Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Dirumah Gilang


__ADS_3

Mama Dewi yang mendengar Gilang menyebut nama Alisa dibuat keheranan.


Siapa sebenarnya perempuan ini? Setahunya, selama ini Gilang tidak pernah dekat dengan perempuan selain Omanya dan juga dirinya.


Ah, jika dipikir Ia bukanlah orang yang dekat dengan Gilang. Selama ini dirinya lebih banyak sibuk diluar dibandingkan dengan berada dirumah.


Karena Ia berfikir kebutuhan finansial yang lebih dibutuhkan oleh Gilang dari pada dirinya.


Dan ternyata selama ini pemikiran itu salah besar! Sebenarnya yang dibutuhkan oleh Gilang adalah kasih sayang bukan harta yang banyak.


Selama Omanya Gilang masih hidup, Gilang lebih dekat dengannya, ketimbang dirinya yang selalu sibuk bekerja.


Dan setelah Omanya meninggal, Gilang sedikit demi sedikit berubah tidak patuh lagi kepadanya seperti biasa ketika Oma masih hidup.


Gilang yang penurut, Gilang yang ceria, semua itu hilang lenyap seiring dengan meninggal nya Oma Diana.


Mama Dewi yang melihat perubahan besar terjadi pada Gilang sadar akan kesalahannya, maka dari itu Ia berhenti bekerja.


Tetapi sayang.. semuanya sudah terlambat. Dirinya terlambat mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan oleh Gilang.


Mama Dewi sadar akan kesalahannya, tapi apalah mau dikata nasi sudah menjadi bubur tidak mungkin bisa berubah menjadi nasi lagi.


Jika sudah menjadi bubur maka yang tersisa hanyalah inovasi, dari inovasi ini bubur bisa dibuat lebih enak dengan ditambah santan dan juga toping jadilah bubur yang enak.


Begitu juga yang sekarang dilakukan oleh Mama Dewi. Ia berusaha sebaik mungkin untuk menjalin hubungan baik dengan Gilang.


Hingga Ia berhasil, walaupun hanya sedikit itu tidak mengurangi semangat nya untuk lebih dekat lagi dengan Gilang. Putra nya.


Sikapnya yang dingin dan berwajah datar itu adalah buah dari hasil Mama Dewi yang selalu menyerahkan segala urusan kepada pembantu dirumahnya. Setiap kali Gilang memintanya Ia selalu mengatakan..


''Mama sudah menitipkannya sama bibi.''


Belum lagi ketika Gilang ingin meminta liburan, pastilah selalu ditolak dengan alasan bekerja.


Anak mana yang tak sakit hatinya jika Mamanya lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya.


Gilang merasa kesepian, dari situlah Ia mencari kesenangan dengan cara lain. Ia tak akan berhenti sebelum hatinya puas.


Gilang terus saja berulah sampai pembantu dirumahnya kewalahan mengatasi Gilang yang nakal.


Bagaimana tidak, setiap hari ada saja laporan yang didapat oleh pembantunya karena ulah nakal Gilang.


Tidak disekolah, diluar sekolah pun sama. Hingga suatu saat Gilang bertemu Papanya. Beliau melihat Gilang yang sedang tawuran.


Papa Gilang marah dan hampir saja menampar Gilang. Beruntungnya Gilang, Mama Dewi menghadang Papa Angga untuk tidak memukul nya.


Papa Angga marah besar kepada Mama Dewi. Ia menyalahkan semuanya kepada mama Dewi.


Mama Dewi tak terima dengan perlakuan Papa Angga, semalaman mereka ribut karena Gilang.


Gilang yang mendengarnya tidak ambil pusing. Bodoh amat jika mereka mau bertengkar atau tidak.


Toh, selama ini mereka jarang memperhatikan Gilang. Dan sekarang, ketika Gilang mencari masalah, mereka salah salahan, saling menuduh hingga hampir saja membuat rumah tangga mereka hancur.


Bukannya Gilang tidak prihatin dengan keadaan orang tua nya saat itu, hanya saja hatinya terlalu sakit melihat mereka yang selalu saja mengabaikan nya, Gilang kecewa. Itu saja.


Setelah pertengkaran hebat mereka berdamai, merenungi apa sebenarnya yang menyebabkan Gilang jadi berubah.


Dari sana mereka sadar, bahwa tak selamanya harta akan membawa kebahagiaan bagi seorang anak, tapi kebersamaan ketika dirumah itulah bahagia yang sesungguhnya.


Singkat cerita, agar Gilang tidak kembali berulah Mama Dewi berhenti dari pekerjaannya.


Demi mengurusi putra semata wayangnya dan berhasil! Walaupun sudah terlambat tidak masalah. Yang penting Ia sudah memulainya.


Dan Gilang pun menyadari akan perubahan yang terjadi pada Mamanya. Mamanya yang dulu sering keluar pergi pagi, pulang ketika Gilang sudah tidur, sekarang Gilang bisa melihat Mama nya ketika Ia pulang dari sekolah.


Pernah suatu ketika Mama Dewi menunggu Gilang pulang, sampai Ia tertidur di sofa dengan posisi terduduk.

__ADS_1


Gilang pada saat itu baru saja kembali dari tempat tongkrongan nya, melihat Mama Dewi menjadi iba.


Gilang mendatangi Mama Dewi yang tertidur sambil duduk. Gilang memandang wajah Mamanya yang begitu lelah yang terlihat sendu.


Bukannya Gilang tak tau kalau selama ini Mama Dewi berusaha membujuknya untuk tidak tawuran, dan pulang larut.


Hanya saja rasa kecewa sulit untuk dihilangkan, rasa sakit itu masih saja bercokol dihatinya. Gilang tidak ingin seperti ini tapi keadaan lah yang memaksanya.


Gilang menyentuh pipi Mamanya hingga Mama Dewi terbangun, Gilang yang melihat Mama Dewi sudah terbangun beranjak pergi meninggalkan orang tua yang melahirkan dirinya dengan wajah sendu.


Sedih sekali rasanya diabaikan anak sendiri tanpa bertegur sapa, Ia meninggalkan nya seorang diri padahal dirinya sudah menunggu hingga larut.


Tapi Gilang tetaplah Gilang jika rasa kecewa itu masih ada maka Ia tidak akan melihat walau hanya sebentar saja. Tapi jika dia sudah menyukai maka sulit untuk melupakannya.


Itulah Gilang. Ia hanya kecewa dengan keadaan bukan pada orang yang telah melahirkannya.


...~Sesibuk apapun kita ketika bekerja maka ingatlah dirumah, ada yang sudah menunggu kita. Rumah adalah tempat untuk kita kembali.~...


Mama Dewi tersadar dari lamunannya saat mendengar Gilang memanggil nama Alisa. Walaupun cuma gumaman tapi Mama Dewi tetap bisa mendengar dengan jelas.


Mama Dewi berpikir, apakah sebaiknya Ia bertemu dengan Alisa? Ah, mana mungkin? Jangankan untuk mencarinya, melihatnya saja tidak pernah. Apalagi rumahnya.


Mama Dewi pusing sendiri memikirkan Gilang yang sedang demam, Gilang hanya ingin makan masakan Alisa.


Siapa sih Alisa ini? Kok bisa secepat itu Ia bisa akrab dengan Gilang sampai sampai Gilang hanya ingin makan hanya masakan Alisa saja.


Mama Dewi menghela nafasnya.


Saat Mama Dewi akan beranjak pergi ke luar, tiba tiba mama Dewi mendengar lagi kalau Gilang sangat menginginkan Alisa, hanya Alisa saja bukan orang lain.


Mama Dewi yang mendengar jadi panas sendiri. Baru sehari Gilang demam, sudah memanggil Alisa, bagaimana jika seminggu??


Kenapa harus Alisa?? Alisa, Alisa dan Alisa saja! Mama Dewi menjadi geram hingga tanpa sadar mama Dewi mendatangi Gilang yang sedang tertidur dengan kening penuh keringat.


''Apa sih yang kamu inginkan Gilang? Mengapa kamu jadi seperti ini? Apa kesalahan Mama padamu Gilang ? Kian tahun Mama selalu memperhatikan mu! Tapi apa balasan mu? Kamu tetap saja dingin Sama Mama..'' gerutu Mama Dewi dengan terisak.


Tapi yang terdengar dimulut Gilang tetaplah sama. Satu nama yang membuat Mama Dewi langsung saja tidak menyukai nya.


Mama Dewi geram, akhirnya meninggalkan Gilang dalam keadaan demam.


Hatinya sakit ketika melihat Gilang sakit, tapi Ia tak bisa berbuat apapun karena yang diinginkan Gilang saat ini hanyalah Alisa.


''Maafkan Mama, Nak..''


''Nyonya... apa den Gilang sudah bangun?'' Bik Inah yang sedang berdiri dibawah melihat Mama Dewi yang sedang terisak menuruni tangga.


''Belum Bik... sebaiknya Bibik temani Gilang sebentar, saya ada keperluan diluar tidak akan lama hanya sebentar kok,'' ucapnya sambil berjalan menuju kamarnya.


''Baik Nyonya..'' Bik Inah pun berjalan keatas dimana kamar Gilang berada. Ia membuka pintu dan melihat Gilang sudah terkapar dilantai.


''Astagfirullah adeeeennn... ya Allah.. Aden mau kemana.. dan kenapa kok bisa terjatuh seperti ini?'' ucap Bik Inah yang khawatir melihat keadaan Gilang.


Ditengah rasa pusing yang melanda kepalanya Gilang mendengar ada seseorang yang datang ke kamarnya.


Niat hati ingin bangun dan berdiri tapi kepalanya terasa berputar, ia pun terjatuh tersungkur dilantai. Hingga Ia mendengar Bik Inah menjerit melihatnya terjatuh.


''Bik.. bantu Gilang ke kamar mandi..'' lirih Gilang dengan menahan rasa sakit dikepalanya.


''Aden mau ngapain kekamar mandi? Sini Bibik bantu! Ya Allah den... kok bisa jatuh sih?''


''Gilang mau buang air kecil Bik..''


''Baiklah ayo.. Aden sanggup berdiri kan? Atau Bibik panggil mang Jana saja buat bantuin Aden ya?''


''Nggak usah Bik.. antar kan saja Gilang sampai kamar mandi.''


''Iya, ayo.. sini Bibik pegang tangan Aden..''

__ADS_1


Bik Inah memapah Gilang hingga kekamar mandi. Gilang yang sudah merasa tak tahan, langsung saja masuk ke kamar mandi setelah di papah oleh Bik Inah walau kepalanya terasa berat, namun Ia tetap memaksakannya.


Setelah selesai dari kamar mandi, Gilang kembali ke tempat tidur nya dengan dipapah bik Inah.


''Aden mau makan? Biar Bibik suapin ya?''


Gilang menggeleng.


''Kalau Aden nggak makan bagaimana Aden bisa sembuh?''


''Gilang nggak selera makan Bik..''


''Paksa atuh den.. biar Aden ada tenaganya, Bibik ambilkan ya?''


Gilang tetap menggeleng.


''Terus, Aden mau apa? Biar Bibik bisa siapkan bilang aja, Aden pingin makan apa?''


''Telur balado buatan Mbak Alisa, Bik..''


''Hah?'' Bibik terkejut mendengarnya.


''Gilang hanya mau makan masakan yang dibuat Mbak Alisa, Bik.. nggak mau yang lain..''


''Baiklah jika itu yang Aden inginkan. Bolehkah Bibik tau siapa itu Alisa? Dan dimana rumahnya? Biar bibik kesana,'' sengaja Bik Inah membujuk Gilang untuk tau dimana rumah Alisa.


karena jika tidak dituruti, maka Gilang akan tambah parah sakitnya. Karena yang lebih tau tentang Gilang hanyalah Oma dan juga Bik Inah.


Gilang menyebutkan dimana tempat tinggal Alisa. Setelah itu Bik Inah bergegas pergi kesana.


Saat ingin membuka pintu, Bik Inah terkejut melihat Mama Dewi juga ingin membuka pintu.


Mama Dewi yang melihatnya pun jadi penasaran. Nau kemana Bik Inah dengan pakaian yang sudah rapi seperti ingin pergi.


''Mau kemana Bik? ''


'' Eh Nyonya! Saya mau kepasar membeli ayam. Karna den Gilang katanya ingin makan ayam semur dan kebetulan stok ayam dikulkas sudah habis Nya...''


''Ho.. ya sudah, saya pergi dulu ya Bu, mau kekantor Papa nya Gilang. setelah belanja langsung pulang ya Buk. Jangan lama lama karena saya akan pulang malam bersama Papanya Gilang, kasihan kan Gilang dia belum sembuh.''


''Baik Nya..''


Bik Inah yang sudah diwanti-wanti oleh Gilang untuk tidak memberitahukan kemana dirinya akan pergi jika ditanya oleh Mamanya, bilang saja mau kepasar beli ayam.


Bik Inah mengiyakan dan tepat seperti dugaan Gilang, kalau Mama Dewi akan bertanya mau kemana.


Bik Inah menyetop taksi didepan rumahnya, karena kebetulan taksi itu lewat. Biasanya tak ada taksi yang bisa masuk kesana karena itu kawasan perumahan elit.


Mungkin ada penumpang yang diantarkan ke alamat itu makanya ada taksi disana.


Hampir satu jam lebih Bik Inah didalam taksi. Ia celingak-celinguk melihat luar jendela. Apakah jalan yang dilewatinya sudah benar atau belum.


Setelah taksi berhenti di alamat yang dituju, Bik Inah turun dan melihat ada seorang wanita yang sedang menjemur pakaian. Ia berjalan kesana untuk bertanya dimana rumah Alisa.


''Assalamualaikum Bu.. mau nanya? Yang mana ya rumah Mbak Alisa?'' tanya bik Inah


''Ya.. dengan saya sendiri! Ada apa ya Bu?''


Deg!


Ya Allah...


💕


Ikutin terus ya.. Semoga klean nggak bosan nunggunya!


TBC

__ADS_1


__ADS_2