
Ema keluar dari ruangan itu dengan dada begitu sesak. Ia tak menyangka, jaikngukng begitu tidak menyukai nya. Ia mengisi sesegukan di taman kantor Gilang.
Ema tidak tau seperti apa wajah Alisa itu. Kenapa begitu Sama seperti nama sahabatnya. ''Apakah mungkin...'' ucapan Ema berhenti karena ia sudah tiba di lobi.
Karena penasaran seperti apa Alisa ini, Ema mendekati meja resepsionis. ''Maaf Nina, boleh saya bertanya?'' kata Ema.
Ia sudah berdiri di depan meja resepsionis. Mendengar seseorang memanggil namanya, Nina bangkit dan berdiri.
''Iya, Bu Ema. Ibu mau nanya apa?'' sahutnya dengan ramah
Ema tersenyum, ''Saya mau tanya, apakah kamu punya foto ibu Alisa. Istri tuan Gilang bos kita?''
Nina tersenyum, ''Saya tidak punya Bu. Tapi kalau tidak salah.. tunggu sebentar. Tadi ibu Alisa sempat kemari. Saya sempat memotret nya.'' kata Nina
Ia dengan segera mengambil ponsel miliknya dan menunjukkan nya kepada Ema. ''Ini Bu.. tidak terlalu jelas sih, tapi..''
Ema melihatnya.
Deg!
''I-ini.. bukan nya ini Alisa? Istri bang Emil? Kenapa jadi istri Tuan Gilang?'' ucap Ema dengan raut wajah terkejut.
Saking percaya nya Ema, ia membesarkan foto Alisa yang terlihat buram di ponsel Nina, karena di ambil saat Alisa berlari dengan wajah sembab.
Deg, deg, deg.
''Nggak! Ini nggak mungkin! Ini nggak mungkin Alisa ku. Sahabat ku!'' bantah Ema
Nina yang ada di depannya mengernyitkan dahinya bingung. ''Bu...''
''Tunggu dulu. Aku punya juga foto Alisa. Mari kita cocokkan dengan ucapan mu tadi.'' ucap Ema, dengan segera ia merogoh ponselnya dan membuka galeri.
Ia menunjukkan foto pada Nina. Mata Nina membulat sempurna saat melihat foto itu. ''Loh? Ini kan ibu Alisa? Kenapa bisa ada sama Bu Ema?! Tapi disini .. Bu Alisa masih muda. Seperti baru tamat SMA?''
Ema terkejut, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Matanya mengembun. Buliran bening itu mengalir di pipinya.
Ia terisak dengan bahu berguncang. ''Sayang ku. Alisa ku. Sahabat ku. hiks.. Alisa... hiks..'' Isak Ema dengan bibir bergetar.
Brruukk..
Kakinya lemas, ia luruh ke lantai. Nina terhenyak melihatnya. ''Bu Ema!! Bangun Bu..''
''Hiks.. Alisa... sahabatku..'' isaknya lagi.
Nina kebingungan di buatnya. Ia memukul kepala dan dadanya. Ia begitu bodoh, kenapa tidak mencari tau siapa sebenarnya Alisa ini.
Ia pikir, Alisa ini bukanlah Alisa sahabatnya. Pantas sebulan yang lalu, Hani meminta nya untuk pulang, karena sahabat mereka menikah lagi.
__ADS_1
Ema waktu itu tidak bisa pulang. karena sedang mengurus surat kepindahan nya. Sekarang ia tau, jika Alisa yang dimaksud Gilang, adalah sahabat nya. Sahabat karibnya.
''Alisa... hiks.. maafkan aku... maafkan aku.. hiks...'' isaknya lagi.
Sadar jika ia menjadi tontonan para pengunjung hotel, Ema berdiri dan berlari menuju ke kamar dimana Gilang sedang istirahat karena terluka tadi.
Ema berlari dengan kencang, sepatunya ia jinjing di sebelah tangannya. Ia berlari dengan kencang, tiba di pintu kamar Gilang, ia mendobrak paksa pintu hingga menimbulkan suara berisik dan membuat penghuninya terkejut terutama Gilang.
Brrrruuuaakkk..
''Astaghfirullah!''
''Allahu Akbar!!'' seru mereka bertiga.
Ema terus terisak. Ia menatap Gilang dengan wajah bersalah nya. Gilang semakin geram dengan sekretaris barunya ini.
Masih dengan berdiri di depan pintu, Ema berbicara.
''Katakan pada saya tuan Gilang, apakah Alisa istri anda adalah Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian??''
Deg!
Gilang terkejut. ''Darimana kamu tau tentang nama lengkap istri saya??'' selidik Gilang masih dengan tatapan menusuknya.
Kaki Ema lemas mendengar ucapan Gilang. ''Jadi benar?'' tanya nya pada diri sendiri.
Gilang semakin terkejut dengan ucapan Ema. ''Apa maksudnya ini? Dari mana kamu tau tentang nama lengkap istriku? Apa hubungannya dengan mu?'' tanya Gilang dengan segera ia turun dari ranjang dan mendekati Ema.
Ia berdiri berjarak dua meter dari Ema. Ema menoleh dengan wajah basah air mata. ''Hiks.. Sahabat ku. Sahabat yang sama saat aku sekolah dulu. Kami berpisah karena ia menikah dengan bang Emil. Pemuda dari Medan yang merantau ke Aceh. Sebulan yang lalu, Hani istri Hendra sempat menyuruhku untuk pulang untuk menghadiri pernikahan sahabat kami, Alisa. Hiks.. waktu itu aku tidak ngeh sama sekali ucapan Hani tentang Alisa. Aku pikir Hani sedang bergurau saja. Hiks.. ternyata benar Alisa. Sahabatku, sahabat karibku. Alisa Febriyanti.. maaf.. tuan.. maafkan aku.. aku tidak tau. hiks jika Alisa istri anda adalah sahabatku.. hiks.. sahabat yang selama ini sangat ingin ku temui di kota Medan ini. Makanya hiks aku pindah kemari dari Jakarta.. haaa... Alisa...'' Raung Ema
Andi dan Gilang tertegun mendengar ucapan Ema. ''Jadi kamu?'' kata Andi terputus kala mengingat jika Ema inilah yang di ceritakan oleh Hani bulan lalu yang tidak hadir dalam acara pernikahan Gilang dan Alisa.
''Hiks.. aku harus bertemu dengannya. Dia salah paham padaku. Sahabatku, saudaraku. Hiks.. Alisa.. Ayo tuan hiks.. saya ingin bertemu dengan Alisa. Saya tau seperti apa Alisa. jika ia sudah terluka sangat sulit untuk kembali lagi! Ayo tuan! Sebelum terlambat! Mungkin saat ini Alisa sudah pergi dari rumah Anda Tuan!!'' seru Ema dengan panik.
''Apa?! Apa maksudmu?! Kenapa istriku harus pergi dari rumah? Apa maksudnya?!'' pekik Gilang.
Ia pun ikut panik seperti Ema. ''Jika Alisa sudah mencintai seseorang, maka ia akan setia pada pasangannya. Walaupun selalu disakiti, ia akan tetap bersabar. Tapi... hiks.. pantang baginya jika orang yang ia cintai itu berkhianat dan berselingkuh di belakang nya, Alisa tidak bisa terima itu! Alisa salah paham pada kita berdua, Tuan!! Alisa salah paham! Maafkan saya tuan.. ayo! Kita harus menyusul Alisa, jangan sampai ia pergi dari rumah. Jika ia sudah pergi, maka ia tidak akan pernah kembali lagi ke rumah itu. Walaupun Alisa sangat mencintai anda, tapi dengan bukti yang ia lihat tadi pastilah sudah membuat nya salah paham dan kecewa!''
''Dengarkan saya tuan! Anda memang suaminya! Walaupun anda sudah mengenalnya selama Lima tahun, tapi anda belum tau sifat asli Alisa yang sebenarnya. Alisa bisa bertahan dengan bang Emil itu karena ketiga anaknya. Tapi anda tuan? Ayo! Sebelum terlambat! Saya yakin, Jika Alisa sudah pergi dari rumah Anda! Dan dia akan pulang ke kampung halamannya!''
Ddddduuuaaarrrr...
Gilang tersentak mendengar nya. Tubuhnya oleh ke belakang. Ia jatuh terduduk di lantai karena penjelasan Ema.
''Andi...''
''Saya Bos!''
__ADS_1
''Kita Pulang...'' lirih Gilang semakin pucat.
Gilang menatap datar pada Ema. Ema mengangguk. Gilang menoleh pada tuan Hamid.
''Tuan Hamid, bersediakah anda ikut dengan saya sebagai saksi? Saya butuh seseorang yang bisa membuat Alisa percaya nantinya. Untuk masalah kantor, akan saya hubungi Papa saya untuk sementara untuk menghendel tugas kantor selama saya pergi ke Aceh. Apakah anda mau tuan?'' tanya Gilang pada tuan Hamid.
Gilang sangat berharap ketersediaan tuan Hamid sebagai saksi. Tuan Hamid terkekeh. Namun tetap mengangguk setuju.
''Tentu! Ayo, kita harus cepat!'' kata tuan Hamid.
''Ya, Andi. Siapkan segera kebutuhan mu, bawa segala keperluan kamu selama seminggu disana. Itu jika cepat, jika lama... pokoknya siap kan saja keperluan mu. Saya tunggu kamu dirumah saya. Dan kamu Ema! Kamu harus ikut saya!''
''Tentu, tuan!''
''Pergilah bersama Andi. Andi akan membantu mu bersiap. Saya rasa .. Alisa memang sudah pergi dari rumah. Melihat dari gelagatnya tadi.'' imbuh Gilang pada tuan Hamid.
Tuan Hamid mengangguk membenarkan. Mereka keluar dari ruangan itu dengan segera.
Andi dan Ema berlari keluar hotel. Nian yang melihat nya menjadi panik. ''Ada apa ya kira-kira?'' gumamnya pada diri sendiri.
Tak lama setelahnya, di susul Gilang dan juga taun Hamid. Mereka juga berlarian mengejar Andi dan Ema.
Andi dan Ema pulang ke rumah dinas mereka. Yang kebetulan bersebelahan dengan rumah dinas Ema.
Mereka tidak ingin banyak bertanya. Secepat mungkin untuk membereskan perlengkapan dan pergi menuju ke rumah Gilang yang lumayan jauh dari kantor mereka.
Satu jam kemudian, ke empat orang itu tiba dirumah. Bertepatan dengan Ira yang juga baru tiba dari sekolahnya.
Karena mendapat cuti libur selama seminggu. ''Loh? Papi?! Kok pulang?! Ada apa?!'' tanya Ira dengan panik.
Karena melihat Gilang di papah oleh Tuan Hamid dan Andi. Sementara Ema ada di belakang mereka.
''Papi tidak apa-apa. Ayo kita masuk. Mak ada di dalam bukan?''
''Entah. Kakak aja baru tiba. Mungkin ada di-,''
''Mak udah pergi. Udah pulang ke Aceh! Sedari siang tadi. Papi telat!'' ketus Lana.
''Apa?!''
Brruukk...
''Papi!!!!''
💕💕💕💕💕
Balik kampung... ho ho ho.. balik kampung 🤣 🤣🤣
__ADS_1