
Pagi-pagi sekali rumah Alisa sudah heboh dan ribut tak karuan karena semua berebutan ingin cepat mandi.
Alisa dan Gilang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah keluarga Andi. Papa Yoga sampai tertawa terbahak melihat ke kocakan keluarga Andi begitu heboh saat ingin mandi.
Demi rumah itu kembali tenang, Gilang mengatur kamar mandi dimana mereka harus mandi.
Ira, Annisa dan Lana mandi di kamar mereka. Sedangkan dua kamar lagi bisa di kamar Ira dan Lana. Masing-masing harus antri.
Satu kamar mandi itu bisa dimasuki oleh tiga orang. Begitu kata Gilang. Mereka menurut. Andi tidak bisa berkata apa-apa sekarang.
Karena sedari ia bangun tidur sudah mendapatkan siraman rohani dari Mak Butet. Andi hanya bisa pasrah sekarang.
Seluruh kehidupan nya berada di tangam kedua orang tua nya yang memaksa dia untuk menikah dengan gadis yang tidak ia kenal sama sekali.
Di depan rumah Papa Yoga, sudah banyak berdiri minibus untuk membawa rombongan pengantin pria menuju rumah pengantin Wanita.
Seluruh tetangga Papa Yoga jadi heboh karena kehadiran keluarga rusuh itu. Alisa Hanya bisa tertawa saja.
Pukul delapan pagi, mereka mulai berangkat untuk menuju kerumah Ema. Andi bersama Gilang dan Alisa. Keempat anaknya pun sama. Dan juga Mak Butet ikut bersama Gilang.
Sedangkan Papa Yoga bersama Paman Hilman.
Cukup lima belas menit saja mereka sudah sampai di tempat cara. Andi yang sibuk melamun tidak sadar jika sudah berada di komplek perumahan Ema.
Turun dari mobil, Mak Butet membawa Andi untuk duduk di dalam mesjid. Disana sudah menunggu beberapa orang.
Termasuk Abang tertua Ema. Andi tidak tau itu. Tak lama kemudian, masuklah Pak penghulu dan kedua orang tua Ema.
Andi belum juga sadar. Ia sibuk melamun. Entah apa yang ia pikirkan. Gilang dan Alisa saling pandang saat Andi yang tidak bereaksi apapun.
Wajah nya datar tanpa ekspresi.
Acara pun dimulai. Moderator acara pernikahan Ema dan Andi, mulai mengisi satu persatu susunan acara yang sudah Gilang dan Alisa siapkan kemarin pagi.
Dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an, kata sambutan dari kepala desa, juga kata sambutan dari pak penghulu. Dan terakhir, ijab Qobul.
Ema berada di kamar lain sisi mesjid itu. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tidak ada senyum sama sekali.
Andi...
Ema...
Dua hati ini sudah bertaut. Mereka memanggil nama masing-masing di dalam hati.
Andi menghela nafasnya saat secarik kertas Pak penghulu sodorkan di hadapannya untuk ia hafal sebelum ijab di mulai.
Deg!
__ADS_1
Jantung Andi berdegup kencang Kala membaca tulisan yang ada di kertas putih itu. Mata Andi melotot saat melihat mahar yang tertera disana.
Andi menengadah ke depan.
Deg!
''Astaghfirullah!!'' seru Andi begitu terkejut.
Pak Wawan tertawa melihat kekakuan Andi. Begitu juga dengan Gilang dan Alisa. Semua yang ada disana tertawa terbahak.
Wajah Andi pucat pasi. Ia menata jantung nya yang sedang berdegup kencang. Sadar, jika posisi Andi sedang tidur terjengkang ke belakang, ia berdehem untuk menghilangkan rasa malu dihatinya saat ini.
Kedua telinganya memerah. ''Sudah siap nak??'' tanya Pak Wawan.
Andi tersenyum kaku pada Pak Wawan. Ia berdehem lagi. ''Ehemm.. I-iya Pak! Saya siap!'' jawabnya mantap walau sedikit tergagap
Gilang terkekeh lagi. Begitu juga dengan Alisa. Mereka berdua cekikikan di belakang Pak Wawan.
Sengaja ingin lihat wajah Andi saat terkejut membaca tulisan di kertas putih yang Gilang tuliskan tadi, lagi saat ia terkejut melihat calon ayah mertuanya berada dihadapannya sedang tersenyum melihatnya.
Dasar usil!
Andi terkekeh saat melihat wajah Gilang yang sudah berhasil membuat nya terkejut.
Bagaimana? Suka, dengan kejutan kami?
Gilang memainkan kedua alisnya dan tersenyum pada Andi. Andi terkekeh.
Ia menatap Alisa dan Gilang dengan senyum tulusnya. Alisa memberikan dua jempol untuk Andi. Andi terkekeh lagi.
Acara pun segera dimulai. ''Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, ashyhaduanlailahaillah waashhaduanna muhammadurrasululllah, saudara Andi Prajaditya bin Renaldi Prajaditya saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandungku Ema Sulastri Andini binti Wawan Suharto dengan mas kawin 5 persen saham di Bhaskara group dan satu set perhiasan emas dibayar tunai!''
''Saya terima nikahnya dan kawinnya Ema Sulastri Andini binti Wawan Suharto untuk saya, dengan mas kawin 5 persen saham di Bhaskara group dan satu set perhiasan emas di bayar tunai!''
Deg!
Seseorang disana terkejut mendengar suara seseorang yang sedang menyebut nama dalam ijb qobul.
''Andi...'' lirihnya, mata itu mengembun. Ia menoleh Pada ibu Winda. Beliau mengangguk.
''Mak??''
''Ya, pemuda yang kemarin mengantarmu dialah yang menjadi calon suami mu. Berterima kasihlah kepada Alisa dan tuan Gilang. Karena mereka lah semua ini terwujud,'' imbuh nya dengan memeluk Ema yang sudah menangis terharu.
''Bagaimana para saksi? Sah?''
''Sah!''
__ADS_1
''Sah!''
''Alhamdulillah.. barakallahu alaikuma wabaroka alaikuma fi Khairi..''
Ema dan Andi tersenyum saat semua saksi mengatakan sah tentang pernikahan mereka berdua.
''Panggil mempelai wanitanya kemari,'' kata Pak penghulu.
Alisa bangkit menuju ke kamar sebelah, dimana Ema dan juga ibu Winda. Tadi, saat ibu Winda duduk dibelakang Pak Wawan, Alisa membisikkan sesuatu di telinga Ibu Winda.
Ibu Winda mengangguk setuju. Dengan cepat kaki tuanya itu pergi ke kamar sebelah dimana Ema berada.
Alisa mengetuk pintu kamar itu dan dibuat oleh adik Ema yang bernama Alya. ''Kak Alisa!!'' pekiknya kesenangan.
Ia memeluk tubuh chubby Alisa dan menangis disana. ''Hiks .. Kakak jahat! Baru sekarang bisa pulang kesini. Dan itupun saat kakak nikah! Hiks.. adek sepi kak.. sebentar lagi Kak Ema pun pergi ke Medan! Huaaaa...'' Raung Alya begitu kuat.
Ia menghentak-hentakkan kakinya dilantai saking kesalnya. Alisa tertawa terbahak melihat kelakuan adik kecil Ema ini.
Ema terkekeh. ''Udah ih! Malu, Dek! Awas kamu! Kakak mu mau lewat! Alisa kemari untuk membawa Kakak mu! Ayo!'' ajak Ibu Winda? pada Alisa dan Alya.
Sementara Ema sudah berdiri didepan mereka. Mereka berjalan beriringan sambil tertawa.
Tiba di dalam mesjid, Ema di dudukkan di disebelah kiri Andi. ''Berikan mahar yang sudah kamu ucapkan tadi untuk istrimu. Setelah itu berdoa untuknya.'' Kata Pak penghulu.
Andi mengangguk. Dengan segera ia memasangkan satu set perhiasan emas di jari, tangan dan terakhir di leher Ema yang tertutup hijab.
Hembusan nafas Andi yang begitu dekat dengan dahi Ema, membuat Ema memejamkan matanya.
Andi tersenyum, kemudian ia mulai berdoa dengan memegang kepala Ema, untuk kebaikan nya dan juga sang istri dari segala sifat sang istri nanti untuknya.
Setelah nya ia mengecup kening Ema dengan. dalam.
deg, deg, deg..
Jantung keduanya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau lepas. Andi dan Ema terharu, pasangan pengantin baru itu menangis dalam diam.
Dirasa cukup, Andi melepaskan. Ia mengusap air mata yang mengalir di pipi tirus Ema. Andi tersenyum lembut, Ema semakin tersedu.
Semua yang ada disana semakin terharu melihat pasangan itu. Andi menarik Ema ke dalam pelukannya.
Ema sesegukan di pelukan Andi. Padahal baru kemarin mereka merencanakan pernikahan nya.
Tapi hari ini? Sudah, terwujud. Semua itu berkat Alisa dan Gilang. Yang merupakan sahabat sekaligus saudara bagi Ema.
Ema semakin tersedu saat Andi membisikkan kata sayang di telinga Ema. ''Abang sayang sama kamu, Dek.. sangat sayang...'' bisik Andi di telinga Ema. Erna semakin erat memeluk Andi.
Semuanya terharu. Selamat untuk Andi dan Ema. Semoga sakinah mawadah warohmah. Amiiinnn..
__ADS_1
💕💕💕💕💕
Stay terus ye? Episode episode terakhir dari cerita Gilang dan Alisa. 😍