Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Berbagi cerita bersama Reza


__ADS_3

Sehari setelah mengantar Rani ke tempat Alisa, hari ini Gilang dipertemukan dengan Reza. Calon suami Rani.


Gilang juga sangat mengenal pemuda tampan nan jangkung ini. Tinggi tubuh mereka hampir sama, hanya yang membedakan adalah jika Gilang agak kurus, sedangkan Reza agak berisi.


Dan kebetulan sekali Gilang baru saja pulang dari kantor. Baru saja Gilang turun dari mobilnya, sudah dicegat oleh Reza.


Calon suami Rani. Eits! lebih tepatnya Suami Rani sah secara hukum belum sah secara agama.


Sama seperti Gilang! 🤣🤣🤣


''Tunggu Gilang!'' panggil Reza saat melihat Gilang ingin masuk kerumah nya.


''Loh? Bang Reza?? Kapan pulang nya??'' Gilang terkejut melihat Reza sudah berdiri di depan nya dengan wajah datar.


''Ya, Abang baru saja kembali. Katakan! Kemana kamu membawa Rani??'' tanya Reza to the poin.


Gilang tersenyum tipis. ''Ayo Abang ikut Gilang ke mesjid. Akan Gilang ceritakan disana. Sebentar lagi isya kan?''


Reza mengangguk setuju. ''Bapak mau ikut kami kemesjid??'' tanya Gilang pada Pak Kosim.


Pak Kosim menggeleng. ''Aden saja.. Bapak dirumah saja.'' Sahut nya.


''Oke.''


Mereka berjalan berdampingan dan beriringan. Pak Rahmat mengikuti mereka dari belakang.


''Abang tau? Jika posisi Mbak Rani sekarang sama dengan posisi istri sah ku!''


Deg!


Reza menoleh pada Gilang. Sedang Gilang terus saja menatap ke depan sembari terus berjalan perlahan.


''Aku juga sama seperti Abang! Mencintai wanita lain tapi harus menikah dengan gadis lain! Dan sekarang, posisi ini sangat menyulitkan ku! Aku harus memilih diantara dua pilihan. Pilih istri sah secara hukum? Atau istri sah secara agama??'' lanjut Gilang, lagi dan lagi membuat Reza terkejut.


''Apa maksudmu??''


''Abang tau maksudku! Bukan kah Abang juga sudah mendaftar kan pernikahan kalian berdua Minggu lalu??''


Deg!

__ADS_1


Lagi, Reza terkejut. ''Darimana kamu tau?'' tanya nya lagi.


''Apa yang tidak ku ketahui Bang Reza.. Kita berdua itu sama saja. Bedanya kamu itu sudah dewasa. Sedang aku baru berusia sembilan belas tahun! Dan aku juga sangat menyayangkan hal ini. Kenapa harus terjadi pada pemuda tampan seperti kita ini! Ck!'' Reza dan Pak Rahmat yang mendengar nya terkekeh.


''Abang tau? Jika istriku itu sama seperti Kak Rani. Em.. bolehkan ya aku manggil Mbak bukan lagi Kakak??'' tanya Gilang sembari menatap Reza.


''Tentu, Dek.. kita kan senasib??'' gurau Reza.


Gilang terkekeh namun sendu. ''Biarkan Mbak Rani pergi Bang.. biarkan dia mencari jati diri nya sendiri. Dia bersama dengan istriku! Abang tak perlu mencarinya.. Mbak Rani pasti aman tinggal bersama nya.'' Imbuh Gilang berhenti di undakan tangga, karena mereka sudah tiba di mesjid.


''Tapi Abang khawatir Dek.. takut terjadi


sesuatu pada nya .. belum lagi ini di rantau orang?'' ujar Reza, ia duduk di undakan tangga dan bersandar di pilar mesjid itu.


''Aku tau Bang Reza.. istriku juga orang perantauan. Malah sekarang dia sukses disini. Kemarin baru saja buka toko roti. Jadi aku anterin kesitu, karena memang istriku itu sedang butuh seseorang untuk membantu nya. Jika sudah sukses nanti, pastilah rekrut karyawan kan??'' ujar Gilang sembari menoleh ke depan dimana ada bintang-bintang bertaburan diatas gemerlap nya malam.


''Ya, apa yang harus kita lakukan ya Gi??'' tanya Reza sembari menengadah ke atas.


Gilang menoleh dan tersenyum. ''Abang sudah menyentuh istri siri Abang itu??''


Reza menghela nafasnya. ''Abang tidak bisa menyentuhnya Gi.. karena dia...'' ucapan Reza terputus karena suara alunan merdu sudah menyapa indera pendengaran mereka.


Begitu juga dengan Reza.


Selesai sholat, mereka kembali lagi duduk di tempat yang sama. Gilang tersenyum tipis melihat wajah murung Reza.


''Bang.. terkadang kita harus merasakan sakit dulu untuk bisa mencapai rasa bahagia. Kita harus di uji dengan cobaan seperti ini. Abang beruntung jika belum menyentuh istri siri Abang. Lah aku? Takutnya bulan depan jebol tuh kecebong yang ku tanam? Mana istri pertama ku itu, nyuruh aku untuk bisa membahagiakan nya lagi. Padahal aku sudah berjanji kepada nya, jika istri pertama tidak bisa aku berikan nafkah batin, maka istri kedua pun tidak. Dan itu aku jalani, tapi sialnya aku di cekoki n dengan obat sialan itu! Jadilah nanti bibit unggul ku menempati istri siri ku itu!'' ketus Gilang begitu kesal.


Reza yang mendengar nya jadi tertawa. Padahal tadi ketika mendengar cerita Gilang ia begitu serius, tak taunya Gilang malah ketus begitu.


Reza masih saja terkekeh karena ucapan Gilang. ''Abang bukan tidak mau menyentuh istri siri Abang, Gilang. Tapi istri Abang itu sudah terlebih dahulu disentuh oleh orang lain selain Abang! Lah kamu enak, bisa ngerasain belah duren. Abang?? Boro-boro, yang dapat malah barang bekas! Ck!'' gerutu Reza, kini gantian Gilang yang tertawa terbahak.


Mendengar tawa Gilang yang begitu lucu, membuat Reza pun ikut tertawa. ''Kenapa ya kita senasib Dek??'' tanya Reza lagi di sela-sela mereka tertawa.


''Hooh! Abang istri tua gadis, sedangkan istri muda barang bekas. Lah aku? Istri tua janda tiga orang anak, tapi cinta ya? Sedangkan istri muda gadis euuuyyy.. ck! ck! benar-benar senasib dan seperjuangan kita Bang.. Istri pertama kita dua-duanya pergi dari kita hanya demi istri kedua. Ini mah cocoknya lagu Ahmad Dhani ini Bang.'' sahut Gilang dengan sedikit kekehan di bibirnya.


''Hahaha.. kamu bisa saja Gilang! Kalau istri tua merajuk, kanda pulang pada istri muda, kalau dua-duanya merajuk kanda kawin tigaaa...'' ujar Reza sembari menyanyikan bait lagu Ahmad Dhani.


Buahaha haha...

__ADS_1


Mereka tertawa bersama, sebelum nantinya harus melewati ujian yang lebih pahit lagi. Gilang menatap sendu pada bintang yang berkelipan disana.


''Andai waktu bisa ku putar kembali, pastilah aku ingin menjadi pertama dan terakhir untuknya. Kenapa sesakit ini ya Bang, menjauhi orang yang begitu kita cintai? Sakit nya tuh disini!'' tunjuk Gilang pada dada sebelah kirinya.


Reza terkekeh mendengar ucapan Gilang. ''Kamu masih kecil, tapi rasa cinta mu untuknya sangatlah besar! Boleh Abang tau, kenapa kamu begitu mencintai istri sah secara hukum mu itu?'' goda Reza.


Gilang terkekeh. ''Sekarang Gilang yang tanya sama Abang, apa yang yang Abang sukai dari Mbak Rani hingga Abang takut kehilangannya??'' tanya Gilang balik pada Reza.


''Karena dia adalah hidupku. Ragaku, jiwaku, nafasku, dan.. kelemahan ku! Tanpa nya aku tidak bisa bertahan. Abang bertahan hidup karena dirinya, karena dirinya lah sumber kebahagiaan Abang, Gilang. Abang akan mati, jika jauh darinya. Lantas, apakah Abang bisa bertahan jika suatu saat nanti Abang mengetahui jika Rani pergi dari kehidupan Abang?? Nggak Gilang, nggak! Abang akan mati jika itu sampai terjadi!'' sahut Reza sembari menoleh Gilang yang sedang tersenyum manis padanya.


''Begitu juga dengan Gilang, Bang! Alisa itu hidupku, separuh hidupku ada bersama nya! Nafasku dan nafasnya bersatu. Jika raga nya tersakiti, maka aku juga ikut merasakan nya. Begitu juga sebaliknya. Dua raga satu hati satu tubuh, walaupun kami belum menyatu. Inilah yang terjadi pada diri kami berdua. Alisa juga kelemahan ku Bang..'' lirih Gilang dengan wajah sendu nya.


Reza tercenung mendengar ucapan Gilang. Setelah itu, ia menepuk-nepuk bahu Gilang untuk mennyemangati pemuda belia yang baru saja tamat SMA itu.


''Semoga kita nantinya di persatukan ya? Ya.. walaupun harus melewati rasa sakit terlebih dahulu sih.'' ucap Reza, membuat Gilang tersenyum dalam tangisnya.


Ia menyusut bulir bening yang mengalir di pipinya. ''Ya, semoga saja! Dan pada saat itu terjadi, Abang lah orang pertama yang akan aku datangi! Abang tidak berencana pulang ke Bogor lagi kan??''


''Tidak! Abang akan pulang kesana, hanya untuk menjual seluruh aset peninggalan ayah Alam yang ditujukan untuk kami berdua. Setelah semua itu selesai, maka Abang akan kembali lagi kesini. Karena cinta dan rumah Abang ada disini!'' sahut Reza.


Gilang tertawa. ''Begitu ya? Berarti, jika nanti aku pulang dari Amerika lima tahun lagi, Abang masih disini dong??''


''Ya, dan pada saat kamu di Amerika, Abang akan menikahi Mbak mu Rani! Dan barangkali nanti, putriku akan berteman baik dengan putra mu! Barangkali mereka berjodoh pula? Siapa tau kan??'' ucap Reza sembari meledek Gilang.


''Ck! percaya diri sekali anda ya tuan Reza??'' ledek Gilang. Sembari terkekeh.


''Tentu saja saya percaya tuan Gilang! Karena saya memang akan menikah dengan istri saya itu saat kamu berada di Amerika nanti! Sebagai bukti, saya akan mengirimkan foto pernikahan kami pada mu nantinya!'' sahut Reza jumawa.


Gilang tertawa begitu juga dengan Reza. Entah kapan kebersamaan itu akan ada lagi. Karena dua hari dari sekarang, Gilang akan berangkat ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya disana.


Semoga saja!


💕


Babak baru akan segera dimulai!


Ikuti terus kelanjutannya!


TBC

__ADS_1


__ADS_2