
Jika Alisa pergi dengan membawa sekeping hati yang terluka karena Gilang, berbeda dengan Gilang.
Saat ini ia sedang mual dan muntah terus menerus saat sekretaris nya itu mendekati dirinya.
Bau parfum di tubuhnya sangat membuat Gilang mual dan semakin ingin muntah. Ia di papah keranjang oleh Ema.
Namun naas, bobot tubuh Gilang tidak seimbang dengan tubuh Ema. Akhirnya mereka jatuh berdua dengan Ema menimpa tubuh Gilang.
Gilang yang sudah setengah sadar, mencium bau tubuh Alisa. Tanpa sadar sadar tangan itu memeluk tubuh Ema dengan erat.
Wangi di tubuh Alisa sangat menenangkan. Wangi itu terus saja tercium di hidungnya. Namun, tiba-tiba saja wangi itu menghilang dan berganti dengan wangi lain yang membuat Gilang mual.
Gilang sadar saat perutnya bergejolak kembali. Dengan cepat ia mendorong Ema hingga jatuh terjengkang ke belakang.
Ia tidak sadar dengan perlakuan nya itu. Dan bertepatan dengan Andi masuk ke kamar itu. ''Loh? Tuan Gilang dimana? kamu sedang apa? Apa yang kamu lakukan, hingga Mbak Alisa pergi dengan menangis?'' tanya Andi dengan raut wajah memerah.
Ema terkejut. Ia bangkit dari duduknya dan menghadap Andi. ''Alisa? Istri tuan Gilang kesini? Dimana?'' tanya Ema dengan panik.
Andi berdecak sebal. ''Ck! Kamu-,''
''Alisa!!!!!''
''Tuan Gilang!!''
''Bos!!!'' pekik mereka berdua bersamaan. Andi berlari terlebih dahulu. Di susul Ema di belakang nya.
Tiba di kamar mandi terlihat Gilang jatuh tak sadarkan diri. Dengan pelipis berdarah. ''Astaghfirullah!! Bos!!! Kamu kenapa?! Ya Allah... cepat panggil dokter Ema!!!'' pekik Andi begitu panik.
''Ba-baik!'' sahut Ema.
Ia berlari keluar dengan tergesa dan hampir menabrak seorang resepsionis yang membawa rantang pesanan Alisa.
Brruukk..
''Astaghfirullah!! Hati-hati Bu! Hampir aja! Kalau rantang ini jatuh, bisa di pecat saya!'' serunya dengan wajah pucat.
Karena Ema menabrak nya dengan kuat. Beruntungnya, resepsionis itu memegang rantang itu dengan kuat.
Ema sedikit meringis, karena dua kali tubuhnya mencium lantai. ''Ssssttt.. maaf saya buru-buru ingin memanggil Dokter! Tuan Gilang terluka saat ini.'' jelasnya membuat tuan Hamid yang sedang berlari terkejut.
''Apa? Diimana? Bagaimana bisa?!'' pekik tuan Hamid.
Ema bertambah terkejut melihat klien mereka masih disana. ''Dimana? Dimana tuan Gilang? Tadi saya juga sempat bertemu dengan Nyonya Alisa. Pasti beliau tadi kesini. Tapi kenapa wajahnya basah dengan air mata ya? Eh? Astagfirullah! Tuan Gilang!'' seru tuan Hamid.
Dengan segera ia berlari masuk ke kamar hotel itu. Sementara Ema mematung di tempat.
''Alisa datang? Apakah karena itu tadi tuan Gilang...''
''Ema!!! panggilkan dokter segera!!'' pekik Andi
__ADS_1
Ema terkejut. ''Ba-baik!!! Kamu masuk dan antar kan rantang itu pada Bos. Saya mau kebawah untuk memanggil dokter!'' serunya dengan panik.
Resepsionis itu terdiam. ''Dokter?? Jika tuan Gilang terluka, bukankah disetiap kamar hotel. sudah ada kotak P3K nya? Aneh.'' gumamnya.
Dengan segera ia masuk dan meletakkan rantang itu di nakas di sebelah ranjang tempat Gilang berbaring.
Mencium bau harum dari rantang bawaan resepsionis itu, Gilang mengigau lagi. ''Alisa... jangan pergi.. aku butuh kamu sayang..''
Tuan Hamid tersenyum. Ia bisa menebak. Pasti terjadi kesalahpahaman disini. ''Maaf tuan Andi, apakah disini tidak ada kotak P3K nya? Tidak baik membiarkan luka nya menganga seperti itu.''
Andi terkejut. ''Astaghfirullah! Saya lupa tuan! Anda benar sekali! Tunggu sebentar! Saya ambilkan!'' serunya lagi dengan panik.
Gilang terus saja mengigau, di dalam tidurnya ia melihat Alisa pergi tanpa pamit padanya. Dengannya Rayyan ikut bersama nya.
''Tunggu sayang.. tunggu.. jangan pergi.. Alisa!! Tunggu Alisa!!! aaaa....'' Gilang tersadar dari tidurnya.
Ia menatap sekeliling, buram. Pusing melanda dirinya. ''Ssssttt... sakit sekali... aduh... Andi..''
''Saya Bos! Sebentar, saya sedang mengambil kotak obatnya!'' jawab Andi
Gilang tidak bisa menjawab lagi. Karena kepalanya terasa begitu pusing. Tuan Hamid yang melihatnya pun menjadi kasihan.
''Rebahkan dulu tubuh Anda, tuan. Biar saya bantu untuk mengobati luka anda. Begini-begini, saya dulu juga lulusan kedokteran!'' imbuhnya sambil terkekeh-kekeh.
Mendengar suara yang begitu di kenal nya, Gilang membuka mata. Walau buram, tapi ia tau jika itu tuan Hamid.
Raut wajah Gilang berubah menjadi dingin. ''Keluaarr!!'' serunya dengan menatap datar pada Ema.
Ema terkejut. ''Tapi tuan, saya...''
''Keluar kataku!!!'' Sentaknya lagi.
Tuan Hamid sampai terjingkat kaget, begitu juga dengan resepsionis itu.
Ia menunduk dan mendekati Gilang. Sambil menenteng dua rantang itu ia mendekati Gilang.
''Ma-maaf Tu-tuan.. saya mengantar kan titipan ibu Alisa. Tadi beliau datang kesini dan menitipkan rantang ini ke saya. Katanya, Tuan harus makan tepat waktu. Makanan kesukaan anda di rantang ini tuan!'' kata resepsionis itu masih dengan menunduk.
Gilang menatap rantang itu dengan datar. Berarti benar dugaan nya. Jika Alisa tadi datang.
''Kamu melihat nya sayang?''
Deg!
Jantung Ema bergemuruh hebat saat tatapan mata Gilang begitu menusuk melihat padanya.
''Kamu! Jika bukan karena kinerja mu yang bagus, saya tidak sudi menerima kamu sebagai sekretaris saya! Gara-gara kamu, istri saya pergi meninggalkan saya! Bahkan sampai istri saya salah paham pada saya, kamu harus bertanggung jawab!"
Deg, deg, deg.
__ADS_1
Jantung Ema bergemuruh hebat. Wajahnya mendadak pias. "Tuan, saya-,"
"Keluar!" titah Gilang.
Ema membatu di tempat. Gilang semakin geram melihat nya. Ia mengepalkan kedua tangannya.
Amarahnya saat ini begitu membara. "Pergi kataku!!! Kau tidak dengar?! Huh?! Kau tuli?! Hingga harus berulang kali saya menyuruh mu keluar, kau masih tetap disitu?! Keluaaaarrrr..." pekik Gilang begitu menggema diruangan hotel itu.
Ema, resepsionis, tuan Hamid dan Andi sampai terjingkat kaget mendengar suara lengkingan Gilang.
"Keluaaaarrrr... aaarrrggghhhtt... Alisaaaaaa... jangan pergiiiiii..." pekik Gilang sambil memegangi kepalanya.
Tuan Hamid mendekati Gilang. "Sabar tuan.. istri anda hanya sedang salah paham. Nanti saya bantu jelaskan. Anda tenang dulu, ya?" kata tuan Hamid mencoba menenangkan Gilang.
Entah kenapa emosinya kadang naik kadang turun. Apalagi jika menyangkut Alisa. Gilang pasti sangat protektif.
"Keluar! Saya tidak ingin melihat wajahmu! Karena kau! Istri saya pergi! Dia hanya menitipkan makanan itu padanya!" seru Gilang lagi.
Ia masih menatap berang pada Ema. Andi tidak bisa berbuat apapun. Ia sangat tau, jika Gilang sudah marah tidak akan ada yang bisa menenangkan nya selain Alisa dan Lana.
Tuan Hamid meminta kotak P3K pada Andi melalui kode matanya. "Tenang tuan.. istri anda pasti akan baik-baik saja. Tenangkan diri anda dulu. Baru setelahnya, kita bicarakan tentang Nyonya Alisa. Saya obati dulu ya, luka anda tuan Gilang?"
Gilang menghela nafasnya. "Ya," sahutnya masih dengan suara datar.
Matanya elangnya tajam dan menusuk melihat Ema. Tuan Hamid melihat sikap Gilang begitu mencintai Alisa.
Ia tersenyum, "Apakah terjadi kesalahpahaman disini tuan Gilang? Maaf, bukan maksud saya mencampuri. Tapi karena saya tau sesuatu, makanya saya bertanya. Ada apa? Apakah sekretaris anda itu membuat ulah?" tanya tuan Hamid pada Gilang.
Mata Gilang tidak terputus dari melihat Ema. Buku kuduk Ema berdiri. Melihat wajah seram Gilang yang di tujukan untuknya.
"Saat saya tadi dibawa ke ranjang, saya mencium bau harum tubuh istri saya ada diruangan ini. Sekilas saya melihatnya. Tapi terhalang oleh wanita itu. Saya terpaksa mengatakan jangan pergi, dan saya juga memegang tubuh wanita itu agar menyingkir dari saya. Naas, istri saya melihat saya sedang berpelukan dengan wanita itu. Ia berlari meninggalkan saya dengan wanita itu tanpa bertanya terlebih dahulu. Dan wanita itu, dengan tak tau malunya, ia ingin mencium saya!" ketus Gilang, Andi melotot kan matanya melihat Ema.
Ema terkejut. "Ja-jadi... Anda tau???"
"Saya memang pusing dan mual, tapi saya tau jika di pintu kamar hotel ini ada istri saya disana memakai gamis merah muda dengan hijab berwarna hitam. Dengan dua rantang di tangannya! Dia melihat semua nya. Gara-gara Kau! Istri saya pergi!! Keluaarr!!'' sentak Gilang.
Lagi, Ema terjingkat kaget. Tubuhnya hingga tersentak saking terkejutnya. Ia menatap sendu pada Gilang.
Dengan segera ia berlalu meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang sudah bercucuran.
💕💕💕💕💕
Hayo loh.. nangis itu anak orang Papi Gilang! Gimana sih?
Kira-kira Mami Alisa terima nggak ya dengan penjelasan Papi Gilang nanti?
Ikutin terus kelanjutannya!
Like, komen, dan vote! Boleh dong.. othor minta vote nya? hihihi..
__ADS_1