
Sementara di Medan, pagi ini Alisa dan undangan untuk mengantar kue buatannya ke sebuah hotel untuk para semuanya yang di undang oleh tuan rumah itu.
Pagi-pagi sekali Alisa sudah bergegas ke sama. Dengan Lana dan Annisa ia bawa sekalian. Begitu juga dengan Mbak Sus dan Rayyan ikut serta.
Terpaksa Alisa mengijinkan Lana satu hari agar tidak sekolah hari ini. Ia diantar supir taksi online untuk menuju hotel yang diadakan seminar itu.
Tiba di hotel, Alisa segera membawa semua kue buatannya di bantu oleh petugas hotel. Acara akan di mulai jam sepuluh pagi.
Sedangkan saat ini sudah setengah sepuluh pagi. Dengan segera pihak hotel menyiapkan kue-kue itu ke dalam wadah yang sudah di siapkan.
Di bantu Alisa, semua pekerjaan itu siap tepat waktu. Selesai dengan kuenya, Alisa berlalu ke toilet hotel karena sedari tadi sudah kebelet ingin buang air kecil.
''Abang tunggu disini? Mak mau ke kamar kecil dulu.''
''Oke. Tenang Mak.. Abang bisa kok jagain adek. Iyakan Dek?'' tanya Lana pada Annisa dan Rayyan.
Annisa mengangguk dengan mulut penuh makanan. Alisa tersenyum melihat Putri bungsunya begitu lahap makan kue.
Begitu juga dengan Rayyan. Di ikuti Mbak sus di belakang Alisa. Ternyata ia juga kebelet.
''Loh?'' tunjuk Alisa pada Mbak Sus.
''Hehehe.. saya juga kebelet Buk..'' sahutnya dengan tersenyum namun cengir.
''Ya, sudah. Jika kamu sudah selesai segera ke tempat anak-anak ya?''
''Baik, Buk!'' sahut Mbak sus lagi.
Mereka bertiga masuk ke dalam kamar satu satu yang ada di bilik itu khusus wanita. Seseorang diluar toilet itu mematung melihat Alisa.
''Alisa??'' Ucapnya.
Matanya berkaca-kaca memandang Alisa. ''Alhamdulillah.. ternyata Allah mengabulkan doaku.. hiks.. putriku..'' lirihnya dengan menangis sesegukan disana.
Sementara diluar, seorang lelaki paruh baya sedang menatap Lana. Ia mematung melihat Lana dan dua anak kecil bersama nya. Ingin ia memanggil ketiga anak itu.
Tapi saat ini ia sedang mengikuti seminar yang akan segera di mulai. Ia melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya.
''Masih ada waktu. Biar ku temui dulu bocah nakal itu! Tadi malam baru saja minta sharelock sama neneknya. Lah sekarang? Ck! Habis kamu pemuda kecil!'' gerutunya dengan segera pergi meninggalkan meja ia duduk dan menuju tempat Lana duduk.
''Maulana Akbar bin Milham Syahputra!!''
Deg!
Jantung Lana berdegup kencang ketika mendengar suara itu. Lana menoleh dan..
''Kakek!!'' seru Lana dengan segera berdiri dan menghampiri pria paruh baya itu. ''Ck! Kamu disini? lalu buat apa Sherlock tadi malam yang kamu minta sama nenek mu?''
__ADS_1
''Hiks ..'' Lana tidak menyahut, ia hanya menangis dalam pelukan pria paruh baya itu. Pria itupun ikut menangis.
Ia memeluk cucu kesayangan nya itu. Sementara di belakang sana. Alisa di kejutkan dengan kehadiran Tante Irma di depan pintu toilet wanita.
''Alisa...'' panggil Tante Irma.
Alisa mematung. Ia membeku di tempat ketika mendengar suara yang begitu di kenalnya. Ia masih saja menunduk.
Matanya berkaca-kaca saat ini. Ia tau siapa itu. Wanita yang puluh tahun lalu menganggap nya putrinya sendiri. Dan beliau juga yang selama ini mengirimkan uang untuknya.
Komunikasi mereka tidak pernah putus. Kecuali dengan Papa Yoga. Karena Alisa belum siap untuk melihat wajah kecewa Papa Yoga.
''Sayang.. hiks.. kamu disini? Sedang apa??'' Tanya Tante Irma dengan segera mendekati Alisa.
Alisa tergugu. Bibirnya tidak bisa berbicara sepatah katapun saat ini. Dadanya begitu sesak.
Sudah sekian lama ia tidak pernah menangis lagi. Ia menangis ketika ia mengadu pada Robb nya di tengah malam.
''Sayangku.. putriku... hiks.. hiks..'' ucap Tante Irma dengan segera ia memeluk tubuh berisi Alisa.
Grep!
''Aaa... putriku... Cup! Kamu sehat sayang hiks.. Hem? Hiks.. Tante sangat merindukan mu! Tante berencana ingin ke rumah mu setelah acara seminar ini. Kamu ngapain kesini, hem?''
Alisa tak menyahut, ia terus tersedu dalam pelukan Tante Irma. Adik kandung Papa Yoga. Pengganti ibu nya kelak. Mama Alina.
''Hei sayang! Kamu kok nangis gini sih? Ayo kita kesana! Anak-anak kamu dimana-,''
Tante Irma menoleh, ''Kamu siapa?''
''Saya pengasuh nya putra bungsu Buk Alisa. Rayyan putra Bhaskara! anak Buk Alisa dan Tuan Gilang Bhaskara!''
Deg!
Deg!
''Apa?!'' pekik Tante Irma.
Ia mengurai pelukannya dan melihat Alisa. ''Apa benar itu Lis? Lalu kemana Emil? Gilang Bhaskara? Suami kedua mu?''
Alisa tak menyahut. Ia masih berusaha menenangkan hatinya yang begitu terkejut bertemu dengan Tante Irma.
''Buk??''
''Saya tak apa Mbak.. ayo Tante! Nanti Alisa jelaskan disana. Ayo! Lana dan adik-adik nya sedang menunggu ku.'' Imbuh Alisa dengan segera membawa Tante Irma menuju meja mereka.
Tiba disana Alisa terkejut lagi saat melihat Om Karim sedang menggendong Rayyan. ''Om Karim!'' panggil Alisa.
__ADS_1
Om Karim menoleh, ''Sayangku...'' panggilnya.
Dengan segera ia meletakkan Rayyan di pangkuan Lana. Ia mendekati Alisa yang juga sedang berlari mendekatinya.
Grep!
''Hiks.. Om Karim..'' lirih Alisa dalam pelukan. lelaki paruh baya itu.
Om Karim memeluk Alisa dengan erat. Ia labuhan kecupan sayang di kening Alisa. Semakin terisak lah Alisa berada dalam pelukan nya.
''Sayang.. jangan nangis. Malu ah! tuh lihat ketiga anak mu. Mereka heran melihat mu menangis. Belum lagi putra bungsu mu itu. Matanya sudah berkaca-kaca melihat mu menangis..'' lirih Om Karim masih dengan memeluk Alisa.
''Om.. hiks.. hiks..'' Alisa masih tersedu. Ia semakin erat memeluk tubuh lelaki paruh baya itu.
Om Karim mengurai pelukannya. Ia menatap Alisa yang juga sedang menatapnya. Wajahnya penuh dengan air mata.
Begitu juga dengan Alisa. ''Kamu berhutang penjelasan pada kami, Nak.. tunggu kami! Kami harus seminar dulu disana! Tetap disini! Dan jangan kabur lagi! Hem?''
Alisa mengangguk, namun air mata itu terus beruraian di pipi mulus nya. ''Oke. Sayang, kita kesana. Acara sudah di mulai!''
''Ya, kamu tunggu kami Nak! Hanya tiga jam saja!''
''Apa?!'' pekik Lana.
Om Karim terkekeh begitu juga Tante Irma. ''Sebentar Abang.. kamu juga masih berhutang penjelasan pada kakek! Ingat Maulana Akbar!'' ucap Om Karim dengan tatapan tajam nya.
Di balas cengir an usil oleh Lana. Alisa terkekeh di sela-sela tangisnya. Ia menunduk dan mendekati putra nya.
''Mak? Sudah seharusnya kan nenek dan kakek mengetahui yang sebenarnya?''
Alisa terdiam. ''Kita bicarakan nanti dirumah ya?''
Lana mengangguk. ''Oke. Lebih baik Mak jujur! Sudah enam tahun lebih loh.. Mak menutupi semuanya dari keluarga kita di Aceh. Jujur walau pahit Mak.'' Ucap Lana begitu serius.
Alisa tersenyum, ia mengacak rambut putra nya itu. ''Tentu. Putra Mak sekarang sudah besar ya?''
''Iya dong.. siapa dulu Papinya?''
''Papi Gilang!'' sahut Rayyan.
Kelima orang itu tertawa bersama tanpa tau bagaimana sang pemilik hati sedang berhadapan dengan calon mertuanya di sana.
💕💕💕
Hihihi..
Kira-kira Papi Gilang kena amuk nggak ya?
__ADS_1
Ikuti terus kelanjutannya! 😉
TBC