mulut nya masih sibuk dengan susu nya.
Alisa terkekeh. Begitu juga dengan Vita. Setelah selesai dengan menyusui Baby Ray, Alisa pun pamit pada Vita.
Vita melarang nya tapi Alisa tetap keukeh. Hingga Alisa dan mama Dewi berselisih ketika keluar dari ruang inap Vita berada.
Semua biaya persalinan Vita, Alisa lah yang membayar nya tanpa sepengatahuan Vita. Entah kenapa, melihat bayi kecil itu mengingatkan nya pada seseorang yang telah pergi meninggalkan nya untuk menuntut ilmu di negeri Paman Sam.
Mama Dewi berjalan terburu-buru ke ruangan inap Vita. Tiba disana, sudah terlihat seorang pemuda yang begitu di kenalnya.
''Kamu?!'' serunya pada pemuda itu.
__ADS_1
''Selamat malam Tante? Apa kabar?'' tanya pemuda itu.
''Ngapain kamu kesini?!'' ketus Mama Dewi, bukan menjawab malah balik bertanya.
''Dia ingin menjemput ku, Ma.. tugas ku disini sudah selesai! Aku harus pergi sekarang! Titip Rayyan ya, Ma! Nanti akan ada seseorang yang mengurusnya dengan baik! Karena itu adalah keinginan Papi nya. Gilang!''
''Apa?! Siapa?! Kamu mau kemana??'' tanya Mama Dewi begitu terkejut dengan ucapan menantu nya itu.
''Namanya Ar Rayyan. Seseorang yang telah memberikan nama itu untuknya. Aku pergi, Ma! Assalamualaikum..'' lirih Vita, dengan segera di gendong oleh pemuda itu ala bridal style.
Mama Dewi semakin terkejut. Ia berlari mengejar Vita, tapi dihalangi oleh dokter tadi yang mengurus Vita dan bayi nya.
''Maaf Bu Dewi, saya harus periksa dulu keadaan bayi ini. Sebelum di bawa pulang. Dan katakan kepada Ibu susu bayi ini agar terus menyusui nya hingga dua tahun lamanya.'' Ucap dokter itu, membuat Mama Dewi semakin terkejut.
Mama Dewi berdiri mematung melihat kepergian Vita yang dibawa oleh sahabat Gilang pada saat mereka masih SMP dulu di Jakarta.
''Bu Dewi??'' panggil dokter Puspita.
''Ah iya dokter! Apa tadi kata mu? Ibu susu?? Siapa??'' tanya nya masih dengan menatap kepergian Vita.
''Tadi pada saat Vita melahirkan, ada seseorang bersama nya. Wanita itu berhijab. Ia juga yang membantu Vita saat melahirkan. Dan dia juga yang menyusui Baby Ray tadi. Siapa ya tadi nama nya? Sa... Li... Sa.. lupa saya Bu Dewi. Yang jelas wanita itu juga yang memberi nama untuk bayi nya Vita.
Pada saat dokter Puspita masih berbicara dengan Mama Dewi, terdengar dering ponsel begitu nyaring dari tas selempang Mama Dewi.
Mama Dewi mengambil dan melihat. Ternyata Gilang yang menelpon. ''Hallo Nak..''
''Assalamualaikum.. Ma.. gimana sama putraku? Sudah lahir? Sehat? Seperti apa rupanya??'' tanya Gilang menyerbu Mama Dewi dengan banyak pertanyaan.
Ya, tadi Gilang sempat menghubungi Mama Dewi ketika dirumah mereka ia menanyakan keadaan Vita dan bayinya.
Mama Dewi terkekeh. ''Waalaikum salam, Nak.. putra mu sudah lahir ke dunia. Mau lihat??'' tanya nya pada saluran ponsel yang terhubung melalui video call.
''Ya, perlihatkan! Aku tidak sabar ingin melihat nya! Eh sudah di adzan kan belum? Papa mana?? Suruh Papa yang adzan kan putra ku Ya, Ma??''
''Tentu sayang. Lihatlah putra mu sedang tertidur lelap tadi setelah di susui oleh ibu susu nya!'' sahut Mama Dewi.
Ia begitu takjub dengan bayi kecil yang begitu mirip dengan Gilang. Mama Dewi mengarahkan kamera belakang nya pada putra Gilang.
Deg!
''Alisa!'' pekiknya, membuat Mama Dewi terjingkat kaget.
''Eh? Kamu kenapa? Siapa tadi yang kamu panggil? Alisa?? Siapa Alisa?? Kenapa nama nya sangat familiar ya?'' tanya Mama Dewi pada Gilang.
Gilang terkejut. ''Ehm, Mama salah dengar kali.. Oh iya, siapa nama putraku Ma??''
''Vita bilang tadi kalau nggak salah Ar.. Rayyan! Ya, Ar Rayyan! sangat bagus nama nya. Dan panggilan nya Baby Ray.. ya sayang?'' ucapnya sembari menyentuh cucu nya itu.
''Ar Rayyan?? Rayyan Putra Bhaskara??''
Deg!
💕
Hehehe.. prince Bhaskara sebentar lagi akan bertemu lagi dengan Mami Alisa!
Othor pisahkan dulu ya sebentar, sebelum nanti mereka di pertemukan lagi!
TBC
__ADS_1