
Setelah perdebatan tadi malam, yang belum usai. Alisa terbangun saat alaram berbunyi pukul 3.30 pagi, Alisa bangun. untuk sholat tahajud sampai dengan sholat subuh tadi ia belum tidur sama sekali.
Ia sibuk membereskan kue pesanan tetangga sebelah, yaitu bude Yuli. Kebetulan rumah nya hari ini, ada hajatan.
Sedari tahajud hingga subuh Alisa masih saja berkutat dengan panci dan wajan. Ia masih sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk kedua anaknya. Dan ditambah satu lagi, Gilang.
Seseorang yang telah ahdir di dalam hidupnya tanpa diminta. Saat hatinya, sedang merasakan luka yang begitu dalam, Gilang hadir sebagai pengobat hatinya.
Alisa melamun, saat ia ingin memasukkan telor dadar ke dalam wajan, Alisa terkejut karena pekikan seseorang dari belakang.
''Alisa!!'' seru Gilang.
Alisa tersentak. ''Awh.. aduhhh.. panas! Ya Allah.... panas! Fuih.. Fuih...'' Alisa meniup tangannya yang terkena cipratan minyak panas.
''Ya Allah! Kamu kok melamun sih?! Ini api Alisa?! gimana jika aku terlambat? pasti kamu sudah terbakar sayang! Astagfirullah! ini gimana coba?? Aduhh... ini telur dadar pun udah gosong!'' seru Gilang.
Cetek!
Kompor gas dimatikan. Gilang membawa Alisa ke depan di mana Lana dan Ira terbangun karena terkejut dengan pekikan Gilang.
''Ayo! aku obatin! Abang! mana kotak P3K??'' tanya pada Lana.
''Hah?! P3K??'' beo Lana.
''Ishh.. Maulana Akbar! cuci muka sekarang!'' titah Gilang. Lana yang mendengar Gilang berseru lantang, berdiri dan ngacir ke kamar mandi untuk cuci muka.
Tiba-tiba Annisa menangis karena terkejut, mendengar seruan Gilang. Gilang menoleh, ia melihat Ira yang berdiri mematung disana.
''Kakak!! Annisa bangun! Di gendong dulu! Papi mau ngobatin Mak! Ayo!!'' serunya lagi.
''Hah?!'' beo Ira. Ia masih lelet dan bingung dengan apa yang terjadi.
''Ira Sarasvati!!'' seru Gilang lagi.
''Hah?! I-iya Papi! Apa yang.. eh adek... aduh sayang.. kenapa nangis sayang.. cup.. cup..'' ujar Ira. Ia memeluk dan menimang Annisa, tak lama Annisa terdiam.
Gilang yang melihatnya, menghembuskan nafasnya lega.
''Papi!! Apa tadi yang Papi bilang?? Papi nyuruh Abang apa??'' tanya Lana.
''Ambilkan kotak P3K!'' seru Gilang.
Lana berlari kedalam kamar dan mengambil kotak P3K yang sengaja di simpan di dalam lemari oleh Alisa.
__ADS_1
''Aduhh... panas! panas! Pi!'' rintih Alisa.
''Iya sebentar! Sabar ya??'' ujar Gilang. Ia meniup-niup luka Alisa yang terciprat minyak panas.
''Ini Pi!''
''Terimakasih! Oh iya bang, udah subuh! sholat! kemudian siap-siap ke sekolah!'' ujar Gilang tanpa menatap Lana sama sekali.
''Oke,'' ucap Lana seraya berlalu.
''Apa yang bisa kakak bantu Pi??'' tanya Ira, ia melihat tangan Alisa yang melepuh.
''Haduhh... pelan-pelan Papi!'' rintih Alisa.
''Iya, ini udah pelan kok! Kakak bisa masak kan??'' tanya Gilang tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk mengolesi salep di tangan Alisa.
''Ya, kakak bisa! Oke! sekarang waktunya kakak beraksi!'' seru Ira dengan senang.
Setelah nya ia berlalu kedapur, dan mulai masak disana. Karena terdengar, dari suara wajan dan spatula yang berdenting.
Gilang terkekeh. Alisa terpana melihat Gilang terkekeh.
''Tampan!'' ucap Alisa tanpa sadar
''Hah? Apa Lis??'' tanya Gilang
Gilang terkekeh lagi. Lagi, Alisa terpana melihatnya. Senyum tawa yang begitu menyenangkan ketika dipandang. Alisa masih saja menatapnya tanpa sadar.
Gilang yang sadar sedang di tatap oleh Alisa, menoleh. Gilang membawa tangan nya dan menyentuh pipi Alisa.
''Lis??'' panggil nya.
''Ya,'' sahut Alisa.
''Ada apa?? Kok bengong?? Sakit banget ya??'' tanya Gilang.
''Nggak! jika ada kamu tidak akan sakit! Terimakasih karena hadir dalam kehidupan ku! ku harap kamu tidak menyesal menikah dengan seorang wanita yang telah janda dan memiliki tiga orang anak, Pi!'' ujar Alisa, ia menatap Gilang dengan wajah sendunya.
Gilang tersenyum. ''Nggak akan! sekali hatiku memilihmu, maka kaulah yang terakhir! nggak ada yang lain lagi!'' ucap Gilang, ia memajukan wajahnya dan mengecup kening Alisa.
Cup!
''Mulai sekarang, kalau kamu ada apa-apa, tolong kamu beri tahu aku ya??''
__ADS_1
''Ya, tentu! aduh...'' Alisa meringis, tanpa sengaja Gilang menekan lukanya.
''Eh? maaf, maaf! aku nggak sengaja sayang? maaf ya??'' ujar Gilang seraya meniup luka Alisa.
Alisa tersenyum meringis. ''Udah, Papi tenang aja! sebaiknya sekarang Papi bersiap, bentar lagi waktu subuh habis.'' ujar Alisa.
''Oke. Kamu nggak sholat? Kalau mau wudhu, biar ku ambilkan airnya?'' tanya Gilang.
Alisa menggeleng. ''Lagi dapet..'' lirih Alisa dengan pelan. Tapi masih bisa di dengar oleh Gilang.
''Owh.. Oke! Aku sholat dulu ya?? Jangan banyak gerak! itu yang masih sakit! kamu dengar kan Lis?'' tanya Gilang.
''Iya,'' sahut Alisa.
Setelah Gilang berlalu, Alisa tersenyum tipis memandangi pemuda yang sedang sholat di samping nya ini.
Setelah semuanya selesai, kini saatnya mereka bertiga berangkat sekolah. Alisa menemani mereka hingga ke depan. Mereka bertiga pergi dengan diantar oleh Gilang.
Setelah mereka bertiga hilang di tikungan jalan, Alisa masuk dan membereskan rumah dan dapurnya yang masih berantakan.
Siang harinya.
Pukul 13.30 waktunya Gilang dan Ira pulang. Alisa sedang tidak berada dirumahnya. Ia sedang menghadiri hajatan bude Yuli. Karena tadi pagi, saat mengantar kue pesanan nya, Alisa dilarang pulang.
Ia harus tetap di sana, sampai dengan acara itu selesai. Dan tepat pukul Satu lebih tiga puluh menit, akhirnya acara itu selesai.
Alisa bernafas lega. Akhirnya Alisa bisa pulang kerumahnya. Saat ia pulang, Alisa berhenti sejenak, karena melihat pemandangan yang begitu mengiris hati.
''Ya Allah.. mengapa begitu sakit, saat melihat orang yang baru aja kita sukai, malah menyukai putrinya sendiri?? Apakah aku sanggup menghilangkan perasaan ini?? Kenapa begitu cepat? Jika aku tau, kau mendekati ku hanya untuk lebih dekat dengan putriku, aku tidak akan mendekati mu dan menerima tawaran mu! Ternyata tawaran mu itu hanya menutupi kedok mu saja. Hah! Andai aku tau! Tapi sayangnya, aku terlalu bodoh untuk mengerti semua itu! Ya Robb.. hilangkan perasaan ini untuknya..'' lirih Alisa.
Matanya terpejam sesaat, ia mencoba menetralisir rasa sakit di hatinya. Jika memang ini yang di inginkan oleh pemuda itu, mengapa harus dirinya yang disebut dengan sayang?
Apa maksud dari ucapannya itu? Apakah ia hanya menganggap Alisa pelampiasan saja? Alisa tersenyum miris. Benar dugaannya, siapa yang mau dengan dirinya yang sudah janda?
Belum lagi sudah memiliki anak? Lelaki sepertinya, memang cocok untuk putrinya. Bagaimana mungkin ia bisa lupa? Jika ia hanya sosok yang dibutuhkan saat ia diperlukan??
''Aku harus mengakhiri semua ini secepat nya! Agar tidak terjadi kesalahpahaman antara aku dan dirinya! Aku memang tidak di takdir kan untuknya!'' seru Alisa pada dirinya sendiri.
Alisa mengusap buliran bening yang mengalir di sudut matanya. Ia menatap nanar pada pandangan yang tersuguhkan di depannya.
'Aku harus ikhlas!'
💕
__ADS_1
Ada yang tau? kenapa Mak Alisa bisa berubah?
TBC