
Sementara Alisa sedang tidur dengan tenangnya, dengan tubuh dibalut lulur sambil di pijat, dirumah keluarga Bhaskara semakin heboh karena tangisan Rayyan yang memekik telinga.
Mama Alina yang kasih melihat putra Gilang itu semakin histeris dan mengamuk,engmbim paksa tubuh mungil itu dan mbawa ke dalam pelukannya.
''Adek.. sayang.. ini nenek. Nenek, Ibu nya Mami kamu. Mami Alisa. Diam ya? Adek mau dengar cerita tentang Mami nggak??'' tanya Mama Alina sembari terus menimang Rayyan dalam pelukannya.
''Hiks.. Mami...'' rengek Rayyan masih dengan sesegukan. Tidak mengamuk seperti tadi lagi. Kini sudah lumayan mereda.
Putra Gilang itu di bawa ke kamar oleh Mama Alina. Sampai disana, ia memeluk putra Gilang itu sambil menceritakan kisah Alisa. Mami nya.
Gilang dan Mama Dewi bisa bernafas lega. Papa Yoga terkekeh melihat putra Gilang itu. ''Kamu tau Nak? Alisa jjika sedang mengamuk, sama seperti ini. Apalagi ketika ia baru bangun tidur yang dicari sudah tidak ada. Pastilah mengamuk histeris seperti putramu baru saja.'' imbuh Papa Yoga sembari terkekeh kecil.
Papa Angga tertawa. ''Benarkah Pak? Berarti cucu saya ini keturunan keluarga anda dong?'' goda Papa Angga.
''Bisa jadi. Ya.. walaupun Rayyan tidak terlahir dari rahim Alisa, tapi sifat dan sikap nya ketika masih kecil sama persis. Bahkan wajah mereka pun mirip. Ada yang mengatakan, Jika anak tiri dan ibu nya mirip, menandakan mereka berdua memang sudah ditakdirkan. Terlepas jika Papi nya yang akan menikahi Mami nya. Ibu sambungnya. Dan saya berharap, Rayyan tidak akan pernah berubah ketika tau jika putri saya bukanlah Mama kandungnya.'' lirih Papa Yoga.
Gilang tersenyum, ''Itu tidak mungkin terjadi. Aku dan Vita sudah sepakat untuk mengatakan hal ini ketika Rayyan berumur tujuh tahun nanti. Agar ketika aia dewasa tidak merasa sakit hati dengan kenyataan yang dikira kebohongan olehnya.''
''Betul sekali itu. Ayo kita ke ruang atas saja untuk berbicara. Biarkan Rayyan pada Besan. Kayak nya udah terlelap lagi tuh.'' tunjuk Papa Angga pada Rayyan yang sudah tertidur lagi karena tepukan halus dari Mama Alina.
''Ya,'' sahut Papa Yoga.
Dengan segera mereka berjalan menuju balkon dan bicara ngalor ngidul disana. Sementara Tante Irma dan Mama Dewi mereka berdua sedang mempersiapkan Henna untuk Alisa.
Sengaja ia bawa dari Aceh. Dan sekarang Bik Inah yang menggiling Henna nya dengan batu gilingan.
__ADS_1
Sedangkan di rumah Alisa, ia saat ini baru saja habis mandi dan melaksanakan sholat dhuhur yang tertunda karena ketiduran.
Dirinya yang tidak pernah merasakan empuknya ranjang pada saat siang hari harus tepat karena sang ahli pijat memijat dari salon terkenal dan langganan Mama Dewi itu.
Alisa yang berbalut dengan mukenah putih nya, kiriman dari Gilang saat ia di turki satu tahun yang lalu.
Mengenang itu Alisa terkikik geli, bagaimana tidak. Gilang mencari mukenah yang sama seperti di Indonesia.
Mana ada di negara turki sana. Nasib baik berpihak padanya, ia bertemu dengan satu orang Indonesia yang berlibur kesana.
Beruntungnya Gilang, orang itu membawa mukenah baru yang masih tersegel belum di buka sama sekali.
Alisa terkikik lagi, namun saat ia ingin berdiri tiba-tiba kepalanya jadi pusing. Pandangan matanya buram.
Ia meraba-raba pinggir ranjang. Namun karena rasa sakit yang semakin mendera Alisa jatuh ambruk dan menimpa pinggiran ranjang.
Hingga menimbulkan suara gaduh. Para pegawai salon itu berlari ke kamar Alisa dan mendapati jika pelanggan baru itu jatuh terkapar dengan dahi mengeluarkan darah.
Mereka panik. Tak tau harus buat apa. Dan kebetulan saat itu ponsel Alisa yang berada di atas nakas berbunyi.
Dengan cepat salah satu pegawai mengangkat sambungan ponsel itu.
''Ha-,''
''Ma-Maaf Tuan Gilang! Nyonya Alisa pingsan!'' pekik pegawai salon.
__ADS_1
''Apa?! Bagaimana bisa?!'' pekik Gilang pula.
Papa Angga dan Papa Yoga terkejut mendengar pekikan Gilang yang begitu melengking.
''Maaf tuan! Kami baru saja istirahat dan makan. Dari arah kamar terdengar suara benda jatuh. Dan kami lihat jika Nyonya sudah jatuh terkapar di lantai dengan pelipis berdarah..''
''Astaghfirullah! Oke! Setengah jam lagi saya tiba! Terimakasih infonya!''
Tut.
Sambungan ponsel itu mati. Dengan segera Gilang berlari ke kamarnya mengambil kunci mobil dan dompet.
Saking buru-buru nya, Gilang tidak sempat berputar pada Papa Yoga dan Papa Angga. Kedua orang tua menatap bingung pada Gilang yang berlari seperti orang kesetanan.
Di depan pintu depan Gilang di hadang Mama Dewi dan Tante Irma yang baru saja pulang dari rumah tetangga untuk meminta sedikit daun Henna.
Melihat Gilang begitu panik, Mama Dewi pun mencegatnya. ''Tunggu Nak! Ada apa?'' tanya Mama Dewi
''Alisa pingsan dirumah Ma! Gilang kesana dulu! Malam ini Gilang nggak pulang!'' sahutnya dengan segera ia berlari meninggalkan dua orang paruh baya yang mematung di pintu rumah mereka.
''Apa?! Alisa pingsan?! Pingsan lagi??''
''Pingsan? Maksudnya?''
''Alisa pingsan pasti gara-gara penyakit nya kambuh! huh! sudah dibilangin! Bawa operasi ke Singapur! Tapi tetap ngeyel!'' omel Mama Dewi tanpa sadar membuka Rahasia yang seharusnya mereka tau nanti, setelah pernikahan Gilang dan Alisa.
__ADS_1