Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Pelabuhan Terakhir ku ( Kamu bukan pembawa sial ) The End


__ADS_3

Dua hari setelah pertemuan antara Gilang dan Alisa dengan Pak Imran. Saat ini, Alisa sedang menghadiri acara pembukaan cabang mall Alisa yang ada di bagian pinggir kota Medan.


Bertempat di jalan Marelan raya pasar 1 Marelan. ( kalau ada orang Medan yang baca ini, jangan mencibir othor. Suka-suka othor ingin tulis dimana tempat nya 🤣🤣✌️)


Acara pembukaan mall cabang ini dihadiri oleh Gilang juga, selalu pemilik sah dulunya sebelum berpindah tanah pada Alisa.


Alisa sebenarnya tidak mau. Tapi Gilang tetap memaksa. Karena mall itu merupakan maharnya untuk sang istri tercinta yang sengaja ia berikan pada Alisa saat Alisa sudah menjadi itri sah nya ketika mereka menikah.


Dan ya, itu terwujud.


Selesai dengan acara peresmian itu, Alisa dan Gilang pergi berdua tanpa kehadiran anak-anak mereka.


Ingin melepaskan penat dari pekerjaan dan menjalani masa pacaran setelah menikah. Alisa terkekeh saat Gilang mengatakan itu.


Cukup satu jam saja mereka menempuh perjalanan untuk menuju ke suatu tempat yang begitu asri jika dipandang mata ketika siang hari.


Tiba disana, mereka berdua masuk setelah membeli tiket masuk terdahulu untuk masuk ke kawasan itu.


Mereka duduk lesehan salah satu pondok di tengah sawah yang sedang menguning. Udara terik tidak mengurangi semangat para pengunjung untuk mendatangi tempat itu.


Gilang dan Alisa tersenyum saat pesanan ayam bakar mereka telah datang sesaat sebelum mereka menuju pondok tadi.


Gilang sengaja memesan menu ayam bakar yang ia dan Alisa sukai. ''Ayam bakar?? Bukannya tadi kamu pesan ikan bakar ya?''


Gilang terkekeh, ''Ada. Tuh, sedang dibawa juga kemari. Apapun permintaan mu aku turuti Ratuku!'' imbuhnya sambil menundukkan kepala sedikit.


Alisa tertawa.


Setelahnya, mereka makan siang yang sudah kesiangan itu. Mereka keluar dari acara peresmian pukul dua belas tengah hari.


Sebelum pergi ke tempat itu, mereka sempat singgah di mesjid untuk melakukan sholat dhuhur terlebih dahulu.

__ADS_1


Alisa dan Gilang makan sambil bersuap-suapan. Saling memberi apa yang mereka punya. Jika salah satu sudut bibir mereka kotor, maka salah satu dari mereka membersihkan nya.


Makan sambil tertawa. Hati merasa bahagia. Apalagi yang dicari sekarang. Sudah tak ada lagi.


Tempat terakhir ia berlabuh sudah berlayar menuju laut lepas. Hanya tinggal mereka di jemput di depan pintu saja untuk masuk ke surga yang sudah disiapkan untuk pasangan seperti mereka.


Kenyang makan, mereka berdua duduk dengan tubuh saling berdempetan. Gilang memeluk tubuh Alisa dari belakang.


''Sayang...''


''Hem??''


''Aku bahagia sekali bisa pergi berdua denganmu seperti ini. Tanpa ada anak-anak. Ck! kalau mereka ada, pastilah aku tidak bisa memelukmu seperti ini. Jangankan seperti ini, ketika tidur saja curi-curi start kalau tidak di salip oleh mereka!'' gerutu Gilang yang membuat Alisa tertawa.


''Itu kan kemauan kamu ? Kamu sangat ingin memiliki anak dariku? Dan lihatlah! Apa yang kamu inginkan terkabul!'' ucap Alisa sambil terkekeh lagi.


Gilang pun ikut terkekeh. ''Ya, aku bahagia sudah memiliki enam orang anak dari mu. Walaupun salah satunya bukanlah darah daging mu, tapi darahmu mengalir dalam tubuhnya. Aku yakin, Rayyan pasti tidak akan kecewa jika suatu saat ia tau kalau kamu bukanlah Mami kandungnya. Aku percaya, ia akan menerima apapun tentang mu. Aku tau seperti apa putra sulung ku itu..'' kata Gilang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Alisa yang semakin berisi setelah selesai menyusui Algi dan Nara.


''Aku akan menerima apapun yang akan Rayyan katakan nantinya. Bagiku, walaupun Rayyan bukan putra yang terlahir dari rahimku. Aku akan tetap menyayanginya seperti aku menyayangi anak-anak kita yang lainnya. Jauh sebelum Algi dan Nara hadir, Rayyan lah putraku! Putra pertama mu! Yang aku susui dan ku urus hingga sekarang. Aku menyayanginya lebih dari yang dia tau. Aku sangat menyayanginya Gi..'' kata Alisa semakin mengeratkan tangannya pada tangan kekar Gilang yang sudah membelit tubuhnya.


''Ya.. aku juga sangat menyayanginya. Ia putra pertama ku. Walaupun ia bukan terlahir dari rahimmu, tapi ia tetaplah putraku. Darah daging ku. Terimakasih sayang.. karena kehadiran mu menjadi pelengkap dalam hidupku. Aku beruntung sekali bisa memiliki istri sepertimu..'' imbuh Gilang, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh chubby Alisa.


''Hanya kamu Gi .. yang mengatakan beruntung.. tapi tidak dengan mantan suamiku. Ia selalu mengatakan, jika aku ini wanita pembawa sial! Wanita sial yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan nya hingga menimbulkan Masalah yang begitu pelik. Pada akhirnya.. aku lah yang menjadi sasaran kemarahan atas apa yang tidak pernah aku perbuat. Aku pembawa sial GI.. darimana nya kamu bilang beruntung? Dari segi apa kamu menganggapku hingga menjadi sebuah keberuntungan untukmu??''


Gilang menatap lurus ke depan. Tapi pelukan dari tubuh Alisa semakin erat saja. Alisa tau itu, kata-kata yang baru saja ia ucapkan telah menyinggung perasaan sang pujaan hati.


Aneh bukan? Seharusnya, Alisa kan yang seharusnya tersinggung karena ucapannya itu??


Alisa terkekeh, ia membalas pelukan Gilang tak kalah erat dari itu. Hingga tubuh Gilang semakin rapat dengan tubuhnya.


Rasa nyaman saat berada di pelukan Gilang begitu menenangkan hatinya. Ia semakin nyaman saat Gilang juga merapatkan tubuhnya pada Alisa.

__ADS_1


''Dengar kan sayang! Kamu itu sesuatu yang sangat istimewa bagiku. Karena mu, aku tau arti menghormati orang tua, menghargai yang lebih tua dan memahami banyak hal yang sering terlewat yang tidak pernah aku ingin lihat sama sekali. Kamu istimewa sayang! Kamu sangat istimewa! Jangan katakan jika kamu pembawa sial seperti yang mantan suami mu katakan! Kamu bukan pembawa sial sayang. Kamu keberuntungan ku! Karena mu lah aku kembali menjadi lebih baik lagi. Apa yang terjadi, jika saat itu aku tidak menemukan mu??''


Alisa terdiam. Ia masih ingin mendengar kan lagi apa yang ingin Gilang sampaikan padanya.


''Kamu berlian yang terpendam di dasar sumur sayang. Keindahan mu yang tertutup lumpur dan air yang keruh membuat sinar mu tidak terlihat. Karena kamu berada di dalam sumur yang kotor. Sumur itu tidak mau membersihkan dirinya, hingga kamu pun ikut kotor di dalamnya.''


''Sedangkan sekarang? Sumur yang kamu tempati berbeda saat kamu dipaksa keluar dan memilih menjauh dari sumur kotor itu. Kamu sekarang bersinar seperti berlian. Walau dalam kegelapan malam, sinar biasmu hingga memantul di air yang jernih. Karena sumur yang kamu tempati sekarang telah berbeda. Sumur yang sekarang kamu tempati merupakan sumur jernih yang dulunya kotor. Sekarang sumur dan berlian itu telah menyatu, hingga cahaya bias berlian yang tersimpan itu semakin terang benderang.. itu perumpamaan ku untukmu, sayang..''


''Karena mu aku mengetahui arti cinta yang sesungguhnya. Karena mu, aku tau apa arti hidup ini selama kita masih hidup di dunia. Kamu lah dunia ku sayang... kamu hidupku. Kamu nafasku! Kamu segalanya bagiku. Kamu tempat terakhir aku melabuhkan hatiku. Tempat terakhir Muara cinta kita berlabuh untuk mencapai surga Nya Allah kelak. Kamu Pelabuhan Terakhir ku. Kamu bukan pembawa sial seperti yang mantan suami kamu katakan.''


''Bagiku, kamulah yang paling terbaik diantara mutiara hitam yang selalu mengelilingiku. Kamu istimewa untukku sayang. Sangat istimewa. Bahkan saking istimewanya, aku ingin sekali mencongkel mata mereka yang selalu menatap mu dengan kagum dan penuh damba!'' ketus Gilang di akhir kalimat nya.


Alisa tertawa terbahak-bahak saat mendengar kalimat terakhir Gilang tadi. Padahal baru saja ia begitu bahagia dan merasa paling beruntung karena ada seorang pemuda yang begitu menginginkan dirinya apa adanya.


Yang tidak menganggap jika dirinya pembawa sial seperti mantan suaminya dulu. Sungguh, nikmat mana lagi yang ia dustakan??


Inilah akhir perjalanan cinta Gilang dan Alisa.


Seorang pemuda yang belum lagi tamat SMA tapi sudah kepincut dengan seorang janda beranak tiga.


Dari dirinyalah Gilang mengetahui arti hidup dan menghormati orang lain. Walau umur mereka terpaut jauh, tapi itu tidak menjadi penghalang untuk mereka bisa bersama. Mengayuh bahtera rumah tangga mereka dan berlabuh di muara yang sudah ditentukan.


Kini mereka berdua hanya menunggu waktu untuk di jemput oleh sang pemilik hidup. Selagi nafas berhembus, maka mereka akan tetap mengarungi kehidupan ini bersama-sama.


Gilang dan Alisa adalah salah satu contoh pencarian cinta terakhir tempat dimana akhirnya ia berlabuh.


Tempat terakhir yang akan mereka tempati bersama tanpa ada gangguan siapapun. Karena bahtera mereka sekarang, pondasinya begitu kokoh saat berdiri.


Pondasi yang sengaja Gilang buat untuk rumah tangganya bersama Alisa dan ke enam titipan Allah SWT pada mereka berdua.


Mereka akan tetap bersama sampai maut memisahkan mereka nantinya.

__ADS_1


Selamat berbahagia Gilang dan Alisa yang telah menemukan tempat terakhir mereka berlabuh dan mengarungi samudera bersama-sama dalam mencapai tujuan bersama. Yaitu surga Nya Allah SWT.


The End


__ADS_2