Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Makan malam bersama


__ADS_3

Gilang tersentak saat seseorang menepuk bahunya begitu kuat. Ia meringis menahan sakit dibahunya. Ia menoleh kesamping, ingin tau siapa orang yang dengan menimpuk bahunya begitu kuat.


Ia kaget melihat ada bapak-bapak sedang berdiri disampingnya. Gilang tersenyum kaku. Ia masih saja mengisap bahunya yang terasa ngilu.


''Nak Gilang, kenapa melamun disini?? masuk atuh.. sebentar lagi kan adzan isya, jadi lebih baik menunggu di dalam.'' ujar seorang bapak-bapak yang tadi menimpuk bahu Gilang.


''Hehe iya Pak! saya akan masuk, tapi sebentar lagi. Saya belum wudhu soalnya.'' sahut Gilang sesekali meringis menahan sakit.


''Ya sudah, Bapak duluan ya. Maaf tadi bapak memukul terlalu kuat. Bapak takut kamu kesurupan, karena sejak tadi sudah beberapa orang menegur mu, tapi Nak Gilang tak menyahuti. Jadi bapak berinisiatif untuk menyadarkan Nak Gilang dari lamunan panjang. Dan benar adanya, Nak Gilang sadar juga akhirnya.'' imbuhnya.


Gilang hanya tersenyum kikuk. Ia merasa tak enak dengan para jamaah mesjid, karena dirinya melamun disana.


''Terimakasih Pak! saya baik-baik saja, kok. Hanya saja saya sedang tidak enak badan jadi ya agak gimana.. gitu rasanya.'' ujar Gilang dengan sesekali meringis.


Bapak itu memperhatikan keadaan Gilang. Ia tau, pasti terjadi sesuatu dengan pemuda itu, pikirnya. Ia menelisik, serta melihat raut wajah Gilang yang begitu sendu.


''Nak.. boleh bapak duduk disini?'' tanya nya, membuat Gilang bingung.


''Bukannya tadi Bapak mau masuk ya? Masuk aja duluan Pak! saya disini aja dulu. Nanti saya nyusul, kok.'' imbuh Gilang, seraya menatap Bapak itu heran.


''Bapak akan menemani kamu disini sampai azan isya nantinya. Hanya dua puluh menit lagi kok azan isya, jadi kita masih sempat bercerita.'' jawab bapak itu, membuat Gilang menoleh.


Bapak itu tersenyum. ''Bapak tau.. Nak Gilang, sedang ada masalah kan?? Makanya duduk melamun disini??'' tanya nya.


Gilang menghela nafasnya.


''Hanya sedikit Pak! kisah dimasa lalu kini kembali lagi. Ia membuat saya mengingat kejadian pahit beberapa tahun yang lalu. Kemunculannya itu membuat saya dilema dengan perasaan saya sendiri..'' lirih Gilang.

__ADS_1


Bapak itu hanya mendengar saja dengan seksama. 'Apa yang sebenarnya terjadi dengan pemuda ini? Begitu beratkan masalah yang dialaminya?' bapak itu bergumam didalam hatinya.


''Kalau Nak Gilang mau, boleh kok cerita sedikit. Agar beban Nak Gilang itu berkurang. Barangkali bapak bisa bantu sedikit. Dalam artian bapak hanya bisa kasih kamu solusi? Coba ceritakan ringkasnya saja.'' ujarnya sambil menatap Gilang.


Gilang menerawang ke depan, sesaat ia hanya terdiam. Setelah nya barulah ia bercerita, walau hanya ringkas saja.


''Sebenarnya...'' Gilang mulai menceritakan tentang masalah perjodohan yang terjadi di masa lalu sejak ia masih dalam kandungan ibunya. Dan juga tentang bagaimana penghianatan gadis yang telah dijodohkan dengan nya itu.


''Dan sekarang ia kembali lagi, disaat hati dan pikiran ku tidak lagi untuknya. Saya kecewa padanya bukan membenci. Awal mula iya, saya sangat membenci gadis itu serta sahabat saya sendiri. Tapi setelah bertemu dengan seseorang, ia mengajarkan saya bagaimana caranya memaafkan masa lalu. Katanya 'masa lalu biarlah berlalu, dengan kita mengingatnya ia tak kan pernah maju kemasan depan. Jadi buat apa mengenang masa lalu yang hanya akan membuat hati kita menabur dendam? Maafkan semua yang telah terjadi dengan begitu, kita tidak pernah merasakan sakit hati dimasa depan!' begitu katanya.'' jelas Gilang seraya menerawang ke depan, dimana ia bisa melihat seseorang disana dalam pekat nya malam.


Gilang tersenyum mengingat seseorang itu. Bapak itu menatap Gilang dengan dalam. Ia menghela nafasnya dan tersenyum pada Gilang.


''Betul yang dikatakan oleh orang itu nak, Gilang. Maafkanlah masa lalu, dengan begitu hati kita akan merasa tenang.Tidak dihantui dengan rasa ingin balas dendam. Karena yang sudah berlalu tetap akan disana tidak akan pernah kembali ke masa depan! Untuk perjodohan itu terimalah dengan lapang dada. Mungkin itu adalah takdir untuk Nak, Gilang? Siapa tau kan? Pesan Bapak, hormati keinginan orang tuamu, dengan begitu kamu akan bahagia. Tetapi jika kamu menentang orangtua, maka sengsara lah yang akan didapatkan! Biarlah berjalan seperti air yang mengalir. Jodoh itu di tangan Allah, bukan pada manusia. Kita hanya bisa ikhtiar dalam setiap usaha. Jalani saja dengan ikhlas pasti semua akan terasa tenang didalam hati.'' imbuh bapak itu.


Gilang hanya manggut-manggut saja. Ia paham akan ucapan bapak itu. Baginya ucapan bapak itu adalah nasehat untuknya.


Gilang mengangguk. ''Ya. saya berwudhu terlebih dahulu. Bapak duluan saja, nanti saya menyusul.'' imbuhnya, kemudian berlalu untuk mengambil wudhu.


Selesai dengan sholat isya, Gilang pulang kerumahnya. Saat ia masuk kerumah, dari dalam sudah terdengar suara gemuruh orang tertawa.


Gilang sudah menebak, jika itu adalah keluarga Vita. Sahabat dari Mama dan Papa nya. Gilang melangkah masuk dan melihat mereka semua sudah berkumpul di meja makan.


Tap, tap, tap


Suara sendal Gilang ketika ia melangkah untuk masuk kedalam kamarnya. Mama Dewi yang melihatnya pun memanggil Gilang.


''Ini dia yang kita tunggu dari tadi! Sudah pulang sayang? Ayo.. disana udah ada keluarga Om Alan. Ayo kita kesana, makan malam bersama! jarang-jarang kan bisa makan malam dirumah ini??'' ujar mama Dewi.

__ADS_1


Gilang menatap datar pada seseorang disana yang juga sedang menatapnya. Tanpa diduga, mama Dewi menarik Gilang untuk ke meja makan.


''Salim dulu Nak.. sedari tadi mereka menunggu mu sekalian setelah ini ada yang kita bicarakan! ayo duduk di dekat Vita ya?'' imbuh mama Dewi.


Gilang menurut saja. Sebenarnya ia malas, tapi karena tadi seseorang telah memberikan nasehat untuknya, ia jadi berubah pikiran. Apa salahnya menyenangi hati orang tua dengan cara menuruti perkataan nya?


Gilang paham tentang itu.


Mereka semua makan bersama sambil sesekali ayah Vita yaitu Om Alan, membuat lelucon. Mereka semua tertawa, tapi tidak dengan Gilang. Ia hanya menikmati makan malamnya saja.


Vita yang ada disebelah nya tau, jika Gilang tidak menginginkan keluarganya ada disana. Tapi apa yang harus ia perbuat, jika kedua orangtuanya memaksa.


Untuk kejadian perselingkuhan antara dirinya dan Kevin, kedua orang tua mereka tidak ada yang tau. Maka dari itu, saat ini mereka disana untuk membicarakan tentang perjodohan yang tertunda.


Selesai dengan makan malamnya, mereka semua berkumpul diruang tamu. Kedua orang tua mereka sepakat untuk membahas tentang adalah perjodohan mereka dimasa lalu.


''Baiklah, kita mulai ya.. Gilang! kamu tau kenapa kami mengumpulkan kalian berdua disini??''


Gilang menggeleng. Sedangkan Vita hanya diam saja. Ia sudah tau maksud dan tujuan kedua orang tuanya datang kerumah Gilang. Karena sebelum mereka kesana, Vita sudah diberitahu terlebih dahulu oleh Mama nya.


''Kami sebagai orang tua kalian berdua, sepakat untuk melanjutkan perjodohan yang lalu, yang pernah kami janjikan disaat kami masih kuliah dulu. Kamu sudah tau kan Gilang?'' tanya papa Angga.


Deg!


💕


TBC

__ADS_1


__ADS_2