Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Papa? Papa kah itu?


__ADS_3

Selesai mandi, kini Alisa sedang di lihat lagi. Pijat refleksi. Agar semua urat-urat yang ada pada tubuh Alisa mengendur dan aliran darah menjadi lancar.


Dan itu membuat metabolisme dalam tubuh semakin meningkat. Alisa terpejam saat merusak tangan halus Indah memijat tubuhnya.


Begitu nyaman. Untuk satu hari ini, ia memang tidak boleh banyak bergerak. Harus lebih banyak istirahat.


Alisa menurut saja. Lagipun selama ini, tubuhnya tidak pernah di pijat seperti itu. Hari-hari nya hanya sibuk dengan usaha serta putra kecilnya. Rayyan.


Mengingat Rayyan, tiba-tiba saja mata itu terbuka. Ia mengambil ponsel yang sedang berada di sisi kiri nya yang sedang tengkurap.


Alisa mendial nomor Mama Dewi. Sementara di rumah Mama Dewi, saat ini Gilang dan Rayyan sedang bermain bersama.


Bermain kuda-kudaan. Dengan Gilang yang menjadi kudanya. Rayyan sangat menyukai itu. Ia tertawa terbahak saat melihat wajah Gilang yang merengut sebal karena terus terusan di ejek oleh Lana.


''Hemm.. panjang umur ni anak. Baru aja di omongin udah nelpon aja dia!'' celutuk Mama Dewi masih terdengar oleh Mana Alina.


''Siapa Besan? Alisa kah?''


Mama Dewi terkekeh, ''Betul sekali tebakan mu Besan! Putrimu ini sedang menghubungi ku. Seperti nya... ia begitu merindukan Rayyan saat ini.''


''Benarkah?''


Mama Dewi mengangguk, ''Iya Besan! Lihatlah! Betul bukan jika ini putrimu?''


Mama Alina tertawa. ''Hallo Nak.. assalamualaikum..''


''Waalaikum salam Mama! Rayyan mana?'' tanya Alisa to the poin.

__ADS_1


Mama Dewi dan Mama Alina terkekeh, ''Itu sedang bersama Papi dan Abang nya! Mau lihat?'' tanya Mama Dewi melalui sambungan Video call.


Alisa tersenyum dan mengangguk. ''Oke, sebentar yah.. Mama kesana dulu.'' imbuh Mama Dewi dengan segera ia mengarahkan kamera belakang nya menyorot Gilang dan Rayyan yang sedang bermain kuda-kudaan.


Alisa melotot melihatnya. ''Loh? Kapan pula si Papi kesana? Bukannya tadi sedang dirumah ya?''


Mama Dewi terkekeh. ''Baru aja tiba, Nak.. baru tiba udah di suruh jadi kuda sama kedua anaknya.'' lagi Mama Dewi terkekeh geli melihat wajah Gilang yang semakin kusut.


Alisa tertawa terbahak di seberang sana. Suaranya begitu keras sampai-sampai Gilang dan Rayyan menoleh.


Rayyan yang tau jika itu suara Alisa , langsung saja memekik dan menangis. ''Mamiiiii... huaaaa... Mamiiii... adek mau pulaaaangg... huaaaa... adek mau Mamiiii...'' pekik Rayyan.


Gilang yang sedang menjadi kuda tergelak kencang melihat putranya menangis. Begitu juga dengan Annisa dan Lana.


Sementara Alisa berhenti tertawa, ''Loh, loh! kok nangis sih? Adek... Sayang... Rayyan! Dengerin Mami!'' suara tegas Alisa membuat Rayyan berhenti menangis.


''Mamiii .. hiks.. adek mau Mamiiii... adek mau hiks pulang...'' lirih nya dengan menunduk karena melihat wajah Alisa yang sedang menatapnya dengan tegas.


''Rayyan! Dengerin Mami!'' titah Alisa.


Rayyan mendongak, wajah pemuda kecil Pangeran Bhaskara itu masih saja sendu. Namun tetap harus melihat Alisa dengan mata berkaca-kaca.


''Untuk sekarang dan besok, Adek di rumah dulu ya-,''


''Adek Ndak mau Mamiiii.. adek mau pulang hiks.. Mamiiii.. hiks..''


Alisa menghela nafasnya. ''Sayang.. Mami besok baru kesana nya. Besok, Mami di jemput Om Andi. Adek tenang aja. Mami pasti datang kok. Diem ya? Anak Mami kan udah besar? Masa' udah besar masih cengeng sih? Nggak asik ah!'' goda Alisa pada putra sambungnya itu.

__ADS_1


Rayyan merengut, walau wajah itu masih saja menangis. Gilang terkekeh geli melihat nya. ''Mami besok baru kesana. Untuk malam ini sampai besok, adek sama Oma, Opa dan Papi ya? Kan ada Abang disana? Minta sama Abang biar di temenin mainnya!''


''Nggak! Abang nggak mau Mak! Adek nakal! Masa' Abang jadi kuda tapi nggak boleh minum? Bisa mati kehausan Abang Mak! Biarin tuh Papi yang jadi kudanya! Abang mah ogah!'' celutuk Lana.


''Abang ...'' pekik Rayyan sambil menghentakkan Kakinya ke lantai.


Semua yang ada disana tertawa terbahak melihat tingkah gemas Rayyan. Tapi tidak dengan Papa Yoga.


Ia begitu rindu dengan suara lembut itu. Suara dua belas tahun yang lalu pernah berpamitan padanya saat ia pergi mengikuti mantan suaminya.


Mama Alina mengusap bahunya. ''Sabar.. besok, kita akan bertemu dengannya. Kuatkan hati. Jangan cengeng! Malu ih! Diliatin cucu!'' goda Mama Alina.


Papa Angga tertawa terbahak bersama dengan Om Karim. Sekilas Alisa mendengar suara gelak tawa itu.


Suara yang begitu di kenalnya. Tanpa sadar, bibirnya mengucapkan kata..


''Papa? Papa kah itu?''


Deg!


💕💕💕💕


Hayoo... ketahuan nggak tuh? Kalau ketahuan, bisa gagal deh usaha Papi Gilang untuk buat kejutan buat Mami Alisa?


Hihihi.. sabar ya?


Othor sedang cari wangsit nih. Agar dapat ide tentang acara pernikahan Alisa nanti! 😁😁😁

__ADS_1


Di tungguin aja! 😉


__ADS_2