
''Mama!! Papa!!'' pekik Vita begitu keras, membuat dua orang di dalam ruangan itu terkejut.
Jantung mereka berdua bertalu-talu. Rasanya ingin lompat keluar.
Deg, deg, deg.
''Sayang!'' panggil Gilang.
Alisa menoleh dan tersenyum. ''Aku tau.. ya sudah! ingat pesan ku ya? Hargai Vita seperti kamu menghargai ku! Dia juga seorang perempuan sama seperti ku! Dia pasti gadis yang baik. Terlepas dari masa lalu mu seperti apa, yang jelas Vita adalah istri sah mu Papi.. Aku pergi! Jaga kesehatan! Dan jangan pernah meninggalkan sholat dalam keadaan apapun. Jika kamu merindukan ku, sholatlah! Karena dengan kamu sholat, kamu bisa menyampaikan rasa rindu mu pada ku melalui doamu kepada Allah. Kita akan bertemu disaat waktu yang memang sudah di tentukan. Untuk Abang.. tenang saja. Aku akan berusaha menjelaskan padanya. Aku pergi sayangku, cintaku, suami masa depanku, Sampai kapan pun hanya ada kamu selalu.. Assalamualaikum sayang..''
Cup.
Cup.
Setelahnya Alisa pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Meninggalkan seseorang tertegun karena perkataan yang ia sampaikan dan juga kecupan terakhir nya.
Gilang tersadar saat Mama dan Papa nya menyentuh tangan Gilang. Gilang menoleh dan tersenyum.
Begitu juga dengan Vita. Ia juga tersenyum menatap Gilang. Sedang Gilang tersenyum tipis.
Bahkan sangat tipis. Tapi Vita tau. Terimakasih Mbak.. karena mu, Gilang akhirnya mau tersenyum kembali padaku.. Aku berjanji, jika tugasku sudah selesai, maka aku akan menyerahkan nya pada mu Mbak.. karena hanya kamu yang bisa dan pantas bersama nya. Sedangkan aku? Sudah ada seseorang yang menunggu ku disana. Gumam Vita dalam hati sembari tersenyum tipis.
Setelah keluar dari kamar Gilang, kini Alisa menuju Pak Kosim yang duduk di kursi tunggu.
Melihat Alisa, Pak Kosim bangkit dari duduknya. ''Neng..''
''Duduk, Pak! Ada yang ingin saya sampaikan.'' imbuhnya sembari duduk dan membuka dompetnya.
Pak Kosim masih melihat apa yang akan dilakukan oleh istri majikan nya ini. Alisa mengeluarkan dua buah kartu dan di serahkan kepada Pak Kosim.
''Pak.. titip ini pada Gilang ya? Saya tidak bisa menerima ini. Karena kartu ini akan melukai hati putra saya.. jika Gilang bertanya, katakan padanya jika kartu ini Lana lah yang mengembalikan nya kepada Bapak. Bisakan, Pak?'' tanya Alisa sembari menyodorkan kartu itu di tangan Pak Kosim.
Pak Kosim memilih diam, namun tetap menerima kartu dari tangan Alisa. ''Terimakasih Pak! Saya permisi.'' Imbuhnya lagi.
Pak Kosim masih mematung melihat dua kartu itu. ''Tunggu Neng!'' cegat pak Kosim.
Alisa berbalik, ''Jika neng Alisa butuh bantuan apapun, jangan segan-segan beritahu Bapak ya?'' ucap Pak Kosim dengan wajah sendunya.
__ADS_1
''Tentu. Rencananya sih setelah Lana keluar dari rumah sakit, saya ingin menjual perhiasan saya untuk modal usaha. Bapak tau nggak, kira-kira dimana bisa jual perhiasan yang paling aman juga harga emas nya itu dihargai dengan sepantasnya. Saya orang baru disini, Pak! Takutnya mereka menipu saya. Karena uang itu akan saya jadikan modal untuk buka toko kue saya, Pak.'' sahut Alisa. Sembari ia menjelaskan niat dan tujuannya pada Pak Kosim.
Pak Kosim tersenyum. ''Ya, neng hubungi aja Bapak, kapan pun Neng ingin pergi kesana ya?'' imbuh Pak Kosim dengan sedikit rasa senang dihatinya.
''Terimakasih Pak!'' Setelah nya Alisa berlalu dan menghilang dari ruangan Gilang.
Pak Kosim menghela nafasnya. ''Akan Bapak bicarakan hal ini dengan den Gilang Neng.. karena hanya dia yang tau apa dan seperti apa nantinya.'' Gumam Pak Kosim, ia menyimpan dua kartu itu ke saku celana nya.
Sedangkan di ruangan VVIP, Lana sedang istirahat ditemani Raga dan Abi Hendra. Alisa masuk setelah mengucapkan salam.
''Sudah selesai?'' tanya Abi Hendra.
Alisa mengangguk dengan wajah datar. Untuk menutupi rasa sakit di hatinya saat melihat sang putra sedang terlelap dengan selang oksigen dan Jarum infus menancap lagi di tangan nya.
''Aku keluar sebentar ya? Ada keperluan mendadak.'' Ucap Abi Hendra.
Alisa dan Raga mengangguk. Setelah Abi Hendra pergi, kini Raga menatap Alisa. ''Mak.. maaf jika tadi Raga berbicara seperti itu.. Raga nggak bermaksud, hanya saja tadi Lana..'' ucapnya terputus ketika mengingat ucapan Lana tadi yang begitu menyayat hatinya.
Alisa menoleh dan tersenyum. ''Tak apa Nak.. apa yang Abang ceritakan pada mu??'' tanya Alisa
Flashback
''Astaghfirullah!! Kamu berdarah bang! Ayo Abang bantu!'' ucap Raga saat melihat Lana jatuh terkapar tak berdaya di lantai.
''Bang.. Lana nggak sanggup.. kita pergi Bang.. uhuk.. uhuk..'' sahut Lana, dengan terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar lagi dari mulutnya
Raga semakin panik. ''Ya Allah.. Dek! Ayo, Abang cari kamar lain untukmu ya?''
''Uhukk.. hiks.. Lana nggak sanggup Bang.. uhuk .. Lana ingin Papi.. Lana ingin Papi Gilang.. tapi kenapa Papi.. uhukk.. kenapa harus menikah dengan orang lain Bang.. kenapa?? Uhuk.. hiks..'' ujar Lana lagi semakin membuat hati Raga begitu sakit.
Hingga tanpa sadar, air mata itu mengalir di pipi nya. ''Hiks, sabar.. semua ini sudah menjadi takdirnya .. kita bisa apa? hem? hiks..'' sahut Raga sembari terisak.
''Lana ingin Papi.. hanya Papi Bang.. bukan yang lain.. ingin Papi... Papi Gilang... uhuk.. uhuk..'' Lana terbatuk-batuk saat ia terus berusaha menyebut nama Gilang.
Raga tak tahan, akhir nya membopong Lana dan memanggil dokter dengan cara berteriak keras.
Dokter terkejut saat melihat pasien yang di katakan koma, kini telah sadar. Ini suatu keajaiban. Pikirnya.
__ADS_1
Raga segera meletakkan Lana di bangkar. Setelah nya ia ingin pergi menemui orang yang bernama Papi Gilang itu.
Tapi belum sempat Raga pergi, tangan Lana mencekal tangannya. ''Jangan pergi Papi.. Abang butuh Papi.. Abang sayang Papi.. jangan tinggalkan Abang Pi.. Abang mohon.. uhuk.. uhuk..'' Raga yang mendengar itu semakin teriris hatinya.
Begitu istimewanya sosok Papi Gilang ini bagi Lana. Namun, mengapa tadi sekilas Raga mendengar jika ia menolak kehadiran Gilang? Dan berada di satu ruangan yang sama?? Pikir Raga.
Dokter yang mendengar nya pun terenyuh. Lagi, dibawah alam sadarnya Lana bergumam memanggil nama Gilang.
''Abang sayang Papi .. jangan Pergi Pi . Abang nggak sanggup... Abang mohon Pi.. Abang hanya kecewa.. bukan benci sama Papi.. jangan tinggalkan Abang Pi .. Abang mohon.. Abang butuh Papi.. Papi.. jangan pergi.. Abang sayang Papi Gilang.. Papi.. jangan pergi...'' Lagi, suara lirih itu begitu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengar nya.
Raga semakin menangis melihat kerapuhan seorang Maulana Akbar. Diluar keras seperti batu, tapi di dalam?? Ia begitu rapuh.
Bahkan saking rapuhnya, ia tak sanggup kehilangan orang yang begitu ia sayangi.
Flashback off
Setelah mendengar cerita Raga, Alisa meraung menangis pilu memeluk Lana. Lana yang sudah sedari tadi sadar pun ikut menangis.
''A-abang mau Papi, Mak .. Abang mau Papi.. jangan biarkan Papi pergi Mak.. Abang mau Papi.. bukan yang lain..'' lirih Lana begitu pelan.
Membuat Alisa dan Raga semakin menangis. Mereka memeluk Lana dengan erat. Tak disangka, Lana menutupi kerapuhan dirinya di depan Gilang.
Sengaja, agar Gilang bisa kembali ke pada takdirnya. Namun, hatinya?? Ia begitu terluka dan rapuh.
Mulut berbicara lain, tapi hati menginginkan nya.
Yang ia inginkan hanya Gilang bukan yang lain. Papi nya. Papi Gilang Bhaskara. Lalu bagaimana dengan Gilang??
💕
Nyesek banget loh nulis part ini ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Nggak sanggup othor! ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Setelah ini lembaran baru ya? 🤧🤧
TBC
__ADS_1