
Ema baru saja tiba dirumah Alisa. Rumah yang dulunya reyot, kini sudah berubah menjadi rumah dua lantai yang begitu indah dipandang mata.
Ema tersenyum saat mengenang Alisa dulunya. Ema seringkali mengajak Alisa untuk menginap dirumahnya, tapi Alisa selalu menolak dengan halus.
Ia menatap bangunan megah itu. Dirasa cukup, Ema melangkah kan kakinya untuk masuk kerumah Alisa.
Dari luar saja sudah terdengar riuh di dalam rumah itu. Ia melangkah kan kakinya dengan segera, agar bisa masuk ke rumah baru Alisa.
Tiba di depan pintu rumah Papa Yoga, Ema mematung melihat seorang anak kecil sedang dipangku oleh Alisa dan Gilang dengan terkekeh-kekeh.
Setelah itu ia tersenyum.
Sedangkan di dalam rumah, mereka yang Sedang enak-enak nya menggoda Rayyan, terdengar suara seseorang mengucapkan salam dari arah luar.
''Assalamu'alaikum... tuan Gilang, Alisa...''
Deg!
Deg!
Semua orang terdiam dari gelak tawa mereka. Alisa sangat familiar dengan suara itu. Dengan segera ia dan Gilang menoleh ke depan pintu.
Pandangan mereka berdua bertemu. Ema tersenyum, tapi dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Alisa, ia terkejut melihat sahabat karibnya saat ia sekolah dulu ada di hadapan rumahnya.
''Ema...'' lirihnya
Ema mengangguk dan tersenyum. Ia tetap berdiri di depan pintu tidak berani masuk sebelum sang empunya rumah menyuruhnya masuk.
Alisa terisak. Tangan Ema sudah terbentang lebar ingin memeluk nya. Dengan segera Alisa menyerahkan Rayyan pada Gilang dan berlari pada Ema.
''Sayang! Hati-hati!''
Grep!
''Hiks.. sayangku...'' lirih Ema dengan menangis memeluk erat tubuh chubby Alisa.
''Ema... hiks.. sahabatku...'' lirih Alisa dalam pelukan Ema.
Tuan Hamid, Gilang dan kedua orang tua Alisa tersenyum melihat nya. Ini merupakan kebahagiaan yang berlipat ganda untuknya saat ini.
Cup!
Ema mengecup pipi Alisa.
Cup!
Alisa pun membalas nya. Mereka tertawa bersama. Kedua sahabat itu saling menangis.
Sementara Andi, tersenyum tipis melihat Ema yang begitu akrab dengan Alisa. ''Kapan kamu pulang dari Jakarta? Kok, nggak ngabarin aku sih?'' tanya Alisa pura-pura jutek.
Ema tertawa. ''Nggak di suruh masuk aku nih.. masa' di biarkan berdiri begitu aja sih? Di depan pintu pula!'' gerutu Ema, sengaja untuk menggoda Alisa.
__ADS_1
''Eh, astaghfirullah! maaf, maaf, hehehe.. aku lupa! ayo, ayo! Silahkan masuk! Kamu nggak boleh pulang! Malam ini kamu harus nginap disini!''
''Eh? Mana bisa gitu! Bisa di pecat aku sama suami kamu!'' ucap Ema, kemudian terkekeh kala melihat Gilang menatap nya dengan tajam.
''Eh? Iyakah?''
Ema mengangguk. ''Akan aku jelaskan sesuatu padamu tentang kejadian kemarin saat kamu melihat tuan Gilang di kamar hotel bersama seorang wanita berhijab!'''
Deg!
Deg!
Alisa terkejut. Gilang memejamkan kedua matanya. Sedangkan Mana Alina dan Papa Yoga menatap Ema dengan tatapan sulit di artikan.
''Maksud kamu?'' tanya Alisa
Ia menatap Ema yang sedang tersenyum lembut padanya. Ema menarik Alisa agar duduk dihadapan Gilang.
Ia menatap Gilang sedang Gilang menatap datar padanya. Alisa semakin heran dibuat nya.
''Ini ada apa sih?''
Ema tersenyum lagi. Ia akan menerima apapun konsekuensi akibat dari perbuatannya terhadap Gilang kemarin.
''Lis.. wanita yang sedang berada di dalam kamar itu bersama suami kamu adalah... aku!''
Deg!
Alisa menatap Ema dengan wajah pucat. Kepalanya tiba-tiba pusing. Pandangan mata mengabur.
Rasanya dunia Alisa runtuh saat itu juga. Melihat Alisa ingin jatuh, dengan sigap Ema memegangi kedua bahunya.
''Lihat aku, Lis!'' ucapnya dengan menatap serius pada Alisa.
Alisa masih blank. Dia tidak bisa berpikir apapun saat ini. ''Alisa!!'' sentak Ema
Deg!
Gilang terkejut, dengan segera ingin melepas kan tangan Ema dari tubuh Alisa. ''Berhenti tuan Gilang! Biarkan saya yang menjelaskan kepada sahabat saya! Ini waktunya untuk saya berbicara!'' tegasnya kepada Gilang tanpa menoleh pada Gilang.
Tatapannya masih terkunci pada mata Alisa yang sedang menatap nya dengan tajam.
Tangan Gilang yang sudah menyentuh tangan Ema yang berlapis baju lengan panjang, terlepas.
Mama Alina yang sadar akan terjadi sesuatu disana, mereka mengajak Rayyan, Annisa dan Lana untuk masuk ke kamar mereka di atas.
Sementara Ira, menuju dapur membuat minuman untuk sahabat Mak nya ini. Alisa menatap Ema dengan wajah datar
Mata Ema berkaca-kaca melihat perubahan pada diri Alisa. Sekuat tenaga ia mengumpulkan keberanian agar bisa berbicara dengan Alisa, sahabat karib yang sudah dianggap saudara olehnya.
''Dengarkan aku sayang! Tak ada sedikit pun maksud dihati untuk merebut Gilang dari sisi mu. Setelah aku tau, jika kamu adalah istrinya.''
__ADS_1
Deg!
Buliran bening jatuh di pipi Alisa. Ema sakit melihat'nya. ''Awal mula aku di pindahkan dari kantor cabang ke Medan adalah karena aku menerima tawaran bekerja disana sebagai sekretaris Presdir di Bagaskara Group. Aku menerima tawaran itu, karena aku ingin menemui mu. Dan lagi, jarak antara Aceh dan Medan 'kan tidak terlalu jauh?'' Alisa masih menatap datar padanya.
Alisa ingin tau, pembelaan apa yang akan ia katakan padanya. Dengan bibir bergetar Ema melanjutkan lagi ucapannya.
''Sebulan yang lalu, Hani menghubungi ku untuk hadir di acara pernikahan mu. Aku tak percaya saat Hani mengatakan, jika Alisa sahabat ku putri Paman Yoga Sebastian akan menikah lagi dengan Presdir Bhaskara group. Aku tak percaya itu. Karena aku tau, kalau kamu masih bersama dengan Bang Emil. Namun Hani tetap memaksaku untuk percaya. Dan bodohnya aku, aku pikir Presdir Bhaskara group itu belum menikah. La, wong kepala cabang tempat aku bekerja mengatakan, jika tuan Gilang itu masih single!'' Ema terkekeh setelah mengatakan hal itu.
Begitu juga dengan Andi.
''Aku taunya saat sudah tiba di Medan dimana hari pertama aku bertemu dengan suamimu. Awalnya aku berpikir, aku ingin merebut hatinya. Karena melihat sikapnya yang begitu dingin dan tidak tersentuh itu membuat jiwa jomblo ku tertantang!'' ia terkekeh lagi.
Tuan Hamid pun ikut terkekeh. Namun tidak dengan Alisa dan Gilang. Wajah mereka tetap datar.
Jika Alisa sedang menatap Ema, Gilang malah sedang menatap Alisa. Ia menatap sang istri dengan pikiran dan hati menerka-nerka.
Apa yang akan ia lakukan setelah Ema mengatakan kejujuran nya.
''Jangan salah kan aku, Lis! Kalau aku menyukai suami mu! Wajahnya yang tampan dan umurnya yang masih muda pasti banyak yang menyukai nya. Termasuk aku! Perawan tua!''
Andi tergelak keras mendengar ucapan Ema. Begitu juga dengan Ema. Ia sampai mendongak ke atas, saking geli dengan ucapan nya itu.
Alisa melihat Andi. Sudut bibirnya tertarik sedikit membentuk senyuman tipis. Gilang memicingkan matanya.
Kamu sedang merencanakan apa sayang? Aku jadi curiga dengan sikap dingin mu ini? Ck! sebelas dua belas denganku!
Gilang bergumam dalam hati sambil terkekeh kecil. Alisa tiba-tiba saja menoleh padanya. Gilang menggerakkan alisnya.
Alisa melotot kan mata nya. Gilang malah bertambah tertawa. Ema terkejut melihatnya. Lagi, ia terpesona melihat Gilang tertawa seperti itu.
Alisa semakin melotot kan matanya. Sadar jika Ema sedang terpesona dengan ketampanan suaminya, Alisa berdehem.
''Ehem!!''
''Eh? hehehe... maaf Lis.. kan sudah ku bilang tadi. Jangan salahkan aku, jika perawan tua ini menyukai suami mu!''
Alisa melototkan matanya. Ema tertawa lagi hingga terbahak bahak melihat wajah Alisa berubah menjadi masam.
Andi dan tuan Hamid terkekeh-kekeh. Sedangkan Gilang menggerakkan alisnya naik turun menggoda Alisa.
Apa?
Apa? Aku 'kan memang tampan?
Alisa memutar bola matanya. Gilang tertawa lagi. Semua itu tak luput dari perhatian Papa Yoga.
Ia masih setia duduk disana. Ingin tau lebih lanjut tentang masalah Alisa dan Gilang seperti apa.
Hingga menyebabkan dirinya kabur pulang kerumahnya.
💕💕💕💕💕
__ADS_1
Hahaha.. pede amat yak, Papi Gilang?