Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Resepsi pernikahan Andi dan Ema


__ADS_3

''Mulai sekarang, kalian berdua sudah sah menjadi suami istri. Semoga sakinah mawadah warahmah..'' ucap Alisa pada Ema yang masih berpelukan dengan Andi.


Ema mengurai pelukan nya. Ia menatap Alisa dengan mata mengembun lagi. ''Terimakasih sayang ku! Hiks .. kamu mengabulkan impian ku selama ini. Banyak yang mencoba mendekatiku, tapi mereka selalu lari saat aku ingin mengajak menikah. Tapi berbeda dengan Bang Andi. Dia pria yang tulus menerima ku apa adanya. Walau dia tau, usia kami terpaut jauh. Kamu tau Lis? Baru kemarin kami ingin mengatakannya pada kalian. Eh, nggak taunya kalian berdua sudah memberikan kejutan seperti ini. Hiks.. terimakasih saudaraku.. Kamu yang terbaik!'' imbuh Ema dengan memeluk Alisa begitu erat.


Andi dan Gilang tersenyum. ''Selamat Ema, jangan lupa tagihannya!'' goda Gilang.


''Apa?!'' seru Ema, Alisa dan Gilang semakin tertawa.


Andi terkekeh, ''Udah Dek.. usah dengarkan apa kata Pak Bos! Dia hanya bercanda. Semua biaya pernikahan ini, murni uang ku sendiri yang ku tabung selama lima tahun bekerja dengan nya. Walaupun aku jauh dari usahanya, tapi aku tetap memantau perkembangan itu dari Mbak Alisa. Dan sekarang Bos ku Mbak Alisa, bukan anda lagi Bos!'' goda Andi dengan sedikit kekehan di bibirnya.


Gilang memutar bola mata malas. ''Ya, ya, terserah pada mu lah Bro!''


Semua yang ada disana tertawa. Tapi tidak dengan Ema. Melihat Ema terdiam, Andi menyentuh tangan nya.


''Ada apa?''


''Jika memang semua ini dari uangmu, lantas kenapa tuan Gilang dan Alisa yang menyiapkan nya?'' tanya Ema.


Ia masih penasaran dengan semua ini. Andi terkekeh. Ia menatap Gilang, Gilang mengangguk.


''Bos Gilang sengaja menyiapkan ini semua untuk pernikahan ku, jika suatu saat aku mendapat istri sama seperti mbak Alisa. Selama aku belum mendapatkan calon ku, maka uang itu masih Bos Gilang yang memegangnya. Hingga hari ini. Aku aja terkejut saat melihat mahar untukmu. Mahar yang sama aku siapkan untuk istriku kelak. Dan ya, Bos Gilang mewujudkan nya. Kamu sama persis seperti mbak Alisa. Tapi aku tidak menyukai beliau ya, jangan salah paham! hanya ingin mendapatkan yang sama. Tidak salah kan??'' jelas Andi pada Ema.


Alisa terkekeh kecil, Gilang melotot melihat Andi. ''Apa?? jangan salahkan aku, jika aku menyukai sifat yang ada pada istri Bos!'' celutuk Andi, saat melihat mata Gilang menatapnya dengan tajam.


Alisa tertawa lagi. ''Udah ih! Ayo, Andi! Kamu harus bersiap-siap. Kamu juga Ema. Pakaian adat Aceh sudah menunggu mu saat ini. Kami ingin mengantar mu, okey?''


Ema tersenyum dan mengangguk.


Setelah itu, mereka semua mulai bersiap. Karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang.


Satu jam kemudian, acara penyambutan pengantin pria dengan adat Aceh pun sedang berlangsung.


Sama halnya seperti Alisa dulu, Ema pun seperti itu. Banyak prosesi yang mereka ikuti dengan adat Aceh itu.


Ema sangat cantik, begitu juga dengan Andi. Wajah putih mulus itu tidak seperti dulu. Yang masih banyak dengan jerawatnya. Kini telah berubah menjadi mulus dan putih.


Selama berada di Jakarta, Andi sering mengobati kulitnya itu. Andi rela harus membayar mahal, asalkan kulitnya sama putihnya seperti Gilang.

__ADS_1


Berharap, akan ada seseorang nanti yang nyangkut dengan nya. Begitu pikir Andi.


Saat ini Acara menyerahkan sang mempelai pria telah selesai. Gilang dan Alisa sedang duduk di meja khusus yang dibuat untuk keluarga mereka oleh Pak Wawan kemarin sore.


Saat ini mereka sedang makan bersama. Dengan hidangan memenuhi isi meja. Lana bersorak senang melihat isi meja itu yang ternyata ada jengkol dan ikan asinnya.


''Uhuuyy.. jengkol euuyy!!'' celutuk nya.


Membuat mereka yang satu meja dengan nya tertawa melihat tingkah Lana. Alisa pun sama.


Mereka bercakap-cakap ria hingga menjelang dhuhur. Tiba waktu dhuhur, mereka berpamitan pada keluarga Ema dan Andi.


Untuk malam ini, keluarga Andi akan menginap dirumah Ema. Karena besok, mereka sudah balik ke Medan.


Sedangkan Alisa, Gilang dan pengantin baru itu, keesokan harinya. Tinggal lah keluarga yang sedang berbahagia itu.


Alisa ingin tinggal, tapi Gilang melarang nya. Karena Alisa sedang hamil saat ini, membuat Gilang begitu posesif padanya.


Walau begitu, Alisa tetap menurut.


Sedikit cerita tentang Ema.


Namun, itu hanya sebentar. Saat Ema masuk kuliah, keuangan mereka mulai menipis. Belum lagi, Abang tertua Ema mengalami kecelakaan hingga membutuhkan biaya yang begitu banyak.


Pak Wawan terpaksa harus menjual usahanya itu demi pengobatan sang putra. Dan saat itupun, Ema terpaksa harus kuliah sambil bekerja demi biaya kuliahnya.


Beruntung nya Ema, pada semester kedua, Ema mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jakarta.


Ema dengan sangat senang menerima hal itu. Disana pun ia tidak diam saja menunggu uang dari kedua orang tuanya.


Ema tau diri. Jika saat ini kedua orang tuanya sudah tidak memiliki apapun selain tanah sepetak dan sebuah rumah tua yang ia beli dari hasil penjualan mobil bekas miliknya


Hingga Ema tamat kuliah pun, ia jarang sekali pulang ke kampung halaman. Ia dengan terpaksa bekerja di rantau orang, demi mengubah nasibnya.


Sekali lagi, seakan takdir berpihak padanya. Setelah ia tamat kuliah ia melamar kerja di kantor cabang Bhaskara group.


Ia melamar disana sebagai sekretaris direktur cabang itu. Hingga lima tahun lamanya. Dan penghasilannya iyu ia bagi dua.

__ADS_1


Satu untuk keperluan nya dan satu lagi untuk keperluan kedua orang tuanya. Walau gaji Ema lumayan besar bagi seorang sekretaris, Ema tetap tidak sombong.


Ia tetap bermurah hati membantu Abang tertuanya untuk menikah saat itu. Hingga kini, abangnya itu begitu menyayangi Ema.


Mungkin tanpa Ema, abangnya itu tidak akan bisa menikah karena tidak punya uang.


Untuk kisah asmara Ema sendiri, ia sudah berulang kali menjalin hubungan dengan banyak lelaki.


Namun tidak cocok. Ada saja masalahnya. Ya.. Mungkin itulah jalan takdir Ema tadi. Ia harus dijauhkan dari pemuda-pemuda berandal dan disiapkan untuk pemuda mulia seperti Andi.


Kehidupan Ema dan Andi sama persis. Andi juga menjadi tulang punggung bagi keluarganya.


Dari SMP sampai SMA Andi berusaha mencari biaya sendiri karena terlahir dari kalangan tidak mampu.


Tapi itu tidak menyurutkan semangat Andi, sampai harus kecelakaan karena di keroyok oleh para preman jalan yang sengaja meminta uang padanya.


Beruntung nya saat itu, ada Gilang yang menolongnya. Jika tidak, Andi pasti sudah tinggal nama.


Itulah yang dinamakan takdir. Ia dipertemukan dengan Gilang disaat nafas terakhirnya ia berdoa.


Berharap akan ada orang baik yang menolongnya dan membantunya dari masalah belitan ekonomi.


Pemuda itu adalah Gilang Bhaskara. Pemilik hotel dan mall yang tersebar di daerah kota Medan.


Tidak hanya di Medan, di Jakarta, Bogor, Bandung, Depok, dan Padang. Sampai saat ini, Andi masih betah bekerja dengan Gilang.


Ia tidak mau pindah kelain tempat. Karena Gilang bukan hanya sekedar penolong baginya. Gilang merupakan sahabat sekaligus saudara bagi nya.


Ya, Gilang dan Alisa adalah orang yang sama yang telah menolong mereka saat ini. Tidak dulu tidak juga sekarang.


Selamat untuk Andi dan Ema. Yang memilki sahabat rasa saudara seperti Alisa dan Gilang.


💕💕💕💕💕


Sedikit lagi...


Pantengin terus... hihihi..

__ADS_1


Like dan komen jangan lupa! Itu yang sekali othor tunggu! 😘😘


__ADS_2