Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Istriku, Alisa Febriyanti


__ADS_3

Tubuh itu terguncang. Gilang tau itu. Rayyan berlari mendekati nya. ''Mamiiii... Papi jahaaaattt.. Papi nggak cayang adek Nagi... huaaaa... Mamiiii... endoooongg..'' pinta Rayyan.


Alisa yang melihatnya semakin menangis. Ia semakin sesegukan. Ia menggendong Rayyan dan memeluknya dengan sayang.


Alisa melabuhkan ciuman sayang di dahi putra Gilang itu. Sedangkan Gilang masih terpaku melihat seseorang yang selama ini selalu ia sebut di dalam doa nya.


Ternyata kamu masih sama sayangku.. hanya berbeda dari postur tubuh mu saja yang lumayan berisi saat ini. Batin Gilang.


Gilang masih saja menatap tubuh yang berguncang itu karena menangis. Tanpa sadar kaki nya melangkah mendekati Alisa yang sedang memeluk Rayyan dengan menangis.


Tiba disana Gilang berhenti di belakang Alisa, hanya berjarak satu meter saja. Gilang tersenyum melihat Rayyan semakin tersedu di dalam pelukan Alisa.


''Assalamualaikum, istriku..''


Deg!


Deg!


Tubuh Alisa semakin berguncang. Ia semakin erat memeluk Rayyan.


''Mamiiii... Papi keciniii... adek Ndak mau cama Papiii.. huaaaa.. Papi jahat!! Adek Ndak mau cama Papiii... aaaaa... Mamiiii ... kita pulaaaangg...'' pekik Rayyan semakin histeris di pelukan Alisa.


''Hiks.. adek hari ini kan ulang tahun, nanti aja kita pulang nya ya? Hiks.. kasian Oma..'' lirih Alisa.


Gilang terkekeh mendengar ucapan Alisa. Walaupun sedang menangis, ia masih bisa mengingat orang lain.


''Assalamualaikum sayang.. tidak ingin kah kamu melihatku Lis?''


Alisa tersedu. Jauh di lubuk hatinya, ia sangat ingin berbalik dan memeluk Gilang. Tapi itu tidak mungkin.


Ia sadar, jika ia sedang berada di kediaman keluarga Bhaskara. Rumah kedua orang tua Gilang.


Sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak menangis lagi, namun tetap tidak bisa. Mendengar suara bass yang begitu mengalun lembut di telinga nya membuat rasa haru terus menyeruak ke hatinya.


''Wa-waalaikum sa-salam, Papi...'' lirih Alisa dengan bibir bergetar.


Tubuh itu kembali berguncang dengan Rayyan masih dalam pelukan nya. Gilang tersenyum dengan mata mengembun.


Ia berjalan mendekati pujaan hatinya itu. Mama Dewi masih mematung melihat Gilang yang semakin mendekati Alisa.


''Sayang...''


''Hiks.. Papi...''

__ADS_1


''Berbaliklah! atau??''


Alisa membalikkan tubuhnya dengan wajah menunduk. Tak ingin melihat Gilang. Gilang semakin mengikis jarak antara mereka berdua.


Alisa masih saja menunduk, dengan Rayyan masih sesekali sesegukan di ceruk lehernya yang tertutup hijab berwarna hitam.


''Sayang ku.. cintaku.. istriku.. tidak inginkah kamu melihatku? Lima tahun loh.. kita tidak bersua. Apakah kamu tidak merindukan ku??''


Alisa mencoba mengangkat kepalanya dan..


Deg, deg, deg.


Jantung Alisa serasa mau copot melihat perubahan yang ada pada diri Gilang. Tubuh yang dulu nya kurus namun jangkung, kini sudah padat berisi.


Wajah yang dulu tirus kini semakin berisi saja. Rahang nan tegas, tatapan yang begitu teduh melihat nya.


Saat ini Gilang memakai jaket berwarna hijau tua dengan celana jeans biru membalut kaki jenjangnya.


Sepatu cats berwarna putih, dengan rambut terbelah agak kesamping menambah ketampanan Gilang saat ini.


Alisa semakin tersedu melihat Gilang. Ia jatuh terduduk di hadapan Gilang.


Bruukk..


''Sayang!!''


''Mami??? Mami cenapa??'' tanya Rayyan, semakin membuat Alisa tersedu.


Gilang turut berlutut di hadapan Alisa. Tangan nya terangkat untuk menghapus air mata yang terus mengalir di pipi mulusnya.


Tangan hangat itu menyentuh pipi Alisa. Alisa semakin tersedu. Gilang tersenyum namun air mata telah mengalir di pipi nya.


''Jangan menangis, masa' kamu lebih cengeng sih dari Rayyan? Malu dong?'' goda Gilang.


Alisa semakin menangis mendengar godaan Gilang. Godaan yang selama ini sangat ia rindukan.


Suara yang selama lima tahun ini selalu ia nantikan. Alisa semakin tersedu saat merasakan tubuhnya di rengkuh oleh Gilang.


Dua tubuh berguncang hebat dengan Rayyan berada di tengah-tengah mereka berdua. Mama Dewi semakin mematung melihatnya.


Di belakang Mama Dewi ada Papa Angga yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang entah seperti apa.


''Apakah Alisa ini adalah Alisa yang sama? Alisa istri siri Gilang??'' tebak Papa Angga kepada Mama Dewi.

__ADS_1


Membuat mama Dewi terkejut. ''Nggak! Nggak mungkin, Pa! Pasti bukan Alisa ini, pasti Alisa..'' Mama Dewi menghentikan ucapannya saat mengingat jika Vita mengatakan jika yang akan menjadi ibu sambung Rayyan adalah istri Gilang.


Alisa.


''Apa?! Nggak! Itu nggak mungkin! Itu pasti bukan Alisa istri Gilang!!'' seru Mama Dewi begitu lantang.


Membuat Gilang terkejut. Ia baru sadar jika sedang berada di rumah kedua orang tuanya. Walau masih sesegukan bersama Alisa, Gilang menoleh pada Mama Dewi dengan wajah sembab penuh air mata.


''Ya, Mama benar! Jika ini adalah Alisa. Alisa yang pernah kalian coba untuk lenyapkan karena aku tidak menuruti perintah kalian untuk menikahi Vita. Dan karena Alisa inilah tercetus sebuah perjanjian, agar kalian tidak mengganggu nya sampai aku kembali dari sekolah ku. Yang dikatakan Vita adalah benar! Bahwa yang akan menjadi ibu sambung Rayyan adalah Alisa. Janda tiga orang anak yang telah merubah ku menjadi lebih baik. Dan anak yang dulu pernah kalian salahkan saat kami kecelakaan adalah putraku! Maulana Akbar! Putra semata wayang Alisa dengan mantan suaminya. Dan juga anak kecil yang sedang bersama kakak nya adalah bayi yang dulu nya pernah ku selamat kan saat kebakaran! Mereka adalah keluargaku! Penyemangat ku saat aku sekolah di luar negeri. Aku kembali untuk mereka! Dan juga untuk istri sah ku. Alisa Febriyanti!''


Ddddduuuaaarrrr..


''Apa?!'' pekik Mama Dewi dan Papa Angga bersamaan.


Mereka terkejut bukan main. Ternyata ibu susu Rayyan adalah istri Gilang sendiri. Mama Dewi menggeleng kan kepalanya tidak percaya dengan ucapan Gilang.


Gilang terkekeh sumbang melihat itu. ''Bahkan sast fakta itu ada di depan mata kalian berdua, kalian tetap menyangkalnya. Aku kecewa dengan Papa dan Mama. Aku pikir, selama lima tahun ini kalian sudah berubah. Ternyata.. pandangan mata kalian terhadap istriku tetap sama. Ayo sayang! Kita pulang kerumah kita! Tidak baik lama-lama disini.'' Ucap Gilang.


Sekarang, wajah yang tadi nya teduh kini berubah menjadi dingin. Alisa menyusut air matanya dan menoleh pada Gilang.


Ia menatap Gilang dan berbicara pada nya. ''Pi.. nggak baik bicara seperti itu. Mereka kedua orang tua mu. Terlebih ibu Dewi. Beliau surga mu, Pi. Tidak baik berbicara yang menyakiti hati nya. Nanti kamu kualat loh.. minta maaf ya? Jika kamu ingin pulang ke rumah, sebaiknya jangan. Rumah mu disini, bersama kedua orang tuamu dan juga.. putraku emm.. putra mu. Rayyan.'' Lirih Alisa begitu pelan di ujung kalimatnya.


Mama Dewi dan Papa Angga tertegun dengan ucapan Alisa. Gilang berdecak sebal. ''Ck! dari dulu kamu tidak pernah berubah sayang! Bisa tidak, sesekali egois gitu untuk memiliki sendiri? Jangan mereka saja yang memonopoli diriku!'' ketus Gilang.


Alisa terkekeh begitu juga dengan Ira dan Lana. ''Dengarkan aku, Pi! Saat ini Ibu Dewi sedang membuat acara ulang tahun putra kit em putra mu Rayyan. Jangan kecewakan beliau. Lihat lah, para tamu sudah berdatangan. Sebaiknya kita lanjutkan dulu acara ini, baru setelah nya kita bicarakan hal yang tadi. Ya?'' pinta Alisa dengan tersenyum, namun sendu.


Gilang tau itu. Lagi, ia berdecak kesal. ''Ck! Terserah pada mu lah, Lis! Rayyan, ayo sama Papi! Biarkan Mami mu menyiapkan semua ini! Lebih baik kita kesana! Tuh, kakak udah melambai-lambai sedari tadi. Kayak nyiur di pantai aja! Ayo, kita kesana!'' ketus nya.


Membuat Alisa tertawa. Gilang tersenyum. Akhirnya ia bisa membuat Alisa tertawa lagi, setelah tadi ada drama yang menguras air mata.


💕


Hah! Mayaann..


Apakah Mama Dewi dan Papa Angga merestui hubungan mereka?


Tunggu kelanjutannya! 😉


Sambilan nunggu cerita Gilang update, yuk mampir di cerita teman aku.


Karya nya othor Nita.P


__ADS_1


Like dan komen klean selalu di tunggu! 😘😘


TBC


__ADS_2