
Tiga Minggu berlalu setelah kejadian naas tragedi berdarah itu. Sekarang mereka menjalani hidup masing-masing.
Saat ini Alisa sedang membuka kotak perhiasannya. Perhiasan pemberian Hendra dan juga Kak Madan.
Juga mahar dari Emil tersisa sedikit lagi. Alisa menghela nafas nya saat perhiasan itu sangat berat untuk ia jual.
Alisa melihat jari manis sebelah kanan nya. Terselip sebuah cincin sederhana pemberian Gilang Tiga Minggu yang lalu.
Ingin ia menjual nya juga. Tapi teringat akan pesan Gilang, ia urungkan.
''Tadi pagi aku memakaikan cincin padanya sebagai mahar pernikahan kita. Dan sekarang aku memakaikan cincin ini, sebagai pengikatmu, agar kamu selalu ingat, jika aku adalah suami mu! Pemilik sah dari dirimu!''
''Apa yang harus aku lakukan sekarang?? Jika aku tak menjual perhiasan ini, aku tak akan punya uang walau sekedar untuk makan saja..'' lirih Alisa, masih terdengar oleh Ira dan Raga.
Yang kebetulan sedang menuruni tangga untuk pergi ke sekolah bersama pagi ini. Ira mematung mendengar ucapan Alisa.
''Kak?''
''Kita turun aja dulu,'' titah Raga.
Ira mengangguk. Setelah tiba disana, Ira dan Raga duduk di depan Alisa. Alisa yang melihat anak dan menantu nya sudah siap tersenyum.
''Sudah mau berangkat??'' tanya Alisa.
Dan dingguki oleh Ira dan Raga. ''Mak.. jika berat nggak usah di jual ya?'' ucap Ira, membuat Alisa menghela nafasnya.
''Nggak bisa Nak.. Mak butuh uang untuk biaya sehari-hari juga untuk modal toko kue Mak nantinya.'' Sahut Alisa, masih dengan menatap sendu pada perhiasan nya itu.
Ira hanya bisa pasrah. Ia tak bisa mencegah keinginan Alisa. Raga ingin buka suara, tapi tangannya di tahan oleh Ira.
Ira menggeleng, membuat Raga pasrah juga. ''Ya sudah, kalau memang itu keputusan Mak, Kakak ikut saja. Asalkan Mak bahagia...'' lirih Ira.
Alisa melihat putri sulungnya itu dan tersenyum teduh. ''Terimakasih Nak.. memang sudah sedari dulu, Mak ingin jual perhiasan ini. Belum bisa karena belum butuh. Lagipun dulu, semua keperluan kita, Papi kalian lah yang membiayai nya..'' lirih Alisa dengan leher tercekat mengingat sang pujaan hati disana.
Sesak rasa dada nya. Buliran bening sudah mengumpul di pelupuk mata sayu nya. Membuat seseorang disana sedang bekerja merasakan sesak yang sama.
Padahal ia saat ini sedang di kantor dan sedang presentasi. Semua orang melihat pada nya karena terdiam.
Andi yang paham, mengambil alih sebentar untuk rehat lima belas menit. Ya, Andi sekarang menjadi asisten Gilang di kantor BHASKARA Group karena permintaan Gilang.
Sedangkan toko milik Gilang, ada orang kepercayaan Andi disana. ''Bos? Minum dulu.'' Ucapnya pada Gilang.
Gilang menerima air yang diberikan Andi. ''Apa kabar istriku, Andi??'' tanya Gilang, setelah ia menenggak habis air putih yang berada ditangan nya.
Andi tersenyum. ''Mbak Alisa sehat Bos! Begitu juga dengan ketiga anggota Bos itu. Mereka sehat-sehat saja," sahut Andi mencoba menutupi yang sebenarnya.
"Jangan membohongi ku Andi!" tegas Gilang.
Andi tersenyum lagi. "Bos tenang saja, jika firasat ku benar maka hari ini kita akan tau apa yang akan istri Bos itu lakukan. Tenanglah." Bujuk Andi.
Gilang menghela nafasnya. "Semenjak ia mengembalikan dua kartu itu pada ku, aku risau Andi.. dengan apa ia bisa makan dan bisa menghidupi ketiga anakku itu??"
Andi tersenyum lagi. "Bos sudah lupa ya siapa Mbak Alisa??"
Gilang merenung. Benar! Ia lupa siapa Alisa. Karena semenjak ia tinggal dirumah itu, Gilang lah yang membiayai semua keperluan Alisa dan juga ketiga anak nya.
Gilang menghela nafasnya. Andi tersenyum saat merasakan getaran ponsel dari saku celana jeans nya.
__ADS_1
"Bos??"
"Hem,"
"Mbak Alisa ke toko perhiasan kita!" Ucap Andi membuat Gilang terkejut.
"Apakah??"
"Ya. Sebentar lagi akan ada informasi penarikan dari rekening toko ke nomor Mbak Alisa." Sahut Andi membuat Gilang lagi dan lagi menghela nafasnya.
"Ambil perhiasan itu, simpan di berangkas pribadiku? Kamu tau kan apa sandi nya?"
"Ya, Mbak Alisa lah kode sandinya," sahut Andi sembari terkekeh ketika mengenang kode sandi berangkas mereka di toko itu.
Sempat Andi kebingungan dengan kode berangkas mereka, ternyata Gilang sudah merubahnya menjadi tanggal lahir Alisa.
Andi terkekeh kecil.
"Ayo! Kita lanjutkan lagi presentasi nya lagi. Semuanya harus siap hari ini! Karena Minggu depan aku harus berangkat ke Amerika." Ujar Gilang dan Andi mengangguk.
Sedangkan dirumah Alisa, ia sedang menghubungi Pak Kosim untuk menemaninya ke toko emas terdekat.
Pak Kosim mengiyakan. Dan secepat mungkin ia menghubungi Andi untuk kabar itu. Karena segala sesuatu nya sekarang Andi lah yang mengatur nya.
Karena permintaan Papa Angga. Nggak tau aja Papa Angga, jika Gilang dan Andi sekongkol dalam hal Alisa?? 🤣🤣
Alisa dan Pak Kosim tiba di ruko bertingkat banyak itu. Dengan logo ALISA STORE. Melihat logo itu Alisa terkejut.
Pak Kosim terkekeh kecil. Begitu juga dulu nya Pak Kosim. Sekarang gantian, Alisa pula. Mulutnya sampai menganga karenanya melihat logo di dalam ruko itu semua nama dirinya.
Gilang melihat reaksi Alisa dari kamera cctv di laptop miliknya terkekeh kecil saat sedang menjalani presentasi.
Setelah masuk ke tempat itu, Alisa semakin lemas lututnya. Bagaimana tidak, setiap stand disana tertera namanya.
"P-pak.. ini nggak salah kan?? Ke-kenapa aku merasa jika nama ku ini sedang mengejek ku sekarang?" tanya Alisa pada Pak Kosim dengan wajah pucat nya.
Pak Kosim tergelak mendengar ucapan Alisa. Begitu juga dengan Gilang. Ia sampai tergelak kencang saat mereka keluar dari ruang rapat.
Papa Angga yang melihatnya keheranan. Tapi ia tak ambil pusing tentang itu. Ia tetap melanjutkan pekerjaan nya.
Sedangkan Alisa semakin terhenyak saat melihat toko perhiasan itu atas nama nya lagi.
"Lagi?!" pekik Alisa
Semakin membuat Pak Kosim tertawa. Begitu juga dengan Gilang. Ia Sampai mengeluarkan air mata saking tertawa nya melihat tingkah Alisa.
Alisa jatuh terduduk di lantai. Kaki nya begitu lemas saat ini. Tangannya bergetar. Ia menatap Pak Kosim yang terus menertawai nya.
"Ih Pak! bantuin napa?! Malah ketawain sih??" sungut Alisa, membuat Pak Kosim membantunya untuk berdiri.
Setelah berdiri Alisa mendekati etalase toko emas milik Gilang. Pelayan itu tersenyum melihat Alisa.
"Ada yang bisa kami bantu Bu??" tanya nya dengan ramah.
Alisa berusaha mengurangi rasa terkejutnya dengan berdehem. "Ehm, sa-saya mau menjual perhiasan ini. Tapi saya membelinya tidak disini, saya membeli ini di Aceh. Apakah bisa?" tanya Alisa.
Pelayan toko itu tersenyum. "Sebentar ya Bu, saya hubungi atasan dulu," ucapnya dengan segera mendial nomor Andi.
Andi tersenyum mendapati ponsel nya berdering karena panggilan dari toko Gilang. "Bos??"
__ADS_1
"Angkat!" titah Gilang dan dingguki oleh Andi.
"Ehm, ya. Katakan!" mode datar Andi kembali lagi. Gilang terkekeh melihatnya.
"Begini Bos, ada seorang ibu-ibu ingin menjual perhiasan nya, tapi ia tidak membeli nya disini, katanya emas itu dari Aceh. Apakah boleh Bos??" tanya pelayan toko itu dari seberang sana.
Gilang terkekeh melihat Andi. "Bos?" panggilnya
"Ya, silahkan! Setelah itu kamu simpan itu di tempat yang aman. Nanti sore Andi akan kesana untuk mengambil nya! Dan untuk pembayaran nya, akan langsung saya bayarkan sekarang." Tegas Gilang, membuat pelayan toko disana gugup karena mendengar langsung suara pemilik toko tempat ia bekerja.
"Ba-baik Tuan! Akan segera saya sampaikan!" Sahutnya.
Sambungan ponsel pun terputus, tapi Gilang masih melihat Alisa melalui cctv toko perhiasan nya.
"Boleh saya lihat surat-surat nya Bu?"
"Oh iya! Silahkan!" sahut Alisa.
Pelayan toko itu, membuka kotak perhiasan Alisa dan mulai melihatnya.
Cincin dari Kak Madan untuk Alisa.
Ini gelang dari Hendra, Abi nya Raga bayangkan aja sendiri jika diukiran batu permata putih itu namanya Alisa disana ya..
Ini kalung yang tersisa dari mahar yang Emil berikan untuk Alisa.
"Sangat cantik!" celutuk Gilang, membuat Andi terkekeh.
"Tapi perhiasan itu dari mantan nya Mbak Alisa loh.." goda Andi.
Gilang tersenyum. "Tidak masalah. Jika Alisa sudah menjual nya di toko ku, berarti perhiasan itu sekarang sudah menjadi milikku! Karena aku akan membayarnya dengan setimpal bahkan lebih." Sahut Gilang.
Kemudian ia mengambil ponsel nya dan mengetikkan sesuatu disana dan mengirimkan nya ke nomor rekening Alisa.
Ting!
Alisa yang terkejut mendengar ada pesan masuk, ia membuka ponsel nya. Dan betapa terkejutnya Alisa, jika perhiasan nya itu dibayar begitu mahal oleh pemilik toko perhiasan itu.
"Apa? Ti-tiga ratus juta ??" kaget Alisa melihat pesan masuk dari Bank ke dalam ponsel pintarnya yang di beli oleh Gilang.
Gilang tertawa disana, dan Andi terkekeh melihat wajah terkejut Alisa yang sudah berubah menjadi pucat pasi.
Begitu juga dengan Pak Kosim. Ia semakin terkekeh melihat tingkah Alisa. Sedangkan pelayan toko itu hanya memandangi nya dengan bingung.
"Itu sesuai dengan dirimu sayang.."
💕
Cantik kan jika Alisa yang memakainya?
Mudah-mudahan Papi Gilang tidak menjual nya pada orang lain ya? 🤣🤣
Ikuti terus kelanjutannya!
__ADS_1
TBC