
Dirumah Gilang.
Setelah kepergian Gilang, dua sahabat itu merenung. Merenung akan kelanjutan perjodohan ini. Apakah sebaiknya harus dilanjutkan? Atau harus berhenti sampai disini saja??
''Lihatlah! bahkan Gilang saja pergi dari rumah ini! bagaimana ia bisa menerima, jika yang melakukan kesalahan adalah kau, Vita! Papa sungguh kecewa dengan mu! harus kubawa kemana wajahku ini?? hah?!'' sentak Papa Alan.
Mama Chintya terisak. ''Kita harus apa, Pa?? Kalau kita kembali, kita akan malu pada seluruh keluarga besar! Sedangkan yang mereka tau, jika kita kesini untuk melanjutkan perjodohan itu? Bagaimana aku harus bicara dengan kedua orang tua ku, Pa?? Sungguh, jika aku bisa memilih, aku tidak akan datang kesini kalau hanya untuk dilemparkan kotoran oleh putri ku sendiri.. hiks..'' ujar Mama Chintya.
''Mama .. maafkan Vita, Ma! Vita sampai saat ini, Vita masih suci.. Vita nggak jadi melakukannya sebab-''
''Diamlah kau, Vita! karena kelakuan mu seperti ini, Gilang pun tidak sudi melihat mu! jangan kan mendekati mu, memandang mu saja ia jijik?! Bagaimana untuk menikah dengan mu?! Hah?! Pernah kah kau berfikir sekali... saja. Jika apa yang kau lakukan itu akan berdampak besar kepada seluruh keluarga besar kita?? Hah?!'' pekik Papa Alan.
''Hiks.. ma-maaf Pa..'' lirih Vita. Sesak sekali rasanya, mendengar orang tua sendiri terus menerus menyalahkannya.
Beribu maaf Tak ada gunanya lagi bagi kedua orang tua itu. Andai semua ini bisa di ulang, pastilah Papa Alan orang pertama yang akan menghajar Vita terlebih dahulu.
Saat mereka bertiga masih dalam kamar berdebat tanpa ada habisnya, diluar terdengar suara ketukan pintu.
Tok, tok, tok.
''Alan! keluar dulu! ada yang ingin gue bicarakan! kita tunggu elu diruang tamu! Biarkan Vita istirahat!'' seru suara dibalik pintu yang ternyata adalah Mama Dewi.
''Iya! Kami akan segera kesana!'' sahut Papa Alan.
Setelah Mama Dewi berlalu, Papa Alan dan Mama Chintya beranjak. Tapi sebelum ia keluar, sesaat ia menatap Vita.
''Tenangkan dirimu, setelah ini kau harus menerima apapun keputusan dari kedua orang tua jodohmu! Apapun keputusan nya, kami akan menerima nya dengan lapang dada.'' Imbuhnya, dengan segera berlalu dan keluar dari kamar Vita.
Meninggalkan Vita menangis seorang diri disana.
Tap, tap, tap.
__ADS_1
Suara kaki terdengar mendekati ruang tamu, di mana Papi Angga dan Mama Dewi sedang menunggu kedatangan mereka.
''Bro...''
''Duduk dulu! Ada yang ingin kami bicarakan kepada kalian berdua,''' ujar Papa Angga.
''Ya,'' sahutnya.
Mereka pun duduk dengan saling berhadapan dengan meja sebagai pembatasnya. Untuk sesaat hanya hening yang menyapa ke empat orang yang duduk disana.
Papa Angga menghela nafasnya.
''Baiklah, sekarang akan kita putuskan! Apa yang akan terjadi pada kedua putra dan putri kita. Kami... sepakat untuk melanjutkan perjodohan ini, setelah Gilang lulus dari SMA, kita akan segera menikahkan mereka berdua! Menikah saja dulu, untuk resepsi kita pikirkan nanti saja. Yang penting, mereka berdua sah dimata hukum dan agama!'' ucap Papa Angga.
Papa Alan dan Mama Chintya saling pandang.
''Kami nggak salah dengar kan, Bro?? Bagaimana dengan Gilang?? Apakah ia akan menyetujui hal ini?? Jangan sampai karena ke egoisan kita, malah anak-anak kita nantinya yang mendapatkan masalah kedepannya. Gue nggak mau, kalian berdua memaksa kan kehendak kalian terhadap Gilang! Terlebih ini tentang Vita! Gadis yang telah melukai perasaannya?'' ujar Papa Alan.
''Benar Wi.. kita nggak boleh egois! kita harus memikirkan akibat ke depannya juga. Belum tentu kan mereka akan bahagia karena kita nikahkan secara paksa??'' imbuh Mama Chintya.
''Gue nggak maksa kok. Hanya ini berkaitan dengan janji yang sudah kita janjikan dulunya. Bukankah janji itu adalah hutang?? Terlepas bagaimana nantinya setelah pernikahan mereka berdua, Gilang memilih untuk berpisah dengan Vita, itu terserah pada Gilang! Yang penting, sekarang ini kita tunaikan janji kita dulu yang pernah kita ikrar di atas kitab suci Al-Qur'an! Kalian masih ingatkan? Janji itu sumpah untuk kita berdua Chin.. Gue nggak mau termakan sumpah gue sendiri yang sudah gue ikrar diatas kitab suci! Lebih baik kita lanjutkan, toh jika nanti Gilang tidak ingin melanjutkan nya itu terserah padanya. Yang penting janji kita lunas! Iyakan??'' tanya Mama Dewi.
Sejenak, Papa Alan dan Mama Chintya merenungkan apa yang dikatakan oleh Mama Dewi.
Benar! janji itu adalah hutang bukan?? Maka jika sudah berjanji, maka sudah berhutang. Maka dari itu, harus dilunaskan.
''Baiklah, kita akan melanjutkan perjanjian yang dulu pernah kita ikrar kan diatas kitab suci Al-Qur'an. Untuk itu kami bersedia menerima lamaran dari mu, calon besan!'' imbuhnya menggoda Papa Angga.
''Cih! sok Sokan besan! nggak tau nya dianya yang lebih dari besan sama kita! jauh sebelum jadi besan! elu itu selalu dibawah ketiak gue!!'' ujar Papa Angga.
''Yee .. enak aja! gue dibilangin dibawah ketiak elu! yang ada tuh ya.. elu selalu berada dibawah ketiak gue!!'' sahut papa Alan.
__ADS_1
Kedua istri mereka hanya menggeleng kepala dan tertawa. Inilah yang dulunya pernah terjadi diantara mereka ber empat.
Persahabatan yang mereka jalin, murni. Tidak ada kata pilih kasih, atau cewek elu cewek gue! Itu tidak pernah ada dalam kamus mereka berempat.
Ketegangan yang terjadi diantara mereka, kini mencair sudah.
''Baiklah, kalau begitu untuk sekarang kami akan kembali ke Jakarta. Kami akan berangkat besok pagi, dengan penerbangan pagi. Agar Vita bisa mengikuti ujian nasional. Setelah mereka berdua lulus, kami akan kembali kesini. Pernikahan itu akan diadakan disini. Karena hanya menikah saja, jadi tidak perlu kalian ke Jakarta.'' imbuh Mama Chintya.
''Ya, sesuai dengan yang kalian inginkan! Kami akan segera mengabarkan ini kepada Gilang. Kami akan menunggu nya pulang terlebih dahulu. Setelah nya baru kami kabarkan. Untuk sekarang, biarlah ia menenang kan dirinya sejenak karena masalah ini.'' ucap Mama Dewi.
Karena ia tahu, jika Gilang sudah pergi dari rumah. Maka akan sulit untuk dicari. Lebih baik menunggu nya pulang saja, dari pada harus buang-buang tenaga untuk mencari Gilang.
''Ya, tidak masalah! lagipula acara pernikahan mereka kan masih lama, masih ada sebulan dari sekarang? Jadi, biarkan ia menenang kan dirinya terlebih dahulu. Toh, nantinya ia juga akan kembali lagi ke rumah ini,'' imbuh Papa Alan.
''Baiklah, sebaiknya kita istirahat! Elu bro! jangan terus menerus menekan Vita, dengan kesalahan nya itu. Biarkan ia merenung apa yang sudah ia lakukan! kabarkan berita ini kepadanya nanti setelah ia lulus sekolah.'' ujar Papa Angga.
''Ya, ya.. terserah anda tuan Angga Bhaskara yang terhormat! apapun titah yang mulia.. akan saya turuti!'' imbuhnya, seraya membungkukkan separuh tubuhnya untuk menunduk.
''Cih!'' sahut Papa Angga seraya tersenyum.
Mereka tertawa bersama. Setelah nya mereka masuk ke kamar untuk istirahat.
Keesokan harinya, seperti janji mereka semalam. Bahwa pagi ini, mereka bertiga akan kembali ke Jakarta, dengan penerbangan pagi.
Mereka diantarkan ke bandara oleh Papa Angga dan Mama Dewi. Tepat jam sepuluh kurang dua puluh lima menit, pesawat mereka lepas landas dari bandara Kuala namu.
Mereka pergi untuk kembali. Setelah sebulan dari sekarang. Perjodohan yang sempat terhenti karena masalah yang di buat oleh satu anak mereka, kini akan tetap dilanjutkan. Dengan atau tanpa persetujuan Gilang.
💕
Apakah Gilang akan menyetujui pernikahan itu??
__ADS_1
Nantikan kelanjutannya!
TBC