Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Amplop


__ADS_3

Pemuda itu terus saja mengikuti Ira hingga Ira masuk ke dalam Mushola. Beruntung nya saat itu, Mushola sedang sepi.


Karena sudah tidak tahan untuk tidak menangis, Ia menangis sesegukan disana. Dada nya begitu sesak saat merasakan kasih sayang ayah nya.


''Ka-kakak... sa-sayang... ayah... kenapa.. baru sekarang Yah... hiks..''


''Aku nggak kuat... ayah... sampai kapan pun kakak tetap menyayangi ayah... kami tidak benci dengan ayah.. kami sayang ayah... hiks.. hiks..'' Ira menangis pilu sendirian disana.


Seorang pemuda yang berdiri mematung di belakang Ira juga ikut menangis. Tidak ingin gadis itu tau, ia memilih duduk di barisan saf lelaki.


Tepat di depan Ira. Ia mendengar semua raungan hati Ira. Ia pun ikut menangis. Sangat lama Ira menangis, hening. Hingga terdengar suara yang begitu dikenal olehnya mendekat.


''Kak... udah... jangan nangis.. Abang tau, kakak sayang sama ayah.. tapi apa yang harus kita perbuat jika ayah yang menyuruh kita untuk pergi...'' ucap Lana sembari mendekati Ira.


''Kenapa kamu disini?? Nggak masuk kelas??'' tanya Ira, membuat Lana terkekeh.


''Lah, kakak sendiri gimana? nggak masuk kelas??'' kekeh Lana.


Pemuda itu pun ikut terkekeh.


''Ishh.. ditanya malah balik tanya?! gimana sih?!'' cebik Ira.


Membuat Lana terkekeh. ''Tadi saat Abang masuk kelas, di cegat sama kak Risa. Jadi Abang bilang aja jika kakak sedang sakit perut dan sekarang di UKS. Makanya Abang menyusul kakak ke UKS.'' goda Lana dan mendapatkan tepukan di bok Ong Lana.


''Aduhh.. kok di tabok sih kak?! ishh..''


''Habis nya kamu bohong tau!'' sahut Ira sembari mencebik kan bibirnya lagi.


''Yeee.. udah di selamatkan biar nggak absen malah nggak terima! Gimana sih?! Taunya gitu, Abang bilangin aja kakak tadi nangis dan lari ke Mushola!'' gerutu Lana dan mendapatkan hadiah cubitan tuan krab di lengan nya.


''Adaawww.. sakit kakak!? Ishh.. habis dah badan ku yang kurus ini dicubit istri nya tuan krab! oh tuan krab.. bantulah aku.. tolonglah aku.. hiks..'' ujar Lana mendrama.


Sedangkan seseorang di balik pilar itu terkekeh. Lucu menurutnya sepasang saudara ini.


''Kak... amplop itu isi nya apa?? Duitkah?''


''Nggak tau!''


''Coba dibuka! mana tau duit! kan lumayan bisa buat beli baju seragam?? Mana Mak belum pulang lagi dari rumah sakit?? Mau ngomong pun nggak berani aku! Papi lagi? masa nggak nongol-nongol sih?!''


''Papi?? Papi siapa??'' beo seseorang di balik pilar.


''Papi sibuk bang.. pasti sekarang masih di kantor! Tapi yang kakak dengar dari ustad Dhanu, katanya adek selamat karena di tolong Papi. Kalau nggak...'' Ira memejamkan kedua matanya mengingat Annisa yang masih di rumah sakit.


''Iya sih. Eh tapi? Apakah Papi jadi ke Amerika??''


Amerika?? Siapa??

__ADS_1


Aku kan bakalan ke Inggris?? Lalu siapa yang ke Amerika? Siapa sebenarnya Papi mereka??


''Jadi Abang.. makanya Papi nggak bisa jengukin kita! Sudahlah! Toh, jika Papi nantinya ingat sama kita, pastilah dia kembali kan pada kita??'' ucap Ira menenangkan hati Lana.


Karena Ira tau, jika Lana dan Gilang sangat dekat. Sudah seperti anak dan ayah kandung. Benar kata Gilang, kasih sayang tidak butuh sedarah.


Walaupun berbeda, jika tulus pasti terlihat buktinya. Ira melamunkan perkata an Gilang beberapa waktu yang lalu.


''Kak...'' panggil Lana.


''Eh? Iya!''


''Ishh... dibuka atuh.. amplopnya.. mana tau banyak koin tuan krab! jarang-jarang loh.. kita dapat rejeki nomplok kayak begini?''


Ira mendelik mendengar perkataan Lana.


''Lupa kamu?! Jika sebelum ayah datang, siapa yang kasi kita rejeki nomplok, hem?!'' sewot Ira pada Lana.


''Hehehe.. iya, iya.. kakak ku sayang.. ayo dibuka! kita lihat berapa jumlahnya? Cukup nggak buat kita beli baju? Ntar sore kita usah ngaji dulu, beli perlengkapan sekolah dulu gimana??'' tanya Lana begitu antusias.


''Kita lihat nanti ya..'' sahut Ira.


Jika kurang, akan ku tambah! Kalian tenang saja! Apapun untuk mu Ra..


Mereka berdua sibuk membuka amplop dari ayah Emil. Saat di buka, Ira dan Lana mulut mereka menganga lebar.


Berbeda dengan Ira, ia menatap uang itu dengan cengo. Sangat lucu bila dilihat. Seseorang dibalik pilar cekikikan melihat tingkah Ira.


Ia sampai menutup mulutnya agar tertawa nya tidak terdengar oleh dua bersaudara itu.


''Da-dari mana ayah dapat uang sebanyak ini?? Ayah kan cuma kuli??'' tanya Ira pada Lana masih dengan uang itu dan membolak baliknya, juga di terawangan olehnya.


3 D. Dilihat, Diraba, Di terawang.


''Isshh.. kakak ini gimana sih?! Apa kakak selama ini, pernah tau seberapa besar gaji ayah walau hanya sebagai kuli?? Kakak lihat nggak proyek yang di pegang ayah sekarang! Disana pun ada Uak kak!''


Ira menoleh pada Lana, ''dari mana kamu tau jika disana Uak pun ada??'' selidik Ira.


''Hehehe... sebelum bertemu dengan ayah, Abang udah ketemu dulu sama Uak! Makanya ayah bisa tau jika kita tinggal disini, begitu!''


''Kapan??''


''Tiga hari yang lalu. Saat itu, Abang sedang main bola dengan teman sekelas Abang, eh nggak nyangka ketemu Uak! Uak bilang, jika nenek sedang sakit, makanya ayah pulang tapi bakalan balik lagi kok. Begitu kata Uak, kak!''


''Hemm.. begitu toh.. pantas saja ayah tau dimana keberadaan kita! Padahal jarak rumah ayah dan tempat tinggal kita jauh loh..''


''Jauh .. menurut kita! Tapi tidak dengan ayah! Selama berbulan-bulan ayah mencari kita, beliau begitu kurus setelah mengusir kita dari rumah. Belum lagi, Uak Ita, selalu saja memarahi ayah karena telah mengusir kita tanpa sepengetahuan nya! Ayah bagai orang gila, kak! mencari kita! siang malam nggak kenal lelah. Hujan deras tak di pedulikan nya! Yang penting ketika pulang Uak Ita, dapat kabar tentang keberadaan kita. Dan untuk uang ini.. Uak Ita yang menyimpan nya! Makanya bisa terkumpul begini banyak! Kata Uak, ayah dapat hukuman dari Uak Ita. Jika pulang nggak bawa kabar baik, maka ayah tidak boleh pulang...'' lirih Lana.

__ADS_1


Ia terisak ketika mendengar ucapan pak Daman tempo hari. Begitu juga dengan Ira. Mereka berdua terisak bersama.


Sungguh malang nasib kalian berdua.. andai.. aku bisa menjadi bagian dari kalian berdua..


''Semua itu sudah tidak ada guna nya bang.. kenapa baru sekarang? Disaat kita telah menemukan orang lain sebagai pengganti ayah??'' tanya Ira.


''Ada guna nya kok. Nih! sepuluh Jeti kak! uhuyyyyy.. Abang bisa belajar lagi! bisa sekolah lagi! aseeeekkk...'' sahut Lana.


''Ishh.. dasar mata duitan?!''


''Emang, duit punya mata ya kak?'' Ira memutar bola mata jengah dengan omongan Lana.


''Ya sudah ntar sore kita belanja, kita ajak ustad Dhanu aja, gimana??''


''Nggak ah! Kakak nggak mau ganggu ustad! Bukankah setiap sore ustad ngajar ngaji ya??'' tanya Ira.


''Lah.. terus kita sama siapa dung?? Jika nggak ada yang tua, kita bakal di kibulin kak!''


Ira terkekeh. '' Kok bisa kadal di kadalin??'' ejek Ira.


''Kibul, kakak! kibuuulll!! gimana sih?! nggak asik ah!'' sahut Lana. Ira dan seseorang dibalik pilar terkekeh mendengar ucapan Lana.


Lana terdiam sebentar memikirkan bagaimana baiknya, kemudian ia berbicara lagi.


''Kita kan lagi di rumah Allah ya.. minta aja Napa sama Allah, agar ada seseorang yang membantu kita??''


''Benar juga kamu bang! Ini otak kok jadi tokcer sih? Ini pasti karena koin tuan krab nih..'' goda Ira.


Membuat Lana tergelak. Setelah nya mereka wudhu dan sholat bersama.


Aku akan membantu kalian. Tapi siapa ya?? Ah ya, Ummi!


Setelah nya ia pun bergegas untuk berwudhu dan sholat bersama dengan mereka dua bersaudara.


💕


Maaf ya kemarin othor nggak update.


Kemarin othor sakit, MAAG othor kambuh.


Alhamdulillah hari ini udah mendingan.


Mohon doa nya dari pembaca setia ya.. agar othor cepat sehat seperti sedia kala. Dan bisa melanjutkan lagi cerita ini dan tentunya cerita tentang Ira dan.. rahasia...


Ntar aja deh.. 😄😄


TBC

__ADS_1


__ADS_2