Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Menyusulnya


__ADS_3

''Loh? Papi?! Kok pulang?! Ada apa?!'' tanya Ira dengan panik.


Karena melihat Gilang di papah oleh Tuan Hamid dan Andi. Sementara Ema ada di belakang mereka.


Ira mendekati Gilang yang sedang di papah. Ira mengambil alih tangan Gilang dan menyampirkan ke bahunya.


''Papi tidak apa-apa. Ayo kita masuk. Mak ada di dalam bukan?'' tanya Gilang masih dengan mencoba berbicara, padahal kepalanya begitu pusing saat ini.


''Entah. Kakak aja baru tiba. Mungkin ada di-,'' ucapan Ira terputus karena melihat Lana yang sudah berdiri di depan pintu dengan yang bersidekap dada. Ia menatap Gilang dengan ketus.


''Mak udah pergi. Udah pulang ke Aceh! Sedari siang tadi. Papi telat!'' ketus Lana.


''Apa?!'' Gilang terkejut mendengar ucapan Lana. Kepalanya yang sudah pusing bertambah pusing kala mendengar ucapan Lana. Ia jatuh ambruk ke tanah dengan Ira ikut bersamanya.


Brruukk...


''Papi!!!!'' pekik Ira dan Lana.


Walaupun Lana jutek pada Gilang, tapi ia tetap sayang pada Papi nya itu.


''Ya Allah! Abang!! Kamu ngomong apaan sih?! Ini gimana coba?! Kamu kok bilang gitu sih?! Ishh.. awas kamu! Kalau Papi nggak bangun, kamu yang kakak hukum!'' tegas Ira dengan menatap tajam pada Lana.


Lana menunduk merasa bersalah. ''Maaf Kak.. Abang pikir Papi pura-pura nggak tau, kak..'' lirih Lana.


Dengan segera ia mencoba untuk memapah Gilang kembali dibantu Andi dan tuan Hamid. Mereka membawa masuk Gilang dan membaringkan tubuh lemah itu di sofa ruang tamu rumah mereka.


Pertama kali Ema memasuki rumah mewah itu, Ema sudah di suguhkan dengan figura besar Alisa dan Gilang beserta ketiga anaknya.


Di tambah lagi, figura besar yang baru sebulan ini terpasang disana. Yang mana figura itu menunjukkan pesta pernikahan Gilang dan Alisa.


Mereka berfoto berdua dengan tatap an penuh cinta. Begitu juga foto di sebelah nya, foto mereka berenam. Ada anak kecil mirip Gilang dan Alisa di foto itu.


''Alisa...'' lirihnya sempat terdengar oleh Ira dan Lana.


''Maaf, ibuk siapa ya?'' tanya Ira.


Ema berbalik dan tersenyum pada Ira. Ia mendekati Ira dan memeluk putri sulung Alisa itu.


''Kamu pernah dengar cerita dari Mak mu. Jika Mak mu memiliki enam orang sahabat?'' tanya Ema masih dengan memeluk Ira.


Ira mengangguk, Ema tersenyum namun air mata itu bercucuran jatuh di pipinya. ''Ibuk salah satu sahabat Mak mu. Ema Sulastri Andini!''

__ADS_1


Deg!


Ira mengurai pelukannya dari tubuh Ema. Wajah Ira begitu terkejut. ''Ibuk, Ema Sulastri Andini??'' tanya Ira, Ema mengangguk dan tersenyum.


Ira memeluk Ema dengan erat. ''Buk Ema.. huaaa... akhirnya kakak bisa ketemu sahabat Mak. Maaaakkk...'' panggil Ira.


''Uhukk... uhuuukkk ...'' seseorang nan jauh disana terbatuk-batuk saat minum air putih.


Putra kecilnya menengadah. ''Mami kenapa? Keselek??''


Ia tidak bisa menjawab ucapan putra kecilnya, karena lehernya terasa pedih sekali karena tersedak air minum.


''Beneran ini sahabat Mak? Buk Ema?'' tanya Lana dengan mendekati mereka berdua.


''Ya, ini Ibuk Ema. Seperti nya.. ibuk terkenal ya di mata kalian berdua?'' Ira dan Lana terkekeh.


''Ya iyalah.. Mak itu banyak cerita tentang sahabat nya. Salah satunya ibuk Ema.''


''Apa?! jadi kalian berdua sudah tau?'' tanya Gilang dengan wajah terkejut nya.


Lana nyengir kuda. Ira terkikik geli. ''Ya, Papi! Kami tau dari Mak...''


''Annisa lagi tidur, adek Rayyan ikut Mak. Takut di tinggal Mami katanya. '' jawab Lana terkekeh-kekeh saat melihat wajah Rayyan panik karena takut di tinggal.


Ira terkekeh, Gilang pun sama. ''Putraku itu, lebih senang dengan Maminya dibandingkan Papinya!''


''Ya, iyalah. Sedari bayi saja Mak yang ngurusin adek. Ya jelaslah kalau udah besar masih ngintilin Mak?'' kata Lana


Ema terdiam. Ingin bertanya, tapi takut salah. Lebih baik diam saja. ''Ayo, kak. Persiapkan baju kalian semua. Setengah jam lagi kita berangkat. Kita harus menyusul Mak kalian sama Rayyan. CK! Kesal Papi! Pergi kok nggak pamit! Udah ah! Papi ke atas dulu, mau nyiapin baju. Mana tau, nanti Mak kalian tidak terima Papi, Papi bisa nginap di hotel!'' ketus Gilang.


Lana dan Ira tertawa. Dengan segera mereka menyusul sang Papi ke atas sambil saling sikut.


Karena takut jatuh, Gilang memeluk kedua anak sambung nya itu. Lagi dan lagi Ema tertegun melihat pemandangan itu.


''Tuan Andi. Saya ingin ke toilet, bolehkah?'' tanya tuan Hamid.


Andi tersenyum, ''Tentu tuan! Mari saya tunjukkan!'' kata Andi, dengan segera ia menunjukkan kamar mandi dekat dapur.


Setelah nya ia berlalu menuju Ema yang masih mematung melihat figura besar Rayyan dan ketiga anak Alisa.


''Den Rayyan itu putra kandung Tuan Gilang dengan istri pertama nya.''

__ADS_1


Ema berbalik karena mendengar suara Andi. ''Hoo pantas saja. Tapi kenapa Alisa yang mengurus nya?'' tanya Ema sambil menatap Andi yang sedang menatap figura besar di hadapan mereka yang terpajang di dinding.


''Karena memang itu keinginan tuan Gilang. Rayyan lahir saat tuan Gilang sudah berada diluar negeri. Tuan Gilang dan istri pertamanya, mereka berdua sudah di jodohkan sedari kecil. Tapi putus akibat istri tuan Gilang bertingkah. Setelah mereka tamat sekolah, perjanjian itu masih berlanjut. Tuan Gilang dan Nona Vita terpaksa menerima pernikahan itu karena kedua orang tua mereka.''


''Dan ketika Den Rayyan lahir, Mbak Alisa lah yang menemani Mama Rayyan saat ia melahirkan. Nona Vita tau, jika tuan Gilang sangat mencintai mbak Alisa. Maka dari itu ia lebih memilih pergi. Den Rayyan di titipkan pada Mbak Alisa. Saya sempat dengar, waktu itu mbak Alisa tidak mau menerima bayi itu. Karena tidak mengenalnya.'' Andi terkekeh saat menceritakan hal itu.


''Tapi sebulan kemudian, takdir seakan berpihak pada tuan Gilang. Putranya itu diselamatkan oleh Mbak Alisa saat stroller bayi den Rayyan turun meluncur di jalan yang menurun. Beruntungnya, mbak Alisa tepat waktu. Jika tidak, pastilah Den Rayyan sudah tidak ada di dunia ini.''


''Ya Allah... pantas saja terlihat seperti ibu dan anak. Tidak terlihat seperti putra sambungnya.'' ucap Ema.


Tuan Hamid tersenyum. ''Tidak mesti harus ada ikatan darah ikatan batin itu ada, Nona Ema. Dengan kasih sayang saja pun ikatan batin ibu dan anak tiri itu bisa ada. Apalagi jika ibu tirinya itu yang menjadi ibu susu nya?''


''Benar sekali tuan Hamid. Itulah yang terjadi pada putra sulung saya. Putra sulung saya di susui oleh wanita yang sangat saya cintai. Saat itu saya tidak tau, tapi putra saya ini,'' tunjuk Gilang pada Lana. ''Dialah yang memberitahu kan kepada saya jika Rayyan putra kandung saya, di urus oleh wanita yang paling saya cintai setelah Mama saya..'' ucap Gilang dengan tersenyum lembut menatap tuan Hamid.


Ema tertegun lagi melihat senyum manis itu. Sadar jika itu tidak boleh, Ema terkekeh. ''Sudah siap semua?'' tanya Gilang pada ketiga anaknya.


''Sudah siap Papiii!!'' sahut ketiga anak itu.


Gilang tertawa. Ia mendekati mbok Nah dan berpamitan selama seminggu bisa jadi lebih. Ia menitipkan sejumlah uang untuk mbok Nah selama tinggal dirumah mereka.


Tidak di izinkan siapa pun masuk kerumah mereka selain Papa Angga dan Mama Dewi nantinya yang akan berkunjung.


Karena tadi saat dikamar, Gilang sudah mengatakan hal itu kepada Mama Dewi. Mama Dewi sempat marah, namun setelah mendengar penjelasan Ira dan Lana, Mama Dewi terdiam dan tidak marah lagi pada Gilang.


Dengan di supiri oleh Andi, mereka semua menuju ke Aceh. Tempat Dimana Alisa melarikan diri dari Gilang tanpa pamit.


Entah apa yang akan terjadi jika nanti Mama Alina dan Papa Yoga tau. Akankah mereka menerima penjelasan Gilang seperti dulu saat ia melamar nya?


Gilang menghela nafasnya saat mengenang hal itu. Dengan Ira dan Lana disamping nya membuat rasa mual itu mereda.


Walaupun sesekali masih masuk juga. Tapi tidak seberapa. Semoga Gilang di terima disana setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.


Semoga saja.


💕💕💕💕💕💕


Rumah baru Papa Yoga, kira-kira sudah siap belum ya?


Kira-kira Alisa kaget nggak, jika tau rumah itu sudah di renovasi oleh Gilang??


Ikutin terus kelanjutannya! 😉

__ADS_1


__ADS_2