Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Aku membutuhkan mu, sayang!


__ADS_3

Alisa menaiki tangga dengan perlahan, dengan di koper di tangannya. Tiba di depan tiga pintu berukiran berbeda, Alisa mematung.


Ia bisa menebak, tiga kamar itu. Kamarnya berada di ujung dekat balkon mengarah kearah luar.


Pintu pertama yang Alisa lewati berwarna Krem dengan reliefnya berwarna pink muda kesukaan Ira dan Annisa.


Ia bisa menebak. Jika kamar itu pasti kamar kedua putrinya. Pintu kedua yang ia lewati berwarna krem juga tapi berbeda pada ukiran reliefnya.


Ukiran relief itu berwarna abu-abu. Seperti warna kesukaan Gilang dan Lana. Alisa melewati lagi pintu itu dan menuju pintu ketiga paling ujung.


Pintu ketiga ini paling unik diantara yang lain. Pintu dengan cat berwarna Krem, tapi ukiran relief nya berwarna kuning emas yang bertuliskan..


''Alisa dan Gilang?'' gumam Alisa.


Ia semakin penasaran dengan kamar itu. Dengan segera tangan halusnya membuka pintu kamar itu dengan perlahan.


Ceklek!


Pintu terbuka. Pandangan pertama yang Alisa lihat adalah foto pernikahan mereka yang begitu romantis.


Dengan Alisa yang tersenyum manis namun menunduk, dan Gilang yang mendekat pada wajahnya.


Lagi, rasa sesak itu menghampiri dadanya. Di ujung jendela sana juga ada foto mereka berdua.


Foto yang diambil pada saat acara ulang tahun Rayyan. Dengan Gilang dan Alisa mencium pipi Rayyan bersama.


Ira, Lana dan Annisa bertepuk tangan melihat itu. Lagi, figura itu membuat Alisa menangis. Ia menutup pintu dan meletakkan koper di sudut ruangan.


Ia menghampiri ranjang yang sama persis dengan kamar miliknya dirumah mereka. Dengan seprei berwarna biru laut dicampur putih.


Sangat cantik. Begitu juga dengan seluruh tirai jendela nya. Alisa semakin sesegukan. Ia duduk dilantai dengan dada yang sesak.


Sementara seseorang disana sedang merasakan sesak yang sama di dadanya. Ia muntah berulang kali hingga tubuh tegapnya lemas.


''Kita berhenti saja ya bos? Cari hotel dekat sini?'' kata Andi, masih dengan berusaha mengelus punggung Gilang.


Air mata Gilangg menetes mengingat Alisa. Biasanya tiap pagi begini, pasti mual muntah itu berkurang jika ada Alisa di sisinya.


''Hiks... Alisa...'' isaknya untuk yang kesekian kalinya.


Ira dan Lana Sampai menangis dibuatnya. Bagaimana tidak, hampir satu jam Gilang mual muntah tidak berhenti.


Segala upaya sudah mereka lakukan tapi juga tidak membuahkan hasil. Yang Gilang mau hanya Alisa. Bukan yang lain.

__ADS_1


''Kita lanjut aja Bang! Kalau udah ketemu sama Mak, Papi pasti berkurang muntahnya. Biasanya setiap pagi pasti seperti itu. Makanya kami setiap sarapan pagi tidak pernah menunggu Mak dan Papi lagi. Ayo, Bang! Lanjutkan aja perjalanan nya. Papi tidur di pangkuan kakak aja ya?'' ucap oar pada Andi dan Gilang.


Andi mengangguk, sedangkan Gilang tidak bisa berkata lagi. Wajah itu basah dengan Air mata.


Ema terisak melihat Gilang lemah seperti itu. Ia menarik Annisa dan Lana untuk duduk di belakang bersama nya.


Sementara Gilang, kepalanya di pangku oleh Ira. Ira sedih sekali melihat Sang Papi begitu lemah seperti itu.


Gadis cantik berniqob itu tidak tega melihat sang Papi begitu merana jauh dari Mak nya. ''Papi bobok aja ya? Nanti kalau udah sampai, Kakak bangunkan.'' Ucap Ira pada Gilang.


Gilang tak menyahut, ia mengangguk saja. Kepalanya berbantalkan paha Ira yang dilapisi dengan bantal kecil milik Annisa yang selalu ia bawa setiap bepergian.


Sedangkan Alisa, wanita cantik dengan tubuh yang semakin berisi itu sudah terlelap di dalam gelungan selimut tebal.


Lelah hati, lelah pikiran, dan juga seluruh tubuhnya terasa kaku. Setelah ia puas menangis, ia masuk ke kamar mandi dan mulai mandi untuk menyegarkan seluruh tubuhnya.


Selesai mandi, ia berwudhu dan melaksanakan sholat Dhuha. Selesai dengan sholatnya, Alisa membaringkan tubuhnya yang lelah saat dalam perjalanan tadi.


Kurang tidur Karena tidak nyaman membuat Alisa yang baru saja menyentuh bantal terlelap begitu saja.


Mama Alina yang ingin mengantar kan sarapan pagi untuknya, memilih mundur dan berlalu turun kebawah.


Karena melihat Alisa yang sudah terlelap di ranjang empuk miliknya. Mama Alina tidak ingin menerka-nerka ada apa dan apa yang terjadi.


Sambil menunggu konfirmasi dari Gilang, Mama Alina dan Papa Yoga membawa Rayyan untuk keliling kampung dengan motor tua miliknya.


Pukul 3 sore waktu setempat, Gilang tiba dirumah kedua orang tua Alisa yang dulu ia renovasi.


Turun dari mobil, Gilang tidak bisa berbicara lagi. Ia hanya menyapa sebentar Mama Alina dan Papa Yoga.


''Assalamualaikum, Ma, Pa?''


''Waalaikum salam, Nak. Loh? semua ikut ini?'' jawab Mama Alina sembil menerima tangan Gilang untuk ia sambut.


Lana dan Ira terkikik geli. ''Hihihi... iya Nek. Ngejar Mak yang kabur dari rumah. Kabur tanpa pamit sama Papi!'' celutuk Lana.


Mama Alina dan Papa Yoga saling pandang. ''Ma, Pa, Gilang masuk duluan ya? Nggak tahan mual terus sedari tadi.'' ucap Gilang dengan wajah lesunya.


Mama Alina dan Papa Yoga mengangguk. ''Pergilah. Alisa pun tahu juga seperti itu. Kayaknya belum bangun deh. Sedari pagi belum sarapan langsung tidur hingga sore gini belum bangun juga. Masuklah.'' Titah Mama alina pada Gilang.


Gilang mengangguk tanpa menyahut lagi. Dengan langkah tergesa ia masuk kerumah itu langsung menuju ke kamar atas dimana Alisa berada.


Ira dan Lana yang melihat itu tertawa. ''Hus! Nggak boleh gitu sama orang tua! Ayo masuk, eh? Ini?'' Mama Alina terkejut melihat seseorang yang lain dari mereka semua.

__ADS_1


Tuan Hamid tersenyum. ''Perkenalkan Bu, Pak. Saya Hamid. Saya rekan kerja tuan Gilang. Saya kesini atas permintaan nya. Karena ada suatu hal yang harus ia luruskan kepada putri ibu dan Bapak.''


Mama Alina dan Papa Yoga saling pandang lagi. ''Ah, Baiklah! Mari masuk! Udara disini cukup panas ya? Berbeda dengan di Medan. Mari, mari. Silahkan masuk Tuan!''


Tuan Hamid tersenyum. ''Terimakasih, Bu, Pak.''


''Jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri. Ayo, kalian juga masuk. Udah pada mandi belum?''


''Belum,'' sahut keduanya sambil nyengir


Papa Yoga tertawa. ''Ayo kita masuk. Sebentar lagi waktu ashar tiba. Kakek mau sholat ke mesjid. Apakah kamu ingin ikut, Abang?''


Lana mengangguk, ''Tentu. Abang ikut! Abang mandi dulu! Setelah itu siap meluncur!''


''Laksanakan segera!''


''Siap Komandan!'' sahut Lana begitu tegas. Wajahnya yang serius itu membuat kedua orang paruh baya itu tertawa.


''Ayo, tuan Hamid. Anda harus mandi dan istirahat dulu. Jangan sungkan!''


''Tentu, Pak! Saya sangat menyukai keluarga yang ramah terhadap tamu. Yang tidak membeda-bedakan. Lain kali, saya akan katakan kepada tuan Gilang agar mengajak Anda berlibur ke Surabaya ke tempat saya.''


Papa Yoga tersenyum, ''Tentu, tuan. Ayo!'' ajaknya lagi.


Mereka semua masuk termasuk Andi. Andi sudah dikenal oleh keluarga Alisa, jadi tidak heran lagi kalau Andi bebas keluar masuk dari rumah itu.


Sementara Gilang sudah berada di depan pintu kamar mereka. Jantungnya bergemuruh hebat saat ia melihat Alisa tertidur dengan begitu seksi.


Ia menutup pintu dan menguncinya. Ia mendekati ranjang Alisa dan menatap sang istri dengan mata mengembun.


Alisa tertidur dengan lelap tapi wajah itu sembab seperti baru habis menangis. ''Sayang... aku datang menyusul mu. Tega kamu pergi tanpa pamit padaku. Aku sangat kehilangan mu. Aku tak sanggup lagi Jika kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Jika kamu pergi, aku ikut! Kemana pun! Termasuk Jika kamu dipanggil oleh yang maha kuasa. Aku juga akan ikut bersama mu. Aku tidak ingin berpisah darimu. Aku sangat mencintai mu sayangku. Sangat mencintai mu. Aku membutuhkan mu, sayang! Sangat membutuhkan mu! Cup!''


Gilang mengecup bibir Alisa yang sedang tertidur lelap. Alisa merasa jika Gilang datang mendatangi nya di dalam mimpi. Ia merasakan Jika Gilang sedang mencumbui dirinya.


Alisa terisak, namun tidak menolak segala sentuhan Gilang. Yang ia tau itu cuma mimpi.


Padahal kenyataannya, Gilang lah sedang bersamanya.


💕💕💕💕💕


Hehehe..


Besok lagi ye? 😁😁😁

__ADS_1


Like dan komen selalu othor tunggu! Kembang nya juga ya? 😁😁


__ADS_2