Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Mama Dewi


__ADS_3

Keesokan harinya.


Dirumah Alisa.


Alisa mengerjabkan matanya ketika ia mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an dimesjid pertanda hampir masuk waktu subuh. Ia ingin bangun tapi tertahan. Ia bangkit dan menunduk, ia melihat tangan Gilang sudah nangkring di pinggang rampingnya. Ia terkejut, hampir saja ia menjerit jika tidak sadar kalau mereka tidur diluar karena Annisa sedang tidak enak badan.


Alisa memandang wajah Gilang , tangannya bergerak ingin memguasap wajah Gilang, tapi terhenti saat Ira menegurnya. Tangannya ia tarik kembali dan mengalihkan tangan Gilang untuk memeluk Annisa.


''Udah subuh Mak.. ayo Mak sholat setelahnya baru kita bangunin adek sama Papi agar mereka sholat subuh berdua.''


''Iya.. Kakak udah lama bangunnya??''


''Udah dari tadi.. tapi mandi dulu sekalian Kakak masak nasi, setelah nya barulah Kakak bangunin Mak..''


''Ya sudah, Mak sholat sebentar ya.. bangunin gih adikmu juga Papi kalian ..'' bibirnya terasa keseleo untuk menyebut Gilang dengan sebutan Papi.


''Hem.''


Setelah Alisa pergi, Ira menatap Alisa dengan mata sayu, rasa bersalah dihatinya selalu saja muncul tapi terpaksa ia melakukan nya.


*Maafkan Kakak Mak... maafkan jika Kakak selalu jadi penghambat untuk Mak.. sekali ini... saja! biarkan kakak menjadi penjaga sebelum Mak menikah lagi dengan Papi..


Biarkan kakak yang jadi penghalang untuk kalian melakukan kesalahan..


Maafkan kakak Mak*...


Ira menyusut air bening yang mengalir di pipinya. Tanpa sadar air bening itu mengalir tanpa dipinta. Setelah nya ia membangunkan Lana untuk segera sholat subuh.


''Bang... bangun! udah subuh ayo cepat bangun! nanti kesiangan subuh nya!'' ucap Ira seraya menggoyang badan Lana.


Lana yang kesal karena dibangunin marah, '' Iya iya... ishh.. bisa nggak sih banguninnya pelan dikit? Puyeng nih kepala Abang! Kakak kebiasaan bangunin Abang pasti kayak gitu!'' gerutunya, Ira terkekeh.


Ira paling suka mengganggu tidur adiknya, karena itu akan jadi hiburan tersendiri buat dirinya.


Gilang yang mendengar suara ribut ribut membuka matanya.


''Ada apa Bang.. kok ribut ribut sih?? Masih tengah malam ini ayo tidur lagi.. tuh adek aja masih bobok Sampek ngorok lagi..'' ucapnya terkekeh.


Ira dan Lana saling pandang, kemudian mereka terkekeh mendengar ucapan Gilang.


''Ini udah subuh kali Pi.. bukan tengah malam! tengah malamnya udah lewat kali..'' ujar Ira dengan terkekeh menatap Gilang yang mata saja belum terbuka.


''Hooh bener itu.. Papi ngigau ya..?'' Lana ikut menimpali.


''Heleh kamu juga sama Bang! susah di bangunin! udah, ayo sana sholat subuh! tuh Mak udah selesai sholatnya. Mau kamu kena semprot Mak pagi pagi begini?'' tanya nya yang menunjuk Alisa baru saja selesai sholat.


Gilang yang mendengar kalau Alisa sudah selesai sholat, bangun kemudian menuju kamar mandi untuk sholat subuh di ikuti Lana dibelakangnya.


Mereka berdua sholat berjamaah bersama. Setelah selesai sholat mereka berdua membereskan tempat tidur dan menyimpannya kedalam kamar Alisa, sedangkan Ira sedang mengganti popok Annisa yang baru saja selesai pup.


Gilang dan Lana mereka berdua bersiap siap memakai seragam sekolah mereka, sedangkan Ira sejak tadi sudah memakainya.


Tak lama berselang Alisa dari dapur datang dengan nampan berisi susu hangat serta nasi goreng untuk mereka sarapan.


''Ayo sarapan dulu sebelum berangkat. Nih, Mak udah siapkan kalian nasi goreng. Ayo sarapan dulu, Kak biarkan adeknya letakkan aja dalam ayunan biar Mak yang ngurus, kamu makan aja dulu.'' ucapnya seraya mendekati ayunan Annisa.


''Iya Mak.. ayo bang.. Papi.. kita sarapan! entar kesiangan loh ke sekolahnya,'' tegurnya pada mereka berdua yang sibuk dengan gadget nya Gilang.


''Woke..!! ayo Pi.. kita sarapan, setelahnya kita berangkat bareng ya..'' ajaknya


Gilang tersenyum dan mengacak rambut Lana yang sudah tersisir rapi. Lana mencebik membuat Gilang terkekeh.

__ADS_1


''Iya... ayo kita sarapan..''


Tidak mewah masakan Alisa, hanya nasi goreng telur yang di orak Arik kemudian ditambahi kecap manis juga sedikit saos. Gilang menatapnya aneh, tapi setelah mencicipinya, ia nambah hingga dua piring.


Lana yang melihatnya melongo, sedangkan Ira terkekeh geli. Alisa diam saja ia tak perduli dengan mereka karena sedang menyusui Annisa.


''Papi lapar.. atau ketagihan nih? Kok nambahnya hingga dua piring? Apa muat itu perut?''


''Hehehe.. Papi belum pernah makan nasi goreng seperti ini... rasanya beda sama yang biasa Papi makan.. enak!''


''Hilih bilang aja Papi doyan sama masakan Mak..''


''Sudah, sudah! sebaiknya kita bersiap untuk berangkat tuh waktunya udah hampir setengah tujuh, ayo bang ! kamu piket kelas kan hari ini?'' tanya Ira


''Hooh.. Abang piket hari ini.. ya sudah Abang bersiap dulu.''


''Ya sudah. Papi juga harus segera berangkat, karena perjalanan Papi lumayan jauh.. Oh ya bang.. Papi hari ini nggak bisa kesini ya.. Papi harus pulang karena baru saja dapat kabar kalau dirumah Papi nanti malam kedatangan tamu.''


Tamu?? Siapa??


''Woke... Papi tenang aja.. santai.. Abang akan tunggu Papi besok!''


Gilang mengacak rambut Lana lagi yang membuat si empunya manyun. Gilang terkekeh.


''Ya sudah, ini uang jajan untuk kalian berdua..'' Gilang mengeluarkan dua lembar uang berwarna biru dari dompet nya dan memberikannya pada Ira dan Lana.


Alisa yang melihatnya terkejut.


''Kok kamu yang ngasi sih,itu lagi kenapa banyak banget.. mau diapain dengan uang sebanyak itu?'' tegur Alisa membuat Gilang tersenyum.


''Nggak pa pa Mbak .. saya kan lagi belajar jadi Papi.. jadi Mbak jangan protes oke?''


Alisa ingin menjawab tapi keburu ditutup mulutnya dengan satu jari Gilang. Alisa diam, tak bisa berkutik lagi.


Gilang tersenyum sedangkan Alisa berdiri mematung.


Mereka bertiga berangkat setelah berpamitan dengan Alisa menuju sekolah masing masing.


Alisa termenung, setelah kepergian Gilang. Ia hanya berpikir, apakah Gilang pantas menjadi Papi anaknya? Sedangkan Gilang aja belum bekerja, bagaimana nantinya kalau ia menikah dengan Gilang, sedangkan Gilang baru saja tamat SMA. Mau dikasi makan apa tuh anaknya. Pikir Alisa.


Haishhh.. Alisa menggeleng kan kepalanya, kemudian ia masuk kedalam untuk membereskan piring sisa sarapan mereka tadi pagi.


Ia tersenyum mendapati piring Gilang terisi penuh dengan nasi goreng khusus buat dirinya. Ia jadi terkekeh sendiri membayangkan kelakuan Gilang.


****


Dirumah Gilang.


Mama Dewi sedang sibuk memasak di dapur. Ia dan beberapa asistennya sedang memasak menu makanan untuk menjamu tamunya nanti malam.


Mama Dewi begitu sibuk, hingga kepulangan Gilang pun ia tak tahu. Saat sedang menyiapkan makanan diatas meja ia mendengar suara bel berbunyi.


''Itu pasti mereka,'' gumamnya.


Ting tong..


Ting tong..


Mama Dewi menyuruh asistennya untuk membuka pintu, setelahnya mengajak mereka masuk. Mama Dewi sangat bahagia dengan kedatangan mereka.


''Selamat sore nyonya Bhaskara..''

__ADS_1


''Hai Cyntia.. kangen banget... udah lama ya kita nggak jumpa..'' mereka cipika cipiki dan saling memeluk dengan erat.


''Ehm.. gue dicuekin nih.. masa bini nya doang yang disapa lakinya kagak.. gimana sih lu jadi tuan rumah? Udah tua juga masih saja nggak sadar umur!'' tegurnya, Mama Dewi yang mendengar gerutuan sahabatnya itu tertawa.


''Selamat datang Alan.. dikerajaanku ini.. semoga loe betah ya disini.. eh? ini Vita ya??''


Mama Dewi yang sedang memeluk sahabat suaminya itu terkejut melihat seorang gadis berdiri dibelakang Papa nya.


''Benar sekali, ini Vita. Vita yang dulu pernah sekolah bersama dengan Gilang sejak mereka TK hingga SMP. Tapi terpisah karena kalian pindah kesini. Enak banget Loe ya tinggal disini?? Nggak kangen apa sama tanah kelahiran sendiri?''


''Bukan nggak kangen.. tapi kangeeennn bangettttt... tapi sekarang gue kan ikut suami.. ya harus nurut lah.. iya nggak Lan??''


''Benar sekali nyonya Bhaskara.. ngomong ngomong mana nih si Bhaskara nya? kok nggak kelihatan?? Apa Loe nggak kasi tau tentang kedatangan kami sama dia??''


''Tenang aja.. bentar lagi balik kok, gue udah ngasi tau dari semalem bahwa kalian akan tiba hari ini.''


''Oh oke.. baiklah.. Gilang mana belum pulang sekolah kah??''


Vita yang mendengar nama Gilang mendongak. Sedari tadi ia sibuk dengan gadget nya. Jadi ia tidak terlalu peduli dengan percakapan para orang tua.


''Ada.. kayak nya dikamar deh.. bentar lagi turun ini kan udah sore. Gilang udah tau kok kalau kalian akan datang. Tenang aja ya.. ya cantik? Ayo, mari silahkan duduk dulu. Anggap rumah sendiri okey??''


''Cakep dahhh.. ini nih yang gue suka dari elu.. nggak paket jaim Ama kite kite..''


''Ya sudah sambil menunggu Angga pulang kita duduk di gazebo belakang aja ya.. disana adem.. bisa lihat sunset.. ayo..''


''Oke..''


Mereka semua bergegas ke taman belakang. Disana ada sebuah gazebo, juga pendopo mini dan juga taman bunga yang indah yang selalu terawat dengan baik.


Sebenarnya taman serta gazebo itu adalah tempat Oma istirahat dikala ia merasa kan lelah ketika mendampingi Opanya Gilang. Taman itu sengaja dibangun oleh Opanya Gilang untuk menyenangkan hati Oma.. yang selalu ia tinggal pergi ketika perjalanan bisnisnya keluar negeri.


Opanya Gilang selalu mengajak Oma, tapi Oma tidak mau karena Oma akan merasa bosan disana sendirian. Maka dari itu Opanya Gilang sengaja membangun sebuah gazebo serta taman bunga serta kolam ikan agar Oma bisa sibuk menata taman saat dirinya tidak ada.


Mereka duduk lesehan di gazebo dengan pandangan yang begitu indah terlihat dari taman bunga milik Oma Diana.


Mereka ngobrol ngalir ngidul disana hingga menjelang waktu Maghrib tiba.


Gilang yang baru saja keluar dari kamarnya, tidak tahu bahwa tamu yang diundang oleh mamanya sudah datang karena sedari pulang sekolah ia sibuk dengan i-pad nya.


Gilang sibuk memeriksa keuangan di toko swalayan miliknya. Hingga hampir Maghrib Gilang baru selesai memeriksa keuangan tokonya melalui asistennya, Andi.


Saat ia melihat keluar, ia menarik nafasnya. Rupanya sudah terlalu lama ia bekerja hingga waktu hampir senja barulah ia sadar.


Setelah selesai mandi Gilang berniat ingin sholat berjamaah di mesjid komplek perumahan nya. Ia melangkah turun, samar samar ia mendengar suara orang tertawa dari arah belakang, tepat digazebo milik Oma Diana.


Karena penasaran, ia melangkah kan kakinya kesana. Setelah sampai disana matanya memicing melihat orang yang ada disana.


Gilang kaget melihat kedua orang tua Vita disana. Ia melangkah mundur. Saat akan berbalik ia mendengar suara seseorang yang begitu familiar ditelinga nya.


Ia memejamkan matanya sesaat. Kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Belum lagi Gilang menjauh ia mendengar seseorang memanggil namanya sambil berlari.


Tap, tap, tap.


''Tunggu Lang..''


Deg!


Gilang memejamkan matanya.


Masa lalunya kembali lagi.. mampukah Gilang mengatasinya?? Atau ia akan kembali bersama masa lalunya??

__ADS_1


Tunggu lanjutannya.


TBC


__ADS_2