
Alisa tertidur dengan berbantalkan paha Gilang yang menyender di dinding. Ia sangat mengantuk hingga tertidur di senderan dinding.
Para pegawai salon pamit untuk istirahat karena waktu sudah pukul sepuluh lebih empat puluh lima menit.
Gilang tersenyum melihat Alisa yang terkantuk-kantuk. Tidur, bangun lagi karena terkejut kepala miring ke sisi kiri.
Ia terkekeh melihat sang pujaan hati hingga terkantuk-kantuk seperti itu. Kasihan karena melihat Alisa seperti itu, ia berinisiatif mengambil bantal dan meletakkan di atas pangkuan nya.
Sebelum nya ia betulkan letak kaki Alisa dulu yang masih terukir Henna. Lagi, darahnya berdesir kala melihat kaki Alisa tanpa kaos kaki.
Gilang metutuki dirinya yang selalu on fire ketika berada di dekat Alisa. Pikiran kotornya merajalela.
Ia sampai berdecak sendiri. Namun setelah itu terkekeh kecil saat melihat Alisa tidur dengan mendengkur.
Dengan segera ia memindahkan kepala Alisa ke pangkuan nya setelah ia letakkan bantal terlebih dahulu.
Setelah selesai, ia menatap ukiran Henna yang begitu cantik di tangan Alisa yang putih mulus.
''Kamu sangat cantik dengan ukiran Henna ini. Henna pemberian kedua orang tua kita. Aku tidak sabar untuk menunggu dua hari lagi. Terhitung dengan malam ini.'' imbuh nya sambil menatap Alisa dengan dalam.
Lama ia menatap Alisa, hingga mata itu sayu dan tertutup rapat. Menyusul Alisa yang sudah terlebih dahulu larut ke alam mimpi.
Subuh hari nya Alisa terkejut saat merasakan berat diatas kepalanya. Ia mengerjab, membuka mata perlahan.
Sadar jika kepala nya begitu berat, Alisa menyentuh sesuatu itu. Ia terkejut saat merasakan tangan Gilang di atas kepalanya.
Tangan hangat dan kekar itu membuat Alisa nyaman. Ia tersenyum tipis. Matanya terus menatap Gilang yang berada tepat di hadapan nya.
Ternyata mereka berdua terlelap setelah ukiran Henna selesai. Mengingat tentang Henna dengan segera ia melihat Henna yang ada ditangannya.
Ternyata sudah mengering. Dengan perlahan ia mengangkat tangan Gilang. Namun karena pergerakan Alisa yang tergesa, membuat Gilang terbangun dari tidurnya.
''Emmm kamu udah bangun?'' tanya Gilang masih dengan mengerjabkan matanya.
Alisa tersenyum, ''Ya, baru saja. Ayo bangun. Sebentar lagi masuk waktu subuh.''
''Jam berapa ini?'' tanya Gilang masih berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya yang berserak entah kemana saat tidur tadi.
''Masih jam empat. Masih sempat sholat tahajud disambung sholat Sunnah qobliyah subuh. Ayo. Aku mau ke bawah untuk mencuci ini. Kamu disini saja.''
''Hem,'' sahut Gilang.
__ADS_1
Dengan segera Alisa bangun dan menuju ke dapur. Sebelum nya ia membersihkan telapak kakinya yang menggunakan Henna.
Alisa berjalan meninggalkan Gilang. Ia tersenyum saat melihat telapak kaki Alisa yang memerah karena Henna.
''Sangat cantik! Sesuai dengan orangnya!'' celutuk nya.
Setelah itu Gilang masuk ke kamar mandi dan mulai melakukan ritual paginya. Begitu juga dengan Alisa.
Ia kembali saat Gilang sudah berdiri di sajadah. Menunggu nya untuk sholat berjamaah.
Selesai sholat tahajud, disambung dengan sholat Sunnah sebelum subuh. Tak lama setelahnya, mereka melanjutkan lagi dengan sholat subuh.
Alisa turun ke bawah di ikuti Gilang di belakang nya untuk memasak di dapur. Para pegawai salon pun sudah menunggu nya di bawah untuk mengataksn sesuatu.
''Selamat pagi Tuan, Nyonya?''
''Selamat pagi,'' sahut keduanya.
''Ada apa pagi-pagi sudah berdiri disini? Mau bantu saya memasak kah?'' tanya Alisa.
Indah tertawa kecil. ''Bukan Nyonya. Baru saja Nyonya Dewi menghubungi saya. Beliau mengatakan, jika hari ini anda harus melakukan ritual mandi. Bukankah besok anda menikah?''
''Turun mandi? Dari mana Mama tau tentang ini? Ini kan adat kami orang Aceh?''
Ia menoleh pada Gilang. ''Ikuti saja. Kan Mama yang nyuruh kamu?''
''Iya sih. Tapi tradisi ini hanya untuk pengantin yang masih gadis saja. Sedangkan aku? Janda...'' lirih Alisa begitu pelan di ujung kalimatnya.
''Dengar sayang. Untuk turun mandi ini tidak mesti kamu harus gadis. Janda pun harus. Karena mandi ini bertujuan untuk membersihkan dirimu dari sisa masa lalu sebelum kamu menempuh hidup baru.''
''Dari mana kamu tau?'' selidik Alisa dengan menatap Gilang
''Ada deh..''
''Ishhh.. kasi tau! Siapa yang bilang?''
''Kepo!''
Plaakk..
''Aduhh.. ini kdrt namanya. Belum ijab juga kamu udah nimpuk aku. Gimana kalau udah sah?''
__ADS_1
''Ku tendang sekalian!''
''Weleh? Kejam amat Neng?'' goda Gilang dengan wajah tengilnya.
Alisa melengos. Dengan segera ia berlalu masuk ke kamarnya diikuti oleh tiga pegawai salon itu.
Tapi sebelum masuk kamar mandi, Alisa berbalik. ''Saya belum masak loh..'' ucapnya pada tiga pegawai salon itu.
Mereka bertiga terkekeh. ''Tenang Nyonya. Hari ini ia anda dibebas tugaskan dari Masalah dapur. Hari ini anda khusus untuk merawat diri anda. Besok anda akan menikah. Jadi anda harus melakukan perawatan agar tubuh anda semakin segar dan cantik, tentunya.'' jawab indah yang bertindak sebagai penanggung jawab untuk mengurus Alisa selama tiga hari.
Alisa menghela nafasnya. Dengan segera ia berbalik dan masuk ke kamar mandi. Di ikuti ketiga orang itu.
Tiba disana ia terkejut, melihat dua kendi yang di atasnya ada janur kuning yang sudah di anyam berbentuk bunga dan burung.
Di dalam kendi itu, sudah berisi air mawar tiga warna. Alisa tertegun melihatnya. Ia menatap tiga pegawai salon itu.
Indah tersenyum, ''Tuan Gilang yang menyiapkan nya tadi pagi saat anda mandi di kamar sebelah. Dan kami yang memberikan ini. Karena kemarin malam saat Henna ini tiba , asisten tuan Gilang menyerahkan dua kendi ini pada kami lengkap dengan bunga mawar nya. Berikut untuk keramasan nya.''
Lagi dan lagi Alisa tertegun. ''Kenapa aku merasa jika ada sesuatu dengan pernikahan ini? Apakah Papa dan Mama ada disini? Atau mungkin Tante Irma? Hanya mereka berdua yang tau tentang adat ini.''' gumam Alisa dalam hati.
''Mari Nyonya. Kami yang akan merawat anda dari pagi sampai sore hari. Anda harus mandi dengan air yang ada di dalam kendi ini. Kalau untuk orang Jawa sih sering di sebut dengan siraman, Nyonya.'' jelas Indah. Ia sengaja mengatakan hal itu. Agar Alisa tau maksud dan tujuannya.
Karena adat Aceh dan Jawa itu hampir sama. Alisa mengangguk patuh. Dengan segera ia menyelesaikan ritual mandinya.
Mengingat ini, Alisa menitikkan air mata nya. ''Andai Mama disini. Pasti aku akan sangat bahagia. Tapi.. bagaimana aku bisa menikah dengan Gilang, sementara aku masih punya Papa. Apakah Papa menyerahkan ku melalui wali hakim? Papa... Alisa ingin ketemu Papa..'' Lirih Alisa dalam hati.
Ia menangis saat melihat dirinya yang sedang di rendam di dalam bethup bertabur bunga mawar tiga warna.
Melalui sambungan Video call Mama Alina dan Tante Irma terharu melihat Alisa menangis seperti itu.
Ternyata Alisa sangatlah cantik sekarang. Pipinya yang chubby sangat gemas untuk di cubit.
Mama Alina terisak diseberang sana. Begitu juga dengan Tante Irma. Semua ini permintaan dari Mana Alina dan Tante Irma.
Mama Dewi menyetujui nya. Alisa tidak sadar, jika dirinya sedang dilihat oleh dua orang yang begitu ia rindukan saat ini.
Andai ia tau, pastilah saat ini ia akan menangis tersedu dan bersimpuh di depan Mama Alina dan Papa Yoga.
💕💕💕
Otw Halal ya!
__ADS_1
Ikutin terus kelanjutannya! 😉