
''Apakah kamu ingin aku mati dulu baru setelah itu kamu memilihku Lis..?? Apakah itu yang kamu inginkan??''
Deg!
"Papi..!!"
"Papi..!!
Lana dan Ira bersamaan memanggil nya. Mereka berdua semakin mengeratkan pelukannya pada Gilang.
Gilang merasakan jika Ira dan Lana menangis terisak hingga bahu mereka berguncang dengan kepala mereka dibalik badan Gilang.
"Jangan tinggalkan Abang Pi... Abang mohon.. tetaplah disini bersama kami.. Abang membutuhkan Papi.." ucapnya tersedu
"Papi jangan tinggalkan kakak... siapa yang akan membimbing kami jika papi tidak ada.. jangan pergi Pi.. selama ini kakak selalu berdoa jika nanti bertemu dengan orang yang suaranya mirip dengan papi didalam mimpi kakak tidak akan mengijinkan nya pergi lagi.. cukup sudah kakak menahan semua ini Pi.. kakak mohon.. Papi jangan pergi..." pintanya pada Gilang
Gilang terharu mendengarnya tapi tidak dengan Alisa, ia tetap pada pendiriannya. Ia belum bisa membuka hatinya untuk Gilang, biarlah waktu yang menentukan apakah rasa sakit dihatinya akan berkurang dengan kehadiran Gilang atau tidak, untuk sementara ia akan tetap pada pendiriannya.
"Dengarkan Papi.. Papi tidak akan pernah pergi jika bukan kalian yang memintanya! Papi akan tetap bersama kalian walaupun Mak kalian tidak menginginkan kehadiran Papi.. Papi akan tetap berada di samping kalian. Kalian tenang saja ya.."
"Beneran Pi..? Papi janji? Jika suatu saat terjadi sesuatu pada Papi tolong beritahu Abang ya Pi.. agar Abang tidak salah paham pada Papi.."
"Tentu.. Papi akan mengatakan nya pada Abang, jika terjadi sesuatu dengan Papi.. Papi janji.." mereka berdua menautkan jari kelingkingnya pertanda perjanjian sudah dibuat.
Alisa yang melihat interaksi antara Gilang dan putranya terdiam, sebenarnya jauh di lubuk hatinya ia menyukai Gilang, hanya saja ia takut.. takut akan trauma dimasa lalu kembali lagi. Ia sudah menutup rapat-rapat agar tidak terulang lagi seperti dulu.
Gilang memandang Alisa, sedang Alisa membuang mukanya ketika mata mereka saling bertatapan.
Alisa tak sanggup menatap mata itu lebih lama. Ada sesuatu yang sulit dijabarkan ketika ia menatap mata Gilang.
"Kamu lihat Lis..?? Apakah kamu tega memisahkan putramu dari Papi nya?? Papi yang tak dianggap olehmu tapi dinginkan oleh anak anak mu!" serunya
Alisa menatap Gilang , yang juga menatap dirinya. Sedangkan anak anaknya masih memeluk erat Gilang dengan wajah mereka tersembunyi di belakang Gilang.
Yang lebih kasihan adalah Annisa setiap Gilang mengatakan ingin pergi, ia menangis sejadi jadinya. Seolah bayi kecil itu tau jika Gilang akan pergi meninggalkan nya.
"Kamu lihat Lis.. anak kecil seperti Annisa saja bisa tau jika kamu menolak Papinya.. apa yang bisa kamu lakukan jika Papi yang tidak kamu inginkan ini pergi?? Bagaimana nasib Annisa setelahnya? Adakah kamu berfikir seperti itu? Tadi kamu sendiri kan yang menahan ku untuk tidak pergi? Lakukanlah demi Annisa? Itu bukan yang kamu ucapkan? Tapi mengapa kamu menolak kehadiran ku?? Pengorbanan apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa menerima ku Lis..??" cecar Gilang
Alisa menangis tersedu mendengar ucapan Gilang. Hatinya begitu risau. Ia dilema, pilihan yang sulit. Jika ia memilih Gilang, maka masa lalu itu pasti akan terulang lagi.
Tapi jika tidak menerima Gilang , bagaimana dengan anak anaknya?? Mereka sangat menginginkan Gilang menjadi Papi sambung mereka.
Ya Allah... apa yang harus aku lakukan??
__ADS_1
Begitu sulit menghadapi masalah ini..
Berikan aku jalan keluarnya ya Robb..
Alisa menatap Gilang, ia menghembuskan nafasnya. Ia melihat putranya begitu takut akan kehilangan Gilang begitu juga dengan Ira.
Alisa menarik nafasnya.
''Baiklah jika itu yang kamu inginkan! Tapi ingat..! Kamu disini hanya sebagai Papi anak anak, bukan sebagai suamiku. Cukup sudah semuanya aku tidak akan memintamu untuk pergi dari anak anakku, aku harus apa? Jika mereka sendiri yang memilihmu..'' ucapnya pasrah
Gilang yang mendengar nya sedikit lega, walau ia tahu akan sangat sulit menaklukkan seorang Alisa. Biarlah waktu yang akan membantunya. Ia yakin akan hal itu.
''Jika itu yang memang kamu inginkan, aku bersedia.. biarlah waktu yang jadi penyembuh luka di hatimu.. semoga kamu bisa melihat bahwa aku tulus kepadamu.. bukan hanya sebagai permainan semata.'' ucapnya terbata
Alisa mengangguk.
Sementara itu, Lana dan Ira masih meluk Gilang dengan erat hingga mereka tertidur setelah lelah menangis.
Gilang menoleh kesamping kirinya melihat Lana tertidur dengan berbantalkan lengan Gilang, ia terkekeh.
''Kamu lihat Lis.. Abang sampai tertidur memelukku dengan erat sulit untuk lepas, belum lagi kakak juga memelukku begitu erat, kurasa bajuku basah ini...'' ucapnya seraya terkekeh
Alisa tersenyum tipis.
''Biar aku saja yang memangku adek.. kamu geser Abang dan kakak saja..'' ucapnya seraya mengambil Annisa dari pelukan Gilang.
Alisa yang melihat Annisa menangis mengurungkan niatnya untuk memangku putrinya itu. Agaknya ia tahu jika akan dipisahkan lagi dari Papi nya.
''Sudah Lis.. sebaiknya kamu menggeser Abang dan kakak saja, mereka mudah untuk dibangunkan biar adek padaku..''
"Baiklah kalau begitu.. aku akan menyuruh mereka untuk bangun karena waktu sudah memasuki waktu isya.."
"Ya.."
Gilang menatap Alisa. ia melihat masih ada sisa sisa air mata di pelupuk matanya. Sungguh sakit rasanya melihat orang yang kita cintai menangis, tapi apa yang harus dia perbuat jika wanita itu sendiri yang menolaknya.
Ia hanya bisa berdoa semoga hati Alisa bisa cepat terbuka seiring berjalannya waktu.
Alisa menyadari jika Gilang sedang menatapnya, ia tahu, tapi Alisa sengaja berpura pura tak melihat nya.
Karena ia ingin segera membangun kan anak-anaknya itu untuk melaksanakan sholat isya.
Lana dan Ira yang dibangun kan mereka sedikit terkejut mendapati Alisa yang sudah berdiri dibelakang mereka.
__ADS_1
"Bangun nak.. sudah masuk waktu shalat isya sebaiknya kakak dan Abang berwudhu, dan... hah... Papi kalian juga mau sholat, ayo kita sholat berjamaah.." ucapnya menepuk lembut pipi kedua anak nya.
"Mak.. Abang kenapa? Papi mana??" tanyanya bingung, Gilang yang mendengarnya terkekeh
"Hai anak kesayangan Papi.. masih belum kembali kah dari dunia mimpi? Ck! Abang payah! Loading nya lama...!" ucap Gilang membuat Lana terkejut.
" Hehehe.. kirain Papi jadi pergi.. nggak taunya masih disini.. ya sudahlah kalau begitu Abang mau berwudhu dulu.. biar wajahnya segerrr.. ayo kak banguuunn.. ihh masih betah aja meluk Papi..!! Ck ! dasar kebo!" ucapnya
''Ck! Apaan sih.. Iya iya.. kakak bangun nih..udah hayoo..''
''Hayoo kemana kak..??''
''Ketaman safari..!''
Gilang bertambah terkekeh mendengar ucapan Lana. Sedang Alisa menggeleng kan kepalanya.
Sesaat kemudian mereka melaksanakan sholat berjamaah dengan Lana sebagai imamnya.
Sementara Gilang masih memangku Annisa yang tidak mau lepas dari pelukan Gilang.
Setelah sholat, mereka duduk kembali didekat Gilang. Lana melihat Gilang yang begitu mengantuk mungkin karena lelah. Lana jadi kasihan melihatnya mana Annisa anteng lagi dipeluk Gilang. Lana terkekeh melihatnya.
Alisa yang melihat Lana terkekeh mendekati nya, tapi ia terkejut dengan ucapan Lana.
"Kenapa bang..? Ada yang lucu kah??"
"Hem.. tuh lihat adek.. anteng banget boboknya sama Papi.." tunjuknya
"Ya.. mungkin adek merindukan ayah.." ia berkata dengan suara lirih.
Lana terdiam, ia termenung mendengar ucapan Alisa. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Mak nya, benar kalau Annisa merindukan ayah mereka.
Beruntung nya ada Gilang, jadilah ia yang menjadi ayah untuk Annisa.
Lama mereka terdiam, hingga Lana mengucapkan satu kalimat yang membuat Alisa terkejut.
"Oh iya Mak.. jika kakak bobok sama Abang, berarti Mak boboknya sama Papi dong..?? Secara kan adek lagi bobok dipeluk Papi? Iyakan mak?"
Eh?
💕
Haduuhh.. kamu kok mikirnya kejauhan sih bang?? ck!
__ADS_1
😁😁😁
TBC