
''Sama-sama Mbak.. sudah menjadi kewajiban kami berdua untuk membantu mu yang sedang kesusahan waktu itu. Dan kebetulan sekali, Papi anak-anak baru saja mengirimkan uang bulanan nya kepadaku. Jadi .. apa salahnya aku memanfaatkan uang itu untuk membantu mu. Untuk biaya makanku sehari-, aku punya toko kue di ujung jalan sana. Makanya aku tidak khawatir lagi.'' Imbuh Alisa dengan menatap lembut pada Mbak Sus.
Mbak Sus mengusap air matanya yang tidak berhenti menetes. ''Ya, anda memang orang baik Buk Alisa. Makanya ketika saya ingin berangkat ke Malaysia, saya sempat berdoa. Jika seandainya bisa, saya ingin bertemu dengan majikan saya yang dulu. Ibu susu den Rayyan. Dan ya, semua itu terkabul!''
Alisa tertawa begitu juga dengan Gilang. Tina hanya tersenyum saja. Tidak berani menatap Gilang.
Pemuda tampan tapi begitu dingin ketika menatap nya. Tina hanya bisa pasrah, mulai hari ini ia tidak boleh mendongak kan kepalanya ketika ia duduk bersama Alisa dan Gilang.
Itu perintah Gilang saat dulu ia ketahuan menatap Gilang dengan penuh damba. Bahkan, Gilang sempat mengancamnya.
Jika masih ingin bekerja di manapun setelah selesai kontrak dengannya, maka Tina harus menundukkan tatapannya pada Gilang.
Jahat sih. Tapi Gilang terpaksa melakukan itu demi menjaga rumah tangga dengan Alisa. Jangan sampai terjadi salah paham lagi seperti yang dulu. Saat hamil si kembar, hingga mengakibatkan Alisa pergi tanpa pamit padanya.
Ya.. walaupun setelah itu, mereka berdua berhasil telah menikah kan Andi dan Ema. Dan saat inipun, mereka juga sudah memilki bayi perempuan yang begitu imut dan lucu.
''Ya, sudah. Kami tinggal dulu ya Mbak Sus. Ingin lihat pekerja diatas.'' Kata Alisa, dengan segera ia menyerahkan Algi pada Mbak Sus.
Sedangkan Nara tidak mau lepas dari leher Papinya. Gilang terkekeh. Begitu pun dengan Alisa.
Mereka menaiki tangga sambil terus menggoda Nara. Bayi kecil itu bukannya marah, tapi malah tertawa terbahak.
Melihat Nara bersama kedua orang tuanya, Algi pun ingin ikut. Dengan segera Mbak Sus membawa Algi menuju Alisa dan Gilang yang sudah terlebih dahulu masuk ke kamar mereka untuk melihat perkembangan kamar mereka yang sedang direnovasi.
Seminggu berlalu.
Malam ini, Gilang bisa bernafas dengan lega. Karena kamar milik si kembar sudah selesai di renovasi.
Alisa dan Gilang membawa kedua bayinya itu untuk tidur terpisah dari mereka berdua. Karena Gilang masih ingin bercocok tanam dengan Alisa malam ini.
Seminggu sudah, kegiatan mereka selalu terganggu gara-gara bayi kembar mereka yang selalu rewel sesaat setelah tidur.
Di akibatkan karena kelelahan. Dan malam ini, untuk pertama kalinya kedua bayi kembar mereka akan tidur bersama kedua pengasuhnya.
Jika mereka haus, maka Mbak sus akan membangunkan Alisa untuk menyusul mereka bedua.
Dan saat ini, Gilang sedang bergelut dengan ladangnya. Ladang yang selalu ia semai dengan bibit tapi tak jadi.
Karena ladangnya itu selalu kabur saat mendengar suara percikan dari si lintah penghisap darah itu.
__ADS_1
''Ugghh.. sssttt...'' desiran Alisa terdengar begitu mendayu di telinga Gilang.
Ia semakin semangat untuk membuat ladangnya itu banjir dan segera ia tabur bibitnya lagi.
''Errmm.. nikmatnya..'' racau Gilang saat merasakan kayu laut miliknya diremaas kuat oleh milik Alisa yang menurutnya selalu rapat seperti dulu.
''Emmm.. By..''
''Uhh...'' racau Gilang.
Ia semakin gencar menghentak tubuh sang istri untuk mencapai nirwana. Lagi senang-senang mendaki bukit mengarungi lembah, suara disebelah sana begitu bergema.
Alisa melihat Gilang yang saat ini sedang bergerak di atasnya. ''By.. itu kayak suara adek deh.. uhh.. mau nyusu....''
''Hem.. hem... sebentar lagihh..'' sahut Gilang masih dengan bergerak diatas tubuh Alisa.
Mereka bersama mereguk manisnya pernikahan yang telah menghasilkan dua buah cinta mereka.
Saling mengarungi dan berlomba untuk mencapai surga dunia. Namun, semua itu terhenti saat mendengar gedoran dari pintu samping mereka.
Pintu penghubung antara kamarnya dan kamar si kembar.
Tok, tok, tok.
''Emmm... emmmm..'' suara Alisa seperti hilang di dalam mulut Gilang.
Tok, tok, tok..
Lagi, ketukan itu terdengar. Alisa terus meronta. Walau tubuhnya masih di pompa oleh Gilang, tapi telinganya masih berfungsi untuk mendengar jika suara tangisan Nara begitu menyayat hati.
''Emmm... emmmm.. hossshh.. eghhh.. lepas ih! Adek nangis ituhhh..''
''Nggak akanhh..'' sahut Gilang masih dengan menghentak milik Alisa semakin kuat.
Tok, tok, tok, tok..
''Tuan Gilang.. Bu Alisa .. Adek nangis ini.. nggak mau diem! Kalau nggak di diemin. Bisa ganggu Abang yang sudah terlelap! Tolong Bu.. bangun dulu.. kasian adek!!'' seru Mbak Sus.
Gilang berhenti bergerak. Ia menatap datar pada Alisa. Dengan cepat ia cabut miliknya dari pusat inti Alisa.
__ADS_1
Dengan segera ia memakai sarung beserta baju dan membuka pintu samping itu. Sementara Alisa melongo tak percaya melihat Gilang begitu marah karena telah di ganggu. Ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya yang polos akibat ulah Gilang.
Sementara Gilang, masuk ke kamar si kembar dengan wajah memerah. Mbak Sus yang melihat nya terkejut.
Namun, saat melihat sesuatu dibalik sarung itu masih berdiri dengan tegak seperti pohon kelapa, Mbak Sus memalingkan wajahnya.
Sementara Tina, ia menatap tak percaya pada senjata tempur milik majikannya itu masih berdiri tegak. Dan tanpa sadar, majikannya itu mendekati ranjang dimana Nara sedang berusaha di tidurkan kembali oleh Tina.
Mata Tina tak lepas dari sesuatu yang tegak berdiri itu. ''Ehem!'' Mbak Sus berdehem agar Tina sadar.
''Eh? ma-maaf Tu-tuan!!'' ucapnya sambil menunduk malu.
Wajahnya memerah karena malu. Otak suci Tina jadi terkontaminasi gegara sesuatu yang tegak berdiri itu.
Gilang tak peduli, dengan segera ia mengambil Nara dan membawanya ke kamar mereka.
Setelah Gilang pergi, Mbak Sus bernafas lega. Bukan ia tak tau jika kedua majikannya itu sedang bercocok tanam di kamar mereka.
Karena terdengar jelas saat ia tadi berdiri di depan pintu ketika menggedor pintu itu.
''Astaghfirullah! Itu tadi apa Buk?! Senjata Laras panjang?! Atau.. pisang boma?! Atau... rudal?!!!?'' seru Tina begitu terkejut karena berhasil dengan tebakannya.
Sementara Mbak Sus, wajahnya memerah karena malu. ''Ya Allah Tuan.. malu sekali saya! Malu nggak ketulungan euuyy!!'' celutuk nya sambil menutup wajahnya dengan hijab instan nya.
Sedang kan di dalam kamar Gilang, saat ini ia sedang bergerak lagi di tubuh Alisa. ''Ada saja! Saat ingin enak-enak! Pastilah di ganggu! Nggak adek! Nggak Abang! Sama saja! Kalian selalu ngerusuhin Papi!! uhh.. tak peduli aku!! Yang penting bisa lepas ini cebong! Pusing kepalaku menahan nya!! Uhhh.. enaknya...'' racau Gilang tidak jelas saat menggeluti Alisa lagi.
Sementara Alisa tidak bisa berbicara, karena ia sedang menyusui Nara. Mana yang harus ia rasakan?
Yang satu sedang menyusu. Sedang yang satu lagi, sedang memakan dirinya hingga habis tak bersisa.
Ingin mengeluarkan not lagu berirama, takutnya Nara akan bangun. Jadilah ia mengunci bibirnya rapat-rapat.
Dan terdengar saat Gilang membungkam putik merah jambu miliknya. Alisa pasrah. Inilah yang terjadi padanya, jika Gilang sudah menginginkan maka tak ada kata penolakan.
💕💕💕💕
🏃🏃🏃🏃 Kabuuuuuurrrrr....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1