Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Annisa menangis tanpa henti


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan Alisa dari rumah sakit. Annisa sudah bisa pulang dan sudah sehat.


Alisa pulang diantar oleh pak Kosim sampai ke tempatnya ustad Dhanu. Sesampainya disana, Alisa melarang pak Kosim untuk pulang, karena ingin minta tolong untuk mencari kontrakan baru dekat dengan rumah nya yang terbakar.


''Pak.. bantu saya ya untuk mencari kontrakan?? Kan nggak mungkin saya tinggal di rumah ustad Dhanu?? Yang ada nanti akan menimbulkan fitnah.'' ucap Alisa dan diangguki oleh pak Kosim.


''Iya neng... bapak setuju! Sebaiknya bapak cari sekarang ya?? Karena sebentar lagi bapak harus balik ke kantor, karena den Gilang ada rapat.'' imbuhnya kemudian berlalu meninggalkan Alisa termangu disana.


Satu jam kemudian, pak Kosim mendapatkan rumah kontrakan yang siap huni. Hanya berjarak lima menit dari rumah Alisa yang terbakar.


Setelah mendapat kan rumah itu, Alisa langsung pindah hari itu juga. Ustad Dhanu merasa keberatan, tapi karena Alisa bersikeras jadilah ia terpaksa melepaskan nya.


Dengan dibantu tetangga sekitar Alisa pindah hari itu juga. Semua isi dirumah itu sudah tersedia karena pemiliknya sengaja mengisi untuk putrinya yang akan pindah dua bulan lagi.


Alisa sangat bersyukur akan hal itu. Karena masih ada yang berbaik hati membantu dirinya.


Setelah Alisa benar-benar pindah, pak Kosim pamit undur diri. Setelah nya tinggal lah Alisa dan juga anak-anak nya dirumah yang baru.


Perlu waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Tetapi karena Alisa sudah terkenal karena kue buatan nya, maka itu tidak menyulitkan Alisa.


Seminggu sudah berlalu setelah kepindahan nya ke rumah baru. Hari itu begitu sulit untuk Alisa, dan juga kedua anak nya.


Bagaimana tidak, jika sejak pagi hingga siang, Annisa tidak berhenti untuk menangis. Sudah berulang kali di bujuk, Namun tetap sama.


Annisa tetap berulah. Ia menangis tanpa henti hingga membuat Alisa kalang kabut. Padahal hari itu ia mendapat pesanan kue dari tetangga, terpaksa ia tolak.


Tapi pelanggan itu tidak mau. Ia tetap ingin Alisa yang membuatnya. Telat pun tak apa katanya.


Hingga sore hari, Annisa tidak juga diam. Ira berulang kali menelpon nomor Gilang, tersambung namun, tidak diangkat.


''Angkat Pi... ayo angkat... adek butuh Papi...'' lirih Ira masih dengan memegang ponselnya.


''Jika sampai malam pun Papi tidak mengangkat telpon kakak, maka jangan salahkan kakak, jika besok kakak akan datang kerumah Papi.'' gumam Ira sembari terus mendoakan nomor Gilang.


Tetap nihil tidak ada balasan. Lelah rasanya membujuk Annisa. Karena kelelahan bayi itu tertidur begitu pulas hingga esok harinya.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Hari ini adalah hari Minggu, sejak semalam Ira sudah bertekad ingin kerumah Gilang. Karena sudah berulang kali untuk menelpon Gilang, namun tidak diangkat sama sekali.


Annisa yang sedari kemarin menangis, hari ini mulai lagi semenjak bangun tidur ia sudah menangis lagi.


Ira berusaha mengatakan jika ia akan membawa Gilang kerumah, jika tidak suara Gilang pun jadilah.


Katanya kepada bayi kecil itu. Bayi kecil itu terdiam walau sesekali masih sesegukan. Melihat itu Ira yakin, jika Annisa pasti merindukan Gilang.


Tekadnya sudah bulat. Ira dan Lana sudah berjanji tidak akan memberitahu kan Alisa tentang hal ini.


Jadilah mereka pergi dalam keadaan berbohong. Tapi tetap mengantongi izin untuk pergi dengan alasan urusan sekolah, pergi bersama Raga.


Padahal mah, Raga sedang pergi ke tempat lain bersama adik-adiknya.


Ira dan Lana masih ingat dan hafal dimana tempat tinggal Gilang dimana. Dengan berbekal uang lima ratus ribu, mereka berdua menyetop sebuah taksi dan menunjukkan alamat itu kepada supir agar sampai ke tempat ke tujuan.


Sang supir karena merasa kasihan, mengantarkan mereka sampai ke tujuan. Ira dan Lana harap-harap cemas jika Gilang tidak ada dirumah.


Walaupun ia tau, jika hari itu adalah hari Minggu.


Satu jam kemudian, mereka tiba di tempat Gilang. Saat mereka turun, terlihat rumah Gilang yang begitu sunyi.


''Hallo assalamualaikum kakek...''


''Waalaikum salam, Kak.. ada apa??''


''Kakak sama Abang ada di depan gerbang rumah Papi. Kami ingin bertemu Papi, kek! Sebentar... aja..'' lirih Ira dengan menahan tangisnya.


''Apa?! iya, iya kakek sekarang kesana! tunggu sebentar!''


Kemudian ia berlari ke depan dengan bik Inah mengikuti nya dari belakang karena mendengar jika anak Alisa ada didepan gerbang rumah.


Sedangkan seseorang diatas sana, sekilas seperti melihat seseorang yang ia kenal. Namun, setelah lama ia perhatikan ternyata bukan.


Ia masih sibuk dengan berkasnya. Hingga ponsel pun tidak tersentuh olehnya.


Pak Kosim keluar dengan tergesa takut nyonya mereka tau akan keberadaan dua anak itu.

__ADS_1


''Ya Allah kak.. ngapain kesini?? Cuma berdua lagi..'' ucap pak Kosim sembari membawa kedua anak itu masuk kedalam pos satpam.


Dari kejauhan terlihat sebuah sedan memasuki pekarangan rumah mereka. Pak kosim membulatkan matanya melihat jika nyonya mereka telah kembali dari arisan nya.


Tepat seperti dugaannya.


''Kak! Abang! masuk ke dalam pos satpam! jangan berbalik! tetap menghadap ke dinding ya! turuti permintaan kakek! ini demi keselamatan kalian berdua!'' ucap pak Kosim begitu cemas.


Tepat saat kedua anak itu berbalik, Mama Dewi turun dari mobilnya ingin tau ada apa.


''Ada apa pak Kosim?? Siapa dua anak itu??'' tanya Mama Dewi.


Deg.


Ira dan Lana gemetar mendengar suara Mama Dewi. Mereka berdua takut ketahuan. Dua kakak beradik itu semakin erat berpelukan satu sama lain.


Mereka berdua menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya. Saking takutnya mereka, Lana dan Ira sampai terisak disana.


''Tidak apa nyonya.. hanya dua orang anak kecil tersesat sedang mencari alamat saudara nya di komplek perumahan ini. Karena haus mereka berhenti disini, dan kebetulan saya melihatnya. Kasian nyonya.. mana mereka belum makan lagi..'' lirih pak Kosim


''Ya sudah, beri mereka makan dan minum dan juga bekal uang jajan. Nah, berikan kepada mereka berdua, dan antarkan ke tempat tujuan nya pak Kosim. Berbahaya anak kecil di jalan sendirian..'' lirih Mama Dewi seraya memberikan lima lembar uang berwarna merah untuk diberikan kepada Ira dan Lana.


''Baik nyonya.. terimakasih... Bik Inah, beri mereka makan dulu!'' titahnya pada bik Inah dan di angguki bik Inah.


Setelah nya Mama Dewi berlalu meninggalkan kedua orang anak yang berdiri di pos satpam itu.


Pak Kosim bisa bernafas lega setelah majikan nya itu pergi. Sekarang waktu nya untuk bertanya pada kedua anak itu. Pikir pak Kosim.


''Kenapa kalian berdua sampai nekat kesini?? Jika Mak kalian tau, maka kalian berdua akan dimarahi nak... Ada apa ??'' tanya pak Kosim.


Ira mendongak menatap pak Kosim dan mulai menceritakan apa yang terjadi dengan Annisa di rumah.


''Maka dari itu, kami nekad kesini karena ingin bertemu Papi, kek...'' lirih Ira.


''Ya Allah...''


💕

__ADS_1


Coba tebak, ketemu nggak nih anak-anak Alisa sama Gilang??


TBC


__ADS_2