
''Tidak usah datang kesini lagi! Buat apa punya saudara tapi tidak bisa menasehati dan memberi solusi? Malah menuduh saja yang bisa kalian lakukan! Pergi kalian dari rumahku! Jangan pernah kembali lagi kesini! Aku kecewa dengan kalian! Tidak Ayah, tidak juga Kakek! Kalian berdua sama! Selalu menuduh surga ku yang tidak-tidak! Pergiiiiii!!!'' pekik Lana.
Ia sudah tidak sanggup menahan rasa amarah yang mendesak dadanya. Buliran bening mengalir di pipi tirus nya.
Sedangkan Tante Irma dan Om Karim semakin terkejut melihat kemarahan Lana untuk pertama kali setelah dua belas tahun berlalu.
''Nak??'' panggil Alisa.
Lana bergeming, kemarahan nya sedang berada di puncak saat ini. ''Pergi iii!!! Aku tak butuh kalian!!! Pergi!!!! Aku benci kalian!!!!''
Deg!
Deg!
Serasa di pukul dari atas dan di hempaskan jatuh hingga ke dasar. Begitulah yang dirasakan oleh Tante Irma saat ini.
Om Karim mematung melihat Lana begitu marah karena tuduhan tak berdasar darinya. Tante Irma menatap sendu pada sang suami.
''Hiks.. selalu saja! Kalian menuduh surga ku! Semua yang bertemu dengan Mak, pastilah menuduh Mak yang bukan-bukan! Aku benci kalian!!!! Aku benci hiks.. Papiiii!!!! Abang mau Papiiii!!!''
Deg!
Lagi, kedua paruh baya itu semakin terkejut melihat reaksi Lana. Siapa lagi Papi? Pikir mereka berdua.
Mereka sibuk dalam lamunan, tanpa sadar Lana sudah berlari meninggalkan mereka bertiga.
Alisa yang sadar, ia segera bangkit dan ingin mengejar Lana. Sebelum nya ia berpamitan pada kedua paruh baya yang mematung itu.
''Om.. Tante! Aku ke dalam mau menyusul Lana dulu ya?''
__ADS_1
''Hah? Eh, iya Lis! Silahkan!'' sahut Tante Irma.
Alisa berlari naik keatas ke kamar Lana meninggalkan mereka yang terpaku di tempat tidak tau harus berbuat apa.
***
Sementara Gilang, sedari tadi ia sibuk bersin-bersin saja. Papa Yoga yang melihatnya merasa khawatir.
''Kamu tidak apa-apa, Nak?''
''Gilang menoleh dan tersenyum, '' Tidak apa-apa, Pa! Hatcihh .. hanya bersin biasa. Kayaknya ada seseorang yang sedang merindukan ku.'' Sahut Gilang dengan kekehan kecil di bibirnya.
Mama Alina tersenyum, ''Pasti Abang yang kangen sama kamu!'' celutuk mana Alina.
Gilang terkekeh lagi. Papa Yoga yang melihat Gilang terkekeh, entah mengapa setiap kali melihatnya Papa Yoga merasa jika Gilang pemuda yang baik.
***
Ia menangis tersedu disana. ''Papi... hiks.. Papi.. Abang mau Papi.. Papi.. hiks.. Papi.. hiks..'' Isak Lana.
Alisa mematung mendengar putra nya menginginkan Gilang saat ini. Kaki nya melangkah perlahan mendekati Lana.
Ia duduk di sisi lain ranjang Lana. Tepat di kepalanya. Alisa mengusap kepala Lana dengan sayang.
''Nak??''
''Mak? Abang mau Papi! Papiii.. hiks.. Papi...'' Isak Lana lagi dengan sesegukan.
Alisa terkekeh melihat tingkah Lana. ''Kok nangis sih? Udah besar gini malah nangis! Malu euyy..'' celutuk Alisa.
__ADS_1
Kemudian ia terkekeh geli setelah mengucapkan kata-kata yang sering di ucapkan Lana saat bersama Gilang.
Lana mendongak, ''Boleh Abang ngomong sama Papi, Mak?''
Alisa tersenyum, ''Boleh! tapi ingat! jangan terlalu lama. Jangan mrmbuat Papi marah ya? karena saat ini ia sedang bekerja.''
Lana tersenyum senang. ''Terimakasih, Mak. Cup!'' Lana mengecup pipi Alisa.
Membuat Alisa melototkan matanya. ''Hehehe.. kayak Papi, Mak!''
Alisa menghela nafasnya. ''Hadeeeuuhh.. ya sudah, Mak keluar dulu ya? mau buatin minum.''
''Oke!'' sahutnya. Tanpa menoleh lagi pada Alisa yang berlalu meninggalkan nya dengan tersenyum, namun buliran bening mengalir di pipi nya.
Dengan segera Lana mendial nomor Gilang. Saat sambungan ponsel itu sudah tersambung, Lana tersenyum cerah.
''Hallo Assalamualaikum, sayang...''
''Papiiiii....!!!''
Deg!
Deg!
💕💕💕
Hehehe.. kangen Papi Gilang ternyata ya Abang Lana?
Ikutin terus kelanjutannya!
__ADS_1
TBC