Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Di temani Ummi.


__ADS_3

Setelah selesai sholat, mereka berdua keluar beriringan begitu juga dengan Raga. Tak sengaja jika tangannya menyentuh tangan Ira, karena akan mengambil sepatu di tempat yang sama.


''Eh? Kak Raga!!'' pekik Ira, hingga ia terjungkal ke belakang karena terkejut akan kehadiran Raga disana bersama mereka.


Lana yang tepat berada di belakang Ira jadi sasaran empuk atas cobaan badan Ira yang begitu berat.


Duukkk...


''Astaghfirullah!''


''Adaaawww...''


''Akkkhh...''


Mereka bersamaan mengucapkan kata yang berbeda. Setelah nya Raga tergelak kuat.


''Ishhh.. bantuan ah! sakit ini... kakak lagi? jatuh kok nimpain Abang sih?! Kenapa nggak peluk kak Raga aja?! Aduhh..'' sewot Lana.


Membuat Raga, lagi dan lagi tertawa terbahak. Hingga suara tawanya terdengar ke sebelah.


Ira jadi malu sendiri. ''Ma-maaf kak! refleks aja! karena terkejut! hehehe...'' Ira tersenyum malu.


Sedangkan Raga masih saja dengan tertawa nya. ''Kakak apaan sih?! kalau mau jatuh jangan bawa-bawa Abang dong?! Bawa tuh kak Raga yang sedari tadi ngintilin kita!'' sewot Lana lagi.


Ira yang mendengar nya melototkan matanya.


''Apa sih?! jangan di keluarin tuh matanya Suzanna! Abang nggak mau! ribet!'' imbuhnya lagi masih dengan mengusap baju nya yang kotor.


''Hahaha.. kalian kenapa sih, berantem Mulu kalau ketemu? Coba kalau jauh, pasti kecarian!'' imbuh Raga masih dengan tertawaan nya.


''Dari mana kakak tau?! Berarti bener ya! selama ini kakak selalu ngintilin kita kayak penguntit??'' selidik Lana, sedikit dengan memicingkan matanya.


Raga gelagapan. ''Ah! eng-enggak! Kebetulan tadi kakak memang mau sholat Dhuha. Ya kakak masuk aja dong? Kalian aja yang nggak ligat! Wong asik ngitungin dolar tuan krab?'' sahut Raga dengan sedikit mendramatisir.


''Kapan kakak datang nya?? Abang aja nggak lihat tuh?! Jangan-jangan.. kakak memang udah lama ya di sana?! Dan dengerin semua omongan kita?!'' terka Lana dengan tatapan tajam nya.


Tapi terlihat lucu di mata Raga. ''Ya. Sudah sedari tadi! Tadi kakak dengar, kalian butuh seseorang untuk temani kalian ke pasar??''


Lana mendelik mendengar ucapan Raga. ''Wahh.. kak Raga mah parah euuy.. sempat-sempatnya dia nguping! Hadeuuuhhh...'' gerutu Lana.


''Abang!'' tegur Ira.

__ADS_1


''Apa?? Emang benerkan?? Ck! Ganteng-ganteng penguntit!'' cibir Lana sembari mencebik kan bibirnya.


Ira hanya bisa membuang nafas berat. ''Maaf ya kak! Adik ku ini memang seperti itu bicara nya. Jangan diambil hati ucapan nya.'' ucap Ira sembari tersenyum malu pada Raga.


Raga terkekeh. ''Ya. Kakak senang. Akhirnya ada lawan untuk bisa saling adu mulut seperti ini! sudah lama kakak tidak seperti ini. Jadi kangen kedua adikku!'' imbuhnya, sembari menatap Ira dengan dalam.


''Hmmm.. mulai.. mulai.. tuh jurus buaya kadal buntung dimainin!!'' sindir Lana.


Ira melotot mendengar ucapan adik nya yang tidak di filter itu.


''Abang! Ishh.. yang sopan dong! Dia ini kak Raga! ketua OSIS di sekolah kakak! Gimana sih kamu?!'' bisik Ira sembaritangan nya menjewer telinga sang adik.


''Aduh, duh, duh, sakit Kakak! Emang kenapa sih?! Jika kak Raga ini ketua OSIS?! Noh Abang juga ketua Sunat! Mau kakak! Kak Raga Abang sunat sekali lagi?! heh?! hisshh.. sakit telinga akunya! Ini tindak kekerasan dalam kehidupan kakak beradik namanya! Mana kuat banget lagi jeweran nya! Ishh..'' gerutu Lana. Ia masih saja bersungut-sungut karena Ira menjewer telinga nya begitu kuat hingga terasa panas.


Lagi dan lagi Raga tertawa. ''Sudah! sudah! sakit perut kakak kalian kocok kayak jus pokad! Nggak ada hentinya! Gimana? Jadi nggak Kepasar nya??'' tanya Raga lagi.


''Hehehe.. jadi atuh kak.. tapi bingung harus sama siapa??''


''Tenang... kakak punya solusinya! Mana nomor ponsel mu!'' pinta nya sama Ira.


Ira menyebutkan nomor ponsel Alisa dan mencoba mendial nya.


''Masuk! Nih!'' tunjuk Ira.


''I-ini... bukan nya ini yang ada di toko ALISA STORE??'' tanya Raga sembari menatap Lana dan Ira.


Wajah songong Lana pun terbit saat itu juga. ''Emang kakak pikir kami tidak mampu gitu?! Membeli ponsel mahal seharga belasan juta??'' ucap Lana, dengan sedikit tersenyum sinis kepada Raga.


''Abang!'' tegur Ira lagi.


''Ini tuh bukan ponsel aku Kak! Ini tuh ponsel Mak kami, tuh lihat aja wallpaper nya siapa dan sama siapa??''


''Iya sih?? Tapi ini laki-laki bukannya ayah kalian ya? Kok muda banget sih??'' tanya Raga keheranan melihat foto profil Alisa dan Gilang yang saling menatap dalam tersenyum.


Ira terkekeh. ''Ini tuh Papi, kak! Ayah kami mah udah tua orang nya! Papi sekarang sedang kerja dan akan kuliah ke Amerika..'' lirih Ira.


''Hoo.. ya sudah, kalau begitu nanti sepulang dari sekolah kakak hubungi kamu dan akan ada seseorang yang akan menemani kalian berdua untuk belanja keperluan sekolah. Sekarang sebaiknya balik ke kelas. Sebentar lagi waktu nya istirahat. Kakak pergi! Nanti kakak hubungi.'' imbuhnya, kemudian berlalu meninggalkan kedua anakanusia yang berdiri mematung disana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 2.45 Ira dan Lana keluar dan menuju pembatas jalan untuk menunggu seseorang. Yang dikatakan oleh Raga.

__ADS_1


Setibanya disana, seseorang berpakaian muslimah dengan hijab panjangnya melambaikan tangannya pada Ira dan Lana.


''Assalamualaikum, Nak Ira.. Lana..'' sapa Ummi Hani.


Ira tersenyum dan menyahuti ucapan salam dari Ummi Hani.


''Waalaikum salam Ummi Hani.. maaf! kami mengganggu waktu Ummi..'' lirih Ira sembari menciumi tangan ummi Hani begitu juga dengan Lana.


''Ah! mana ada! Ummi sekalian mau ke pasar, ayo! Itu mobil Ummi!'' tunjuknya pada mobil sedan berwarna putih.


Melihat mobil mata Lana jadi berbinar senang. ''Wuaahh.. naik mobil kak! Aseeeekkk!!'' seru Lana begitu senang, hingga membuat Ummi Hani tergelak melihat kelakuan Lana.


"Ya sudah, ayo.." ajaknya lagi.


Mereka bertiga berjalan beriringan dengan Ira memegangi tangan Ummi, takut ummi terjatuh.


Ummi Hani tersenyum. Dan memegang tangan Ira dan Lana dengan erat. Sudah seperti saling mengenal saja.


Padahal kan baru pertama kali bertemu??


Sesampainya disana, Ummi Hani membuka pintu itu dan membawa mereka masuk. Setelah nya mereka berlalu dari sana.


Sedangkan seseorang di balik kemudi, sesekali mencuri pandang melalui spion untuk melihat pujaan hati.


Ummi Hani terkekeh melihat nya. Saat pandangan mata mereka bersiborok, Iraerasa risih dengan supirnya ummi Hani.


Lalu berbisik, sambil sesekali melihat supir itu. ''Ummi! itu pak supir kok liatin kakak kayak begitu sih??'' bisik Ira di telinga ummi Hani.


Ummi Hani yang mendengar bisikan Ira terkekeh. ''Ehm.. maaf pak supir! tolong dilihat ke jalan saja ya? Anak saya ini takut dilihat anda terus menerus seperti itu.'' Sindir ummi Hani.


Membuat supir gadungan itu terbatuk-batuk. Dan itu tak luput dari tatapan mata Lana.


''Kayak kenal deh?'' gumam Lana.


''Bukannya ini kak-''


''Kita udah sampai!''


💕


Maaf ya.. telat lagi?? hehehe..

__ADS_1


Othor belum mendingan.. tapi demi pembaca othor usahakan.


TBC


__ADS_2