
Sakit perut karena tertawa. Andi si basah kuyup, si Kakak menangis meraung, sedangkan Lana seperti orang bingung.
Lengkaplah sudah!
Gilang dan Alisa benar-benar tidak tahan untuk tidak tertawa. Mereka masih saja terus tertawa. Hingga celutukan Lana menghentikan mereka yang sedang tertawa.
''Pada ketawain apa sih?! Dari tadi Abang lihat, kakak meraung! Bang Andi juga! kenapa pula itu muka jadi basah kuyup begitu?! Papi sama Mak juga! Apa sih yang buat kalian heboh disaat sarapan?! Abang belum paham nih.. ada yang bisa jelasin tidak??'' ucapnya, sambil melihat mereka satu persatu disana.
Gilang menoleh pada Alisa dan memberi kode, 'kamu ajalah yang ngomong..' begitulah kira-kira.
Membuat Lana membuang nafas nya gusar.
''Ishh.. kan! pada tatapan lagi?? Ini ada apa sih sebenarnya?? kok berasa kayak Abang orang paling bodoh sedunia ya??'' imbuhnya, sembari menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali.
''Kamu udah sadar Dek?? Alhamdulillah.. ya Allah.. kirain! Hadeuhhh...'' ucap Ira. Dia yang tadi masih meraung berhenti saat mendengar celutukan Lana.
Gilang terkekeh begitu juga dengan Alisa.
''Bos! gimana ini?? Baju saya basah ini..'' ucap Andi menyela ucapan Ira.
Gilang menoleh, ''ya.. lu ganti lah! masa nggak tau harus ngapain sih?? bawa baju ganti nggak lu?? Udah mandi belum??''
''Hehehe.. saya belum mandi bos! habisnya bos nelpon saya, saat saya masih tidur! jam empat pula! ya mana sempat mandi bos! bos ada baju ganti nggak??'' tanya Andi dengan senyum manisnya.
''Heleh! mulai... lihat tuh wajahnya! kalau ada maunya pasti di keluarkan dah tuh senyum maut? Kalau nggak? boro-boro mau senyum manis sama gue, yang ada elu sering kali nunjukin muka lu yang butek di depan gue! ish...'' gerutu Gilang.
Lana yang mendengar perdebatan antara Andi dan Gilang tertawa.
__ADS_1
''Sudah, sudah! Kakak.. ambilkan baju Papi yang Mak simpan dalam lemari! Kamu Andi! cepat mandi! setelah nya kita harus bergegas, waktunya jalan terus. Nanti macet di jalan! Ayo kak! ambilkan baju Papi!'' titahnya.
Ira mengangguk dan masuk ke kamar mengambil baju Gilang yang sudah dicuci olehnya.
''Nih, bang! cepetan! Kakak udah nggak sabar pingin ke taman safari! jarang-jarang loh kakak di ajakin kesana! bahkan, dengan ayah pun tidak pernah! Makasih Papi .. Papi yang terbaik! Your the best Papi! I Miss you Papi!!'' seru Ira dengan senang.
Alisa yang mendengar melotot. Gilang tergelak. Sedangkan Andi menggeleng kan kepalanya. Sungguh, dua kali masuk kedalam keluarga ini, dua-duanya bikin sport jantung. Namun, ia senang ketika melihat Gilang begitu bahagia, tidak seperti hari-hari kemarin.
Lima belas menit kemudian.
Andi sudah selesai mandi dan bersiap. Baju Gilang sangat pas ditubuh Andi. Karena memang tubuh Gilang dan Andi sama. Bahkan tinggi nya pun sama. Yang membedakan hanya paras wajah saja.
Jika Gilang memiliki wajah tampan setampan aktor Lin Yi sedangkan Andi memiliki wajah tampan orang indo. Taukan orang indo seperti apa? Ganteng, tapi kulitnya agak kecokelatan. Beda dengan Gilang yang memiliki kulit putih bersih.
Setelah semuanya siap, mereka berangkat menuju taman safari yang terletak di jalan Jamin Ginting Km 20, Desa Sugau, kecamatan pancur batu, kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. (Kalau dari tempat othor hanya berjarak 3 jam perjalanan, itu kalau nggak macet sih 😁😁)
''Wuuiihhh.. keren euuy.. Pajero sport nya! Papi! Boleh dong, Abang minta Papi belikan mobil kayak begini??'' celutuk Lana.
Gilang tertawa, ''tentu saja! Abang mau yang warna apa?? putih?? atau hitam??''
''Kalau Abang sih.. suka yang warna hitam! Kayak mobil punya uwak Abang! Tapi...''
''Tapi kenapa??'' sela Gilang.
''Tapi.. Abang mau ngikutin saran Mak aja, Pi! Karena Mak pernah bilang, jika Mak punya uang mau beli mobil Pajero tapi warna putih. Mak Abang itu sukanya putih dan hitam Pi!''
Alisa melototkan matanya. ''Abang!''
__ADS_1
''Hehehe.. maaf Mak!''
''Hooh, bener itu Pi! Mak lebih suka yang warna hitam sama putih. Nggak liat tuh.. gamis Mak aja warna nya hitam? Sama dengan hijab nya hitam juga! Kadang kakak berpikir, jika Mak kayak orang-orang lagi berduka cita? Benar nggak sih Papi??''
Tak tahan dengan ucapan Ira membuat yang ada di dalam mobil itu tergelak. Gilang, Andi dan Lana. Mereka bertiga tertawa mendengar ucapan Ira.
Sedangkan Alisa melotot. ''Kakak! ishh.. kok jadi Mak sih yang di buly?? ishh.. nggak asik, ah!'' ujar nya jutek.
''Haha.. jangan marah atuh neng... kan yang di bilang Ira memang benar adanya.. kamu kok suka benget sih? Sama warna hitam?? Aku ingat! pertama kali ketemu kamu, juga memakai hijab hitam kan??'' tanya Gilang.
Alisa menoleh dengan tatapan yang sendu. Gilang terkejut.
''Terkadang warna hitam itu, bisa menutupi segala rasa yang ada didalam diri kita. Tidak semua bersifat putih! tapi kadangkala nya ada yang berwarna hitam! Sama seperti ku ini! Hitam dengan kehidupan yang sedang aku jalani.. walau kadang aku berharap, ada secercah cahaya putih yang masuk kedalam ruangan yang serba hitam ini.. Apakah Aku salah, jika aku memilih warna hitam untuk menutupi jejak kehidupan ku yang suram ini??'' tanya Alisa dengan sendu.
Gilang tertegun. Begitu juga dengan Andi dan Ira. Sedangkan Lana hanya terdiam. Ia memejamkan matanya saat Alisa berbicara seperti itu.
''Nggak semua kehidupan itu hitam Lis! Sama seperti dirimu sekarang! Lihatlah aku?? Apa bedanya kita berdua? Baju ku pun berwarna hitam?? Kamu liat nggak? Terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan yang kita harapkan! Jika warna hitam ada pada kita berdua tidak menutup kemungkinan didalam warna hitam ada secercah bias putih?? Kamu nggak salah Lis! Memang seperti inilah jalan hidup kita! Aku dipertemukan dengan mu, merupakan bias putih yang tiba-tiba masuk ke dalam warna hitam yang selama ini ada bersama ku! Kau dan aku, kita berdua sama Lis! Terlepas karena takdir yang telah menyatukan kita disini, tak menutup kemungkinan bukan, untuk kita berpisah nantinya?? Walaupun aku berharap, hanya maut lah yang dapat memisahkan kita berdua! Jika kamu terlihat cantik dengan warna hitam? Berarti aku tampan dong??'' goda Gilang dengan menaik turunkan alisnya.
Lana tertawa, ''ya.. ya, ya.. Papi ku memang tampan! setampan aktor Lin Yi! Haishhh... kenapa pula aku tidak setampan Papi??'' keluhnya.
Membuat Andi tertawa. ''Haha.. kamu bang! ada-ada saja sih? Nggak boleh ngomong begitu... syukuri apapun yang ada pada dirimu.. jangan selalu mengeluh! Itu sama saja dengan kamu menolak apapun yang telah di berikan untukmu! Itu sama saja dengan kamu kufur nikmat! Mau? masuk neraka, gegara kufur nikmat??''
''Astaghfirullah! Maafkan hamba ya Allah.. Abang nggak bermaksud begitu bang.. hishh.. nih mulut ya, suka bener bikin salah?? ish...'' gerutu Lana lagi.
Andi terkekeh, begitu juga dengan Gilang. Tapi tidak dengan seseorang disana. Ia duduk sambil melamun. Air mata menetes tanpa di duga.
💕
__ADS_1
TBC