
Mereka berdua tertegun mendengar kan penjelasan Gilang dan Alisa. Terutama Papa Yoga dan Mama Alina.
''Udah ah! Kita makan! Nggak usah tunggu jam dua belas. Keburu lapar akunya! Sedari pagi sibuk masak untuk kalian semua, perutku sendiri tak terisi!'' gerutu Alisa sengaja untuk mengalihkan perhatian keempat orang tua itu.
Mama Dewi terkekeh, begitu juga dengan Papa Angga. ''Ayo Besan, kita makan! Kalau tidak, kita akan kelaparan tiap kali kesini. Tuan rumahnya merajuk!'' goda Papa Angga.
Gilang tertawa lepas. ''Hahaha .. betul itu! Ayo, ayo kita makan! Di depan tivi aja ya? Lesehan aja sayang, usah di meja makan. Aku lebih suka makan lesehan seperti ini.'' imbuh Gilang, dengan segera ia membantu Alisa untuk mengangkat semua makan untuk berada diruang tivi.
Sementara anak-anak sudah dibawa Ira ke dalam kamar Lana. Ia tidak berani membawa masuk Rayyan ke kamar Alisa.
Takut kena semprot Papi Gilang katanya. Gilang tertawa terbahak mendengar ucapan Ira.
Setelah semua berkumpul, mereka segera makan. Setiap kali ada candaan, pastilah Ira dan Lana yang kena sasaran nya.
Mereka tak peduli. Toh, sudah biasa melihat tingkah Papi Gilang yang selalu usil terhadap mereka sedari dulu.
Selesai makan, mereka tetap duduk lesehan diruang tivi sambil bercerita ria tentang masa kecil Gilang dan Alisa.
Berlanjut dengan masa kecil Ira, Lana dan Annisa. Gadis kecil kesayangan Adrian Pratama.
Putra angkat Alisa. Seorang anak pengusaha di bidang otomotif Fabian Pratama. ( Baca aja di sebelah, udah ada beberapa bab kok 😁 ).
Hingga waktu menunjukkan pukul dua belas tiga puluh, ke empat pria dirumah itu bergegas menuju mesjid di komplek perumahan indah permai.
Sedangkan, para wanita sholat dirumah saja. Di rumah itupun disediakan Mushola untuk mereka bisa sholat berjamaah bersama.
Selesai sholat, Alisa bertanya kepada Mama Dewi tentang pertemuan Vita dan Rayyan dua hari kemarin.
Mama Dewi tertawa saat menceritakan hal itu. ''Gimana Ma, pertemuan pertama antara Rayyan sama Mama kandung nya?'' tanya Alisa
Mama Dewi terkekeh, ''Kamu tau Lis, putramu itu selalu mengatakan jika dia hanya punya satu orang Mami. Yaitu kamu. Bukan Vita.'' cerita Mama Dewi pada Alisa
Alisa dan mama Alina tertawa. ''Iyakah?''
''Hooh. Tannya aja langsung sama putra kamu itu. Dia yang lebih tau tentang cerita itu. Mama hanya tau sedikit dari Vita dan Kevin kemarin.'' Mama Dewi terkekeh lagi saat menceritakan itu.
Dengan segera Alisa memanggil Rayyan. ''Adek... sini Nak!'' panggil Alisa.
Rayyan menurut. Ia berlari dan mendekati Alisa. ''Adek kangen Mami! Mami jahat!'' katanya dalam pelukan Alisa.
Alisa tertawa, ''Mami jahat? Dimana nya Mami jahat sama adek? hem? Coba ceritakan!'' titah Alisa sambil mengurai pelukannya dari Rayyan.
Pemuda kecil yang mirip dengan nya itu merengut. Bibir itu manyun. ''Mami jahat! Masa' adek punya dua Mami? Mami adek kan cuma satu?'' ucapnya masih dengan bibir maju lima centi.
Alisa tertawa. ''Siapa yang bilang seperti itu, nak?''
__ADS_1
''Mama Vita!'' ketusnya, semakin membuat Alisa tertawa.
''Mami sayang!''
''No, Mami! Mama Vita! Mami adek cuma satu! Mami Alisa! Titik tanpa koma!'' ucapnya lagi, masih dengan bibir mengerucut sebal.
Wajahnya jutek saat ini. Alisa semakin gemas melihat tingkah Rayyan. ''Itu memang benar sayang! Adek punya dua Mami!''
''No, Mami! Mama, Mami! you understand?!?!'' pekik Rayyan begitu sebal.
Bukannya marah, Alisa semakin gencar menggoda putra nya itu. ''Mami, Nak.. masa' Mama? Mami Vita itu yang ngelahirin adek loh..'' godanya lagi.
Rayyan semakin tidak terima. ''Endaaaaakkk.. adek cuma punya satu Mami! Mami Alisa! No Mama Vita!!! huaaaa... Papiiii...'' serunya dengan menangis.
Bukannya Alisa membujuk malah semakin membuat bocah kecil itu menangis histeris. Suara Rayyan begitu melengking saat menangis.
Begitu juga dengan suara tawa Alisa. Sampai-sampai ke empat pria di luar sana berlarian saking paniknya.
Tapi ketika tiba diruang tivi, mereka melongo melihat Alisa terus menertawai Rayyan putra kecilnya.
Gilang mendekati putra nya dan memeluknya dengan erat. Sadar jika itu Papinya, Rayyan semakin histeris. Dan itu semakin membuat Alisa tertawa terbahak begitu juga dengan Mama Dewi, dan Mama Alina.
''Uluh..uluh.. sayang Papi. Adek kenapa Nak? Di apain sama Mami sampai adek nangis gini?'' tanya Gilang pada Rayyan.
Rayyan masih sesegukan di ceruk leher Gilang. Ia melihat Gilang dan melihat Alisa. Ia menangis lagi. Semakin membuat Gilang bingung.
Mama Dewi terkekeh. ''Semua itu karena pertemuan pertama antara Vita dan Rayyan. Putramu Tidak suka punya dua Mami. Dia hanya punya satu Mami, yaitu Alisa saja. Bukan Vita. Bahkan Vita ia panggil dengan Mama.'' jelas Mama Dewi sambil terkekeh lagi.
Geli sekali hatinya saat Vita menceritakan tentang Rayyan padanya. ''Memangnya kemarin, Vita sama Kevin bawa kemana aja Rayyan?''
Mama Dewi terkekeh lagi. ''Di bawa ke mall milik kamu sama Alisa. Alisa store!'' Mama Dewi terus saja tertawa hingga membuat Gilang penasaran.
''Ceritakan Ma!''
''Waktu itu...''
Flashback
''Ma?'' panggil Vita.
''Vita!! Ya Allah.. kamu sehat nak?? Mama kangen banget sama kamu!''
Vita terkekeh, ''Vita juga kangen sama Mama. Emm..'' Vita tidak mengatakan nya, namun mata sayu itu menatap lembut pada seorang anak kecil yang sedang bermain kuda-kudaan bersama Abang nya.
''Kamu ingin ketemu Rayyan?'' tanya Mama Dewi seakan tau jika kedatangan Vita untuk melihat putra kandungnya bersama Gilang.
__ADS_1
Vita tersenyum namun mata itu berkaca-kaca. ''Ya, putraku!'' sahutnya saat melihat Rayyan mendekati nya.
Mama Dewi tersenyum, ''Ayo, akan Mama kenalkan kamu padanya.'' Vita mengangguk setuju.
Mama Dewi membawa Vita untuk bertemu Rayyan. Bocah kecil yang sedang bermain itu terkejut melihat seorang Tante cantik mendekatinya.
''Ciapa Oma?'' tanya nya dengan mata bulat bening mirip Vita.
Vita tersedu. ''Putraku..'' ucapnya dengan segera memeluk Rayyan.
Rayyan terkejut, ia menatap Mama Dewi. Mama Dewi tersenyum. ''Ini Mami Vita! Mami adek! Mami yang melahirkan adek!''
Deg!
Bocah kecil itu terkejut, ia menatap bingung pada Mama Dewi. Rayyan juga menatap seorang lelaki sebaya Papi Gilang di belakang tante cantik itu.
''Mami?? Mami Adek?''
''Ya, Mami Rayyan!'' sahut Mama Dewi.
Dengan segera ia melepaskan pelukannya dari tubuh Vita. Vita terkejut, ''Kenapa Nak? Ini Mami! Mami adek?'' lirih Vita dengan suara lembutnya.
Rayyan mundur dua langkah. Ia menggeleng. ''Endak! Mami adek cuma satu! Mami Alisa! Bukan Tante antik!'' serunya jutek.
Mama Dewi tertawa. Vita kebingungan, ''Sayang.. ini Mami kamu loh.. Mami yang melahirkan kamu!''
''No!!! Mami adek cuma Mami Alisa!!! Bukan Tante! No, no, no!'' serunya dengan mengacungkan satu jari telunjuk dan digoyang kekiri ke kanan.
Mama Dewi semakin tertawa. ''Itu Mami kamu sayang. Sama seperti Mami Alisa! Yang dibelakang kamu itu Papi Kevin!''
''No, Oma! No! Mami adek cuma Mami Alisa! Papi adek Papi Gilang!!!!!!!'' serunya dengan suara melengking.
Pecahlah sudah suara tawa di dalam ruangan hotel itu. Rayyan menangis dengan mencak-mencak tidak mau mengakui Vita sebagai Maminya.
💕💕💕💕💕
Kasian tuh Mama Vita. Ada yang tau, dari siapa Rayyan bisa memanggil Vita dengan Mama?
Ikuti terus kelanjutannya!
Setelah ini akan masuk ke cerita Ayah Emil dan Nenek Rima ya?
Othor kan pernah bilang, kalau masalah Alisa yang disana belum selesai akan othor selesaikan disini!
Jangan bosan ya?
__ADS_1
Tanpa klean apalah daya othor remehan ini hiks! 🤧🤧